Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Biografi Mochtar Riady (Lippo Group)

Written By Unknown on Senin, 18 Juni 2012 | 00.17

Orang banyak mengenal Mochtar Riady sebagai seorang praktisi perbankan jempolan dan seorang konglomerat yang visioner, pandangannya yang jauh ke depan dan sarat dengan filosofi menjadi panutan banyak para pengusaha dan para pelaku pasar. Kali ini kita akan menyoroti jalannya meniti sukses,yang tentu saja tidak semudah dibayangkan oleh banyak orang.

Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir di usia 10 tahun. Ketertarikan Riady yang dilahirkan di Malang pada tanggal 12 mei 1929 ini disebabkan karena setiap hari ketika berangkat sekolah, dia selalu melewati sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Nederlandsche Handels Bank (NHB) dan melihat para pegawai bank yang berpakaian parlente dan kelihatan sibuk. Riady adalah anak seorang pedagang batik. Pada tahun 1947, Riady ditangkap oleh pemerintah Belanda dan di buang ke Nanking, Cina, di sana ia kemudian mengambil kuliah filosofi di University of Nanking .Namun, karena ada perang, Riady pergi ke Hongkong hingga tahun 1950 dan kemudian kembali ke Indonesia.
Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, namun ayahnya tidak mendukung karena profesi bankir menurut ayahnya hanya untuk orang kaya, sedangkan kondisi keluarga mereka saat itu sangat miskin.

Pada tahun 1951 ia menikahi seorang wanita asal jember, oleh mertuanya, Riady diserahi tanggungjawab untuk mengurus sebuah toko kecil. Dalam tempo tiga tahun Riady telah dapat memajukan toko mertuanya tersebut menjadi yang terbesar di kota Jember. Cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang bankir membuatnya untuk memutuskan pergi ke Jakarta pada tahun 1954, walaupun saat itu dia tidak memiliki seorang kenalan pun di sana dan ditentang oleh keluarganya. Riady berprinsip bahwa jika sebuah pohon ditanam di dalam pot atau di dalam rumah tidak akan pernah tinggi, namun akan terjadi sebaliknya bila ditanam di sebuah lahan yang luas.

Untuk mencari relasi, Riady bekerja di sebuah CV di jalan hayam wuruk selama enam bulan, kemudian ia bekerja pada seorang importer, di waktu bersamaan ia pun bekerjasama dengan temannya untuk berbisnis kapal kecil. Sampai saat itu,Riady masih sangat ingin menjadi seorang bankir, di setiap kali bertemu relasinya, ia selalu mengutarakan keinginannya itu. Suatu saat temannya
mengabari dia jika ada sebuah bank yang lagi terkena masalah dan menawarinya untuk memperbaikinya, Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut walau saat itu dia tidak punya pengalaman sekalipun. Riady berhasil meyakinkan Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang bermasalah tersebut sehingga ia pun ditunjuk menjadi direktur di bank tersebut.

Di hari pertama sebagai direktur, Riady sangat pusing melihat balance sheet, dia tidak bisa bagaimana cara membaca dan memahaminya, namun Riady pura-pura mengerti di depan pegawai akunting. Sepanjang malam dia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut,namun sia sia, lalu dia meminta tolong temannya yang bekerja di Standar Chartered Bank untuk mengajarinya, tetapi masih saja tidak mengerti.

Akhirnya dia berterus terang terhadap para pegawainya dan Pak Andi Gappa, tentu saja mereka cukup terkejut mendengarnya. Permintaan Riady pun untuk mulai bekerja dari awal disetujuinya, mulai dari bagian kliring, cash, dan checking account. Selama sebulan penuh Riady belajar dan akhirnya ia pun mengerti tentang proses pembukuan, dan setelah membayar seorang guru privat ia akhirnya mengerti apakah itu akuntansi. Maka mulailah dia menjual kepercayaan, hanya dalam setahun Bank Kemakmuran mengalami banyak perbaikan dan tumbuh pesat. Setelah cukup besar, pada tahun 1964, Riady pindah ke Bank Buana, kemudian di tahun 1971, dia pindah lagi ke Bank Panin yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia.

Mochtar Riady hampir selalu sukses dalam mengembangkan sebuah bank, dia memiliki filosofi tersendiri yang ia sebut sebagai Lie Yi Lian Dje. Lie berarti ramah, Yi memiliki karakter yang baik, Lian adalah kejujuran sedangkan Dje adalah memiliki rasa malu. Visi dan pandangan Riady yang jauh ke depan seringkali membuat orang kagum, dia dapat dengan cepat membaca situasi pasar dan dengan segera pula menyikapinya.

Salah satu contohnya ketika dia berhasil menyelamatkan Bank Buana tahun 1966. Saat itu Indonesia sedang mengalami masa krisis karena Indonesia berada pada masa perubahan ekonomi secara makro, ketika itu Riady sedang berkuliah malam di UI, disitu dia dikenalkan dengan beberapa pakar ekonomi seperti Emil Salim, Ali Wardhana,dkk. Riady segera sadar dan segera mengubah arah kebijakan Bank Buana.
Pertama, dia menurunkan suku bunga dari 20 % menjadi 12 %, padahal pada waktu itu semua bank beramai-ramai menaikkan suku bunganya. Karena suku bunga yang rendah tersebut maka para nasabah yang memiliki kredit yang belum lunas segera membayar kewajibannya. Sedangkan para usahawan yang akan meminjam diberi syarat ketat khususnya dalam hal jaminan, namun karena bunga yang ditawarkan Bank Buana sangat rendah dibanding yang lain maka banyak debitur yang masuk dan tak ragu untuk memberikan jaminan. Dengan cara itu Bank Buana menjadi sehat padahal pada waktu itu banyak klien dan bank yang bangkrut. Dengan otomatis orang mengenal siapa Mochtar Riady.

Mochtar Riady yang lahir di Malang, Jawa Timur 12 Mei 1929 adalah pendiri Grup Lippo, sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Sejarah Grup Lippo bermula ketika Mochtar Riady yang memiliki nama Tionghoa, Lie Mo Tie membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning pada 1981. Waktu dibeli, aset bank milik keluarga Hasyim telah merosot menjadi hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Mochtar sendiri pada waktu itu tengah menduduki posisi penting di Bank Central Asia, bank yang didirikan oleh keluarga Liem Sioe Liong. Ia bergabung dengan BCA pada 1975 dengan meninggalkan Bank Panin.

Di BCA Mochtar mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham dan menjadi orang kepercayaan Liem Sioe Liong. Aset BCA ketika Mochtar bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank tersebut sudah di atas Rp 5 triliun.

Bergabung dengan Hasyim Ning membuat ia bersemangat. Pada 1987, setelah ia bergabung, aset Bank Perniagaan Indonesia melonjak naik lebih dari 1.500 persen menjadi Rp 257,73 miliar. Hal ini membuat kagum kalangan perbankan nasional. Ia pun dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing. Dua tahun kemudian, pada 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan semenjak saat itu lahirlah Lippobank. Inilah cikal bakal Grup Lippo. Saat ini Group Lippo memiliki lima cabang bisnis yakni :
1. Jasa keuangan : perbankan, reksadana, asuransi, manajemen asset,sekuritas
2. Properti dan urban development : kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.
3. Pembangunan infrastruktur seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi.
4. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektonik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.
5. Bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Melalui Lippo Industries, grup ini juga aktif memproduksi komponen elektronik seperti kulkas dan AC merk Mitsubishi. Sedangkan komponen otomotif perusahaan yang dipimpin Mochtar ini sukses memproduksi kabel persneling.
00.17 | 0 Komentar | Read More

Profil Alejandro Santo Domingo Davila Orang Terkaya Kolumbia

Written By Unknown on Jumat, 18 Mei 2012 | 11.46

Alejandro Santo Domingo Davila masuk daftar orang kaya baru versi Forbes. Maret lalu, Forbes mencatat kekayaan pria 35 tahun ini di angka Rp 85 triliun. Kekayaan itu merupakan warisan ayahnya, Julio Maro Santo Domingo, yang meninggal Oktober 2011. Bisnis Santo Domingo Group terutama berasal dari bisnis minuman, SABMiller dan berbagai sektor lain.



Alejandro Santo Domingo Davila mendadak menjadi orang kaya baru setelah ayahnya, Julio Mario Santo Domingo, mengembuskan nafas terakhir pada Oktober 2011 lalu.

Berbekal warisan bisnis milik keluarga, Santo Domingo Group, yang satu di antaranya berupa perusahaan bir, laki-laki berdarah Kolombia-Amerika ini langsung bertengger di urutan ke-97 sebagai orang kaya di dunia versi Majalah Forbes. Kekayaan laki-laki muda yang masih membujang tersebut melejit mencapai 9,5 miliar dollar Amerika atau sekitar Rp 85 triliun.

Putra pertama hasil pernikahan kedua Julio Mario Santo Domingo dengan Beatrice Davila Rocha ini sebetulnya tidak pernah mempelajari ilmu bisnis di bangku kuliah. Alejandro malah menyandang sarjana sejarah lulusan Harvard University. Keteguhan mengembangkan bisnis keluargalah yang seketika menyulapnya menjadi pebisnis andal.

Usia 22 jadi direktur

Tidak seperti remaja pada umumnya, di usia 22 tahun, Alejandro sudah berani mengambil tanggung jawab besar sebagai direktur pelaksana di salah satu bisnis milik keluarga, perusahaan finansial Quadrant Capital Advisor di New York. Di perusahaan jasa konsultan investasi, pria 35 tahun ini mengabdi selama tiga tahun, terhitung sejak 1999. Pada periode yang sama, dia juga terpilih sebagai Dewan Pengawas Metropolitan Museum of Art di New York.

Jauh sebelum itu, laman Bloomberg Businessweek menyebutkan, Alejandro sudah pernah mencicipi kursi kepemimpinan komite eksekutif di Grupo Empresarial Bavaria SA, anak usaha SAB Miller. Dia juga menjabat sebagai chairman produsen minuman Union de Cervecerias Peruanas Backus y Johnston SAA.

Pria kelahiran New York, 13 Februari 1977 ini pun menjabat salah satu direktur produsen bir SABMiller Plc sejak akuisisi SABMiller terhadap Bavaria pada 9 November 2005. Ketika itu, ayahnya menukar kepemilikan mayoritas Bavaria dengan 15% saham SABMiller. Dari sinilah sebagian besar kekayaan keluarga Santo Domingo berasal.

Alejandro pun tercatat duduk di kepengurusan Valorem SA, Comunican SA, dan Caracol Television SA. Dia juga melayani organisasi pembangunan internasional nirlaba menduduki kursi di dewan direksi.
Kini, generasi baru Santo Domingo Group yang menduduki peringkat kedua sebagai konglomerat bisnis di Kolombia itu tercatat mengoperasikan lebih dari 100 bisnis milik keluarga di berbagai sektor. Alejandro mengurus bisnis keluarga. Mulai perusahaan produsen bir SABMiller, perusahaan konsultan investasi Quadrant Capital Advisor, perusahaan energi, perusahaan televisi, surat kabar – El Espectador, hingga studi kualifikasi untuk pengembangan sumber daya manusia.

Peduli sosial

Kendati memiliki segudang aktivitas bisnis, kepedulian Alejandro terhadap lingkungan sosial lumayan tinggi. Tengok saja, dukungan yang ia berikan kepada berbagai kegiatan amal Amerika Latin, termasuk yayasan keluarganya, Mario Santo Domingo Foundation. Dia juga bermitra dengan yayasan penyanyi Shakira asal Kolombia, America Latina en Accion Solidaria (ALAS).
Alejandro disebut-sebut memiliki ciri sebagai pebisnis, rasional analitis, investor cermat, dan pemodal yang fokus dan detil. "Dari ayah saya belajar, dari banyak hal lainnya, yang penting adalah fokus pada bagaimana bisnis bisa menghasilkan, yaitu hati-hati, berani mengambil dan mengukur risiko," ujarnya seperti mengutip Columbia Reports.

Wejangan itulah yang barangkali memberanikan Santo Domingo mulai menggeluti bisnis pertama kali di tahun 2002. Alejandro meluncur di Quadrant Capital Advisor, perusahaan konsultan investasi yang berbasis di New York. Saat ini, dia memegang posisi managing director di perusahaan ini.
Pada 2005, bersama sepupunya, Carlos Alejandro Perez Davila dan Felipe Perez Davila, dia menegosiasikan tukar guling kepemilikan ayahnya di perusahaan pembuat bir Bavaria dengan 15% saham di SABMiller Plc, perusahaan sejenis asal Anglo Amerika Selatan.

Tukar guling

Tukar guling senilai 7,8 miliar dollar Amerika ini yang melejitkan kekayaan keluarga Santo Domingo. Dalam perkembangannya, SABMiller, produsen bir terbesar kedua di Amerika Latin ini menjadi satu dari 100 lebih bisnis Santo Domingo Group.

Kontribusinya terbesar terhadap bisnis keluarga Santo Domingo. Sejak 2005 hingga saat ini, Alejandro menjabat sebagai Non-Executive Director dan Member of Nomination Committee di SABMiller.
Melalui SABMiller, seperti dilansir dalam guardian.co.uk, Santo Domingo Group tidak akan kesulitan mengepakkan sayap bisnisnya ke pasar China, Rusia, dan India. Bavaria kini dikenal sebagai salah satu tim manajemen terbaik di industri makanan dan minuman.

Alejandro juga membuka pintu bagi investor kelas internasional yang ingin menanamkan duitnya di SABMiller. Ini sebagai salah satu cara meningkatkan investasi di Kolombia. "Saya kira, aksi ini akan membuka mata investor. Potensinya besar untuk melakukan akuisisi, bisnis patungan, atau bahkan sekadar mengawali bisnis," imbuh dia seperti dilansir kontan.

Maklumlah, bisnis Santo Domingo Group hingga kini masih dikuasai keluarga besarnya sendiri. Padahal, sebagian besar perusahaan peninggalan Julio Mario tersebut tercatat menjadi raksasa industri bisnis di Kolombia. Hal ini diperkirakan, karena investor luar masih terlalu takut untuk masuk pasar Kolombia.
Alejandro akan menggunakan iklim investasi yang mulai membaik di Kolombia. Baru-baru ini, Kolombia menjadi salah satu tujuan investasi untuk membangun usaha patungan atau akuisisi.

Memang, ini lebih seperti pemanasan. Sekadar menyegarkan ingatan, Februari tahun lalu, Divisi Keuangan Konsumen General Electric setuju untuk mengambil saham minoritas di salah satu grup perbankan terbesar Kolombia, Banco Colpatria.
Kembalinya iklim investasi yang positif karena situasi keamanan di Kolombia telah benar-benar membaik. Bukan hanya bagi penduduk lokal, tetapi juga bagi calon investor.

Ini membawa dampak positif bagi industri bisnis Kolombia. "Ketakutan masih ada, tidaklah mudah bagi kami untuk meyakinkan investor untuk datang. Tetapi, sejauh yang saya ketahui, Bogota adalah kota yang lebih aman ketimbang Meksiko, Rio de Janeiro, atau Sao Paulo," pungkas pewaris Santo Domingo ini.
11.46 | 0 Komentar | Read More

Wawancara dengan Sudamek CEO GarudaFood

Written By Unknown on Rabu, 25 April 2012 | 11.38

Sudhamek intinya hanyalah seorang penjual makanan dan minuman. Namun, Chief Executive Officer GarudaFood ini membawa perusahaannya merambah ke berbagai pasar level dunia. Produknya ”hanya” pelbagai jenis makanan kecil dan minuman ringan, tetapi membuatnya meraih sejumlah penghargaan sebab produknya kini sukses merambah pasar di lima benua.


Sudhamek meraih pelbagai penghargaan, di antaranya Ernst & Young Indonesia Entrepreneur of The Year 2004, The Most Admired CEO 2004, 2005, 2006, 2007 Big Companies Executives versi (majalah Warta Ekonomi) dan 11 Top Executive 2011 versi majalah Eksekutif. Ia selalu diajak berbicara berbagi kiat bisnis di pelbagai forum dalam dan luar negeri

Namun, beberapa tahun terakhir ini, Sudhamek (56) terkesan agak enggan bicara cerita kesuksesan perusahaan. Ia terkesan lebih suka menjadikan masalah moral, integritas, reputasi, loyalitas, dan saling menghargai sesama manusia.



Berikut petikan wawancara dengan suami Lanny Rosiana serta ayah dua putra dan satu putri ini ketika ditemui di kantornya baru-baru ini.

Maol : GarudaFood tumbuh signifikan dalam 20 tahun ini. Apa strategi Anda?

Sudhamek : GarudaFood perusahaan biasa saja, bukan perusahaan besar. Kalau dikategorikan, mungkin lebih pas dimasukkan dalam kelompok menengah.

Namun, saya akan lebih tertarik kalau kita melihat bisnis itu tidak semata size-nya atau keuntungannya, tetapi apa makna dari sebuah bisnis. Apa manfaat yang ia berikan kepada publik. Aspek lain, jauh lebih bermakna kalau kita melihat proses dari sebuah bisnis yang selalu diwarnai dengan kultur dan etika. Budaya dan etika bisnis itulah yang kini dibutuhkan mumpung Indonesia diberi banyak karunia. Lalu, kalau kita berbicara tentang kelestarian bisnis, iya, kita mesti bicara tentang kultur.

Maol : Mengapa harus kultur?

Sudhamek : Selama hampir 10 tahun ini, saya selalu menekankan aspek kultur bisnis sebab saya melihat ini sesuatu yang penting. Sebagian di antara pebisnis terkesan mengabaikannya. Kalaupun ada perhatian, hanya di urutan ke sekian. Padahal, pemilik perusahaan selalu memberi warna sangat dominan dalam jalannya roda bisnis. Kalau perusahaan itu ”diisi” dengan kultur yang baik, pada ujungnya akan menghasilkan sebuah perusahaan yang memesona, fantastik.

Maol : Ada contoh konkret?

Sudhamek : PT Astra International Tbk bisa jadi contoh. Astra International bisa seperti itu karena ada kultur yang ditanamkan pendirinya, yakni (almarhum) Om William Soeryadjaya. Sikap dia yang memandang tinggi semua karyawan, sikap kebapakannya, tanggung jawab, ela, integritas, moralnya, sungguh memberi warna menonjol pada lembaga Astra.

Salah satu sisi yang cemerlang dari Om William adalah ia selalu melihat manusia sebagai pemegang peran sentral. Bukan sekadar pada kompetensinya, melainkan juga pada nilai-nilai positif manusia atau karyawan tersebut. Makanya, Astra menjadi seperti sekarang. Ragam bisnisnya demikian kaya.

Maol : Bagaimana Anda melihat nilai manusia dalam sebuah perusahaan?

Sudhamek : Saya sependapat dengan Oom William, manusia pemegang peran terbesar, misalnya dalam proses bisnis, pembuat, pelaku strategi, dan pembangun sistem adalah manusia. Manusia pula perumus strategi, pemilik infrastruktur dan manajemen pengetahuan. Seorang pemimpin yang ingin sukses harus menyentuh aspek manusia ini dengan cerdas, arif. Namun, di balik aspek-aspek ini, manusia harus punya nilai luhur sebab ia pusat dari apa pun.

Seorang manusia tidak sekadar mesti punya kompetensi, tetapi memiliki spiritual yang baik. Khusus soal aspek spiritual, ia menjadi gantungan atau landasan perusahaan. Spiritual inilah yang kemudian diisi dengan kompetensi sehingga menjadi dinamis.

Maol : Unsur spiritual ditekankan dalam tubuh GarudaFood?

Sudhamek : Tentu saja. Namun, saya tahu bahwa tidak ada sesuatu yang diraih seketika. Jadi, sedikit demi sedikit aspek ini saya tekankan sehingga karyawan yang menerima ini dengan sepenuhnya baru sekian persen. Ini akan terus bertambah. Saat ini, lebih kurang 18.000 karyawan GarudaFood diajak memahami hal itu dan sebagian di antara mereka sudah mulai menangkap makna tersirat dan tersurat dari apa yang kami sampaikan.

Hal yang kami inginkan adalah kami kembali ke kombinasi kompetensi dengan spiritual. Pious yet competent (saleh tetapi sekaligus kompeten). Yang kemudian terjadi di lapangan ialah lebih banyak senangnya daripada stresnya sebab level stres menjadi lebih tertangani. Dari sinilah muncul kreativitas yang mencengangkan, dari titik inilah pula lahir karya-karya besar sebab karyawan bekerja dengan kenyamanan, ketenteraman, dan kebahagiaan.

Maol : Penetrasi pasar GarudaFood menjangkau lima benua. Bagaimana?

Sudhamek : Kami memang rajin memasarkan pelbagai produk ke luar negeri. Tentu ini tidak semata karena ingin meraih laba lebih besar, tetapi kami ingin produk GarudaFood lebih dikenal luas. Pada ujungnya, ini berkaitan dengan menopang kinerja ekspor dan membawa bendera Indonesia. Saya sering mendengar teman menemukan produk Garudafood di pelbagai kota, misalnya Helsinki, London, Kairo, Johannesburg, Beijing, Hongkong, Tokyo, Chennay, Washington DC, sampai Sydney.

Ini membanggakan kami sekaligus menerbitkan tanggung jawab untuk terus berinovasi untuk meraih kinerja optimal. Kami memang ingin supaya produk kami tidak saja diterima di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Maol : Ada yang hendak Anda utarakan?

Sudhamek : Saya suka menggugah para karyawan untuk membina harmoni dalam rumah tangga. Beri perhatian dan cinta kepada anak istri/suami. Kalau belum berumah tangga, bangunlah hubungan baik, proporsional dengan orangtua serta sekitarnya.

Kalau di rumah nyaman dan penuh sukacita, di kantor pun akan demikian. Mereka akan nyaman bekerja dan dari situ muncul kreasi dahsyat. Muncul inovasi hebat. Pada ujungnya, perusahaan maju pesat dan kinerja bagus.


Maol : GarudaFood relatif melompat cepat, apa kiatnya?

Sudhamek : Kami mulai dari kacang kulit dan saya terlibat akhir tahun 1994. Saya melihat peluang. Kakak saya (11 orang, saya paling bungsu) meminta menangani ini. Industri kacang ini lebih pada produksi. Saya melihat kurangnya pemasaran. Dari kacamata konsumen, mereka melihat kacang itu lebih dari sekadar produk kacang, tetapi masuk dalam kategori snack (makanan kecil). Kalau sudah kategori ini, tak bisa lagi dilihat komoditas. Saya mulai mengubahnya, termasuk membuat merek. Awalnya tidak mulus. Semua stakeholder waktu itu berpikir usaha kacang kok mau pakai merek, apalagi butuh uang banyak. Namun, saya yakin dan pantang mundur. Saya yakinkan kalau terus seperti ini, akan tetap kecil dan bertarung di laut yang sama atau red ocean. Sama-sama kelelahan. Mereka akhirnya setuju. Saya siapkan uang sekitar Rp 600 juta. Awalnya gagal. Sempat nervous juga.



Maol : Sudah dengan merek Garuda?

Sudhamek : Merek kacang Garuda itu sejak awal tahun 1980-an. Saat itu ada dua merek, yakni Naga Terbang dan Garuda. Dalam perjalanan, merek Garuda yang dikembangkan. Dengan organisasi yang kecil, kemampuan terbatas, tetap diupayakan. Pemasaran itu seperti koin, setengah seni dan lainnya ilmu. Waktu itu kami lebih pada seni. Kreativitas.

Maol : Setelah sempat gagal?

Kami ulangi lagi dan jalan. Mulai melompat jauh saat muncul slogan yang terkenal, ”Ini Kacangku”. Hanya harus diakui, sebelum semuanya itu, dilakukan pembenahan serius pada distribusi. Ini kan negara kepulauan. Kalau masuk dalam fast moving consumen goods (barang konsumsi), tanpa menangani jalur distribusi, akan gagal. Kami benahi distribusi dari tahun 1991 sampai 1994. Setelah baik, kami mulai beriklan. Sempat gagal, tetapi kemudian berhasil.

Maol : Mengapa harus distribusi?

Sudhamek : Dalam strategi pemasaran itu kan ada dua. Push (dorong) dan pull (tarik). Saat membenahi distribusi, itu push, dan saat mulai beriklan, itu pull. Pull itu karena yang ditarik adalah konsumen dan push itu yang didorong pedagang. Bagaimana pedagang mau menjual produk kami saat kami masih tak ada apa-apanya. Kami pelan-pelan, sabar, dan telaten. Akhirnya bisa masuk dan kini produk kami merata. Ditambah dengan pull, akhirnya terjadi lompatan besar.

Maol : Masuk ke kacang atom?

Sudhamek : Saya berpikir, tak pernah berhenti. Tahun 1996, kami mulai masuk ke produk dengan subkategori baru. Setelah kacang kulit, masuk ke kacang atom. Semua ini karena kami punya jaringan distribusi. Saya berpikir kenapa kami tidak ada produk lainnya selain kacang kulit.

Maol : Bagaimana dengan "stakeholder", terutama keluarga?

Sudhamek : Karena mereka sudah melihat saya sukses dengan kacang kulit, mereka sepakat masuk ke kacang atom. Kebetulan kakak perempuan saya ahli dalam kacang atom dan dia berkenan bergabung dengan saudara-saudaranya yang laki-laki. Jadi, semuanya bisa jalan. Terjadi lompatan lain lagi.

Maol : Perusahaan keluarga biasanya tak kompak?

Sudhamek : Ini mimpi saya yang kedua. Membawa perusahaan keluarga ini menjalani transformasi manajemen yang baik. Mimpi yang pertama membawa perusahaan ini menjangkau secara nasional dan regional. Kakak-kakak saya juga legowo memberikan kepercayaan kepada saya. Mimpi saya, kalau bisa transformasi dari manajemen keluarga ke manajemen modern, ini bisa jalan ke tahapan 65 sampai 70 persen, sudah bagus.

Maol : Peran orangtua?

Sudhamek : Ayah saya (Darmo Putro) almarhum maupun ibu (Poesponingroem) almarhum, dengan ekspresi bicaranya yang berbeda-beda, tetapi esensinya sama, yakni sangat mengutamakan kekompakan, persatuan. Keluarga kami adalah orang-orang yang sangat aktif. Dan syukur dengan nilai-nilai yang ditanamkan itu akhirnya tetap bersatu. Ego-ego dikesampingkan dan bisa menghasilkan seperti ini.

Maol : Sejak awal di kacang?

Sudhamek : Ayah itu terlibat sejak usaha kacang ini dibangun kakak-kakak. Ayah merestuinya. Ayah tadinya berdagang tapioka, hasil bumi di Jawa tengah. Ayah saya ikut campur sampai akhir tahun 1978. Ibu saya mendukung dengan merawat keluarga.

Maol : Semangat yang ditanamkan ayah dan ibu?

Sudhamek : Kami punya semangat pendiri. Ini pelajaran yang diberikan orangtua, semacam mantra. Yang ada itu kemudian saya ambil esensinya. Seperti berlian begitulah. Di situ dikatakan, sebuah kesuksesan itu dimulai dari kejujuran, ketekunan, dan keuletan, yang diiringi dengan doa. Nilai semacam ini selalu ditekankan orangtua kami dan jangan lupa juga bersyukur. Semua ini lantas menjadi mantra bagi perusahaan ini dalam menapak bisnis.

Maol : Bahan baku kacang bagaimana?

Sudhamek : Agrobisnis di Indonesia ini tantangan terbesar ada pada manajemen suplai. Harus diatur karena kuantitas juga problem, begitu juga kualitasnya. Padahal, di konsumen sana, kami muncul dengan merek tertentu dengan kualitas yang terjamin. Ini tantangan. Kami akhirnya mau tak mau juga harus masuk ke hulu. Ada perkebunan kami sendiri, ada yang kerja sama dengan petani. Model plasma dan inti seperti di kelapa sawit. Kami punya perkebunan kacang di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tanah di Jawa agak sulit. Di Lombok juga relatif mudah dalam berusaha. Juga minim gangguan, terutama dalam penelitian varietas unggul. Untuk penelitian ini, diperlukan waktu 27 bulan. Bangun pabrik bisa cepat paling beberapa bulan. Tetapi, untuk sebuah varietas, perlu lama karena ada uji multilokasi. Tanaman kacang itu sekitar 100 hari, uji lagi 100 hari lagi, sampai ditemukan benih yang betul-betul kami kehendaki. Lalu, ada sertifikat dari Departemen Pertanian. Biar jangan diambil pesaing, kacang itu perlu dilindungi.

Maol : Soal ekspor ke mana saja?

Sudhamek : Kami ekspor ke banyak negara sekalipun dari sisi nilai belum sesuai yang diharapkan. Tetapi, kalau kita mau masuk dalam pemain internasional, proses evolusinya melalui beberapa tahapan. Ekspor dulu, kemudian mulai waralaba (franchise), kemudian usaha patungan, dan investasi langsung. Kalau sudah di banyak negara, menjadi perusahaan multinasional. Kami menggunakan kerangka ini. Ada yang mulai kami ekspor dan waralaba, seperti China. Namun, di beberapa negara lainnya mulai dengan usaha patungan atau investasi langsung.

Maol : Mengapa di China?

Sudhamek : Perusahaan kami baru saja muncul sehingga agak terlambat ke China. Pasar di sana sudah penuh dengan pesaing (ketat), tetapi ada peluang. Ada sekitar 790 juta penduduk di pedesaan dan kini sedang digarap ekonominya. Mereka juga belum loyal pada produk tertentu. Jadi, peluangnya besar, apalagi 790 juta orang ini tiga kali dari jumlah penduduk kita. Kami mengakuisisi sebuah perusahaan lokal yang sudah punya jaringan distribusi. Merek kami kacang Garuda tetap dipakai di sana tentunya dengan penampilan setempat. Ini kan kebanggaan perusahaan, jadi tetap kami tonjolkan pada produk-produk kami di sana. Namun, merek lainnya juga dikembangkan sesuai riset pasar mana yang pas tentunya dengan logo kacang Garuda tetap ada.

Soal penerus?

Sudhamek : Kini pendekatan kami manajemen modern berdasarkan kompetensi. Kalau anak stakeholder baik, kompeten, dan bisa bekerja keras, mengapa tidak. Daripada dia bekerja pada perusahaan lain. Tetapi, tetap kompetensi. Yang profesional juga harus kompetensi. Pokoknya yang terbaik yang akan dipilih. Saya sekarang juga sudah tidak terlalu terlibat. Saya lebih menanamkan nilai. Makanya, saya lebih banyak di perusahaan induk, Tudung Grup.

Kendati sudah berada di puncak sukses, Sudhamek Agoeng Waspodo Sunjoto tidak pernah berhenti bermimpi. Dan, walaupun terbang tinggi bersama mimpi, tak membuat Sudhamek lupa diri.

Dia selalu menegaskan bahwa sukses bisnis yang dikembangkan selama ini tak lepas dari fondasi kuat yang dibangun ayahnya, Darmo Putro. "Ayahlah yang menciptakan api, kemudian saya dan saudara-saudara datang membawa bahan bakar," ujar Sudhamek yang saat ini memimpin kelompok usaha Tudung Group dengan bisnis utamanya adalah food and beverage.

Nyala api bisnis itu semakin besar. Sudhamek tidak lagi hanya identik dengan Kacang Garuda. Bisnisnya kian membesar. Cara-cara dia membesarkan bisnis menjejakkan pengalaman yang sangat berharga.

Misalnya dalam rangka ekspansi ini, Sudhamek berprinsip untuk tidak buru-buru dengan menjemput utang. "Kami akan memulainya dengan mengembangkan bisnis, pada tahap berikutnya baru mengundang strategic partner," tegasnya.

Dia mewanti-wanti untuk tidak membalik proses ini karena akan membahayakan kinerja perusahaan. Demikian juga, lanjut dia, jangan meminta tolong pada financial investor karena mereka hanya membawa uang.

Investor finansial, jelasnya, biasanya dengan mudah mengatakan tidak ikut campur, tapi mereka biasanya dengan enteng menikung di perjalanan. "Kalau begini kami hanya jadi sapi perah mereka. Padahal yang kita butuhkan adalah partnership, ada kebersamaan. Masalah operasi kita pecahkan sama-sama."

Tahun ini aset Tudung Group dengan 21.000 karyawan itu tercatat baru sebesar Rp4 triliun. Mungkin belum terlalu besar dari sisi konglomerasi. Tetapi apa yang dicapai itu adalah realisasi dari mimpinya untuk memulai bisnis sendiri setelah 13 tahun bekerja sebagai profesional di Gudang Garam Group.

Ketika bekerja Sudhamek sudah bermimpi untuk mengembangkan usaha sendiri guna mengembangkan daerahnya yang memiliki potensi garam dan kacang. Akhirnya dia harus memilih dari-antara duanya. Pilihan akhirnya jatuh pada kacang.

Di antara 11 bersaudara, Sudhamek bersama tujuh saudaranya bekerja di perusahaan lain. Konon itu yang disesali ayah mereka. Namun, kemudian temyata Sudhamek berubah setelah pada 1983-1986 sering bermenung di pinggir Kali Brantas.

Kenapa di dalam keluarga Sudhamek yang dipilih? Menurut dia, saat itu perusahaan keluarga sedang mencari orang untuk melakukan audit dan distribusi. Ada seorang yang bernama Budi Santoso yang mengusulkan nama Sudhamek kepada saudara-saudara tuanya, khususnya saudara tertua mereka, Pak Projo.

Pertimbangannya, Sudhamek sukses di Gudang Garam dan beberapa kali kisah suskesnya dicatat media masa. Tentu saja usulan itu disetujui dan pada 1993 Sudhamek dilamar. Padahal, sebelumnya keluarga mengira Sudhamek akan menolak tawaran itu.

Kendati bersedia, Sudhamek tetap mengajukan persyaratan. Syaratnya adalah dia hanya bisa memimpin sebagai atasan dan bawahan bukan sebagai adik dan kakak. Pada 1993, Sudhamek masih sekadar membantu dan mulai bekerja penuh di perusahaan keluargasejak 1994.

Benahi distribusi

Tentu saja Sudhamek tidak menyia-nyiakan kepercayaan keluarga. Fokus utamanya adalah bagaimana membenahi distribusi. Itu saja yang pertama-tama dibuatnya.

Menurut dia, yang penting adalah bagaimana bisa menjual dengan cara yang unik dan yang tidak dilakukan orang lain. Prinsip itu dipegangnya dengan penuh kesabaran selama 19 tahun. Pokoknya, demikian Sudhamek, konsumen harus direbut.

Untuk mencapai itu, dia membangun distribution selling point sebanyak-banyaknya hingga 115 titik.

Seiring dengan pengembangan distribusi yang kuat, Sudhamek menggagas diversifikasi produk. Misalnya pada Desember 1997 kelompok usaha ini masuk ke bisnis biskuit. Menyusul tahun berikutnya Garuda Food memulai jelly sebagai snak.

Dalam perjalanan, Sudhamek mengaku pernah gagal ketika merilis instant rice pada 1994. Sebagai produk, ujarnya, barang itu bagus. Nasi goreng siap saji ini matang dalam waku 8 menit dan tidak rusak. Gagal bukan karena produknya, tetapi karena persepsi pasarnya (market insight) yang tidak tepat.

"Ya beginilah, orang Indonesia menganggap nasi itu harus ada lauk, sedangkan di produk ini kami tidak menyiapkan lauknya."

Namun, kegagalan ini membuat dia semakin matang. Itu sebabnya dia berani bermimpi bahwa dalam 5 tahun ke depan, kelompok usaha ini akan menjadi nomor dua setelah Indofood dengan aset sebesar Rp20 triliun.

Untuk mencapai itu, fondasi bisnis harus semakin diperkuat. Itulah yang mulai dilakukan secara serius pada 2010 ini, yaitu pengembangan distribusi, pembangunan gudang secara besar-besaran, pusat distribusi regional, jaringan suplai serta pembenahan sistem.

Tentang sistem, Sudhamek mengakui bahwa hal itu sangat bergantung pada pembentukan kultur dan nilai.

Sudhamek yakin betul bahwa nilai-nilai itu merupakan aset utama perusahaan untuk bertumbuh dan beradaptasi terhadap perubahan."Mungkin saya ini terlalu idealis ya," demikian dia mengakhiri uraian tentang masa depan bisnisnya. Sudhamek sepertinya sadar kalau dia sedang merancang bisnis di langit yang suci.
11.38 | 1 Komentar | Read More

Kisah Soeratin, Bapak dan Pendiri PSSI yang Rela Hidup Miskin

Written By Unknown on Sabtu, 21 April 2012 | 09.04


BATU nisan tua di Kompleks Pemakaman Umum Muslim Sinaraga Bandung, Jawa Barat, itu tampak tenang dan membisu. Semilir angin menambah sejuk suasana di Blok A TPU di kota berpenduduk sekitar dua setengah juta jiwa tersebut. Rindangnya pohon di pojok makam seakan melindungi jasad pahlawan di dalam kotak batu berukuran 2 x 1,8 meter yang dikelilingi pagar hitam.

Di tempat itulah, Ir Soeratin Sosrosoegondo beristirahat dengan tenang. Kisah hidup pendiri sekaligus Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) pertama itu memang penuh keprihatinan. Ia harus rela hidup dalam kesulitan ekonomi hingga akhir hayat. Untuk menebus obat, ia pun harus menelan ludah bulat-bulat. Tidak ada yang dia tinggalkan, kecuali organisasi yang sangat dicintai, yakni PSSI. Organisasi besar yang menjadi media perjuangan bangsa, tapi kini seolah menjadi ajang politisasi para generasi pengurus yang tinggal mengunduh hasilnya.



Lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1898, Soeratin besar di lingkungan terpelajar. Ayahnya, R Sosrosoegondo, yang juga penulis buku Bausastra Bahasa Jawi, adalah guru pada Kweekschool. Istrinya, RA Srie Woelan, adalah adik kandung dari salah satu pendiri Budi Utomo, Dr Soetomo. Soeratin pun merintis pendidikannya dengan cukup serius.

Tamat dari Koningen Wihelmina School (KWS) di Jakarta pada 1920, Soeratin melanjutkan pendidikannya di sekolah tinggi teknik di Hecklenburg, Jerman. Tujuh tahun menimba ilmu di negeri seberang, ia kemudian kembali ke Tanah Air dengan gelar insinyur sipil pada 1928.

Dengan gelar itu, karier Soeratin bisa dibilang cukup sukses karena merupakan satu-satunya pribumi yang memiliki posisi tinggi dalam perusahaan konstruksi milik Belanda, bernama Bouwkundig Bureu Sitsen en Lausada di Yogyakarta. Digaji tinggi sebesar 1.000 gulden, ia juga beberapa kali turut andil dalam membangun beberapa infrastruktur di Nusantara, seperti membangun jembatan dan gedung di Tegal dan Bandung.


Jajaran Pengurus Pusat Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Pengprov PSSI Jabar, serta keluarga besar Almarhum Ir. Soeratin Sosrosoegondo melakukan ziarah ke makam pendiri PSSI pertama itu, yang terletak di Kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga, di Jln Padjadjaran Bandung, Rabu (18/04) siang. Ziarah ke makam pendiri PSSI pertama tersebut, dalam rangka mengisi kegiatan Ulang tahun PSSI ke 82 yang jatuh pada 19 April.

Ketua Umum PSSI versi KLB Jakarta, La Nyalla Mattalitti berziarah ke makam pendiri PSSI, Soreatin Sosrosoegondo di TPU Sirnaraga, Bandung, Kamis, 19 April 2012. Ini adalah rangkaian peringatan HUT PSSI ke-82 yang bertepatan jatuh pada hari ini.

Berjuang
Soeratin juga rajin ikut berorganisasi. Dalam sejumlah pertemuan dengan kelompok pemuda yang ingin mencari cara bebas dari belenggu kolonial, ia dikenal sebagai sosok yang mempunyai nasionalisme tinggi. Di tengah semangat Sumpah Pemuda yang menggelora, Soeratin berpikir keras mencari cara menyatukan Nusantara yang sudah terpecah belah karena taktik devide et impera milik Belanda.

Pada awal 1930, Soeratin akhirnya mempunyai gagasan cemerlang, yaitu menggalang semangat nasionalisme dengan cara berbeda. Ia berpendapat bahwa kehormatan bangsa bukan cuma urusan perang senjata semata, tetapi juga bisa disalurkan melalui olahraga yang begitu digandrungi di Eropa, bernama sepak bola.

Atas dasar ide itulah, pada 19 April 1930, dibentuk Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (sekarang PSSI) sebagai realisasi konkret Sumpah Pemuda. Di saat iparnya, Dr Soetomo, mengelilingi Pulau Jawa untuk menekankan pentingnya pendidikan yang pada akhirnya menghasilkan berdirinya Budi Utomo, Soeratin juga melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh sepak bola pribumi di Solo, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Bandung.

Dalam kongres pertama di Societit Hadiprojo, Yogyakarta, yang diikuti tujuh pengurus klub pribumi, di antaranya VIJ Jakarta (Voetbalbond Indonesche Jakarta), BIVB Bandung (Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond), IVBM (Indonesche Voetbalbond Magelang), MVB (Makassar Voetbal Bond), SIVB (Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond), VVB (Vorstenlandsche Voetbal Bond), dan PSIM (Yogyakarta), Soeratin ditunjuk sebagai Ketua Umum pertama PSSI. Seiring perjalanannya, ia pun terus dipilih menjadi ketua umum selama 11 kali berturut-turut hingga periode 1940.

Pilihan
Kegiatan mengurusi PSSI yang cukup sibuk dengan digulirkannya beberapa kompetisi rutin sejak 1931, pada akhirnya membawa Soeratin pada sebuah pilihan. Kinerjanya di perusahaan konstruksi milik Belanda mengendur. Kondisi itu memang bukan situasi sederhana. Meninggalkan pekerjaan tidak hanya membuat Soeratin kehilangan asupan finansial bagi diri dan keluarganya, tetapi juga akan dapat berimbas pada pasokan dana bagi kegiatan PSSI berkurang.

Namun, karena kecintaan pada sepak bola itulah Soeratin, yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi, akhirnya bertaruh untuk memutuskan keluar dari perusahaan tersebut dan lebih memilih mendirikan usaha sederhana sendiri. Padahal, gajinya di perusahaan itu sangat besar dan memantapkan posisinya sebagai priayi.

Di titik inilah, pertaruhan antara nasionalisme dan materi terjadi dalam kehidupan Soeratin. Hanya satu yang jadi tujuan bagi Soeratin, yakni agar Nusantara melalui sepak bola tak menjadi pecundang di antara sejumlah negara besar di dunia.

Pilihan itu tepat, karena pada akhirnya Nusantara mampu berbicara di tingkat dunia, melalui keikutsertaannya di Piala Dunia 1938 di Perancis. Sejumlah negara seperti Jepang, China, Hongkong, hingga dataran Korea pun bertekuk lutut oleh talenta Indonesia yang waktu itu masih memakai nama East Indies. Nusantara kemudian dapat unjuk gigi di pentas dunia, karena mampu menjadi pionir bagi Asia untuk mengenal sepak bola.

Pada 1940, Soeratin pindah tugas ke kampung halamannya di Bandung dan jabatannya sebagai Ketua PSSI diambil alih oleh Artono Martosoewignyo. Ketika itu, kehidupan Soeratin menjadi serbasulit. Rumahnya sempat diobrak-abrik tentara Belanda, karena aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dianggap musuh oleh Belanda.

Pengabdian Soeratin bagi bangsa pun masih besar di hari tuanya. Ia menyanggupi permintaan Ir Djoeanda untuk memimpin Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1949. Akan tetapi, dengan tubuh yang semakin renta, pekerjaan itu sedikit berat. Apalagi, ketika itu perjuangan fisik melawan Belanda terus terjadi. Setelah sekian lama sakit dan tidak mampu menebus obat, Soeratin meninggal dunia pada 1 Desember 1959 dalam kemiskinan.

Hidup tenang
Tahun ini, sudah 52 tahun Soeratin meninggalkan kita, dan selama 82 tahun juga PSSI telah menjadi bagian dari kehidupan sejarah panjang Indonesia. Meskipun pada akhirnya, dewasa ini berbagai persoalan dan konflik tidak kunjung berhenti menghinggapi salah satu organisasi yang paling dicintai publik sepak bola tersebut. Perseteruan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) seperti telah membuat mati warisan sejarah emas delapan dekade silam.

Soeratin memang sempat meramalkan bahwa PSSI tidak pernah lepas dari persoalan, karena setiap kepengurusan pasti mempunyai pandangannya masing-masing. Tetapi, alangkah baiknya semangat persatuan dan kesatuan harus tetap menjadi jati diri atau identitas PSSI. Alangkah bijaknya jika kedua pengurus yang bertikai itu sadar bahwa sepak bola adalah harga diri bangsa.

Soeratin tidak pernah meminta kekayaan meski harus mati dalam kemiskinan. Tak pernah pula, Soeratin memproklamasikan diri sebagai pahlawan. Ia hanya ingin memperjuangkan semangat puluhan juta pemuda Nusantara demi meraih kewibawaan dan harga diri Indonesia. Ia ingin memberi dan mengalirkan gagasan agar makna sesungguhnya dalam sepak bola dapat jadi warisan emas bagi anak cucu bangsa.

Kini, di tengah kisruh dan kekacauan akibat ulah kedua pengurus itu, Soeratin seakan menepi. Sudah sepantasnya sang pahlawan kini hidup tenang oleh kedamaian karena tidak harus menjadi saksi hidup perseteruan PSSI dan KPSI. Kesederhanaan dan jiwa nasionalismenya itu sepertinya sudah cukup mewarisi kekalnya kisah indah sepak bola yang melahirkan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Terima kasih Ir Soeratin. Semoga kebesaran PSSI bisa menyadarkan sejumlah pengurus yang hanya mementingkan citra dan jabatan semata. Satu hal pasti bahwa namamu akan tetap harum dalam makam yang kaya akan sejarah emas sepak bola Indonesia.

Engkau memang sudah tiada. Tetapi, karyamu tetap menjadi inspirasi dan semangat untuk mengangkat kebesaran bangsa lewat sepak bola. Sayang, inspirasi dan warisan besar itu seolah dilupakan oleh pihak-pihak bertikai di tubuh sepak bola saat ini dengan tujuan yang tak jelas arahnya. Bagi mereka, warisanmu sudah mati, karena hati nurani mereka juga sudah mati.
09.04 | 0 Komentar | Read More

Inilah 10 Aksi Fenomenal Dahlan Iskan Sejak Jadi Menteri BUMN

Written By Unknown on Senin, 26 Maret 2012 | 15.51


Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah mengungkapkan, saat ini ada dua pejabat di Indonesia yang 'pandai' menyedot perhatian publik lewat aksi-aksinya. Mereka adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dengan segala aksinya dan Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) dengan memindahkan PKL dan mobil Esemka.

Nah, berbicara Dahlan Iskan, banyak orang sudah tahu kalau gaya menteri satu ini sangat khas dengan berbagai celetukan dan terobosannya yang lain dari yang lain. Berikut ini beberapa aksi fenomenal yang pernah dilakukan oleh mantan Dirut PLN tersebut dikumpulkan dari berbagai pemberitaan.

1. Jadi Sopir Wakil Menteri BUMN
Ini ia lakukan sebagai resep agar bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan Wakil Menteri BUMN Mahmudin Yasin. Ia juga menciptakan model komunikasi moderen dengan para pejabat eselon I di lingkungannya.


Dahlan mengaku sebelum dilantik sebagai menteri BUMN tidak mengetahui siapa yang akan menjadi wakilnya. Pertemuan pertama Dahlan dengan Yasin adalah saat pelantikannya 19 Oktober 2011 lalu. Dahlan pun mencoba akrab dengan Yasin dengan mengajaknya mengendarai mobil bersama dari kantor presiden ke kementerian BUMN.

2. Naik Kereta Demi Rapat di Istana Bogor
Dahlan melakukannya demi memenuhi janjinya menggunakan KRL Commuter Line untuk melihat langsung perubahan fasilitas kereta api Jakarta-Bogor. Aksinya ini bersamaan ketika ia bermaksud ke Istana Bogor guna menghadiri rapat kabinet.

Layaknya penumpang biasa, Dahlan memilih memutar di sekitar lokasi, tidak ada satu pun ajudan yang ada di sampingnya. Dahlan ingin tahu perubahan-perubahan yang sudah dilakukan PT KAI. "Kita jangan cuma ngomel-ngomel, tapi nggak pernah nggak naik. Saya juga termasuk yang memang pencinta kereta," jelasnya.

Lewat aksinya itu ia nyaris telat rapat di Istana Bogor hingga harus menyewa ojek, dan harus berlari-lari kecil karena khawatir terlambat.

3. Menyetir Mobil 40 Km Hanya Demi Melihat Sapi
Peristiwa ini Dahlan lakukan saat peringatan hari pers nasional Februari lalu. Ia mengunjungi tempat peternakan sapi di pinggiran Kota Jambi, seperti biasa tidak ada pejabat yang mendampingi dan voorijder. Dia hanya didampingi dua staf khususnya dan wartawan senior Ishadi SK.

Dahlan mengemudikan mobil Ford Everest BH 1962 dari Kota Jambi menuju lokasi PTPN VI (PT Perkebunan Nusantara) yang berjarak sekitar 40 KM. PTPN VI berada di kabupaten Batanghari.

4. Ngamuk di Tol Semanggi
Nah, aksi yang satu ini masih begitu hangat dan menjadi pembicaraan publik dua hari lalu. Dahlan Iskan ngamuk di pintu tol dekat Jembatan Semanggi menuju arah Slipi. Penyebabnya, antrean di tol tersebut sangat panjang tetapi loket yang dibuka hanya dua dari empat pintu yang ada.


5. Rapat Wajib seluruh Direksi BUMN tiap Selasa Pagi
Ia mewajibkan rapat pimpinan setiap Selasa pagi. Rapat berfungsi untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi BUMN, mengevaluasi dan memutuskan langkah yang dilakukan. Menurutnya, pola rapat pimpinan ini berhasil membawa kinerja yang apik bagi PLN.

Pola rapat semacam ini, tidak hanya di jajaran Kementerian, para BUMN juga dianjurkan melakukan hal yang sama. Lalu, kenapa Selasa menjadi hari pilihan Dahlan? Mantan Bos Jawa Pos ini beralasan, bahwa Senin merupakan rapat konsolidasi intern berupa komunikasi antar staf. Dalam rapat awal pekan akan dibawa ke rapat pimpinan di hari Selasa.


6. Test Drive Mobil GEA dan Esemka
Dahlan menjadi salah satu sekian pejabat yang mencicipi mobil Esemka besutan pelajar SMK Solo. Selain Esemka, di juga ke Madiun untuk menyambangi kantor PT Industri Kereta Api (INKA) guna mencoba mobil buatan BUMN tersebut yang bermerek GEA.

Dahlan dijemput pihak INKA untuk meninjau pembuatan kereta di pabrik BUMN tersebut, dan akhirnya meninjau bengkel pembuatan mobil GEA. Salah satu mobil GEA yang dicoba Dahlan sempat mogok sehingga dia harus mengganti dengan mobil yang baru. Dahlan pun menggunakan mobil GEA untuk mengunjungi sebuah pesantren di Kelurahan Takeran, Magetan, Jawa Timur

7. Tolak Lift dan Ruang Kerja Pribadi dan Tak Pakai Mobil Dinas
Dahlan pernah menolak menggunakan lift pribadi di kantornya saat ia pertama kali jadi menteri BUMN ketika menyambangi para pegawai BUMN. Ia juga sempat menolak ruang kerja pribadi menteri BUMN dan memilih ruang rapat. Sosok unik ini juga jarang memakai mobil dinas, memilih mobil Jaguar pribadinya berplat L 1 JP.

8. Jalan Kaki ke Kantor Jero Wacik
Tak seperti kebiasaan menteri-menteri lainnya, Dahlan memang terlihat beda. Misalnya saat ia rapat ke Kementerian ESDM, Dahlan pernah berjalan kaki dengan sepatu kets kesayangannya dan didampingi oleh 2 asistennya. Kejadian itu terjadi pada Selasa (25/10/2011) beberapa hari setelah ia dilantik jadi Menteri BUMN.



Kantor Kementerian BUMN letaknya di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Memang jaraknya dengan kantor Kementerian ESDM hanya sekitar 300 meter karena berada di ruas jalan yang sama.

9. Menginap di Rumah Petani Miskin di Sragen
Kejadian ini ia lakukan saat kunjungan kerja ke Sragen, Jawa Tengah pertengahan Maret 2012. Mantan Direktur Utama PLN ini memilih menginap di rumah seorang warga di Dusun Karang Rejo, Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Sragen.

Bukan hanya itu saja, selama di rumah warga, Dahlan menyempatkan berdialog seputar kehidupan buruh tani. Dahlan juga melihat kandang sapi dan mengambil telur ayam, bahkan ikut menanam benih pada di sawah.

10. Rapat dengan Direksi BUMN Pakai 'BBM'
Dahlan perintahkan pola rapat seperti ini sekitar dua bulan terakhir kepada direksi BUMN, ini dilakukan sebagai cara baru untuk rapat. Ia dan anak buahnya tak perlu membuang waktu datang ke kantor Kementerian BUMN, tapi cukup melalui BlackBerry Messenger (BBM).


15.51 | 0 Komentar | Read More

Mengenal Lebih Dekat Andrew Darwis Saat ini

Written By Unknown on Selasa, 06 Maret 2012 | 02.09

Awal kenal kaskus ane enggak tahu bagaimana caranya ngaskus dan apa yang bisa ditemukan di forum tersebut,yang ane tahu itu forum komunitas yang hanya member saja yang bisa ikutan, ternyata siapa saja boleh bergabung.

Dan..akhirnya..nih gan ane coba-coba ikutan gabung ah sekalian kepingin tahu, ternyata seru juga Dari situ ane bisa jadi tahu seperti apa kaskus dan yang lebih seru kalo kita tahu bagaimana kaskus bisa menjadi sukses seperti sekarang

Dari situ pula Ane (dhaniels) banyak menemukan inspirasi bahwa ternyata di internet itu bisa dimanfaatkan untuk mencari sesuatu yang lain bukan hanya sekedar main-main juga banyak yang bisa dilihat dan dipelajari selain cuci mata (BB) hehehehehe

Disini ane bukan mo curhat ane mo kasih lihat sosok paling popular di jagad maya khususnya di indonesia yaitu siapa lagi kalo bukan owner-nya KASKUS andrew darwis..yuk kita lihat dari dekat bagaimana kehidupannya-nya sekarang..semoga menjadi inspirasi buat agan-agan sekalian..so CEKICUSSSS!

Bersama Andrew berkeliling di kantor Kaskus


Dialah juragan portal komunitas maya terbesar di Indonesia: Kaskus. Mimin, begitu Andrew Darwis biasa dipanggil, awalnya mendirikan Kaskus untuk mengobati kerinduannya pada tanah air. Selain kangen dengan Indonesia, Andrew, 32 tahun, yang saat itu kuliah di Seattle University, mendapat tugas membuat program dari free software.

Bersama Ronald Stephanus dan Budi Dharmawan, kemudian Andrew mendirikan Kaskus pada tanggal 6 November 1999. Berasal dari kata Kasak-Kusuk atau bermakna bergosip mereka membidani kelahiran Kaskus dengan modal awal yang hanya sebesar US$ 3 (Rp 30.000,-).

Kini, Kaskus dikelola PT Darta Media Indonesia. Andrew sekarang menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) PT Darta Media Indonesia (Kaskus) sekaligus pemilik (owner) Kaskus Network lewat PT Darta Media Indonesia.



Kini, Kaskus telah berusia 13 tahun, dan makin berkembang. Jumlah anggotanya sekitar 4 juta. 'Tapi bila dihitung dengan non -member, jumlahnya 21 juta orang,' kata Andrew saat berbincang dengan PlasaMSN, Kamis 23 Februari 2012. Tak heran bila sekarang Kaskus punya 180 server, dan tiap bulannya harus menambah sekitar 20 server. 'Sebab, tiap detik selalu muncul 120 posting baru di Kaskus,' Andrew menjelaskan.



Bukan hanya jumlah anggotanya yang berkembang. Karyawan Kaskus kini juga terus bertambah. Di kantor baru Kaskus, di menara Palma Kuningan, karyawannya ada 90 orang. Sebelumnya saat di kantor lama di Melawai, karyawannya berjumlah 45 orang. Yang menarik, setiap karyawan Kaskus adalah Kaskuser. 'Pertanyaan pertama bagi calon karyawan adalah sejarah Kaskus.. ha ha,' kata Andrew.



Meski punya ruangan sendiri, Andrew jarang bekerja di ruangannya di lantai 10. Dia lebih sering berada di lantai 11, bekerja di antara programmer. Saking jarangnya bekerja di ruangannya yang disebut war room, mejanya kosong, hanya ada sebuah telepon.



Dalam hidup Andrew, dari bangun tidur sampai tidur lagi, hanya ada Kaskus. Dia masih aktif menjadi admin. 'Pokoknya langsung control panel.. ha ha,' kata Andrew.



Tak seperti dotcom-dotcom lain yang mulai melakukan IPO, Kaskus tak akan melakukan penawaran saham terbuka dalam waktu dekat. Menurut Andrew, Kaskus tak akan IPO, setidaknya, 3-4 tahun ke depan.

Saat ini, Kaskus fokus untuk mengembangkan fitur e-paymentnya, KasPay. Kaspay diproyeksikan untuk dapat menyumbang hingga 50 persen dari total pendapatan Kaskus, yang saat ini, nyaris 100 persen disokong oleh penjualan iklan.



Andrew dan hampir semua karyawan Kaskus mencoba sebisa mungkin untuk membeli barang yang mereka inginkan dari forum-forum yang ada di dalam Kaskus. selain bisa mendapatkan harga-harga yang lebih murah dari pasaran, Andrew juga mengaku bahwa itu adalah sikapnya dalam mendukung pasar yang terus berkembang di Kaskus. 'Terakhir kita mesan ikan asin jambal dari Kalimantan,' ucap Andrew.

'Kita banyak bisa dapetin barang-barang atau makanan yang ga biasa kita dapetin dengan gampang di toko, karena penjualnya berada di berbagai lokasi' lanjutnya lagi.



Sebagai founder dari Kaskus, Andrew adalah sosok yang sangat penting, tidak heran bila dia memiliki banyak penggemar di antara jutaan Kaskuser. -ok

Ditanya mengenai berapa banyak Kaskuser wanita yang sempat mencoba menggoda ataupun mengajaknya berkenalan, 'Wah, ada mungkin yah... Cuma kebanyakan yang ngajak kenalan gue cowok sih... ha ha,' jawab Andrew. 'Cowok-cowok biasanya ngajak kenalan untuk nanya tentang komputer gitu... ha ha...' lanjutnya lagi.



Di mata keluarganya sendiri, kesuksesan Andrew di Kaskus tidak menjadikannya diperlakukan berbeda dari sebelumnya. 'Pas mereka datang ke sini aja yang dibilang malah 'Ah ini mah pasti main melulu!'... ha ha...' cerita Andrew atas reaksi orang tuanya saat berkunjung ke kantor Kaskus yang baru.

Menjadi forum komunitas terbesar di Indonesia tak membuat Kaskus menjadi jumawa. Andrew justru senang bila banyak forum baru bermunculan. Bahkan ia tak keberatan bila berbagai istilah yang muncul pertama kali di Kaskus, seperti istilah 'sundul', 'pertamax', atau istilah 'gan' digunakan di forum lain. 'Kami tak akan mematenkan istilah-istilah tadi, karena semua tumbuh secara alami dari komunitas.'
02.09 | 1 Komentar | Read More

Mengenang sang legenda ''Bruce Lee''

Written By Unknown on Jumat, 24 Februari 2012 | 01.35

bruce lee
1940 adalah tahun naga, pada tahun itu di suatu rumah sakit di San Fransisco lahirlah Lee Hsiao Lung. Dokter yang menangani kelahiran bayi itu, memberinya nama Inggris, Bruce. Demikianlah sang legenda terlahir.

Saat berusia 6 tahun Bruce kecil sudah berakting untuk pertama kalinya dalam film berjudul “A Beginning Of A Boy”. Hal ini tidak mengherankan karena ayahnya Lee Hoi Chun adalah seorang aktor film.

bruce-lee-sm

Sebenarnya Bruce adalah anak yang rapuh bahkan ia termasuk anak yang susah makan. Sehingga ketika dia terlibat perkelahian ala jalanan ia mengalami kekalahan. Waktu itu ia berumur 14 tahun. Setelah berdiskusi dengan ibunya, ia memutuskan belajar seni bela diri.

Jenis ilmu bela diri yang ia pelajari adalah Wing Chun, ia berguru dengan Sifu Yip Man. Ia juga berguru dengan master kungfu Siu Hon Sung. Biasanya dibutuhkan tiga minggu untuk menguasai 30 jurus Siu Hon Sung, Bruce Lee hanya memerlukan tiga malam saja. Disamping itu Bruce Lee juga mendapat ketrampilan anggar dari ayahnya. Ada satu hal unik, Bruce Lee tidak hanya mahir beladiri. Ternyata ia pintar menari cha-cha bahkan pada tahun 1958 ia berhasil meraih trophy Hongkong Cha-Cha Championship.

Bruce-Lee-Photo-2

Seiring dengan berjalannya waktu, Bruce lee ingin sekali menguji keahlian kungfunya dalam perkelahian yang sesungguhnya. Maka ia pun terlibat dalam perkelahian jalanan. Polisi memberi peringatan kepada ibunya jika Bruce tidak menghentikan ulahnya maka ia akan ditahan. Lalu ayahnya membuat keputusan untuk mengirim Bruce ke Amerika agar menjadi orang yang lebih bertanggung jawab.Dengan berbekal 100 US$ berangkatlah ia ke tanah kelahirannya San Fransisco dengan kapal laut. Dalam perjalanan Bruce masih sempat mencari uang dengan memberi kursus tari cha-cha.

bruce-lee-picture-large1

Di San Fransisco, Bruce dititipkan kepada teman ayahnya, Ruby Chow, pemilik sebuah restoran. Bruce pun ikut bekerja di restoran tersebut. Setelah menyelesaikan SMA, Bruce masih giat membina fisiknya. Baginya tidak cukup sekedar menjadi ahli seni bela diri yang baik, ia harus menjadi yang terbaik.

Bruce pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Seattle dan mengambil jurusan filsafat. Di universitas tersebut ia bersua dengan sesama teman dari Asia bernama Taki Kimura Kimura pernah mengalami serangkaian serangan rasialis. Didasari belas kasihan, Bruce memotivasi Kimura untuk meningkatkan harga dirinya dengan cara melatih dia seni beladiri. Inilah cikal bakal sekolah seni beladiri kungfu dan tidak lama kemudian sekolah itu pun berdiri. Sekolah ini terbuka untuk umum atau bagi siapa saja yang berminat. Berbeda sekali dengan di Hong Kong. Di Hong Kong, kung fu adalah ilmu rahasia yang tidak boleh sembarangan diajarkan kepada orang. Hanya orang terhormat saja yang boleh mempelajari kung fu.

Tahun 1961 ia berjumpa dengan seorang gadis bernama Linda Emery. Mereka jatuh cinta, menikah, lalu lahirlah Brandon disusul Shannon dua tahun kemudian.

Tahun 1964, dalam suatu turnamen karate, Bruce mendemonstrasikan jurus pukulan satu inchi yang legendaris. Seorang producer acara televisi sangat terkesan dengan penampilan Bruce yang penuh intensitas dan konsentrasi. Lalu ia melakukan pendekatan pada pihak Bruce Lee. Setelah melalui screening test, akhirnya Bruce mendapat peran sebagai kato dalam film Green Hornet. Kato hanyalah peran pembantu dalam film itu, namun popularitasnya mengalahkan peran utamanya, terlebih di Hong Kong

Van Williams, bintang utama Green Hornet, menceritakan tentang banyaknya stunt-man terluka karena gerakan Bruce, akibatnya sukar mencari stunt-man yang bersedia bekerja dengan Bruce. Bruce juga memiliki gerakan yang teramat cepat untuk ditangkap oleh kamera sehingga Bruce terpaksa memperlambat pergerakannya.

bruce-lee

Setelah proyek “Green Hornet” usai Bruce membuka sekolah kung fu lagi yang baru bernama “Lee Jun Fan, Gung Fu Institute”. Di tempat inilah Bruce Lee belajar menggunakan senjata nunchaku. Para pesohor pun belajar kung fu di tempat ini seperti Kareem Abdul-Jabbar, James Coburn, dan Steve McQueen. Popularitas Bruce pun meningkat dan ini menaikkan nilai seorang Bruce Lee, untuk satu sesi latihan selama satu jam harga yang ditetapkan 300US$.

Di sekolah yang baru itu pula lah Bruce menciptakan teknik Jeet Kune Do, teknik memotong serangan. Bruce berpendapat memotong serangan lebih baik dan lebih cepat dari pada menahan lalu melakukan serangan.

Tahun 1967, Bruce membintangi “A Man Called Ironside”, sebagai seorang master martial art, Bruce sering melakukan adegan berbahaya sendiri tanpa stunt-man. Karir filmnya terus berlanjut, sampai akhirnya ia bisa memenuhi apa yang dicita-citakan yaitu dibayar lebih mahal daripada Steve McQueen perfilm.

Dengan pertimbangan tertentu Bruce memutuskan melanjutkan karir filmnya di Hong Kong. Beberapa film dibintanginya, sekarang Bruce sudah dianggap sebagai pahlawan nasional. Tidak puas dengan itu semua, dia membuka perusahaan sendiri karena ia ingin menulis skenario, menyutradarai, sekaligus membintangi film selanjutnya. Lagi-lagi Bruce berhasil, beberapa film produksi perusahaannya laris manis di pasaran.

Setelah berbagai film dibuat dan berbagai kesuksesan diraih, pada tanggal 10 Mei 1973 Bruce tiba-tiba pingsan selama setengah jam saat mengisi dubbing untuk “Enter The Dragon”. Dokter memberinya resep Manatol, obat untuk mengatasi gejala brain swelling (pengembangan otak).

Pada 20 Juli 1973, Bruce berencana akan bertemu dengan Raymond Chow dan Betty Ting Pei, yang akan menjadi salah satu bintang dalam film “Game of Death”. Di rumah Betty, Bruce mengeluh sakit kepala kemudian dia meminum Aguagesic, obat sakit kepala yg biasa dikonsumsi Betty. Lalu Bruce merebahkan diri, saat tertidur ternyata serangan brain swelling datang kembali. Akhirnya Bruce meninggal di ruang gawat darurat RS Queen Elizabeth.

Misteri Di Balik Kematian Bruce Lee

Kabar kematian Bruce Lee sangat mengejutkan, bahkan banyak yang tidak percaya. Berbagai spekulasi tentang kematiannya bermunculan, seperti:

Dia dibunuh oleh gangster karena menolak membayar uang keamanan, suatu praktek yang lazim dalan dunia perfilman Hong Kong saat itu.
  • Dia dibunuh pendekar shaolin yang marah karena Bruce telah menyebarkan kung fu kepada semua orang di penjuru dunia
  • Bruce dikutuk karena telah membeli rumah berhantu
  • Bruce meninggal saat berselingkuh dengan Betty Ting Pei
  • Kebanyakan orang Cina yakin Bruce tewas karena terlalu keras berlatih kung fu
Terlepas dari spekulasi tersebut, fakta medis menyebutkan Bruce meninggal setelah mengalami koma karena Cerebral Edema, pembengkakan otak karena cairan yang berlebih.

death1
Berikut ada hal2 yg mungkin anda tidak tau mengenai Bruce Lee.
  • Bruce Lee memiliki cacat bawaan: kaki yang panjang sebelah dan testis yang besar sebelah.
  • Bruce Lee sebenarnya pake kacamata yg cukup tebal, dan dia menggunakan soft lens. Ternyata di Amerika soft lens udah ada dari jaman dahulu.
  • Bruce Lee bukan 100% Chinese, ibunya Grace Lee adalah blasteran chinese & german, jadi bisa dikatakan Bruce Lee memiliki 1/4 darah Jerman.
  • Bruce Lee pertama kali tampil dalam film pada umur 3 bulan. Ia dibawa ayahnya, seorang yg cukup terkenal dalam Chinese Opera untuk tampil pada film pertamanya.
  • Dalam suatu lelang, sebuah surat tulisan tangan Bruce Lee untuk memotivasi dirinya sendiri dgn judul “My Definite Chief Aim” terjual seharga US$29,500.
  • Kecepatan pukulan Bruce Lee adalah 1/500 detik dari jarak sekitar 1 meter ke targetnya.
  • Bruce Lee seorang yang sangat kuat untuk ukurannya, dia dapat melakukan pull up 50 kali dgn satu tangan. Bolo Yeung (aka Chong Li) yang segitu gede tidak pernah menang panco lawan Bruce Lee.
  • Bruce Lee dapat melakukan push up dgn satu tangan hanya dgn 2 jari (telunjuk dan jempol) dan terkadang dengan dua tangan, namun hanya menggunakan jempol saja.
  • Bruce Lee mempopulerkan teknik ‘one inch punch’ yaitu tinju dari jarak 1 inci, dan pada satu turnamen karate, dia mempraktekannya pada seorang juara judo asal Jepang yang memiliki berat sekitar 100 kg. Di sini terlihat pejudo itu ditinju dari jarak 1 inci sampai terangkat kedua kakinya dari lantai.
  • Pada umur 13 tahun Bruce Lee berguru pada Yip Man untuk belajar Wing Chun karena pada waktu itu ia ikut geng dan sering berantem dgn geng lain. Ia berpikir kalau teman2 gengnya sedang tidak bersamanya, bagaimana jika ia diserang rame2.
  • Ada tiga murid Bruce Lee yg pernah memenangkan World Karate Champion: Chuck Norris, Joe Lewis dan Mike Stone.
  • Di Amerika Bruce Lee mengajarkan kung fu kepada semua ras dgn tidak pilih2, dan karena itu dia ditantang oleh perguruan kung fu lain dgn tuduhan membocorkan rahasia Chinese Martial Art kepada ras lain. Bruce Lee menerima tantangan itu dan menghajar wakil dari perguruan tsb dalam waktu 3 menit. Bruce Lee kecewa, menurut dia perkelahian haruslah berlangsung dalam beberapa detik. Dari sini dia mulai berlatih lebih keras lagi, dan menemukan konsep “Jeet Kune Do”.
  • Film Dragon The Bruce Lee Story yg diperankan Jason Scott Lee adalah film yang sangat tidak akurat dalam menggambarkan cerita nyata Bruce Lee. Di film itu Bruce Lee ditendang punggungnya, menjadi lumpuh dan harus duduk di kursi roda. Dalam kejadian nyata, cedera Bruce Lee disebabkan karena ia berlatih dgn beban yg terlalu berat dan menyebabkan cedera tulang belakang, dan sebenarnya dia tidak pernah duduk di kursi roda.
  • Dalam istirahat dari cedera tulang belakangnya Bruce Lee selama 6 bulan, terciptalah buku “Tao of Jeet Kune Do” yg menjadi best seller.
  • Beberapa waktu sebelum kematian Bruce Lee, pa qua (sejenis jimat yg dipercaya dapat menangkal evil spirits) pada rumah Bruce Lee jatuh tertiup angin.
01.35 | 0 Komentar | Read More

Kisah Perjalanan Hidup John Kei

Written By Unknown on Kamis, 23 Februari 2012 | 08.06


Nama John Refra Kei (42) sudah tidak asing lagi dalam catatan hitam aparat kepolisian. John Kei, demikian pria ini akrab disapa, kerap dikait-kaitkan dengan beberapa kasus pembunuhan hingga penganiayaan yang terjadi antar loyalisnya dengan kelompok lainnya.

John Kei juga pernah divonis delapan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada tanggal 11 Agustus 2008. Saat itu, John Kei bersama adiknya, Tito Refra, terlibat dalam penganiayaan dua pemuda di Maluku.

Sebelumnya, John pun sempat dikaitkan dengan pembunuhan Basri Sengaji, tokoh Maluku lainnya, di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan, pada tanggal 12 Oktober 2004. Kendati demikian, perjalanan hidup John Kei terbilang pelik.

Meski tumbuh di keluarga yang berlatar kepolisian, John lebih memilih pergi dari rumah dan hidup mandiri dengan merantau. Dia bahkan pernah hidup di bawah kolong jembatan dan nyaris kelaparan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Kabur dengan kapal barang, John Refra Kei adalah anak kelima dari enam bersaudara. Saudara John lainnya terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. John lahir di Tutrean, Pulau Kei, Maluku Tenggara, pada 10 September 1969. John lahir di sebuah pulau dengan kebudayaan masyarakat pesisir yang jumlahnya mencapai 200.000 jiwa.

Di pulau itulah, John tumbuh dan mengenyam pendidikan bersama kakak dan adiknya. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat disiplin. Ayahnya adalah seorang anggota Brimob sementara kakaknya sempat menjadi kapolsek di salah satu wilayah di Maluku.



Ketika beranjak dewasa, John yang dikenal adiknya, Tito, sebagai sosok yang sangat keras dan penyayang itu memang kerap terlibat pertikaian. "Tetapi, kalau di keluarga dia sangat penyayang dan humoris. Asal jangan diganggu, dia bisa jadi orang paling jahat," ungkap Tito dalam perbincangan dengan Kompas.com, Selasa (21/2/2012), di Rumah Sakit Polri Soekanto, Jakarta.

Tito menceritakan, ketika menginjak bangku sekolah menengah atas (SMA), tiba-tiba saja kakaknya itu memutuskan pergi dari rumah pada tahun 1986. "Itu pilihan hidup dia untuk merantau. Kami sekeluarga nggak keberatan karena dia laki-laki. Di adat kami, kalau laki-laki merantau sejauh-jauhnya tidak masalah. Dia bisa jaga diri," kata Tito.

Saat itu, dengan pakaian seadanya, John yang baru berusia belasan tahun nekat pergi keluar Maluku menuju Surabaya dengan menumpang kapal barang. Begitu tiba di sana, John sempat tinggal di rumah pamannya. "Namanya numpang kan disuruh macam-macam. Disuruh cuci, ngepel, ha-ha-ha. Dulu dia ngepel juga loh. Tapi akhirnya kakak saya nggak betah dan kabur lagi," ujar Tito.

John memilih hidup di jalanan tanpa tahu wilayah Surabaya. Kolong jembatan menjadi tempat favoritnya melepas lelah. "Tidur hanya beralaskan tanah saja di bawah jembatan itu," katanya.

Bertemu orang tua asuh

Ketika bergulat dengan dunia kelam di jalanan, John akhirnya bertemu dengan seorang pria bernama Benny yang akhirnya menganggap John layaknya anak. Menurut Tito, Om Benny, demikian ia kerap dipanggil, menjadi orang yang paling berjasa dalam hidup John Kei. Om Benny adalah pria asal Maluku yang sudah lama tinggal di Surabaya. Dengan Om Benny-lah, John akhirnya meninggalkan jalanan dan tinggal di rumah pria tersebut.

"Dia selalu bantu kakak saya. Sampai sekarang pun dia masih mau datang melihat kakak saya," ucap Tito.

Setelah itu, John pindah ke Jakarta dan menumpang di rumah saudara Om Benny. Tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat. John akhirnya mengubah namanya menjadi John Kei. "Nama asli kakak saya itu John Refra. Refra nama marga. Kei itu kampung halaman kami. Beliau memperkenalkan diri menjadi John Kei saat di Jakarta, mungkin supaya lebih mudah diingat saja," papar Tito.





Di Berlan, John Kei muda yang pintar bergaul mulai menancapkan pengaruhnya kepada pemuda-pemuda di sana. "Tanya sama orang Berlan, ada nggak yang nggak kenal John Kei? Pasti tidak ada," katanya.

Menurut Tito, kepintaran kakaknya yang paling menonjol adalah dalam menjaga hubungan. Hubungan pertemanan yang dibangun John Kei tidak pernah terputus dan selalu dibina. "Dari situlah dia bisa jadi seperti sekarang. Karena pintar jaga relasi," ucapnya.

Selain itu, hal lain yang dikagumi Tito dari sosok John Kei adalah sifatnya yang tidak serakah. "Kalau ada rezeki dia selalu bagi ke saudara-saudara. Kalau ada yang minta tolong pasti dibantu tanpa perhitungan. Dia tidak serakah. Kalau mau serakah, seluruh Jakarta sudah bisa dikuasai," katanya.

John Kei memiliki banyak loyalis yang jumlahnya mencapai belasan ribu anggota yang tergabung dalam Angkatan Muda Kei (Amkei) di Jakartaa. John juga adalah pendiri sekaligus ketua Amkei. John disebut-sebut memiliki kekayaan dari usahanya di bidang jasa pengamanan dan penagihan utang.

Namun, hal itu dibantah Tito yang menyebut kakaknya tidak memiliki perusahaan itu lagi. Perjalanan hidup John Kei saat ini kian dekat dengan kasus pidana lain. Pasalnya, John harus berurusan lagi dengan aparat kepolisian. Ia ditangkap dan ditahan aparat kepolisian pada Jumat (17/2/2012) malam di Hotel C'one, Pulomas, Jakarta Timur. Ia diduga sebagai otak pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI), Tan Harry Tantono alias Ayung (45), pada 26 Januari 2011, di Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
08.06 | 1 Komentar | Read More

Profil Ki Joko Bodo

Written By Unknown on Selasa, 14 Februari 2012 | 07.52


Agus Yulianto nama aslinya. Dia menyandang julukan Ki Joko Bodo karena profesinya sebagai paranormal kondang di Asia saat ini. Berkat laku raga dan laku batin yang sudah dijalani sejak dia masih kecil, Ki Joko Bodo kini memiliki berbagai ilmu dan mantera sakti yang dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dalam hubungan pribadinya, Ki Joko Bodo telah menikah beberapa kali. Istri keempatnya, Ni Kadek Leli Mariati yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1984, pernah melaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Ki Joko Bodo. Tanggal 25 April 2011 Ki Joko Bodo ditetapkan sebagai tersangka. Namun istrinya mencabut laporan pada tanggal 28 April 2011, dan Ki Joko Bodo tidak jadi ditahan.

Ki Joko Bodo dipercaya dapat menangani segala prolem hidup mengenai nasib, ekonomi, usaha dan penyakit. Salah satu dari ilmu andalannya ialah "Ilmu Gendam Putih" yang selain dapat dipergunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, juga dapat dipergunakan sebagai alat komunikasi dengan makhluk halus.

Ribuan Jin berhasil dimanfaatkan Ki Joko Bodo untuk menolong pasien mempercepat proses meraih keberuntungan, meraih pangkat dan jabatan, jodoh dengan suami kaya atau istri cantik. Juga untuk upaya penyembuhan, melawan kebuntuan untuk tolak sial, pagar gaib untuk rumah, pabrik atau tempat usaha lainya, dan gangguan jahat berupa guna-guna seperti Santet, Teluh, dan lain sebagainya.

Di samping melayani transfer ilmu secara gaib yang meliputi berbagai ilmu seperti Ilmu Kekebalan, Ilmu terawang, Pegangan judi, Aji Polo Lakang, Aji Jaran Goyang, Rogoh Sukma dll, Ki Joko Bodo juga melayani jasa supranatural seperti: Pemasangan Susuk, Pelaris, Pengasihan, Kejantanan, dan lain-lain.

Tak hanya berprofesi dalam dunia supranatural, selain sukses sebagai bintang film horor, Ki Joko Bodo ternyata juga mahir dalam dunia musik. Tahun 2006, dia mendirikan sebuah band yang diberi nama 3 Mantra, yaitu singkatan dari 3 manusia tradisional. Band yang mengusung musik dengan beat masa kini ini beranggotakan tiga orang antara lain Ki Joko Bodo, Ki Joko Wasis dan Ki Joko Yono.

Di tahun 2011, di mana boyband dan girlband sedang menjamur di belantika musik Indonesia, Ki Joko Bodo memunculkan band 3 Mantra ke depan publik. Lewat single Kadukuniku, 3 Mantra siap menggebrak dunia musik tanah air.
07.52 | 0 Komentar | Read More

Kisah Perjalanan HIM Damsyik Sang Datu Maringgih | Profil dan Biografi

Written By Unknown on Jumat, 03 Februari 2012 | 09.34

Biografi :
Tempat & Tanggal Lahir : Lampung, 14 Maret 1929
Nama Lengkap : Haji Incik Muhammad Damsyik

Tinggi Badan :
180 cm.



Damsyik adalah aktor senior Indonesia dan penari. Ia mulai terkenal karena memerankan tokoh Datuk Maringgih dalam serial mini seri di televisi yaitu Siti Nurbaya, sehingga akhirnya ia dikenal juga sebagai Datuk Maringgih dan karena kepiawiannya berdansa menjadikannya memperoleh julukan Datuk Dansa.
Awalnya Damsyik diajak bermain sebagai aktor oleh sutradara Win Umboh yang sebelumnya telah biasa mengajak dia sebagai koreografer untuk film-filmnya. Namun Damsyik sempat berhenti dan mulai bermain kembali di tahun 1981. Namanya mulai melejit pada tahun 1992.

Sampai tahun 1994, Damsyik tercatat telah bermain dalam 62 film bioskop.

Filmography :
Actor :
- Langkah-Langkah Di Persimpangan (1965)
- Djampang Mentjari Naga Hitam (1968)
- Ratu Ilmu Hitam (1979)
- Pengabdi Setan (1980)
- Jaka Sembung (1981)
- Sundel Bolong (1982)
- Sangkuriang (1982)
- Nyi Blorong (1982)
- Nyi Ageng Ratu Pemikat (1983)
- Lebak Membara (1983)
- Kulihat Cinta di Matanya (1983)
- Pelayan Gedongan (1983)
- Pengantin Pantai Biru (1983)
- Senjata Rahasia Nona (1983)
- Perkawinan Nyi Blorong (1983)
- Gawang Gawat (1984)
- Kerikil-Kerikil Tajam (1984)
- Golok Setan (1984)
- Darah Perjaka (1985)
- Ratu Sakti Calon Arang (1985)
- Romantika (1985)
- Melintas Badai (1985)
- Biarkan Bulan Itu (1986)
- Langganan (1986)
- Barang Terlarang (1987)
- Depan Bisa Belakang Bisa (1987)
- Samson dan Delilah (1987)
- Malaikat Bayangan (1988)
- Pembalasan Ratu Laut Selatan (1988)
- Santet (1988)
- Ratu Buaya Putih (1988)
- Kanan Kiri OK II (1989)
- Ikut-Ikutan (1990)
- Jaka Sembung dan Dewi Samudra (1990)
- Di Sana Senang Di Sini Senang (1990)
- Salah Pencet (1990)
- Rebo dan Robby (1990)
- Misteri Janda Kembang (1991)
- Kembalinya Si Janda Kembang (1992)
- Selembut Wajah Anggun (1992)
- Pengantin Rimba Hitam
- Saya Duluan Dong (1994)
- Pemburu Teroris (1994)
- Gordel van Smaragd (1997)
- Peti Mati (2002)
- Suster N (2007)
- Karma (2008)
- Tarzan ke Kota (2008)
- Jeritan Kuntilanak (2009)
- Jinx (2010)
- 13 Cara Memanggil Setan (2011)


Tak cuma dikenal sebagai aktor, mendiang Him Damsyik juga piawai berdansa. Jauh sebelum menekuni dunia akting, aktor kelahiran Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929, ini telah dikenal sebagai koreografer. Karena kepiawaiannya, sutradara Wim Umboh bahkan kerap memercayakan urusan koreografi untuk filmnya kepada Him Damsyik.

Di akhir Maret pada tahun 2003, pria bertubuh ramping itu pernah dengan bangga mengklaim bahwa dirinya adalah Datuk Dansa. Ia juga menceritakan kecintaannya di dunia tari.

Untuk mengenang sosoknya, Kompas.com kembali mewartakan hasil wawancaranya yang pernah dimuat HU. Kompas pada 29 Maret 2003. Him Damsyik tutup usia pada Jumat (3/2/2012) dini hari dalam perawatan di Rumah Sakit Puri Cinere.    

***
PIALA Dunia 1998 sudah lama berlalu, namun ada yang masih tersisa: kegemaran masyarakat berdansa.

Lagu La Copa de la Vida yang dipakai sebagai lagu resmi Piala Dunia 1998, dan didendangkan Ricky Martin dengan tarian salsa yang atraktif, membuat masyarakat kota-kota besar turun ke lantai dansa. Mulai dari poco-poco hingga ballroom.

Bicara soal dansa di Indonesia, ada satu nama yang segera muncul, yakni si Datuk Maringgih, HIM Damsyik.

"Ha-ha-ha...aku memang si Datuk Maringgih. Kalau urusan dansa, orang mungkin memanggilku Datuk Dansa," katanya.

Wajar bila Damsyik, bintang sinetron TVRI "Siti Nurbaya", mengatakan demikian. Dalam Jakarta Open Dance Sport 2003 di The Grand Ballroom Hotel Mulia, Jumat (28/3), Damsyik akan unjuk kebolehan bersama pedansa-pedansa dari berbagai penjuru dunia. Tercatat ada 122 pasang pedansa internasional ikut dalam kejuaraan tersebut.

"Saya bersyukur, perkembangan dansa di Indonesia sangat pesat. Pemicunya, ya, saat Piala Dunia 1998 tadi. Dansa yang semula tidur nyenyak, sekarang mulai bangun," ujar Damsyik, yang sejak 12 Juli 2002 dipilih sebagai Ketua Ikatan Olahraga Dansa Indonesia yang bernaung di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

"Dansa sekarang masuk dalam kategori olahraga. Kalau berdansa, seluruh tubuh kita bergerak. Sama dengan olahraga," tukas Damsyik yang lahir di Teluk Betung, 14 Maret 1929.

Di usianya yang 74 tahun, Damsyik masih sangat kuat berdansa. Tubuhnya yang kurus tidak kelelahan, meskipun dia telah berdansa hingga berjam-jam. "Setiap ada kesempatan, saya pasti berdansa. Dansa membuat tubuh saya selalu sehat, tidak mudah sakit, dan tidak membuat perut saya buncit," ujarnya.

***

Masa kecil Damsyik di Teluk Betung, Lampung, banyak dihabiskan dengan menari.

"Setiap kali ada perayaan, pasti anak-anak disuruh menari. Saya sering ikut ambil bagian. Ternyata saya senang menari, dan banyak orang menilai saya berbakat," kenangnya. Damsyik mengaku tidak tahu bakat menarinya datang dari mana. Orangtuanya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, KPM, tidak pernah menari atau berdansa.

Hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi, Damsyik berkenalan lagi dengan dansa. "Tahun 1950-an itu masih banyak orang Belanda. Jadi, budaya berdansa masih banyak di masyarakat. Setiap malam Minggu, mahasiswa pasti kumpul. Di sanalah bakat dansa saya terasah," kata Damsyik yang aktif dalam Ikatan Mahasiswa (D)Jakarta (Imada) semasa kuliah.

Damsyik mulai percaya bahwa dirinya mempunyai bakat berdansa ketika menyabet juara I lomba dansa ballroom. "Saya terkejut, sekaligus senang. Sejak itu saya memutuskan untuk menekuni dansa dan pindah menjadi profesional," ujarnya.

Menjadi profesional menuntutnya belajar lebih jauh. Ia mendalami dansa selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Tidak banyak instruktur dansa di Indonesia yang mengantongi ijazah dansa internasional, dan Damsyik salah satunya.

Akibatnya, jadwal Damsyik sangat padat. Setiap hari harus mengajar di kelas-kelas dansa yang tersebar di Jakarta. Ada juga yang minta kursus privat, atau menjadi juri lomba dansa yang marak diselenggarakan. Damsyik sendiri memimpin sekolah dansa di bilangan Cinere, Damsyik School of Dance.

Bagi Damsyik, kategori dansa seperti waltz, tango, blouse, quick step, dan slow foxtrot adalah "makanan sehari-hari". Secara umum, dansa dibagi dalam dua jenis, modern ballroom dan Latin American Dancing. Lima kategori tadi merupakan bagian dari modern ballroom. Sedangkan Latin American Dancing terbagi menjadi rumba, falcaca, samba, paso doble, dan jive.

"Waltz sebenarnya ada dua, yakni vienna waltz dan english waltz. Vienna waltz gerakannya lebih cepat dan lincah, tetapi tidak digemari oleh orang Inggris. Mereka lebih senang yang lembut dan tidak begitu melelahkan. Maka, lahirlah english waltz," katanya.

Dansa diplomasi yang dilakukan Presiden Megawati dan Presiden RRC Jiang Zemin satu tahun lalu di Beijing termasuk dansa modern ballroom.

***

TELAH banyak murid dansa yang dilatih oleh Damsyik. Mereka sekarang memenuhi kafe, club house, atau hotel yang menyediakan tempat untuk berdansa. Di tempat-tempat itu, para clubber bersosialisasi dengan berdansa bersama. "Dansa itu perlu untuk pergaulan. Lihat saja Presiden Megawati melakukan dansa sebagai alat diplomasi juga," kata Damsyik.

Menurut Damsyik, kekuatan dansa terletak pada fungsi sosialnya. "Dansa membuat orang berbaur, laki-laki maupun perempuan, dari latar belakang apa pun. Semua bisa bergembira bersama," tegas Damsyik yang mulai terjun ke dunia akting setelah dansa dianggap tarian imperialis oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Waktu itu, tahun 1950-an, PKI masih berkuasa. Mereka menganggap dansa adalah kebudayaan Barat, jadi dilarang keras. Saya juga sempat takut, tetapi tetap berlatih sendiri. Kalau ada kesempatan, saya berdansa," kenang Damsyik.

Walau hanya diminati oleh golongan menengah atas, dansa telah kembali ke masyarakat. Banyak kaum eksekutif dan pejabat tinggi mempelajarinya. "Dansa yang saya mainkan ini adalah dansa standar internasional. Jadi, murid-murid saya juga bisa melakukannya di luar negeri. Jadi, sarana pergaulan internasional," kata Damsyik yang menolak menyebutkan nama-nama murid dansanya dengan alasan tidak etis.

Ayah lima anak dan kakek dari 20-an cucu ini mengaku sangat senang dengan populernya kembali dansa di masyarakat. Bukan tidak mungkin pedansa Indonesia nantinya akan diperhitungkan dalam kancah internasional. "Saat ini pedansa Indonesia masih sama kedudukannya dengan pedansa Malaysia dan Singapura. Belum sebagus Cina. Cina itu paling top di Asia," kata Damsyik.

Diharapkan, jika dansa terus dipopulerkan, maka pedansa-pedansa baru akan muncul.

***

MENGENAI gelar "bangsawannya", yakni Datuk Maringgih, Damsyik sangat tidak keberatan. Walau Datuk Maringgih adalah tokoh yang jahat, yang memaksa mengawini Siti Nurbaya, Damsyik tetap bangga disebut Datuk Maringgih.

"Tidak banyak tokoh perfilman kita yang memiliki ciri melekat seperti itu. Jadi, jika saya mendapatkan ciri tersebut, itu ciri termahal yang saya miliki," kata Datuk, eh, Damsyik.

Ia menyebutkan dua contoh, yakni almarhum Dicky Zulkarnaen yang dikenal sebagai Si Pitung, dan almarhum Ratno Timoer sebagai Si Buta dari Goa Hantu. "Biar wajah saya tidak seganteng Thomas Djorgi, tetapi saya punya ciri yang terus melekat," kata laki-laki berwajah tirus dengan tinggi 180 sentimeter dan berat 55 kilogram ini.

Damsyik mengaku, sebenarnya dia sempat menolak memerankan Datuk Maringgih, karena kalau salah memerankannya maka seluruh kru produksi sinetron itu bisa diprotes oleh pemirsa. "Ternyata saya bisa memerankan tokoh itu dengan cukup baik," kata Damsyik.

Dansa membuka jalannya ke dunia akting. Sutradara Wim Umboh sering memintanya menjadi koreografer untuk film-filmnya, dan akhirnya memintanya menjadi pemain.

"Asyik, kan? Dengan dansa, saya bisa meraih kesuksesan, karier, kesehatan, dan kebahagiaan. Jadi, kalau mau bahagia dan sehat, berdansalah," ujar Damsyik.
09.34 | 0 Komentar | Read More

Profil Asma Assad Permaisuri Bashar al-Assad Presiden Suriah

Written By Unknown on Rabu, 01 Februari 2012 | 10.03



Asma Assad, 36 tahun, dibesarkan di Acton, London Barat. Di sana ia dikenal sebagai "Emma".

Dia adalah putri dari ahli jantung Fawaz Akhras dan pensiunan diplomat Sahar Otri. Kedua orang tuanya itu Muslim Sunni, yang pindah dari Suriah ke London tahun 1950-an. Kepindahan itu memungkinkan sang ayah mendapatkan pendidikan yang terbaik dan pelatihan medis. Sang ayah kini bekerja di Rumah Sakit Cromwell dan di Harley Street.

Asma, yang memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Inggris dan Suriah, dididik di sebuah sekolah Church of England di Ealing sebelum ia masuk ke sekolah swasta khusus perempuan, Queen’s College di Harley Street.

Dari Queen’s, di mana ia meraih prestasi yang cemerlang, Asma melanjutkan ke King's College London untuk belajar Ilmu Komputer dan meraih ijazah dalam Sastra Perancis. Ketika lulus, dan setelah sempat bepergian selama enam bulan, ia bergabung dengan Deutsche Bank sebagai analis bidang hedge-fund management.

Dia kemudian pindah ke bank investasi JP Morgan dan bekerja di Paris, New York, serta London. Pada suatu kesempatan libur keluarga, ia kembali ke Suriah. Ketika itulah dia bertemu Bashar.

Bashar kemudian datang ke London untuk belajar Oftalmologi (cabang ilmu kedokteran yang mempelajari anatomi, fungsi, patologi, dan perawatan mata). Namun, ia harus pulang lebih awal ke Suriah setelah kakaknya, Basil, yang menjadi ahli waris kekuasaan ayahnya, yaitu Hafez al Assad, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.

Asma mulai menemui Bashar secara rahasia. Ia kemudian mengundurkan diri dari JP Morgan hanya sebulan sebelum pernikahan. Ia tidak membeberkan alasan sebenarnya ketika mengundurkan diri. Bersama ayahnya, Asma telah mendirikan beberapa badan amal yang berbasis di London, seperti Syria Heritage.



Majalah Vogue menggambarkan Asma sebagai "ibu negara paling segar dan paling punya daya tarik". Ia juga menduduki puncak daftar "perempuan paling modis dalam politik" versi majalah Elle dari Perancis.

Bashar dan Asma sekarang tinggal di sebuah apertemen berjendela kaca di Damaskus. Tiga anak laki-laki mereka belajar di sebuah sekolah Montessori.

Asma bisa berbicara empat bahasa. Koneksinya dengan Perancis telah memungkinkan dia membujuk pengelola Museum Louvre untuk membantunya menyelenggarakan atraksi budaya Suriah.
10.03 | 0 Komentar | Read More
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...