Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Kisah Sedih Pak Raden dan Unyil

Written By Unknown on Minggu, 15 April 2012 | 10.01


Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5. Si Unyil ini diciptakan oleh Suyadi

Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Kata "Unyil" berasal dari "mungil" yang berarti "kecil".

Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong"!

Unyil Bangkit lagi
Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan jamannya, akan tetapi usaha itu gagal.

Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu "Cepek dulu dong" kini jadi "Gopek dulu dong"; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.



Bagaimana kelanjutan nasib sang pencipta boneka mungil ini?

Hingga kini, sudah lebih dari sepuluh tahun, hak cipta Si Unyil itu tak ada ditangannya. Padahal, seharusnya sudah banyak pundi-pundi rupiah yang berhasil ia kantongi dari karya yang diciptakannya itu


Terhitung sejak tahun 1980-an, Pak Raden  tercatat sudah tiga kali pindah rumah kontrakan.

Rumah terakhir atau yang kini ditempatinya, yakni yang berada di Jalan Petamburan III ini pun bukan miliknya. Rumah sederhana bercat kuning itu adalah milik kakaknya.

Kondisinya pun tak layak untuk sekelas Pak Raden. Atap rumah itu sering bocor, sirkulasi udara tak berjalan baik, terletak di gang sempit. Bahkan, rekaman kaset 'Si Unyil' dan buku-buku koleksinya tak terurus, penuh debu.

Beberapa rekaman kaset Si Unyil sudah banyak yang rusak karena tak memiliki ruang penyimpanan layaknya perpustakaan kelas satu. Beberapa lukisan kesayangannya pun masih terpajang, sebagian juga sudah terjual untuk menyambung hidup.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia melukis. Memang beberapa anak buahnya, yang sudah mengikutinya sejak 1980-an, turut membantu membuat boneka dari tokoh yang diambil dari serial Si Unyil. Sebagian dari boneka dan lukisan tersebut dikomersilkan.

Dari hasil itu, baru ia bisa membeli beras, sayur, peralatan lukis, dan berobat ke dokter. "Sudah sejak dua tahunan ini Pak Raden sulit jalan," kata Nanang, yang sehari-hari mengurusi Pak Raden.

Pak Raden kini tak lagi memiliki apa-apa lagi karena hak cipta atas Si Unyil ternyata tidak dia miliki. Hak cipta Si Unyil dimiliki Perum Produksi Film Negara (PPFN). Pak Raden mengaku mulanya tak peduli dengan masalah hak cipta ini. Namun, kini ia seperti menyesal. Setelah bertahun-tahun bekerja, bukan dirinya yang memetik hasilnya.

"Orang lain senang pakai nama 'Si Unyil' dan nama 'Pak Raden'," ujar pria yang memiliki kumis tebal sebagai ciri khasnya ini.

Kini, Pak Raden sedang memperjuangan hak cipta 'Si Unyil' ke Direktorat Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM. Tujuannya satu. Pak Raden ingin hak cipta 'Si Unyil' kembali dalam genggamannya.
10.01 | 0 Komentar | Read More

Kisah Mike Tyson: dari Gembel Menjadi Gembel

Written By Unknown on Minggu, 11 Maret 2012 | 19.30

 Myke Tyson dari gelandangan menjadi milyader dan kembali ke menjadi Gelandangan


Berandalan itu dibekuk polisi. Di keramaian Los Angeles suatu malam. Dia sudah sempoyongan. Alkohol dan kokain membunuh segenap ingatan. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Nyaris seruduk kiri kanan. Lupa pula membawa surat ijin mengemudi.

Kepada polisi dia mengaku tersesat. Hendak pergi  ke sebuah pesta, malah nyasar jauh dari tujuan. Anehnya dua polisi itu tak menahan. Mereka malah mengantar lelaki mabuk ini hingga di rumah pesta. Dua polisi baik hati itu menitip pesan kepada penjaga pintu. “Kau harus memastikan dia pulang lagi ke rumahnya.”

Lalu kedua polisi itu pergi sembari berjanji akan datang lagi mengecek si pemabuk itu. Begitu dua polisi itu pergi, semua peserta pesta ikut bubar. Dengan mulut bau alkohol dia sempat meminta peserta menunggu. Tak ada yang peduli.

Acara itu pun bubar. “Datang ke sebuah pesta diantar polisi bukan ide bagus. Bisa merusak pesta,” ujar si pemabuk itu. “Kasihan juga si tuan rumah.”

Pemabuk yang mencoba melucu itu adalah Mike Tyson, petinju legendaris yang sohor dengan julukan si leher beton. Kisah di atas dituturkan Tyson kepada Las Vegas Sun, 26 Februari 2012.

Dan kisah mabuk itu hanya satu dari sekian kisah mengerikan, yang dituturkan dengan gaya melawak dalam acara Mike Tyson: Undisputed Truth-Live on Stage. Itu acara akan ditampilkan di panggung teater.

Dalam acara itu, Tyson akan “menelanjangi” dirinya sendiri. Mengajak penonton masuk ke dunia yang berjasa menerbangkan nama ke seluruh dunia, sekaligus membantingnya ke titik nadir.

Kini, nasib si raja Knock Out itu memang sedang sempoyongan. “Tiga tahun lalu saya tak punya rumah. Saya butuh uang untuk menjaga agar serigala tak memasuki pintu,” tutur Tyson seperti dikutip dari The Sun, Senin 5 Maret 2012.

Beruntung, lanjutnya, seorang penggemar nun jauh di Inggris sana, datang menolong. Memberi uang. Menampilkannya dalam sejumlah acara talkshow. Dari uang itulah Tyson mendanai acara teater. Penonton membayar.
Mike Tyson adalah contoh bahwa hidup bisa diputar ke sisi yang berseberangan. Dulu hidup dari bertarung di ring, kini hidup dari membanyol. Dulu para penonton ngeri melihat keberingasannya, kini mereka terbahak-bahak. Dua-duanya sama gunanya. Menyambung hidup.

*****
Michael Gerard Tyson, begitu nama pemberian orang tuanya, lahir 30 Juni 1966 di Broklyn, sebuah daerah yang keras di kota New York. Ayahnya, Jimmy Kirkpatrick, meninggalkan rumah saat Tyson berumur 2 tahun. Seorang diri sang Ibu, Lorna Smith, membesarkan Tyson beserta dua saudaranya Rodney dan Denise.

Saat remaja Tyson gemar berkunjung ke Taman Kota Brownsville. Dia jatuh cinta pada taman itu. Pada burung dara yang selalu berkerumun. Entah apa daya pikatnya. Dia melihat burung dara itu seperti hewan ajaib.

Begitu sayang pada burung itu, ia lalu membeli dan merawat seekor di rumah. Rajin memberi makan. Memandikan. Bermain-main dan bersenda gurau dengan burung itu.

Suatu hari dia terkejut. Burung dara peliharaan itu raib dari rumah. Dicari ke sana ke mari tidak ketemu juga. Ternyata burung itu dicuri anak-anak bengal. Dan tak cuma mencuri, geng bengal itu memelintir leher burung itu, hingga jadi bangkai.

Tubuh si pembunuh burung itu memang lebih besar. Juga terlihat lebih kekar dari Tyson, yang saat itu berusia 11 tahun. Dan si bengal itu benar-benar cari gara-gara. Sembari membawa bangkai burung itu dia lewat di depan rumah. Lalu melempar bangkai itu ke muka si empunya.

Tyson yang pendiam itu pun muntab. Murka alang kepalang. Lalu nekat berkelahi melawan di tubuh besar itu. Tak menunggu lama, dia menghujani bertubi-tubi bogem ke muka sang lawan. Ditonton banyak orang. Si bengal itu babak belur.  “Boleh diartikan saya lah pemenangnya,” ujar Tyson dalam wawancara dengan majalah Time di kemudian hari.

Baku pukul karena burung itu, mengubah jalan hidup Mike Tyson. Dari anak rumahan menjadi berandalan jalanan. Dan hidup di jalanan daerah kumuh itu, seakan cuma bisa bertahan dengan kepalan tangan.  Dia lalu bergabung dengan geng jalanan. Berkelahi nyaris saban pekan.

Dan semenjak itu hidupnya cuma di dua tempat. Jalanan dan kamar penjara. Sebelum berumur 13 tahun, Tyson sudah ditangkap polisi 38 kali.

Sang ibu yang cemas lalu mengirim Tyson ke sekolah Tryon School for Boys di Johnstown, New York. Sekolah itu menampung banyak anak berandalan. Di situ banyak pilihan ekstrakurikuler. Dan Tyson memilih tinju.

Kelas itu dilatih oleh Bobby Stewart, seorang mantan petinju. Tapi Tyson hanya berlatih beberapa bulan di situ. Melihat bakat besar Tyson, Bobby lalu mengenalkannya dengan pelatih legendaris Cus D’ Amato. Lewat tangan orang inilah dunia mengenal kepalan tangan si leher beton itu.

Dari sekolah itu dia dipindahkan ke sasana tinju D’Amato di Catskill Boxing Club pada tahun 1980. Dibantu asistennya, Kevin Rooney, D’Amato membentuk ulang anak bengal itu. Menanam kedisiplinan. Melatihnya mengendalikan diri.

Kelak Tyson mengenang D’Amato sebagai arsitek dalam hidupnya. “Dia menghancurkan hidup saya. Tapi kemudian ia membangunnya kembali.” Sang pelatih memindahkan kebengalan anak jalanan itu ke atas ring.

Ketika diperam di sasana itu, Ibu Mike Tyson jatuh sakit. Kanker menggerogoti ibu yang berjuang keras. Lalu menyerah. Lorna Smith wafat tahun 1982, dua tahun sebelum Tyson memulai karir profesional.

Sepeninggal sang ibu, D’Amato menjadi wali Tyson. Dia menjadi sosok ayah bagi Tyson, sampai D’Amato meninggal tahun 1985. Setelah D’Amato wafat Tyson dilatih Kevin Rooney.

Tahun 1984, saat berusia 18 tahun, Tyson memulai debut tinju profesional. Remaja bengal itu sukses memukul KO Hector Mercedes di ronde pertama. Memukul Hector hingga tersungkur melempangkan jalan ke lawan-lawan berikutnya.

Dan kemenangan demi kemenangan diraih. Hampir semua tersungkur KO. Lalu tibalah 1986 itu. Remaja 20 tahun itu melawan Trevor Berbick sang juara di kelas berat versi WBC.

Meski Berbick bertubuh besar, Tyson tidak sulit merubuhkan sang juara. Di ronde kedua Berbick tersungkur. Tyson pun mencatatkan diri sebagai petinju termuda dalam sejarah yang berhasil meraih sabuk juara kelas berat dunia. Ia meraihnya dalam usia 20 tahun, 4 bulan, 22 hari.

Tyson kemudian membuat para petinju meriang ketakutan, bahkan para juara. Pada tahun 1976 itu juga, dia memukul KO James Smith pemegang sabuk kelas berat WBA. Lima bulan kemudian, Tyson menjadi petinju pertama yang berhasil menyatukan seluruh gelar tinju kelas berat, setelah  mengalahkan Tony Tucker, pemegang sabuk IBF.

Tyson kemudian dikenal sebagai raja KO. Dia berhasil menang 28 kali. Dan 26 di antaranya menang dengan KO atau TKO. Dari pertarungan sejumlah itu, 16 di antaranya menang KO di ronde pertama. Hampir seluruh lawan bengap.

Setelah menyudahi semua jawara di kelas berat, Tyson kemudian menghadapi petinju yang mengincar gelar-gelar itu. Dari wajah baru hingga para jawara tua. Dan mereka disudahi dengan cara menggetarkan.

Mantan juara kelas berat dunia Larry Holmes tersungkur di ronde ke empat. Leonel Spinks jatuh dan tak bangun lagi hanya dalam tempo 91 detik. Kegarangan Tyson terus mendunia.

*****
Tapi keharuman itu tidak berumur panjang. Sejumlah kalangan menyebutkan gaya hidup Mike Tyson berubah semenjak berkenalan dengan Don King, promotor flamboyan yang gemar pesta.  Tyson mulai doyan pesta dan absen dari sasana latihan.

Hubungan dengan sang pelatih jadi tegang. Tyson marah besar. Dan puncak perseteruan itu tahun 1988. Dia memecat tanpa sebab Kevin Rooney, pelatih yang susah payah menanam kedisiplinan.
Rooney pergi, kehidupan Tyson kian liar. Tak ada lagi orang yang sesabar Rooney mengingatkan soal disiplin dalam hidup, juga di atas ring. Hidupnya kembali bengal. Rajin mabuk di pesta-pesta.
Dan dia menuai badainya lewat hook beruntun James Buster Douglas. Petinju yang tidak dikenal itu menghajar Tyson Februari 1990 di Jepang. Sebuah pukulan upper cut kanan memang sempat merubuhkan Douglas ke lantai. Tapi dia bangun lagi. Seperti sudah mengukur daya pukulan Tyson, Douglas tampil lebih impresif.

Dan hook kanan beruntun di ronde 10 mengirim Tyson mencium kanvas. Dalam pertarungan ulang, Tyson kemudian membalas dendam. Memukul KO Douglas. Tapi pertarungan melawan Douglas itu perlahan mulai meruntuhkan kedigdayaan Tyson. Si raja KO itu bisa tersungkur juga, bahkan oleh pendatang baru.

Meski para penantang mulai berani, Tyson tak kunjung memperbaiki kelemahan utamanya, kedisiplinan. Hidupnya malah kian buram. Tahun 1991, dia dihukum penjara enam tahun karena memperkosa ratu kecantikan dari Rhode Island, Desiree Washington.

Insiden itu terjadi di Indianapolis. Di penjara, Tyson mulai mengenal dan memeluk agama Islam. Dia mengganti nama menjadi Malik Abdul Aziz. Tiga tahun dia menjalani hukuman.

Keluar dari penjara dia seperti terlahir kembali. Berhasil merebut gelar WBC dan WBA dengan memukul KO Frank Bruno dan Bruce Seldon. Namanya kembali gemilang dalam dunia tinju.

Tapi masa suram itu datang lewat kepalan tangan Evander Holyfield. Petinju yang telah lama menunggu giliran bertarung melawan Tyson. Menerima pukulan bertubi-tubi 9 November 1996 dari Evander, wasit menghentikan pertandingan. Tyson kalah TKO. Dia kehilangan gelar WBA.

Pertandingan ulangnya dibatalkan setelah Tyson menggigit kuping Holyfield. Tyson berdalih, dia kesal karena kepala Holyfield terus membentur dahinya tanpa dihentikan wasit. Semenjak itu Tyson jadi bahan olokan.

Tahun 2002, dia kembali bertinju pada usia ke 35. Tapi ia kalah KO oleh Lennox Lewis. Tahun 2006, Tyson resmi mundur setelah kalah KO dari Danny Williams dan Kevin Mcbride. Dua petinju yang tak begitu dikenal dunia.

*****
Gelar hilang, harta juga lenyap. Berkarir semenjak 1984, Tyson sesungguhnya meraup uang banyak. Sedikitnya U$400 juta dolar. Sekitar Rp3,6 triliun. Si leher beton ini memang dibayar mahal tiap bertinju. Pada masa keemasan pernah dibayar U$30 juta dolar alias Rp270 miliar. Untuk sekali tarung.
Bergelimang uang, gaya hidupnya di awang. Pada akhir 2003, Tyson pergi ke toko permata dan membeli emas berlapis permata 80 karat seharga U$174.000 dolar atau Rp1,5 miliar. Dia banyak menghabiskan uang bersama wanita. Memanjakan mereka dengan perhiasan dan foya-foya. Saban hari begitu, tentu saja uang itu ludes.

Hanya delapan bulan sesudah kehebohan membeli emas miliaran itu, Tyson mengumumkan dirinya bangkrut. Ia mendaftarkan pengakuan bangkrut itu pada 22 Desember 2003 di Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat di Manhattan.

Harian The New York Times melaporkan Tyson memiliki utang U$23 juta dolar atau Rp207 miliar. Ia juga memiliki utang pajak di Amerika Serikat dan Inggris sebesar U$17 juta dolar atau Rp153 miliar.
Utang itu untuk biaya pengacara sebesar U$750 ribu dolar atau Rp6,7 miliar. Utang biaya pelayanan limosine sejumlah U$300 ribu dolar atau Rp2,7 miliar. “Saya betul-betul sudah melarat dan bokek,” katanya kepada wartawan saat itu.

Tidak hanya bokek, Tyson bahkan dikabarkan sudah jadi gembel. Pada tahun 2004, di berbagai forum internet, ramai diberitakan Tyson hidup luntang-lantung hidup tanpa rumah. Seluruh asetnya habis membayar utang.

Lalu munculah bantuan penggemar di Inggris itu.  Dia kemudian menikahi seorang wanita bernama Lakiha Spicer tahun 2009. Bersama Spicer, yang akrab disapa Kiki itu, Tyson mengatur hidup dari pinggiran kota Las Vegas. Mereka tinggal di perumahan Seven Hills.

Menurut The New York Times, rumah itu dibeli Tyson dari Jalen Rose, pebasket NBA. Dan itulah satu-satunya aset Tyson saat ini. Kini usianya 45 tahun. Punya dua anak bernama Moroco dan Milan. Meski hidup pas-pasan, kata Tyson, “Saya memiliki banyak kesenangan, seorang istri dan dua anak.”
Kini hidup Tyson berubah. Tidur pukul delapan malam. Jam dua pagi dia bangun. Lalu mendengar musik dari Ipod-nya. Setelah itu membaca buku. Ia melalap buku apa saja.

Pukul 6 pagi, saat istrinya bangun, barulah ia memulai harinya. Biasanya mereka berunding soal proyek. Bersama sang istri, Tyson memang mendirikan perusahaan Tyranic. Bergerak di bidang hiburan. Sang istri jadi manajer Tyson.

Sejumlah proyek yang digarap antara lain  pembuatan film, pertunjukan teater, atau talk show. Dan semua acara itu berkisah tentang Mike Tyson.

Pemain di setiap teater adalah Tyson. Ia bahkan pemain tunggal. Pada setiap panggung dia berkisah tentang hidupnya sendiri.  Menurut The Washington Post, pagelaran berjudul “Mike Tyson: Undisputed Truth— Live on Stage” akan digelar selama sepekan.  Dari 13 April sampai 18 April 2012.
Harga tiketnya tidak mahal. Untuk 740 kursi penonton, tiket dijual seharga U$99,99 dolar atau Rp900 ribu. Sementara untuk kursi VIP dijual U$499,99 dolar atau sekitar Rp4,5 juta. Acara itu akan digelar di MGM Grand Hollywood Theatre.

Proyek terakhir yang sedang digarap suami istri adalah film komedi “Hangover III.” Film ini memang berkisah tentang sejarah hidup Tyson. Setelah sukses dengan Hangover I dan II, kini Tyson menggagas untuk membuat sekuel ketiga.

Generasi muda kini lebih mengenal Tyson sebagai pemain teater dan film ketimbang sebagai petinju legendaris. Satu dari dua polisi baik hati yang menghantar Tyson ke tempat pesta malam itu,  berujar dengan suara girang, “Saya menyukai penampilan Anda di Hangover.”
19.30 | 0 Komentar | Read More

Kisah Inspirasi - Katakan Sejujurnya Sebelum Terlambat

Written By Unknown on Minggu, 04 Maret 2012 | 10.25


Kisah ini terjadi di Beijing, China, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, Ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya tak lebih sebagai sahabat.

Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum "Aku harap kau bahagia"
Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya

12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannyayang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya“Apa yang terjadi denganmu , kau ada masalah?

Yi mei tersenyum semanis mungkin "Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut" Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut.

Sahabatnya tersenyum "Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah". Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan dengan hati yang pedih.

18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma,Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup,semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan "mati" dan semuanya memiliki alat bantu, hanya muzizat yang bisa menyembuhkannya.

Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan "Suntik Mati" untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei.

10 Desember 1994 semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama.

Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei "Mei, apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?...kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu di sekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?"

"Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor?...Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu? ...Aku tak pernah melupakan hal itu"

"Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini ?...." Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei

"Mei...kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa ?...karena aku sangat MENCINTAIMU, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku"

"Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup. Aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, Dengarkan aku Mei bangunlah. !!" Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei "Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total.Aku percaya, bahkan kau tahu?.. Aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan"

"Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat ... !! Kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu, aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei"
"Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli, tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat"

Sahabat Yi mei mengecup pelan dahi Yi Mei, ia berbisik " Aku sayang kamu, aku mencintaimu..." suaranya terdengar parau karena tangisan.Dan apa yang terjadi ?....Its amazing !! "CINTA" bisa menyembuhkan segalanya.
7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, Sungguh sebuah keajaiban !! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi.Dan sebuah mujizat lagi  masa koma lewat pada tgl 11 Des 1994

14 Des 1994 Saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara,sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi. "Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik"  sahabatnya memeluk erat Yi Mei

Yi Mei tersenyum "Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku, tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup, Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu" Lei memeluk Yi Mei "Aku sangat mencintaimu juga".

17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing.

Apa hikmah dari kisah ini? Cinta adalah keajaiban. Kekuatan Cinta...Ya itu yang banyak dibahas dibahas di internet.

Tapi saya justru ingin mengambil sudut pandang lain.
Apa yang ingin saya sampaikan? KOMUNIKASI dan ASUMSI.
Betapa banyak orang menderita hidupnya hanya karena dua hal ini, salah ASUMSI dan salah KOMUNIKASI...

Katakanlah sejujurnya sebelum semuanya terlambat!!.
10.25 | 0 Komentar | Read More

Inilah Perbedaan Tukang Sampah di Jakarta dengan Tukang Sampah di London Ditayangkan Televisi Inggris BBC

Written By Unknown on Rabu, 01 Februari 2012 | 10.34


Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan kota yang cukup pesat di dunia ditayangkan stasiun televisi Inggris BBC2, Minggu (29/1) malam.

Wilbur Ramirez dan Imam


Laporan wartawan BBC London berjudul 'Toughest Place to be a binman' membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak saja di Inggris tetapi juga di Brussel,dan Amerika Serikat yang bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC Iplayer.

Selama satu jam laporan mengenai kisah Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap harinya dengan gerobaknya sementara diawal tayangan, tukang sampah dari Inggris Wilbur Ramirez mengunakan truk dan bekerja dengan dua rekannya.

Ramirez: Left to right, Dirk Maas, Martin Papier, Wilbur Ramirez, Paul Cassar and John Varnarva
Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi bahkan kesehatan dan keselamatan.

Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin ditengah tengah kehidupan kota Jakarta yang kaya dan sangat timpang antara yang kaya dan miskin.

Wilbur Ramirez, selama 10 hari, mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di kota yang disebutkan sebagai kota yang padat penduduk dan sampah menjadi masalah besar.

"Kamu bekerja dengan siapa saja," tanya London binman Wilbur Ramirez kepada Imam yang dijawab ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Wilbur Berpose dengan Latar Belakang Pembuangan Sampah  Bantar Gebang


Menangis

Melihat kehidupan Imam, ternyata Wilbur seringkali merasa terharu dan bahkan meneteskan air mata. Mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan istrinya meskipun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun.

Dalam laporannya disebutkan Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan menjajal melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah.

"Sampah........," demikian teriak Imam, ayah dua anak ini sehari-hari menjalankan aktfitasnya sebagai pengumpul sampah.

Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika berkisah bagaimana kehidupan Imam dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Dari dunia kesehatan dan keselamatan sadar pengelolaan limbah Inggris, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang menumpuk di Bantargerbang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.

Diakhir laporan Wilbur yang tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu menemukan kehidupan Imam yang mendominasi, dan ketidakberdayaannya untuk mengubah keadaannya.

Pada akhirnya setelah Wilbur berbicara dengan ketua RT yang minta agar Imam mendapat kenaikan gaji pun dapat dikabulkan.

Imam

Menjadi Perbincangan di Internet

Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman Facebook-nya "sediiiiiih banget liat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang binman London ke Jakarta berbagi pengalaman".

"Sangat memalukan sekali kota Jakarta ternyata sangat kotor dan masih terbelakang sekali cara kerjanya," ujar istri Berry Natalegawa, kakak Menlu Marty Natalegawa.

Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa, biasa disapa seharusnya para pejabat malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Inggris.

"Apa enggak malu? malah wakil rakyat seenak enaknya ambil uang rakyat apa lagi pemimpin negara yang tidak peduli sangat memalukan, semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini," ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merekam program tersebut dan akan membawa ke Jakarta.

"Nangis aku nontonnya.....bukan nangisin tukang sampah Inggris, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah," ujar Yanti Hitalessy.

Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan diskusi di laman facebook yang antara lain disebut oleh Lies Parish meskipun sama berprofesi sebagai tukang sampah atau binmen namun pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.

Bahkan London binmen pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta, ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Inggris.

Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di Inggris dan kini tinggal di Brussel yang juga menyaksikan tayangan tersebut mengakui bahwa acara benar-benar kontras kehidupan di sana, miris.

Begitupun yang ditulis Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol menulis tukang sampah di Inggris yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di Jakarta.
10.34 | 0 Komentar | Read More

Terlahir tanpa tangan Gadis Cantik ini Mengetik dengan Bibirnya

Written By Unknown on Selasa, 31 Januari 2012 | 21.53


Tekad gadis muda yang satu ini patut dicontoh. Tubuhnya yang terlahir tanpa tangan, tidak menjadi halangan untuk mewujudkan cita-citanya menerbitkan novel.Wang Qianjin, mampu membuat sebuah novel walau mengetik menggunakan bibirnya.

Kini gadis berusia 18 tahun ini, sedang bersiap menyambut hari di mana novel pertamanya siap dipublikasikan, demikian lansir Orange. Qianjin tidak pernah belajar secara formal di sekolah.

Namun dia mampu memahami beragam bahasa, mulai dari bahasa ibunya, yakni bahasa China, juga memahami bahasa Jepang dan Korea. "Kemampuan multilangualnya dia dapatkan dari kegemarannya menonton tayangan drama di televisi.

Dia mempelajari cara pengucapan bersama dengan struktur karakter bahasanya" Kepandaiannya mempelajari berbagai bahasa dia dapatkan dari kemampuannya mengingat segala hal walau dengan sekali lihat. Awalnya, Qianjin adalah seorang penulis blog online di internet. Dia menggunakan nama samaran di blognya.

Namun banyak yang tertarik dengan cerita bersambung yang dibuat olehnya. “Banyak pembaca yang meminta saya menulis lebih banyak cerita lebih cepat, saya usahakan itu.

Saya mulai menulis dari pukul 09.00 hingga pukul 01.00 dini hari di keesokan harinya. Saya menghabiskan banyak waktu saya di depan komputer,” ujar Qiajin.

Kini cerita dalam blognya akan dipublikasikan ke sebuah novel. Cerita fiksi yang mengisahkan tentang seorang gadis dari keluarga kaya yang jatuh cinta kepada seorang gangster. Ayahnya, Wang Yunqi, tidak pernah tahu tentang bakat yang dimiliki putrinya ini hingga Qianjin akhirnya kini akan meluncurkan sebuah novel. “Dia hanya tinggal di rumah dalam kesehariannya, tidak pernah sekolah.

Sungguh luar biasa mengetahui dia bisa menulis dan bahkan menulis sebuah novel,” ujar Wang Yunq.

Read more at: http://www.ikadanewsonline.com/2012/01/terlahir-tanpa-tangan-gadis-cantik-ini.html
Copyright www.ikadanewsonline.com Under Common Share Alike Atribution
21.53 | 0 Komentar | Read More

Nenek 101 Tahun Diusir dari Rumah Kontrakannya (kisah Nyata)

Written By Unknown on Senin, 30 Januari 2012 | 10.21


 Perempuan tua ini berhasil menarik banyak simpati dan simpati ini telah mengubah hidupnya. Texana Hollis diusir dari rumahnya karena tidak lagi sanggup membayar cicilan. Rumahnya disita tanpa ampun dan dia tidak dapat tinggal di dalam rumahnya lagi.

Nenek yang berusia 101 tahun itu pun ditinggalkan sendirian di kursi rodanya di luar rumah bersama beberapa barangnya. Dia benar-benar merasa sedih dan ketakutan di masa tuanya. Peristiwa ini terjadi September tahun lalu.

Detroit News pada edisi akhir pekan lalu melaporkan, salah seorang sahabat lamanya, Pollian Cheeks (68), bersedia menampung nenek ini di rumahnya. Cheeks lalu membuka kotak pos untuk menampung sumbangan bagi Hollis. Untunglah, banyak orang bersimpati dan sumbangan terus mengalir ke kotak pos tersebut.

”Saya berkata kepadanya, banyak orang yang menyumbangkan uang untuk membeli baju baru, tidak perlu khawatir dengan baju yang lama,” ujar Cheeks. Bahkan, pelawak Tyler Perry menelepon dan berbicara dengan Hollis.

Perry lalu menelepon perusahaan konstruksi di St Clair Shores untuk membuat lintasan kursi roda agar Hollis dapat keluar masuk dengan lebih mudah. ”Lihat, saya yakin sekali Tuhan tidak pernah berbuat kesalahan. Dia menutup satu pintu, kemudian membuka pintu lain yang jauh lebih baik,” kata Hollis. Benar sekali, Nek....

101-year-old Texana Hollis speaks

10.21 | 0 Komentar | Read More

Reaksi Sultan HB IX Saat Ditilang (Sebuah Kisah Nyata)

Written By Unknown on Kamis, 19 Januari 2012 | 19.50

 Kisah ini sudah pernah ditampilkan pada berbagai situs website, tapi karena ceritanya sungguh menarik, sayang jika tidak di-share ke lebih banyak orang. Semoga menggugah hati banyak orang. (Demi kenyamanan membaca, tulisan yang aslinya sangat panjang ini kami persingkat dengan tak mengurangi maknanya).

Foto: Sri Sultan HB IX mengenakan pakaian putih putih dan membawa buku.
 Suatu pagi di pertengahan tahun 1960-an pada pukul setengah enam pagi, polisi muda Royadin yang berpangkat brigadir polisi, sudah berdiri dengan gagah di tepi posnya di kawasan Soko. Dari arah yang berlawanan dengan arus kendaraan lainnya, tampak sebuah sedan hitam berplat AB. Brigadir Royadin memandang di kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju ke arahnya. Dengan sigap, ia menyeberang jalan di tepi posnya. Tangannya diayunkan ke depan untuk menghentikan laju sedan hitam itu. Sedan tahun 50-an itu berhenti di hadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. "Selamat pagi! Boleh ditunjukkan rebuwes!" Pada masa itu, surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria di dalam sedan menurunkan kaca samping secara penuh. "Ada apa, pak polisi?" tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget. Ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah... Sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main, tapi itu hanya berlangsung sedetik. Naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Yogya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilakan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

"Ya... saya salah. Kamu benar, saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggenggam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa. "Jadi...?" Sinuwun bertanya. Pertanyaan singkat, namun sulit bagi Brigadir Royadin untuk menjawabnya.

"Em... emm... Bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak juga memakai kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan raja pun, beliau tidak melakukannya.

"Baik... Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar, Brigadir Royadin membuatkan surat tilang. Ingin rasanya tidak memberikan surat itu, tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tak boleh membeda-bedakan pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang membuatnya sedikit tenang adalah tak sepatah kata pun keluar dari mulut Sinuwun yang menyebutkan bahwa dia berhak mendapat dispensasi. "Sungguh orang besar...!" begitu gumamnya.

Surat tilang pun berpindah tangan. Brigadir Royadin menghormat pada Sinuwun sebelum Sinuwun kembali memacu sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal. Setelah Sinuwun pergi, Brigadir Royadin menyadari kebodohan dan kekakuannya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapa pun berhasil menghibur dirinya.

***

Esok paginya saat apel, suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan dari ruang komisaris. Brigadir Royadin diminta menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor. "Royadin, apa yang kamu lakukan.... Sa'enake dewe. Ora mikir... Iki sing mbok tangkep sopo heh... ngawur... ngawur!" Komisaris mengumpat dalam bahasa Jawa. Di tangannya, rebuwes milik Sinuwun berpindah bolak-balik dari telapak kanan ke kiri. "Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun. Biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia. Ngerti nggak kowe sopo sinuwun?"

"Siap Pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau ngaku salah... dan memang salah!" Brigadir Royadin menjawab tegas.

"Ya, tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia. Ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang... Ngawur... jan ngawur.... Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri!" Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apa pun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja. Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa.

***

Suatu sore saat bertugas, Royadin diminta menghadap komisaris di kantor. Setibanya di kantor, komisaris berkata, "Royadin.... Minggu depan kamu diminta pindah!" Mendengar berita itu, tubuh Royadin menjadi lemas. Ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak di pinggir kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya di persimpangan Soko.

"Siap, Pak !" Royadin menjawab datar.

"Bersama keluargamu semua, dibawa!" Pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja.

"Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!" Brigadir Royadin menawar.

"Ngawur... Kamu sanggup bersepeda Pekalongan-Yogya? Pindahmu itu ke Yogya bukan di sini. Sinuwun yang minta kamu pindah tugas ke sana. Pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!" cetus pak komisaris. Disodorkan surat yang ada digenggamannya kepada Brigadir Royadin.

Surat itu ditulis tangan yang inti isinya: "Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Yogya, sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Yogyakarta akan menempatkannya di wilayah Yogyakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat." Surat itu ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tangan Brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sanggup menolak permintaan orang besar seperti Sultan HB IX, namun ia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

"Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, tapi saya tidak bisa pindah dari Pekalongan. Ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!" Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati Sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris, namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya. Luar biasa!
19.50 | 0 Komentar | Read More

Kisah Yong Chun Kim Kakek pendaki Gunung Membakar Uang demi Bertahan Hidup

 Umurnya sudah 66 tahun, namun Yong Chun Kim pantang menyerah. Sabtu pekan lalu ia mempimpin sekelompok pendaki ke Mount Rainier di Washington DC yang sedang diselimuti salju tebal.

Dua hari ia terjebak di tengah badai salju, sendirian

Malang, ia terpeleset dan terpisah dari rombongannya. Selama dua hari ia bertahan hidup di tengah badai salju. Untung ia ingat, ada pemantik api dalam tas berisi perlengkapannya.

Seperti diberitakan Daily Mail, Rabu 18 Januari 2012, Untuk menjaga agar tetap hangat, pensiunan asal Tacoma itu menggali tanah, membuat terowongan salju dan membakar dedaunan di sekitarnya. Saat tak ada lagi yang bisa dibakar, ia mulai beralih ke barang-barang pribadinya, kaos kaki, plester luka, kertas pembungkus,  dan uang kertas US$1 dan US$5 yang ada di dalam dompet.
Ia tak takut sendirian berada di alam liar. "Saya hanya khawatir, itu kan taman nasional, tak seharusnya ada api. Aku khawatir sekali soal itu, tapi tak ada pilihan lain, ini cara supaya tetap bertahan hidup."

Mantan tentara Korea Selatan dalam perang Vietnam itu juga rajin bergerak, sembari berharap ada helikopter lewat. Saat hari mulai gelap, ia berlindung di bawah pohon. Kim juga menggunakan kekuatan pikiran, berimajinasi, membayangkan dirinya sedang mandi sauna. Ia juga kerap memikirkan istrinya untuk membangkitkan semangat.

Saat tim penyelamat akhirnya menemukannya, Kim sedang bergelung dibawah jaket dan kantung tidurnya di wilayah lembah sungai yang berselimut salju tebal. Butuh sembilan jam untuk membawanya turun dari lokasi terpencil, karena kondisi berbahaya. Namun, secara keseluruhan, ia baik-baik saja dan sehat sehingga tak perlu dilarikan ke rumah sakit.

Menurut Lee Taylor, juru bicara regu penyelamat, pihaknya sudah menduga, Kim akan ditemukan dalam keadaan selamat. "Pak Kim adalah pendaki yang sudah berpengalaman dan selalu siaga. Ia berada dalam kondisi sadar dan stabil saat kami temukan," katanya.

Usaha menemukan Kim bukannya tanpa kendala. Ia adalah pemimpin kelompok dan satu-satunya yang mengenal Gunung Rainier dengan baik. Teman-teman satu kelompoknya bahkan tak bisa mengingat persis titik di mana Kim jatuh dan menghilang.

Selain itu, cuaca buruk dan suhu minus sembilan derajat Celcius juga menghambat pencarian. Kereta salju Sno-cat dipilih untuk mengantar tim penyelamat ke lokasi. Helikopter tak dapat digunakan di tengah badai.

Butuh waktu sembilan jam untuk bisa menurunkannya karena medan gunung yang terjal. "Para jagawana itu orang-orang yang baik, saya suka mereka," kata Kim, yang sudah 30 tahun menjadi warga negara AS. (eh)
09.58 | 0 Komentar | Read More

Kisah Sukses - Dulu Sopir di Arab, Kini Juragan Jaringan Swalayan

Written By Unknown on Rabu, 18 Januari 2012 | 09.59


Kisah Sukses - Dulu Sopir di Arab, Kini Juragan Jaringan Swalayan - Pengalaman bisa ditimba dari mana saja. Asal ada tekad, mimpi yang diperjuangkan membuahkan hasil. Demikian juga yang berlaku pada Trisno Yuwono. Mengawali usia produktifnya sebagai TKI, ia sukses mengembangkan Sari-Sari Swalayan di Blitar.

Di tengah dominasi jaringan minimarket yang berkembang dengan sistem waralaba, masih ada pengusaha di daerah yang bisa bersaing. Salah satunya adalah Sari-Sari Swalayan di Blitar. Tujuh gerai milik Trisno Yuwono itu tetap bisa bertahan dan berkembang dengan omzet total mencapai miliaran rupiah per tahun.

Sejak memulai bisnis ini pada tahun 2000 hingga sekarang, Trisno sudah memiliki tujuh gerai Sari-Sari Swalayan yang tersebar di daerah Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur. "Satu gerai bisa menghasilkan omzet lebih dari Rp 10 juta per hari,” kata lelaki kelahiran Blitar, 12 Agustus 1970 ini. Alhasil, ketujuh swalayannya mampu mencatatkan omzet hingga Rp 35 miliar per tahun.

Sebenarnya, menjadi pengusaha eceran bukanlah cita-cita Trisno. Pendidikan terakhir suami Eva Karisma Dewi ini adalah Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Blitar, Jawa Timur. "Cuma sebentar kuliah. Saya pikir kalau lulus cuma menjadi guru. Saya memilih keluar tanpa tahu mau bekerja apa,” ujar lelaki berkepala plontos ini.

Peristiwa meletusnya Gunung Kelud yang terjadi pada 1991 mendorong Trisno mencari penghidupan yang lebih baik di kota lain. Targetnya bukan ke Jakarta atau kota besar di Indonesia, ia memilih menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. "Waktu itu, ada tetangga yang menjadi TKW di Arab pulang. Saya tanya dia bagaimana prosesnya bisa bekerja di Arab,” kenangnya.

Trisno bermimpi, dengan menjadi tenaga kerja di luar negeri, penghidupannya bisa lebih baik ketimbang menjadi seorang guru. "Pada tahun 1991, di Blitar belum banyak yang menjadi TKI. Saat itu saya nekat saja, mencoba-coba,” ujar bapak tiga anak ini.

Kala itu Trisno berstatus pengangguran. Ia nekat pergi ke Surabaya untuk melamar menjadi TKI. "Menurut teman saya, penyalurnya ada di Surabaya,” katanya. Berbekal uang Rp 1,5 juta hasil menjual sepeda motor, ia tidak kesulitan membiayai segala urusan administrasi di perusahaan penyalur TKI tersebut.

Sembari menunggu pengiriman, selama dua bulan Trisno berada di penampungan TKI di Jakarta, tanpa ada pembekalan keterampilan. "Kerjanya cuma makan dan tidur,” katanya. Alhasil, ketika dikirim ke Arab Saudi, dia tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Arab.

Tugas awal Trisno sebagai TKI di Arab Saudi adalah bekerja sebagai sopir di kantor gubernur Kota Tabuk. Karena ketidakmampuan berbahasa asing, ia suka dikerjai majikan dan teman-teman sopirnya yang berasal dari negara lain. Ia juga sering menjadi pesuruh yang mengurusi kebun. Padahal, itu bukan bagian dari kontrak kerja sebagai sopir.

Sebagai sopir, Trisno digaji 800 real atau setara dengan Rp 400.000 kala itu. Setelah setahun bekerja di kantor gubernur, lantaran ketidakcocokan dengan majikan, ia diberhentikan dari pekerjaannya dan disuruh pulang ke Indonesia dengan biaya sendiri. Karena tidak punya uang, ia memilih tetap bertahan di Arab.

Beruntung ada seseorang yang menawarinya pekerjaan sebagai pegawai di toko perabot milik orang Sudan. Trisno digaji 1.350 real. Ia suka bekerja di tempat itu karena majikannya sangat baik. Jam kerjanya pasti antara pukul 07.00 hingga lepas maghrib. "Di toko perabot ini saya belajar menghafal dan menata barang, selain pengelolaan toko,” tuturnya.

Selepas maghrib, Trisno bekerja sebagai pemasok produk pangan asal Indonesia untuk toko sembako milik orang Thailand. "Awalnya, saya iseng saja ngobrol dengan orang Thailand soal bisnisnya. Saya pun memberanikan diri menjadi pemasok barang dari Indonesia,” ujarnya. Yang dia pasok berupa cabai, petai, jahe, dan beberapa bumbu lain.

Berkembang berkat persaingan

Sampai tahun 1999, Trisno masih bekerja dobel. Hasilnya, dia bisa mengantongi tabungan sebesar Rp 20 juta kala itu. "Tahun 1998, kurs dollar sedang tinggi,” ceritanya. Alhasil, tahun 1999, istrinya minta pulang ke Indonesia karena sudah saatnya anak pertamanya sekolah.

Sebagian uang hasil tabungannya dipakai untuk membeli sebidang tanah di kampung halaman, Kademangan, Blitar. "Kebetulan, saya mendapat tempat di dekat pasar. Saya memutuskan membuka toko sembako dengan nama Sari-Sari Swalayan,” katanya.

Kala itu, per hari, gerainya bisa menghasilkan omzet Rp 2 juta. Swalayan Trisno juga menjadi idola di Kademangan.

Trisno semakin mengembangkan bisnisnya lantaran kondisi terdesak. Setelah dua tahun usahanya berjalan, ada jaringan swalayan yang lebih besar dan sudah memiliki banyak cabang berencana membuka cabang baru di Kademangan. "Saya terpacu untuk memperbesar gerai. Untung saja, pemilik rumah yang berimpit dengan swalayan saya menawari untuk membeli rumahnya,” kenangnya.

Alhasil, sebelum swalayan pesaing itu membuka gerai di Kademangan, Sari-Sari Swalayan sudah lebih dulu memperbesar bisnisnya sehingga bisa menyaingi swalayan yang akan buka. Bukan hanya memperluas lokasi, ia juga membuka cabang di tempat lain.

Trisno bersyukur dengan datangnya pesaing di bisnis swalayan. ”Kalau tidak ada pesaing, mungkin saya tidak terpikir membuat cabang,” katanya. Terbukti, saat jaringan minimarket dengan sistem waralaba mulai masuk, bisnisnya ikut terdongkrak.

Trisno punya strategi, harga barang di minimarket waralaba sudah diatur oleh pusat. "Karena saya sudah tahu harga pasokannya dan bisa mengatur harga jual, saya leluasa memainkan harga. Dari situ, konsumen akan memilih yang lebih murah,” katanya.

Trisno bilang, saat ini, dia akan memaksimalkan ketujuh gerainya. Meski begitu, dia juga berencana untuk menjajal bidang usaha yang lain. "Mulai tahun ini, saya ingin berbisnis fesyen,” ujarnya.
09.59 | 0 Komentar | Read More

Wanita Pengendara Porsche, cantik dan kaya baik hati Pula

Written By Unknown on Senin, 02 Januari 2012 | 10.48

Photobucket
Jarang jarang ditemui cewek seperti ini, sudah kaya raya (bayangkan saja tongkrongannya mobil sekaliber Porsche) cantik pula dan yang paling penting adalah cewek ini hatinya sungguh mulia, mau berbagi waktu dan tenaga untuk membantu seorang wanita paruh baya yang tergeletak pingsang di trotoar jalan

Kejadian ini terjadi di pinggir tepian jalan Haizhu Guangzhou Cina pada tanggal 25 Desember beberapa hari lalu, disaat orang yang lalu lalang di jalan ramai tersebut acuh tak acuh dengan keadaan sang wanita yang renta dan tak berdaya tersebut, masih ada yang peduli membantu dan membawa sang korban yang pingsan tersebut ke sebuah rumah sakit terdekat untuk dirawat.

Ternyata masih ada orang kaya yang berhati mulia dan ringan tangan untuk membantu sesama yang kesulitan. Saat ini banyak keprihatinan tentang sikap acuh tak acuh atau kita sebut apatis pada masyarakat di negeri Cina yang tengah tumbuh pesat perekonomiannya, seperti kisah seorang balita yang ditabrak sebuah vans dan belasan orang yang lewat mengacuhkan hal tersebut (Kisahnya Disini). Semoga saja kisah pengendara mobil Porsche berwarna biru ini memberi inspirasi positif pada diri kita, semakin kaya semakin rendah hati dan tidak sombong.
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Photobucket
10.48 | 0 Komentar | Read More

Kisah Nyata - Anak 6 Tahun yang Terpaksa Hidup Sendiri di Temani Seekor Anjing

Written By Unknown on Selasa, 13 Desember 2011 | 20.41

Siapa yang mau mewarisi penyakit menular yang mematikan dari kedua orangtua? Namun jika itu dialami, apa yang bisa dilakukan? Jangankan anak kecil, orang dewasa pun pasti menderita, apalagi jika harus dikucilkan.
Pengalaman pahit seperti itu harus diterima oleh A Long, yang tinggal di perbukitan dekat Desa Niuchepin, yang terletak di kaki Gunung Malu, Liuzhou, Provinsi Guangxi, China.

Pada tahun 2004, ia tak tahu separah apa penyakit bawaan yang dideritanya. Tetapi, ibu dan ayahnya meninggal (berturut-turut pada tahun 2009 dan 2010) dengan gejala penyakit yang sama persis dengan gejala orang yang terkena AIDS. Dugaan itu terbukti benar setelah tim dokter dari rumah sakit memeriksa dan memberikan pernyataan.

Kabar tersebut dengan cepat menyebar dan membuat A Long dikucilkan. Karena takut tertular, orang-orang di daerah situ hanya mengamati kehidupan A Long dari kejauhan sambil sekali-sekali memberi bantuan makanan.


Satu-satunya yang masih mau mendekati A Long adalah neneknya yang berusia 84 tahun. Itu pun si nenek mengaku takut menemaninya lama-lama karena khawatir akan tertular AIDS. Ia hanya datang sekali-sekali, memasakkan, dan menanam sayuran di halaman untuk keperluan A Long. Selebihnya, memilih menjauh.

A Long sendiri tak mengeluh. Meski hidup sendirian ia bisa menerimanya. Ia sering tampak gembira bermain bola sendirian di pelataran di depan rumahnya yang lapang. Pernah ada teman lamanya yang mau menemaninya. Namun segera dicegah orangtuanya.

Yang lebih tragis, sekolah menolak kehadiran atas desakan para orangtua murid lain. Ada yang menyebutkan, jika A Long bersekolah di sana, mereka akan memindahkan anaknya ke sekolah di desa lain. Pengurus sekolah di sana merasa tak punya pilihan lain, selain menolak A Long. Akhirnya A Long benar-benar dikucilkan. Ia hanya punya teman seekor anjing yang diberinya nama Lao Hei.




Dengan hidup sendiri ia praktis belajar kehidupan sendiri. Ia mencoba belajar masak sendiri, mencuci baju, mencari kayu bakar, dan sebagainya. Dalam memasak, misalnya, ia mencoba dengan mengingat apa yang dilakukan orangtuanya tanpa tahu takaran yang tepat. Kadang ia menanak nasi dengan jumlah air yang kebanyakan.



Selain itu saat memasak sayur, ia lakukan tanpa bumbu dan garam. Ia hanya memasukkan sayuran ke dalam panci, ditambah air, lalu dimatangkan di atas tungku. Setelah itu dimakan dengan nasi. Meski terasa tawar, A Long menikmati makannya dengan lahap.



Pernah suatu kali tangannya terluka karena tak hati-hati saat memasak. Tangannya menyentuh panci yang panas. Ia tak meminta bantuan tetangga. Namun saat ada tetangga yang mau membawanya ke dokter, dokter justru tak mau memeriksanya karena takut tertular. A Long hanya diberikan salep obat.

Hari demi hari kehidupan berat itu harus dialaminya. Ia mulai bisa memasak dengan caranya sendiri. Ia mencari kayu bakar sendiri. Tak jarang harus memanggul batang kayu lumayan besar untuk dibawa pulang dan dipotong-potong di rumahnya dengan alat-alat peninggalan ayahnya.

***

Cerita mengenai A Long yang hidup sendirian saat usianya masih 6 tahun, akhirnya menarik sejumlah media untuk meliputnya. Tak lama kemudian profil A Long muncul di sejumlah koran.

Banyak orang yang tersentak mengetahui nasib buruk yang dialami anak malang itu. Setelah itu sejumlah bantuan mengalir kepadanya termasuk dari pemerintah. Bantuan datang mulai dari kiriman makanan, pakaian, koran, uang. Bahkan ada lembaga yang menggagas untuk membangunkan rumah di sana.

Tahun 2011 ini, syukurlah, tempat tinggal yang layak untuk A Long sudah dibangun (ada bantuan dari lembaga sosial). Ada kamar tidur, ruang keluarga, dan kamar mandi. A Long pun telah mendapat perawatan intensif dan tengah diupayakan untuk bisa sekolah lagi.

Semoga true-story ini bisa memberi inspirasi bagi para netter sekalian, juga menyentuh hati terdalam kita semua, sebagai manusia. Cukup tengok keadaan di sekitar kita, mungkin ada "A Long" lainnya. Perhatian ataupun uluran tangan kita tentu akan sangat berarti.

Foto-foto Ah Long yang lain (klik play) :


ah long
Ah Long walaupun dilarang sekolah dia tetap rajin belajar

ah long
Siap-siap untuk makan malam ya nak....??

ah long
Mencari kayu bakar sendiri di hutan untuk memasak makanan

ah long
Ah Long tanpa temen, tetapi tetap kelihatan riang selalu bermain

Bermain dengan sepeda pemberian dan anjing kesayangannya

Semoga cita-ciamu menjadi pemain bola tercapai nak....!

Ah Long mendapat tunjangan Rp 90 ribu per bulan... mana cukup??

Menanam cabe dan memetik hasilnya untuk lauk makan

Luka bakar di tangan Ah Long ketika memasak

Makanan yang sederhana ala Ah Long.....

Lihatlah anak seumur dia sudah mandiri, mandi sendiri

Menjadi seorang pesilat tangguh mungkin cita-cita Ah Long

Wajah yang sangat polos dari seorang bocah

20.41 | 0 Komentar | Read More
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...