21 film yang membangkitkan motivasi dan inspirasi bagian 1

Written By Rison Sarundaek on Sabtu, 08 Oktober 2011 | 14.05

mencari inspirasi saat lagi frustasi atau membangkitkan semangat saat lagi down, nonton saja film-film ini. Saya jamin pada saat agangta selesai nonton pasti semangat lagi oke.......ada banyak makna yang dapat dipetik dari film-film ini.

 1.Radio.

film radio ini dirilis pada bulan oktober 2003, dipimpin oleh Mike Tollin berdasatkan kisah nyata dari T.L. Hanna High School Football coach Harold Jones (dibintangi oleh Ed Haris) dan seorang yang terganggu secara mental James Robert Kennedy (dibintangi oleh Cuba Gooding, Jr) yg dipanggil Radio karena kesukaannya pada radio. dibintangi juga oleh Debra Winger dan Alfre Woodard, diinspirasi dari sebuah artikel yang berjudul "Someone to Lean On" karangan Gary Smith pada tahun 1996.

yang bisa dipetik dari film ini adalah, apapun kekurangan yang kamu punyai, jangan terus diratapi, tetapi berusahalah terus gali potensimu, dan kau akan mendapatkan kesuksesan dengan usaha kerasmu.

2.  Three idiot.

Film berdurasi tiga jam ini berkisah soal tiga mahasiswa, Rancho (Aamir Khan), Rajo Rastogi (Sharman Joshi) dan Farhan Qureshi (R.Madhavan) yang menjadi mahasiswa jurusan mesin di salah satu universitas ternama. Untuk bisa meraih prestasi, mereka harus bersaing mahasiswa nerd yang bernama Chatur Ramalingam (Omi Vaidya). Selain itu rektor, Viru Sahastrabudhhe (Boman Irani) yang sangat otoriter dan luar biasa keras juga menjadi musuh mereka.

Sutradara film ini, Rajkumar Hirani, memberikan banyak kejutan di akhir cerita. Akhir Cerita yang sangat menghibur dan tak terduga. Rajkumar juga tidak menghilangkan ciri khas dari film Bollywood, yang terkenal dengan tarian dan nyanyiannya.

Di film ini, Anda bisa mengetahui kalau nilai dan kelulusan bukanlah tujuan utama dalam suatu pendidikan. Tapi yang lebih penting adalah mencapai mimpi yang kita impikan. Dan, biarkan seseorang memilih jalannya sendiri untuk meraih kesuksesannya. Janganlah menghambat mimpi-mimpi seseorang!

'Three Idiots' bisa membuka pikiran kita. Pesan moral dari film ini hadir melalui dialog-dialog cerdas dalam kemasan humor. Film bergenre drama komedi ini pun wajib ditonton bagi pecinta film.

3. The Pursuit of Happyness

The Pursuit of Happyness adalah sebuah film biografi buatan tahun 2006 yang menceritakan kisah hidup Chris Gardner, seorang salesman yang berhasil menjadi pialang saham kaya. Film ini disutradarai oleh Gabriele Muccino. Skenarionya ditulis oleh Steve Conrad berdasarkan memoir berjudul sama yang ditulis oleh Gardner bersama Quincy Troupe. Film ini dirilis tanggal 15 Desember 2007 oleh Columbia Pictures.

Cerita film ini dimulai pada tahun 1981 di San Francisco, California. Linda dan Chris Gardner (dibintangi oleh will smith) hidup di sebuah apartemen kecil bersama anak mereka yang berusia 5 tahun, Christopher. Chris adalah seorang salesman yang menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk membeli franchise untuk menjual scanner tulang (Bone Density Scanner) portable. Scanner ini memang mampu menghasilkan gambar lebih baik dari X-ray, tetapi kebanyakan dokter yang ditemui Chris beranggapan bahwa harganya terlalu mahal. Linda, istrinya, bekerja sebagai buruh di sebuah laundry. Keluarga kecil ini mulai terpecah ketika mereka menyadari bahwa mereka tak mampu membayar sewa rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk. Keadaan diperparah oleh kebiasaan Chris yang memarkir mobilnya sembarangan. Karena tak mampu membayar surat tilang, mobil Chris akhirnya disita. Puncaknya, Linda pergi meninggalkan Chris dan pergi ke New York City. Awalnya ia hendak membawa serta Christopher, namun urung atas permintaan Chris.

Dalam keadaan putus asa, Chris tak sengaja berjumpa dengan seseorang yang membawa Ferari warna merah. Chris bertanya kepada orang itu, pekerjaan apa yang ia lakukan sehingga mampu membeli mobil mewah? Orang tersebut menjawab bahwa ia adalah seorang pialang saham. Sejak saat itu Chris memutuskan untuk berkarier sebagai pialang saham.

Chris menerima tawaran magang tanpa dibayar di sebuah perusahaan pialang Dean Witter Reynolds yang menjanjikan pekerjaan bagi peserta magang terbaik. Dalam masa magang yang tak dibayar itu, Chris mulai kehabisan uang. Akhirnya ia diusir dari rumah sewanya dan menjadi tuna wisma. Selama beberapa hari ia tidur di tempat-tempat umum, namun kemudian ia memutuskan untuk tidur di rumah singgah Glide Memorial Chruch. Karena keterbatasan tempat, mereka harus mengantri untuk mendapatkan kamar. Kadang mereka berhasil, kadang gagal dan terpaksa tidur diluar. Kemiskinan dan ke-tunawisma-an ini semakin mendorong tekad Chris untuk menjalankan tugas dengan giat dan mendapatkan pekerjaan di Dean Witter Reynolds.

Di akhir cerita, Chris berhasil menjadi peserta terbaik dan diterima bekerja di sana. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan pialang sendiri, Gardner Rich. Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan jutaan dolar dari penjualan itu.

4. A Beautiful Mind.

A Beautiful Mind ialah sebuah buku dan film yang memenangkan Academy Award (dibintangi Russell Crowe, Ed Harris, Jennifer Connelly, Christopher Plummer, dan Paul Bettany). Ini mengenai matematikawan pemenang Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel John Nash dan pengalamannya menderita skizofrenia. Biografi ini ditulis oleh Sylvia Nasar. Diterbitkan pada 1998. Film ini, diilhami nama yang sama, diluncurkan pada 2001.

Film A Beautiful Mind mengisahkan seorang matematikawan John Nash (Russel Crowe) peraih nobel dalam bidang ilmu ekonomi pada tahun 1994. Dia adalah seorang matematikawan jenius tapi tak simpatik dan agak apatis. Dimulai tahun 1947 ketika dia bersekolah di perguruan tinggi Princeton dengan mendapat beasiswa Carniege. John Nash merupakan mahasiswa yang unik, ia tidak menyukai perkuliahan dan suka membolos, karena menurutnya berkuliah hanya membuang waktu saja dan mengekang kreativitas seseorang, dan hanya membuat otak menjadi tumpul. Nash lebih suka belajar secara otodidak, memahami dan memecahkan dinamika pergerakan natural melalui pemikirannya sendiri yang sangat kreatif. Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas demi mendapatkan ide orisinil untuk meraih gelar doktornya. Akhirnya dia berhasil diterima di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.

Di lain sisi Nash mengidap penyakit gangguan jiwa skizofrenia yaitu suatu gangguan jiwa dimana penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Sebenarnya penyakitnya tersebut sudah dideritanya sejak dia berada di Princeton, namun semakin parah ketika ia mengajar di MIT. Hidup Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara Sovyet. Di sana, ia bertemu agen rahasia William Parcher. Dari agen rahasia tersebut, ia diberi pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan barunya ini membuat Nash terobsesi sampai ia lupa waktu dan hidup di dunianya sendiri.

Pelajaran yang dapat diambil adalah, dibalik kelebihan yg kita miliki dan semua orang miliki, selalu ada kekurangan dan jangan kita berlarut2 dengan kekurangan itu, kalahkan kekurangan dengan kelebihan yang kita miliki, maka kesuksesan pasti ada di depan mata.

5. Bucket List

Film berkisah tentang perjalanan keliling dunia yang dilakukan oleh dua orang Mereka adalah Edward Cole (Jack Nicholson) dan Carter Chambers (Morgan Freeman) yang sedang sakit keras.

Cole adalah pengusaha kaya, seorang penyendiri, telah bercerai sebanyak empat kali, dan satu-satunya kesenangannya adalah ‘menyiksa’ asistennya Mattew (Sean Hayes) yang selalu dia dipanggil Thomas. Sedangkan Carter hanya pegawai rendahan miskin, tipe "family man". Dua orang beda dunia ini bertemu di rumah sakit setelah keduanya didiagnosa menderita kanker dan divonis tidak akan hidup lebih dari setahun. Mereka pun mulai berteman.

Carter iseng-iseng membuat bucket list atau hal-hal yang ingin dilakukan sebelum dirinya meninggal dunia. Cole yang melihat daftar itu mengajak Carter melakukan hal-hal yang ada di list dan bersedia membiayai perjalanan mereka.

Maka dimulailah petualangan mereka berkeliling dunia. Selama perjalanan itu, mereka banyak bercerita tentang keluarga dan diri mereka. Carter yang terlihat bahagia ternyata merasa bahwa cintanya pada sang istri tak sekuat dulu lagi. Begitu pula dengan Cole yang telah lama dianggap tidak ada oleh putri satu-satunya.

Dari perjalanan yang mereka lakukan, mereka menjadi saling memahami dan belajar lebih dalam mengenai hidup ini.

2 Komentar:

Instant Website mengatakan...

min, untuk film radio ini genre nya komedi atau apa ya min?

Farah Al Yassin mengatakan...

"Deads Poet Society" juga keren abis! Gak nyesel deh nonton film lama ini! :-)

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...