7 Filosofi dibalik Motif Songket Minang

Written By Rison Sarundaek on Sabtu, 10 Desember 2011 | 10.28

Songket Minang

Tak hanya batik yang setiap motifnya punya makna berbeda. Tenun dari Sumatera Barat atau songket dengan kekayaan motifnya ternyata juga memiliki arti dan nilai kebersamaan tersendiri. "Keterampilan menenun bagi masyarakat Indonesia merupakan sebuah warisan yang perlu dipertahankan dan disosialisasikan, karena ini merupakan kekuatan budaya, kreativitas, dan seni dalam kehidupan bermasyarakat," ungkap perancang Samuel Wattimena, saat pagelaran busana "Pagelaran Tenun Unggan Sumatera Barat Kabupaten Sijunjung"

Dalam perkembangannya terjadi proses akulturasi budaya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama sejak masuknya pengaruh Islam ke kota tersebut. Hal ini berpengaruh pada motif-motif tenun yang mengadaptasi motif-motif alam dan ragam hias dari Timur Tengah seperti Arab, Mesir, dan Siria. Sejak dahulu, unsur adat ini identik dengan alam karena alam dianggap sebagai sumber pokok dan penting bagi umat manusia yang telah memengaruhi perajin mengolah motif pada kain tenun songket ini.


Macam - Macam Motif songket minang

Kenyataan ini ternyata membentuk suatu filosofi dalam berbagai motif kain tenun Sumatera Barat. Contohnya adalah sebagai berikut:

1. Pucuk rabuang.

Motif Songket Pucuk Rebung

Motif ini memiliki makna bahwa hidup seseorang harus berguna sepanjang waktu. Motif ini bercerita bahwa hidup harus mencontoh falsafah bambu, dimana bambu selalu berguna sejak muda (rebung) untuk dimakan, dan saat tua (bambu) sebagai lantai rumah atau bahan bangunan. Motif rebung ini juga mengibaratkan bahwa tanaman ini berguna sepanjang hidupnya dan semua bagiannya memiliki banyak kegunaan.

2. Itiak pulang patang. Motif ini memiliki makna bahwa hidup dalam masyarakat haruslah seiya sekata, seiring sejalan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Motif ini ingin mengajak masyarakat untuk bisa hidup bersama dan menggambarkan kerukunan masyarakat Minangkabau yang hidup dalam tatanan kegotongroyongan yang solid.

3. Kaluak paku.
KALUAK PAKU KACANG BALIMBIANG

Motif ini memiliki makna bahwa kita sebagai manusia haruslah mawas diri sejak kecil, dan perlu belajar sejak dini mulai dari keluarga. Pendidikan dalam keluarga menjadi bekal utama untuk menjalankan kehidupan di masyarakat. Setelah dewasa kita harus bergaul ke tengah masyarakat, sehingga bekal hidup dari keluarga bisa menjadikan diri lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh hal negatif. Uniknya, motif ini juga memiliki makna lainnya, yaitu seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat yang ada disekitarnya.

4. Sajamba makan.



Sajamba makan adalah lambang kebersamaan dalam menikmati keberhasilan. Sajamba makan maksudnya ialah makan beradat dalam upacara adat di Minangkabau, antara lain makan pada upacara adat. Sajamba makan terdiri dari enam orang atau empat orang.



Desain sajamba makan melambangkan kebersamaan dalam menikmati rezeki. Jumlah hidangan biasanya enam atau empat sesuai dengan jumlah anggota dalam jamba. Makan bersama satu jamba dilakukan dengan tertip dan rapi sehingga maknan yang dimakan tidak berjatuhan ke tempat makan bahagian orang lain kiri dan kanan yang ikut makan dalam satu jamba.



Dalam pepatah dikatakan: lai samo dimakan, indak samo dicari. Makna yang dikandungnya ialah dapat menikmati rezeki secara bersama-sama tanpa merugikan orang lain dan tanpa merasa ada yang berlebih atau yang kurang dan saling menjaga norma dan adat istiadat dalam kebersamaan.

5. Tirai.

Motif Songket Tirai

seperti yang diketahui tirai merupakan hiasan dari kain yang diletakkan pada dinding, pintu, dan lainnya, yang berfungsi untuk menambah keindahan dan suasana yang semarak. Motif ini menggambarkan keindahan, lambang kemewahan dalam upacara adat Minangkabau.

6. Saluak laka.
Motif Songket Saluak Laka

Motif ini memiliki memiliki arti lambang kekerabatan. Hal ini akan memberi makna dalam kehidupan masyarakat, bahwa kekuatan akan terjalin dari kesatuan yang saling terikat sehingga akan terwujud kekuatan bersama dalam menghadapi bermacam masalah.

7. Unggan seribu bukit. Ini merupakan motif terbaru yang diprakarsai oleh Samuel Wattimena yang bekerjasama dengan perajin tenun di Unggan, dan Dekranasda Sumatera Barat. Kerajinan tenun unggan ini merupakan perpaduan teknik bertenun dari pandai sikek dengan silungkang. Motif ini memiliki arti kekompakan dalam kerjasama, kegigihan dalam berusaha, dan sifat ingin maju seseorang.

(Dari berbagai sumber)

1 Komentar:

Dwi Sulistiyani mengatakan...

Thanks for sharing.. Tertarik untuk mempelajari cara membuat batik tulis, cara membuat batik cap, serta teknik pewarnaan batik?.. Anda bisa memesan paket cd belajar membatik di Fitinline..

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...