Mama, Aku Punya Pacar

Written By Rison Sarundaek on Selasa, 06 Desember 2011 | 18.41

Reaksi apa yang sekiranya akan muncul dari orangtua, saat anak mengaku bahwa dirinya tengah jatuh cinta dan sekarang menjalin hubungan dengan orang yang dikasihinya tersebut?

Memarahi, melarang anak untuk bertemu dengan sang pacar atau malah membiarkan dengan catatan anak terbuka dengan apa yang dilakukannya?

Kasandra Putranto, psikolog dari Kasandra & Associates, menuturkan saat memasuki usia remaja, anak ditandai dengan berbagai perubahan fisik dan psikologis yang khas, yang semakin menimbulkan dampak perubahan perilaku menjadi khas.

Hormon ditengarai sebagai penyebab utama gejolak emosi remaja yang khas. Namun, sebenarnya mekanisme perubahan perilaku tidak semata-mata terjadi sebagai dampak hormonal dan fisik saja, melainkan juga mengandung fungsi psikodinamika kepribadian anak yang dipersiapkan sejak kecil.

Proses tumbuh kembang anak, kata perempuan yang aktif di Himpunan Psikologi Indonesia, Asosiasi Psikologi Forensik, dan Ikatan Psikologi Klinis ini, ditandai dengan beberapa tahapan perkembangan psikososial yang khas, yang membentu psikodinamika kepribadian anak. Termasuk di dalamnya internalisasi nilai-nilai moral, fungsi pengendalian emosi, kematangan, sikap, dan perilaku.

Menurut Kasandra, tiada hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi perubahan hormon atau pengendaliannya. Namun, remaja yang melalui tahapan-tahapan perkembangan masa sebelumnya secara maksimal, dengan kemampuan menguasai tugas-tugas perkembangan yang khas, terbukti lebih siap melalui masa remaja yang penuh gejolak.

Tahapan tersebut a.l. usia 0-2 tahun adalah tugas menumbuhkan rasa percaya dan harapan. Di usia 2-3 tahun, tugas mengendalikan keinginan, dan usia 4-5 tahun tugas menumbuhkan tujuan dan inisiatif, 6-12 tahun menumbuhkan rasa kompetensi, dan 12-18 tahun tugas mengadopsi identitas diri.

Kasandra memaparkan selanjutnya adalah kualitas hubungan dan komunikasi antara orang tua dan anak, menempati faktor penentu dalam urutan berikutnya. Orangtua yang mampu menempatkan posisi sebagai figur signifikan bagi anak, terbukti lebih mampu menghasilkan anak-anak yang memiliki ikatan batin yang kuat antara orangtua dan anak, dan karenanya anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk selalu terbuka.

Faktor selanjutnya adalah lingkungan dan kekuatan tekanan kelompok. Ketika menjadi tren untuk melakukan kegiatan tertentu, katanya, sang anak sudah mengetahui bahwa itu tidak sesuai dengan norma, anak bisa menjadi terbawa arus. Termasuk di dalam faktor ini adalah pergeseran norma, dan gaya hidup.

UNGKAPKAN PERASAAN
Hal serupa juga diungkapkan Anna Surti Ariani, psikolog anak dari Kidsports Pondok Indah Jakarta Selatan. Perasaan tertarik atau mulai ada keinginan untuk berinteraksi dengan lawan jenis di masa memasuki usia remaja sebenarnya bertujuan untuk mengeksplorasi, seberapa menarik diri mereka di mata teman-temannya.

“Jadi, untuk para ibu yang anak remajanya mulai merasakan jatuh cinta tidak perlu menertawakan apalagi sampai memarahinya karena anak Anda sedang mengalami fase baru dalam kehidupannya,” katanya.

Menurut Nina, dalam ilmu psikologi perasaan mulai saling tertarik pada lawan jenis di masa remaja seperti ini masih merupakan hal yang wajar dan pasti akan dialami anak seiring dengan tumbuh kembangnya.

“Saat anak mulai merasakan jatuh cinta jangan dilarang melainkan harus diberikan pengawasan. Karena bila dilarang maka dikhawatirkan justru dia tidak akan tumbuh sebagai manusia normal seperti menjadi frigid [dingin secara seksual] atau bahkan dia akan memberontak dengan pacaran secara sembunyi-sembunyi dan akhirnya menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan,” jelas Nina.

Namun, Nina menegaskan para orangtua khusunya Ibu pun tidak boleh lepas kendali ketika si anak mulai menjalin kasih dengan lawan jenisnya.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang sedang mengalami cinta monyet lebih mudah mengalami depresi, khususnya bila orangtua kurang suportif pada anaknya.

Oleh karena itu, para orangtua sebaiknya mulai mendekati anak saat dia merasakan jatuh cinta di usia remajanya agar mengetahui lebih baik tumbuh kembang anak.

“Ketika anak mulai masuk usia pra remaja semestinya orangtua banyak bercerita tentang kriteria seseorang yang dapat dijadikan kekasih hati. Seperti harus mencari kekasih yang seiman, memiliki pribadi baik, cerdas, bertanggung jawab dan sebagainya” ujar Nina.

Langkah lain yang dapat dilakukan orangtua adalah bersikap santai dan terbuka ketika anak mulai bercerita telah jatuh cinta. Upayakan untuk tetap memahami perasaannya dan hindarkan untuk membuat suasana perlawanan, konfrontasi dan serba membantah.

Walaupun itu tidak mudah, berusahalah untuk tenang dan biarkan si anak tetap punya keberanian dan keterbukaan untuk bercerita tentang kisah percintaannya. Namun, di sisi lain, orangtua harus bisa memberikan batasan batasan kelakuan selama pacaran terutama di usia remajanya. (Rahayuningsih)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...