Bentuk - Bentuk Hukuman di Akademi Kepolisian

Written By Rison Sarundaek on Selasa, 15 November 2011 | 19.43

Penganiayaan di Akademi Kepolisian terjadi dalam berbagai bentuk. Taruna angkatan baru selalu jadi bulan-bulanan seniornya. Pelanggaran sekecil apapun bisa memancing terjadinya kekerasan. seorang Taruna yang terlambat datang ketika dipanggil kaka kelasnya bisa dipukuli habis-habisan. Lantaran sudah menjadi tradisi, setiap bentuk kekerasan punya nam khusus dikalangan para senior. memukul pipi kanan dan kiri korvban secara berulang-ulang, misalnya, diberi nama "kipas cendrawasih".

Tak aneh jika kemudian yang berkembang di sekolah perwira pilisi itu adalah budaya kekerasan dan ketaatan membabi buta kepada atasan. Diskusi akademis, sikap kritis, dan kreativitas memcahkan masalah tidak menjadi bagian dari keseharian para taruna. karakter mereka dibentuk dalam disiplin kaku dan penyeragaman prilaku. sebagian masalah di Kepolisian kita bersumber dari sini.

Bentuk Hukuman

Dewa Ruci : Tarunadiminta berdiri dengan posisi kepalah di bawah. Tangan bertumpu di pinggang belakang. setelah itu, para senior memukul punggung adik kelasnya dengan gagang sapu atau kayu panjang.



Paku Bumi: Taruna diminta meletakkan satu tangan di lantai, sementara tangan lain memegang kepala. setelah itu, taruna diminta berputar-putar dengan satu tangan dilantai sebagai poros. Hukuman berlangsung sampai taruna sempoyongan dan kesulitan berdiri tegak.



Korea: Taruna diminta melakukan push-up, tapi kedua tangan disatukan didepan dada.
Kayang dengan Kepalah: taruna diminta melakukan kayang, tapi bukan dengan tangan yang menjadi tumpuan melainkan kepala




Roket: Taruna diminta berdiri dengan posisi kepalah di bawah. tubuh merapat ketembok, untuk memberi keseimbangan. biasanya dilakukan berjam-jam tanpa istirahat.



Setrum : Taruna disetrum dengan kabel yang serabutnya dibiarkan telanjang.
Torpedo: kaki bagian depan taruna dihajar dengan tendangan beruntun oleh seniornya. si senior menggunakan sepatu laras.

Pukulan dua setengah kancing: Taruna dipukultepat di ulu hati, kadang tanpa peringatan.

Pukulan Argo: Taruna dipukul rahangnya keras-keras dari belakang


Kipas Cendrwasi: Pipi kakan dan kiri taruna ditempeleng berulang-ulang. untuk menguatkan efek, biasanya dilakukan dengan kopel pramuka

3 Komentar:

Anonim mengatakan...

Waduh sadis banget boz !, kacau dah...sama aja kayaknya dimana-mana ada kekerasan.

Derra Prasetya mengatakan...

Gila bener

Derra Prasetya mengatakan...

Gila bener

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...