Aghori Sadhus Sekte Pemakan Mayat di India

Written By Rison Sarundaek on Senin, 02 April 2012 | 00.19



Ilustrasi
(diambil dari salah sebuah video di You Tube, the life of Aghori Sadhus)


Malam telah turun, gelap mulai menyelimuti sekitar area sungai Gangga. Hiruk pikuk puluhan manusia yang melakukan ritual mandi sore sudah mulai menipis, dan sering makin tuanya malam, suasana makin sepi. Angin beritiup sepoi-sepoi.  Nampak pula asap-asap yang masih mengepul di beberapa bagian tempat kremasi mayat, menambah malam makin terlkesan wingit dan misterius. Dinginpun mulai menyelimuti malam. Ketika malam makin tua, ada beberapa spot di tepian sungai Gangga yang masih nampak 'alive'. Api unggun masih menari-nari dan membuat malam makin sakral.

Di salah satu tempat, seorang lelaki yang hanya mengenakan secarik cawat dan berambut riap-riapan nampak melakukan meditiasi walau sesekali tanganya mengorek-ngorek api unggun seolah mencari-cari sesuatu. Di sampingnya seonggok tengkorak kepala manusia yang berisi minuman beralkohol. Mulut tipisnya berkomat-kamit membaca mantra.

Kadang diselingi pula dengan teriakan-teriakan seperti menggeram. Matanya lurus memandang ke arah api unggun di depannya. Kokiers, sesungguhnya api unggun tersebut bukanlah api unggun biasa melainkan api sisa kremasi. Dan 'sesuatu yang nampak dicari-cari oleh lelaki kurus itu, sejatinya adalah seonggok daging mayat sisa yang belum habis terbakar. Dan ketika lelaki berambut gondrong itu menemukan sebongkah daging panggang, tanpa ragu, diemplok di mulutnya, dan seketika mulutnyapun berkejap menikmati daging panggang. Seekor anjing nampak hilir mudik mengelilingi lelaki tersebut. Nampaknya iapun ingin minta jatah.  Sudah menjadi rahasia umum, mengapa anjing-anjing yang hidup di sekitar sungai Gangga nampak ginuk-ginuk lemu. Ya, karena hampir tiaphari makan 'daging istimewa'.

Pemandangan seperti ini bukanlah ilustrasi dari sebuah film rekaan manusia, namun merupakan pemandangan nyata di beberapa wilayah tepian sungai Gangga India. Nampak mengerikan memang. Lelaki misterius yang aku saksikan di video ini bukan merupakan satu-satunya lelaki yang mengais-ngais rejeki dari sisa-sisa kremasi, namun hanya merupakan satu contoh kehidupan seorang Sadhu Aghori. Sebuah sekte kecil penyembah Dewa Shiva yang masih eksis di daratan India. Kehidupan Aghori menjadi sangat menarik kaum awam karena   kehidupan Sadhu Aghori  sangat aneh sampai to the point sangat ekstrim  yaitu kanibalisme. Dan inilah yang menarik banyak jurnalis dunia untuk datang ke India dan segaja  mengorek kisah kehidupan unik mereka.

Dear Kokiers,
Dunia memang unik, berbagai budaya dari berbagai bangsa di belahan bumi manapun, masing-masing ikut menyumbang keunikan dan kekayaan budaya dunia. Dimulai dari jaman dahulu kala sampai di jaman yang serba modern, kebudayaan terus berkembang, seiring dengan majunya tekhnologi, budaya akan terus mengikuti perkembangan jaman maupun pola pikir manusia. Namun demikian tidak dapat dipungkiri dari sekian banyak budaya yang berkembang, masih ada sebagian orang yang mempertahankan mati-matian suatu budaya atau adat tertentu. Oleh karena itu perkembangan tekhnologi tidak mampu menggoyahkan budaya leluhur yang sudah mengurat akar di sebagian kelompok masyarakat dunia.

Dari sekian banyak budaya yang masih dipertahankan adalah budaya yang berkaitan dengan spiritualitas ( baca : agama).  Ada beberapa kebiasaan di suatu kelompok tertentu baik yang berkaitan dengan spiritual maupun hanya sekedar temporary yang dianggap di luar normal bahkan mungkin saking tidak normalnya menimbulkan rasa jijik yang luar biasa. Dan ini terjadi di manapun, baik di Amerika, Asia , Afrika maupun Eropa.

Salah satu kebiasaan yang menjijikkan adalah suatu sekte yang dianggap suci oleh sekelompok kecil masyarakat di India. Sekte tersebut adalah Aghori Sadhus. Aghori bagi sekelompok tertentu adalah orang yang dianggap mumpuni sekaligus sakti, banyak orang yang minta berkah maupun doa kepada para Sadhu, bahkan Aghori juga bisa bertindak sebagai dukun pengusir makhluk halus maupun mengundang makhluk halus. Ada ritual khusus yang menjadi ciri khas sekte ini.

Menjijikan sekaligus mendirikan bulu roma karena sekte ini melakukan praktek kanibalisme, alias makan daging manusia. Baik yang dimasak maupun dimakan begitu saja alias mentah-mentah, baik daging segar maupun 'tiren' alias mati kemaren. Meaning : sudah setengah atau full membusuk.   Tiada rasa jijik. Mengkonsumsi daging manusia dianggap ritual puncak untuk menyempurnakan dan mensucikan diri. Jiwa yang suci adalah jiwa yang apa adanya natural dan hidup apa adanya.

Aghori walau di-claim sebagai sekte dalam agama Hindu, namun oleh kalangan Hindu India sendiri, mereka dianggap di luar agama mereka. Alasan : their bizzare practice of cannibalism maupun hobi ber-halusinasi dengan kanabis serta konsumsi alkohol dalam kehidupan sehari-harinya. Konon, menurut salah seorang Aghori yang diwawancarai seorang jurnalis Australia, cannabis maupun alkohol adalah penyumbang utama atas 'keberaniannya' mengunyah daging manusia! Dengan halusinasi dan mabuk, seorang Aghori mampu menyarukan rasa mual dan eneg luar biasa ketika makan daging manusia terutama daging yang sudah membusuk. Itulah salah satu cara mematikan segala rasa untuk bisa menikmati daging manusia.

Para Aghori atau disebut juga cukup dengan Aghor,  umumnya tinggal di tepi sungai Gangga tidak jauh dari tempat-tempat kremasi. Mereka meninggalkan kesenangan duniawi dan hidup apa adanya kembali ke natural, dan makan apapun yang tersedia di hadapannya.

Untuk menjadi seorang Aghor tentu saja tidak mudah, harus melalui ritual-ritual khusus yang diberikan oleh gurunya, sebagai tahap awal seperti : minum air atau makan abu mayat kremasi, kemudian melumuri seluruh badan mereka dengan abu mayat, serta calon Aghori harus mencari tengkorak kepala manusia yang banyak berserakan di sepanjang sungai Gangga untuk dijadikan mangkok suci dan sebagai tempat minum sehari-hari.

Mereka juga tidak boleh menikah namun boleh melakukan hubungan seksual dengan perempuan manapun dengan syarat tidak boleh ejakulasi saat melakukan bubungan seksual tersebut. Dan konon para Aghori ini tidak kesulitan untuk mencari perempuan yang mau suka rela tidur dengannya karena banyak wanita yang rela menyerahkan diri kepada mereka. Para perempuan tersebut malah bangga jika berhasil melakukan hubungan badan dengan orang suci ini.

Para Aghori umumnya telanjang kecuali secarik cawat yang menutup alat vitalnya. Jika mereka berpakaianpun, umumnya pakaian diambil dari mayat yang akan di kremasi yang diberikan oleh anggota keluarga yang meninggal.  Yang mengejutkan dunia luar  adalah, para Aghori ini memakan mayat manusia, umumnya sisa-sisa daging mayat yang tidak hancur di kremasi.

Walau demikian, Aghori konon berhati lembut dan tidak mau membunuh makhluk hidup, dan alasan mengapa mereka makan daging manusia yang oleh banyak orang disebut barbar, mereka beralasan bahwa walau mereka makan daging manusia namun mereka tidak membunuh, jadi mereka bukanlah merupakan sosok yang kejam.

Memakan daging manusia yang sudah meninggal merupakan puncak penyatuan jiwa dengan alam.  Kehidupan seorang Aghori dimulai malam hari. Mereka melakukan meditasi di samping bekas-bekas kremasi dan sesekali mengorek daging bekas kremasi dan tanpa ragu mulai makan.  Aghori sehari-harinya nya memang tinggal di area-area kremasi. Kadang merekapun melakukan meditasi di atas tubuh mayat. Mereka makan apa saja yang dianggap menjijikkan, katakan dari kotoran hewan, air kencing, sisa-sisa sampah dan lain-lain.



Dear Kokiers,
Dalam  video lain  yang aku saksikan, nampak dua Aghori menyeret mayat yang mengambang di sungai Gangga dan kemudian memotong-motong dan langsung menyantapnya mentah-mentah, tanpa rasa jijik sedikitpun. Sungguh nggegirisi dan mendirikan bulu roma.  Padahal mayat tersebut sudah menggembung alias setengah busuk ditandai dengan warna kulit yang kebiru-biruan. Mencari mangsa di sepanjang sungai Gangga merupakan kegiatan normal para Aghori, walau sebagian besar Aghori lebih memilih menunggu santapan yang diantar kepadanya, alias mayat yang siap dikremasi.

Beberapa waktu lalu, sebagai penambah informasi tentang Aghori, aku membaca buku tentang Cannibalism, yang intinya mengungkap praktek kanibalisme dalam dunia kriminal sepanjang sejarah manusia.  Dan  yang kedua adalah : Cannibals around the World yang merupakan laporan dari seorang jurnalist Australia yang melakukan pengembaraan dalam rangka melakukan riset dan meneliti kehidupan para Kanibal di jaman modern, yang masih tersebar dan ada dewasa ini termasuk para kanibal di salah satu suku terasing di Papua. Jurnalist tersebut  dalam laporannya untuk mengorek kisah kanibal di India, selama beberapa hari ber-sosialisasi dengan salah  seorang Aghori di salah satu sudut kota Varansi India.  Dengan sedikit 'bribery' beberapa botol whiskey dan dollars, terkuak misteri kehidupan Aghori yang belum banyak diketahui umum. Aghori yang perlahan-lahan mulai menarik minat wisatawan, juga merupakan lahan bisnis empuk bagi sekelompok oknum tertentu.

Walau banyak Aghori yang memang benar-benar asli, alias yang melakukan ritual kanibalism ternyata dietmukan juga Aghori-Aghori aspal, asli namun palsu. Maksudnya, mereka berpenampilan seperti seorang Aghori, namun sejatinya mereka lebih ke tujuan untuk memperdaya turis untuk menarik perhatian demi uang dan alkohol yang mana, alkohol merupakan minuman vital seorang Aghori, terutama Whiskey. Para Aghori aspal inilah yang patut diwaspadai karena mereka sering menghipnotis para peminatnya (baca : turis) untuk minum teh chai bersama-sama dan selanjutnya tentu memoroti uang di kantong.

In other words Aghori aspal, berpura-pura menjadi Aghori demi uang. Salah satu daya tarik Aghori bagi turis adalah menawarkan ritual tantric Yoga penis. Banyak orang dibuat penasaran  dengan ritual yoga ini. Salah satu turis yang hampir terperdaya oleh Aghori palsu adalah seorang pemuda Canada, selengkapnya bisa dibaca di sini : http://www.joeyl.com/blog/never-take-tea-with-an-aghori/ dan di sini :
http://www.monstrous.com/Religions_and_beliefs/Aghori_Sadhus_the_worshippers_of_death.html



Dear Kokiers,
Menurut salah satu sumber dari  Wikkipedia, Aghori adalah penyembah Dewa Shiva. Mereka seperti umat Hindu pada umumnya percaya atas 'pembebasan diri' atau moksha dari siklus reinkarnasi (samsara) demi mencapai pencerahan jiwa. 

Praktek ritual yang dilakukan para Aghori melalui kebiasaan yang sangat ekstrim termasuk kanibalisme. Ada beberapa sekte yang menyembah Dewa Shiva yang disebut Shivnetras atau Tamasic. Tamasic murni menyembah Dewa Shiva dan tidak melakukan ritual meditasi di area kremasi, atau makan mayat, atau melakukan tantric sexual rituals atau  minum alkohol serta mengkonsumsi cannabies.

Masih ada beberapa sekte penyembah Dewa Shiva yang normal dan wajar. Murni benar-benar untuk memuja keagungan Dewa. Mungkin dengan alasan inilah, bagi sebagian besar umat Hindu pada umumnya, tidak setuju jika Aghori dimasukkan ke dalam sekte pemuja Dewa Shiva. Aghori telah mengotori kesucian para pemuja Shiva.  Dalam sebuah video yang sangat menggetarkan jantung, ketika dua orang Aghori memotong-motong mayat, mulut mereka tidak henti berdendang melagukan lagu-lagu pujian terhadap dewa Shiva. 

Mereka walau tidak diakui sebagai umat Hindu secara umum, namun sejatinya mereka adalah penyembah Shiva. Simbol trisula yang menjadi andalan kaum Aghoripun merupakan ciri khas Dewa Shiva.  Selanjutnya dalam kepercayaannya Aghori percaya bahwa dasar utama agama mereka adalah  : Shiva yang bertanggung jawab atas segala apa yang terjadi dan apa yang ada di dunia ini. Dan dunia ini harus sempurna selanjutnya jika seseorang tidak mempercayai kesempurnaan hidup berarti juga  mereka  meng-anulkan segala 'kesucian' atau bahkan terhadap Dewa sendiri.

Post Script .
The Aghoris of Northern India consume the flesh of the dead floated in the Ganges in pursuit of immortality and supernatural powers. Members of the Aghori drink from human skull and practice cannibalism in the belief that eating human flesh confers spiritual and physical benefits, such as prevention of aging...(dikutip dari Wikipedia/cannibalism)

Salam manis,


Dear AsMods/TA dan kokiers dimanapun anda berada, salam damai dari Oz
Note : Tulisan berikut lahir dari ide salah seorang kokier Kleine...thanks for giving me the idea. Artikel berikut tidak bertujuan apapun selain sharing informasi. Mohon maaf jika ada kesalahan.


Reef Australia
 Ilustrasi : http://www.joeyl.com/blog/never-take-tea-with-an-aghori/
sumber : http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/2/1722/kisah_si_pemakan_mayat

1 Komentar:

Bloginfo mengatakan...

Kiamat sudah dekat, yuk makin mendekat kehadirat Allah SWT.
Thx atas postingannya, nice one!

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...