Novel Winter In Tokyo Part 2

Written By Rison Sarundaek on Rabu, 27 Juni 2012 | 21.43


Winter in Tokyo
Ilana Tan

Prolog
IA menyesap minumannya pelan dan memandang ke luar jendela. Salju mulai turun lagi. Ia berdiri di sana beberapa saat, memandangi butiran salju yang melayang-layang di luar.

Winter In Tokyo Part 2 Lanjutan dari sini

Ia bekerja di sebuah perpustakaan umum di Shinjuku dan ia sangat menyukai pekerjaannya. Sejak kecil ia memang sangat gemar membaca buku dan impiannya adalah bekerja di perpustakaan, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa gangguan, dan tanpa perlu mengeluarkan uang.

“Oneesan mau membacanya?” tanyanya pada Haruka yang menatap kedua buku itu dengan kening berkerut. “Akan kupinjamkan kalau aku sudah selesai.”

Alis Haruka terangkat tinggi dan ia melotot ke arah Keiko. “Buku bahasa Inggris?

Yang benar saja,” katanya. “Kau tahu benar bahasa Inggris-ku sekadar yes, no, thank you, I love you. Terlebih lagi, aku tidak suka membaca buku. Otakku yang sederhana ini
hanya bisa memahami manga3.”

Keiko tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan. “Hari ini Oneesan pulang terlambat,”
katanya.

Haruka mengangguk. “Ya, tadi ada janji dengan teman,” sahutnya ringan. “Oh, Tomoyuki pasti hampir mati kelaparan sekarang. Dia sudah meneleponku sejak tadi dan bertanya kapan aku pulang. Entah kapan anak itu bisa dewasa dan berhenti merecoki kakaknya ini. Aku sudah tidak sabar menunggunya lulus kuliah dan menjadi pengacara. Saat itu aku yang akan merecokinya.”

Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gedung apartemen mereka.

Sebenarnya bangunan yang disebut-sebut sebagai gedung apartemen itu tidak benarbenar mirip gedung apartemen dalam bayangan kebanyakan orang. Gedung itu hanya bangunan tua tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki dua apartemen yang berhadapan. Tidak ada lift, hanya ada tangga yang tidak terlalu lebar.

Di lantai dasar, apartemen 101 ditempati oleh sepasang suami-istri tua bernama Osawa, yang sekaligus merupakan penanggung jawab gedung. Apartemen di seberang mereka, nomor 102 ditempati oleh kakak-beradik Sato. Sato Haruka berumur 28 tahun—tiga tahun lebih tua daripada Keiko—dan bekerja sebagai penata rambut di Harajuku, sedangkan adik laki-lakinya, Sato Tomoyuki, adalah mahasiswa jurusan hukum.

Keiko sendiri menempati apartemen 202 di lantai dua. Apartemen 201 saat ini
kosong. Saat Keiko pertama kali pindah ke gedung apartemen ini lima tahun yang lalu,
penghuni apartemen 201 adalah seorang arsitek muda yang sudah cukup lama tinggal

di sana, kemudian tahun lalu sepasang suami-istri muda menggantikan si arsitek.
Pasangan suami-istri itu menempati apartemen di seberang apartemen Keiko selama
setahun dan bulan lalu mereka memutuskan untuk membeli rumah kecil kemudian
pindah.

Walaupun gedung itu sudah tua, kondisi apartemen di sana sama sekali tidak buruk. Ruangannya cukup luas kalau dibandingkan dengan apartemen lain pada umumnya, fasilitasnya memadai, dan biaya sewanya termasuk murah. Tidak mungkin menemukan apartemen seperti itu di pusat kota Tokyo.

Setiap apartemen di sana memiliki susunan yang sama: dapur, ruang duduk yang mengarah ke balkon sempit yang berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, satu bilik kecil khusus untuk kloset, satu kamar mandi kecil yang dilengkapi dengan mesin pemanas air, dan dua kamar tidur yang juga berukuran kecil. Apartemen 101 dan 201 memiliki balkon menghadap ke utara, sedangkan balkon apartemen 102 dan 202 menghadap ke selatan. Selain itu semua penghuni apartemen di sana adalah orangorang yang menyenangkan dan Keiko sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.

Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen 102, Haruka berbalik menghadap Keiko. “Oh ya, apakah aku sudah tahu penyewa baru apartemen 201 sudah datang?”
Mata Keiko melebar. “Benarkah?”

Haruka mengangguk. “Aku sendiri belum pernah melihat orang baru itu, tapi
Tomoyuki melihatnya tadi pagi.”

“Laki-laki?” tanya Keiko.

Haruka mengangguk lagi. “Kata Tomoyuki, orang itu datang sendirian dan
langsung masuk ke apartemen 201. Tidak keluar lagi sejak saat itu. Aneh, bukan?”
Kening Keiko berkerut samar. “Bukankah Tomoyuki-kun pergi kuliah pagi tadi?
Bagaimana dia bisa tahu orang itu keluar lagi atau tidak?”

Haruka menggeleng dan mengibas-ngibaskan tangan. “Tomoyuki memang pergi
kuliah, tapi Nenek masih ada di rumah saat itu,” katanya, merujuk pada Nenek Osawa
yang tinggal di seberang apartemennya. “Nenek juga tahu ada orang yang masuk ke
apartemen 201 tadi pagi dan sepanjang hari Nenek sudah memasang mata dan telinga.
Orang itu tidak keluar-keluar sampai sekarang.”

“Begitu?” gumam Keiko sambil merenung. “Mungkin Kakek Osawa tahu siapa
yang menyewa apartemen itu.”

“Kurasa tidak,” sahut Haruka. “Kata Nenek, orang yang sejak awal datang untuk
melihat keadaan apartemen dan mengurus semua tentang masalah sewa-menyewa
bukan laki-laki ini. Mungkin dia memakai jasa agen atau semacam itu.”
“Oh...”

Haruka mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Baiklah,
aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Keiko.”
“Selamat malam.” Keiko melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambil
menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkus
sarung tangan.

Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintu
apartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun
dari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak ada
suara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.

Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Keiko. Bagaimana kalau penyewa
baru itu jatuh sakit? Keiko cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu.
Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah.
Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Osawa sedang tidak memerhatikan.
Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejak
pagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempat
tidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong?
Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan?
Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?!
Keiko menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelan
kepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiran
buruk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca
buku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi...

Keiko maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Ia
menyapu poninya yang terpotong rapi dari kening dan menarik napas panjang.
Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu
dengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telinga
kirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana.
Apakah ia harus memanggil Kakek Osawa? Rasanya tidak enak mengganggu
Kakek malam-malam begini. Tapi...

Keiko masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itu
mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yang
masih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Ia
sempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin.

“Aduh, aduh, aduh... Kepalaku, aduh, pantatku...” Keiko mengerang sambil
mengusap sisi kepalanya, sama sekali tidak sadar bahwa ia mengerang dalam bahasa
ibunya.

Dua-tiga detik kemudian, Keiko tersadar kembali dan langsung mendongak.
Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu
apartemen 201 yang terbuka. Awalnya Keiko tidak bisa melihat dengan jelas sosok
yang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun
kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di
koridor meneranginya.

Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang
gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan
lusuh. Keiko tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh
kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Keiko juga tidak bisa menebak apa
yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah?

Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. “Kau
tidak apa-apa?”

Keiko tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.

* * *

Nishimura Kazuto terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama
yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar
jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu
memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak.
Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Tokyo menguras
tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan
penerbangan jauh.

Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan
terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat.
Kazuto memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah
dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan
menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar.

Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang
duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Kazuto. Ia tidak mau
menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar
yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang.

Ia haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar. Kapan terakhir kali ia
makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena sama
sekali tidak berselera. Pantas saja sekarang ia kelaparan.

Kazuto baru akan berjalan ke dapur ketika mendengar bunyi gemeresik samar di
luar pintu apartemennya. Ia menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawal
celah pintu. Matanya menyipit. Ada orang di luar pintunya. Bayangan di bawah celah
pintu itu bergerak-gerak. Niat awalnya mencari minuman batal. Ia berbalik,
menghampiri pintu, dan memasang telinga.

Tidak terdengar suara orang berbicara, tapi sudah jelas ada orang yang berdiri di
luar sana. Tangannya terangkat ke pegangan pintu, lalu dengan satu sentakan cepat, ia
menarik pintu itu membuka. Pintu itu membentur sesuatu, yang disusul pekikan
seorang wanita.

Kazuto membuka pintunya lebar-lebar dan mengerjapkan mata, silau karena
dihadapkan pada terangnya lampu di koridor. Kemudian ia melihat seorang gadis
berambut hitam panjang tersungkur di lantai di hadapannya sambil merintih pelan.
Sepertinya sentakannya membuka pintu membuat gadis itu terjatuh. Dan sudah pasti
gadis itulah yang memekik tadi. Kini gadis itu mengucapkan serentetan kata yang tidak
dipahaminya.

Tiba-tiba gadis itu mendongak dan menatap Kazuto. Mata gadis itu terbelalak
kaget. Sesaat Kazuto merasa gadis itu bukan orang Jepang. Mata gadis itu besar dan
bulat, tidak seperti mata orang Jepang pada umumnya, apalagi tadi gadis itu
mengatakan sesuatu dalam bahasa yang sudah jelas bukan bahasa Jepang. Kazuto
bingung. Otaknya masih bekerja lebih lambat daripada biasa.

“Kau tidak apa-apa?” Kazuto mendapati dirinya bersuara. Suaranya terdengar
serak di telinganya sendiri. Dan ia mengatakannya dalam bahasa Jepang. Apakah gadis
itu mengerti?

Ia tidak sempat mendengar jawaban gadis itu, karena mendadak keadaan
sekelilingnya menjadi riuh. Bunyi pintu-pintu membuka, lalu berbagai seruan yang
terdengar tumpang-tindih.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Suara apa itu?”
“Siapa yang berteriak?”
“Ada pencuri? Pencuri?”
“Keiko-chan? Kaukah itu?”
“Keiko Oneesan?”
“Tomoyuki! Ayo, kita naik.”
“Mana tongkat bisbolku?”
“Pakai dulu jaketmu.”
“Jaketku?”
“Bu, kau tunggu di sini saja.”
“Hati-hati!”

Dalam sekejap mata, tiga orang bermunculan di depan Kazuto. Ia hanya bisa
mengerjap-ngerjapkan mata memandang dua pria dan satu wanita yang menyerbu
koridor sempit di lantai dua itu. Mereka balas menatapnya dengan heran. Kini, selain
gadis bermata besar yang masih terduduk di lantai, ada seorang pemuda bertubuh
kurus berambut agak gondrong yang megacungkan tongkat bisbol, seorang wanita
berambut pirang pendek, lalu seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih.
“Keiko, apa yang terjadi?” pekik si wanita berambut pirang sambil menghampiri
gadis yang terduduk di lantai. “Kau baik-baik saja?”

Gadis yang dipanggil Keiko itu melongo sesaat, lalu cepat-cepat menjawab, “Oh,
Haruka Oneesan. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
Oke, gadis bernama Keiko itu bisa berbahasa Jepang, pikir Kazuto tanpa sadar.
Sepertinya dia memang orang Jepang.

Si pemuda kurus dan berambut gondrong membantu Keiko berdiri dengan sebelah
tangan, sementara tangannya yang lain masih mencengkeram tongkat bisbol dengan
erat. Ia menatap Kazuto yang masih tertegun. “Anda siapa? Keiko Oneesan, apakah
orang ini macam-macam terhadapmu?”

Kazuto terkejut. Nah, tunggu sebentar! Macam-macam? Tunggu dulu...
“Sabar, Tomoyuki,” sela orang tua berambut putih yang berdiri di samping si
pemuda yang mengacungkan tongkat bisbol. Kakek tua itu menatap Kazuto dengan
mata disipitkan, lalu berkata pendek, “Tolong perkenalkan dirimu, Anak muda.”
Kazuto menelan ludah. Tenggorokannya sakit dan ia ingat tadi ia belum sempat
minum. Ia berdeham sejenak, lalu berkata datar, “Nama saya Nishimura Kazuto. Saya
baru pindah ke apartemen ini.”

“Oh? Si orang baru?” tanya pemuda yang tadi dipanggil Tomoyuki. “Tadi pagi aku
melihatmu datang.”

Kazuto melihat tongkat bisbol yang tadinya terangkat tinggi itu kini diturunkan. Ia
berkata, “Saya baru tiba di Tokyo dengan pesawat pagi tadi. Karena tidak enak badan
saya langsung tertidur begitu tiba di apartemen. Saya minta maaf karena tidak sempat
memperkenalkan diri lebih awal.”

“Sudah kubilang orang baru itu tidak keluar-keluar sejak masuk tadi pagi,” kata
wanita berambut pirang yang berdiri di samping Keiko. Wanita itu bertanya lagi
dengan nada curiga, “Lalu sejak tadi pagi kau tidur terus di dalam?”
“Benar,” sahut Kazuto.

“Lalu apa yang terjadi di sini?” Si kakek tua kembali bertanya sambil memandang
Kazuto dan Keiko bergantian.

Perhatian Kazuto kembali terarah kepada Keiko yang terlihat serbasalah. Gadis itu
bersedekap dan mengangkat bahu dengan salah tingkah. “Kakek, itu... Itu, ehm...
Maksudku, aku hanya khawatir,” katanya terbata-bata. Ia melihat ke sekeliling dan
menyadari orang-orang di sana masih menunggu penjelasannya, karena itu ia
melanjutkan, “Aku dengar dari Haruka Oneesan,” ia menatap wanita berambut pirang
itu sekilas, “sudah ada yang menempati apartemen 201 dan orang itu belum keluar dari
kamar sejak pagi. Dan aku tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Jadi kupikir...,”
suaranya semakin lirih dan ia tersenyum kikuk, “...mungkin oran gitu sakit, atau, eh,
jatuh pingsan.”
Kazuto berusaha menahan senyum mendengar penjelasan gadis itu.
“Lalu ketika aku sedang mencoba mendengarkan suara dari balik pintu, orang—eh,
Nishimura-san tiba-tiba membuka pintu dan membuatku terkejut. Dan aku terjatuh.”
Keiko berdeham di akhir penjelasannya. “Begitulah.”
Seketika itu juga suasana tegang di koridor lantai dua mencair.
“Ya ampun, Keiko. Kau membuat kami kaget sekali tadi,” kata wanita berambut
pirang yang bernama Haruka sambil mengguncang lengan Keiko.
“Maafkan aku,” gumam Keiko lirih sambil membungkuk beberapa kali, lalu
melirik Kazuto sekilas dan membungkuk badan lagi.
“Sebaiknya kita saling memperkenalkan diri,” kata Tomoyuki sambil memandang
Kazuto. “Namaku Sato Tomoyuki dan ini kakakku, Sato Haruka.” Ia menunjuk wanita
berambut pirang yang kini tersenyum manis kepada Kazuto.
“Kami tinggal di bawah, di apartemen 102,” Haruka menambahkan.
Kazuto membungkuk dan menyambut uluran tangan kakak-beradik Sato. “Mohon
bantuannya.”

“Anak-anak ini biasanya memanggilku Kakek Osawa,” si kakek tua memperkenalkan
diri sambil tersenyum lebar. Walaupun kulitnya sudah keriput, Kakek Osawa
ternyata masih memiliki deretan gigi yang rapi. “Aku tinggal bersama istriku di bawah.”
Setelah itu pandangan semua orang terarah kepada Keiko yang tetap diam. Keiko
tersadar dan buru-buru membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan agak tergagap,
“Namaku Ishida Keiko. Salam kenal. Aku minta maaf soal... soal kejadian tadi.”
Kazuto tersenyum. “Tidak usah dipikirkan. Aku juga minta maaf karena
membuatmu terkejut.”
“Selamat bergabung bersama kami, Nishimura-san,” kata Kakek sambil menepuk
bahu Kazuto. “Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu-ragu mengatakannya.”
Inilah pertama kali Kazuto menginjakkan kaki kembali di Tokyo setelah pindah ke
New York bersama keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ia kembali bukan
karena rindu pada kampung halaman. Ia hanya ingin pergi jauh dari New York untuk
sementara waktu. Dan Tokyo adalah kota pertama yang terlintas dalam benaknya.
Kini Kazuto memandang orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan yang balas
memandangnya dengan tatapan penuh minat dan senyum ramah. Tiba-tiba saja ia
sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya. Tetapi entah kenapa ia
merasa hidupnya takkan pernah sama lagi.
Dua
KEIKO berdiri di koridor lantai dua gedung perpustakaan tempatnya bekerja, di
samping mesin penjual kopi yang—mengikuti tema bulan Desember—tiba-tiba saja
sudah dipenuhi hiasan Natal. Keiko memegang cangkir kertas berisi kopi panas dengan
sebelah tangan, sementara tangan lainnya memegang ponsel yang ditempelkan ke
telinga.
“Ya, aku akan pulang pada Hari Natal,” katanya di ponsel sambil memandang ke
luar jendela kaca besar yang menghadap halaman depan gedung perpustakaan.
“Kau akan tinggal di sini sampai setelah Tahun Baru, bukan?” Suara berat ayahnya
terdengar di ujung sana.
“Tentu saja,” sahut Keiko sambil menyesap pelan kopinya. “Ngomong-ngomong,
Pa, Mama masih di Jakarta?”
Sejak kecil ia selalu memanggil orangtuanya dengan Papa dan Mama, bukan
Otousan4 dan Okaasan5. Ia juga tidak yakin kenapa. Mungkin karena didikan ibunya
yang orang Indonesia, tetapi ayahnya juga tidak keberatan.
Sebenarnya ibunya sendiri juga blasteran Indonesia-Jepang. Kakeknya dari pihak
ibu adalah orang Indonesia dan neneknya orang Jepang. Sedangkan ayah dan ibu
Keiko awalnya tinggal di Tokyo, lalu tiga tahun lalu mereka pindah ke Kyoto,
kampung halaman ayahnya, untuk mencari suasana yang lebih tenang. Ayahnya
memang tidak pernah terbiasa dengan hiruk-pikuk kota Tokyo.
“Ya, tapi ibumu akan pulang minggu ini,” sahut ayahnya. “Katanya kesehatan
kakekmu sudah membaik.”
“Baguslah,” kata Keiko sambil mengangguk-angguk.
4 Ayah
5 Ibu
Minggu lalu ibunya pulang ke Jakarta karena mendengar kakek Keiko harus
menjalani operasi usus buntu, tetapi operasinya berhasil dengan baik dan kakeknya
sudah sehat kembali.
Setelah meyakinkan ayahnya bahwa ia akan melewatkan Tahun Baru di Kyoto,
Keiko menutup ponsel dan mengantonginya. Baru saja ia hendak menyesap kopinya,
ponselnya bergetar. Ia mengeluarkannya dan melihat tulisan yang muncul di layar.
“Moshimoshi? Tomoyuki-kun, ada apa?” kata Keiko begitu ponsel ditempelkan ke
telinga.
“Keiko Oneesan, punya waktu malam ini?” Terdengar suara ceria Tomoyuki di
ujung sana.
“Memangnya ada apa malam ini?”
“Haruka Oneechan, aku, dan Kazuto Oniisan6 mau pergi minum-minum malam ini,”
jelas Tomoyuki. “Anggap saja sebagai pesta kecil-kecilan menyambut tetangga baru.
Sebelum itu kita akan makan malam bersama di tempat Kakek dan Nenek Osawa.”
Mendengar nama Nishimura Kazuto, pikiran Keiko langsung melayang ke
kejadian kemarin malam dan tiba-tiba pipinya terasa panas. Ia memejamkan mata
rapat-rapat, berusaha mengusir kenangan memalukan itu. Astaga! Tetangga barunya
pasti menganggap dirinya semacam penguntit psycho atau tukang intip...
“Oneesan?”
Lamunannya buyar dan Keiko berusaha memusatkan perhatiannya kepada
Tomoyuki. “Ya? Maaf, apa katamu tadi?”
“Jadi bagaimana? Oneesan bisa ikut?”
“Malam ini tidak bisa,” kata Keiko setelah berpikir sesaat. “Seorang rekan kerjaku
berulang tahun dan dia mengajak kami pergi makan dan karaoke. Aku sudah janji akan
ikut.”
“Oh?” Suara Tomoyuki terdengar agak kecewa.
“Ishida-san.”
Keiko menoleh ke arah suara wanita yang memanggilnya. Ia melihat salah seorang
rekan kerjanya melambai ke arahnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita berambut
pirang. Orang asing, pikir Keiko langsung. Di perpustakaan itu hanya Keiko satusatunya
karyawan yang bisa berbahasa Inggris, jadi secara tidak langsung ia yang
selalu diminta melayani pelanggan asing yang tidak bisa berbahasa Jepang.
“Maaf, Tomoyuki-kun, aku harus kembali bekerja sekarang,” kata Keiko cepat.
“Kalian saja yang pergi hari ini. Mungkin aku akan ikut lain kali. Maaf ya?”
6 Panggilan untuk pria yang lebih tua, kakak.
Setelah berkata begitu, ia menutup ponsel, membuang cangkir kertas bekas kopinya ke
tong sampah di dekat sana, lalu berlari-lari kecil menghampiri rekan kerjanya yang
sudah menunggu.
* * *
Keiko menggigil. Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas.
Ia melirik jam tangan. Sudah hampir tengah malam. Ternyata ia dan rekan-rekan
kerjanya sudah menyanyi berjam-jam di karaoke. Ia berdeham. Kerongkongannya agak
sakit karena terlalu banyak menyanyi. Sewaktu sedang sibuk menyanyi ia tidak merasa
lelah, tetapi sekarang tubuhnya terasa pegal dan matanya berat. Ia hanya ingin cepatcepat
sampai di rumah dan tidur.
Sambil bersenandung pelan, ia menyusuri jalan kecil yang agak menanjak menuju
gedung apartemennya. Jalan kecil itu sepi dan hanya diterangi lampu jalan yang
remang-remang.
Lalu ia mendengar suara itu. Suara langkah kaki di belakangnya. Keiko terkesiap
pelan dan menelan ludah. Ia berusaha menenangkan diri. Mungkin ia salah dengar.
Keiko tetap berjalan—walaupun langkahnya tanpa sadar semakin cepat—dan
memasang telinga. Benar! Ada orang di belakangnya!
Lalu memangnya kenapa kalau ada orang lain yang juga berjalan di jalan itu?
Memangnya jalan itu milikku sendiri? Keiko menggerutu dalam hati, menyesali
sifatnya yang mudah panik. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Yakinkan diri terlebih
dahulu.
Diam-diam Keiko berusaha melirik ke balik bahunya. Ia tidak berhasil melihat
banyak. Ia hanya menangkap sosok seseorang yang berjalan tidak jauh di belakangnya.
Bulu kuduknya meremang. Rasa panik mulai menyerang tanpa memedulikan bantahan
akal sehat. Sementara ia mempercepat langkah, napasnya mulai memburu dan pikiranpikiran
buruk mulai berseliweran di benaknya.
Langkah kaki orang di belakangnya juga terdengar semakin cepat. Orang jahat?
pikir Keiko panik. Pemabuk? Atau lebih buruk lagi, pemerkosa?! Ya Tuhan, lindungilah
diriku. Kejahatan di jalan-jalan sepi bukan hal baru lagi di kota besar seperti Tokyo.
Keiko langsung memanjatkan doa dalam hati. Kemungkinan lain terselip di otaknya.
Jangan-jangan... penguntit? Ini bukan pertama kalinya Keiko dikuntit. Pengalaman itu
membuatnya trauma.
Itu dia! Gedung apartemennya sudah terlihat. Keiko lega sekali. Ia nyaris berlari,
tapi kakinya terlalu kaku untuk bergerak lebih cepat lagi. Tiba-tiba...
“Hei...” Terdengar suara rendah seorang laki-laki di belakangnya dan Keiko
merasa bahunya dipegang. Kepanikannya meledak. Ia berputar dengan cepat sambil
mengayunkan tas tangannya ke arah orang itu. Ia juga tidak lupa menjerit keras.
Tas tangannya mengenai sisi tubuh orang itu dengan bunyi gedebuk keras. Keiko
mengayunkan tasnya sekali lagi dan...
“Tunggu sebentar... Ini aku. Ini aku!”
Keiko menghentikan ayunan lengannya dan melotot galak ke arah laki-laki yang
mengangkat kedua tangan ke depan wajah untuk melindungi diri. Perlahan-lahan
orang itu menurunkan tangan dan Keiko baru melihat wajahnya dengan jelas.
“Nishimura-san?” kata Keiko dengan suara tercekik. Matanya terbelalak.
Walaupun tetangga barunya itu masih tergolong orang asing, tapi setidaknya Keiko
mengenalnya. Debar jantungnya yang liar pun agak mereda. “Astaga, kenapa kau
mengendap-endap begitu?”
Nishimura Kazuto terlihat berbeda hari ini. Penampilannya lebih rapi daripada
kemarin. Dan ia sudah bercukur. Keiko jadi menyadari sebenarnya Kazuto masih muda.
Wajahnya menarik dan berkesan kebarat-baratan.
Nishimura Kazuto memasukkan kedua tangan ke saku jaket panjangnya. Ia balas
menatap Keiko dengan raut wajah kaget. “Aku tidak mengendap-endap. Bukankah tadi
aku memanggilmu? Justru kau yang langsung menghantamku dengan tas,” katanya,
membuat wajah Keiko terasa panas karena malu. Suara pria itu terdengar lebih jelas
hari ini, tidak serak seperti kemarin. Ia mengeluarkan sebelah tangan dari saku jaket
dan menunjuk tas tangan Keiko. “Ngomong-ngomong, kurasa kau sudah boleh
menurunkan tasmu itu.”
Kepala Keiko berputar ke samping, ke arah tangannya yang masih mengacungkan
tasnya tinggi-tinggi. Ia yakin wajahnya sudah berubah merah padam. Ia cepat-cepat
menurunkan tangan dan berkata dengan gelagapan, “Tapi kau tadi memang
mengendap-endap. Kau tahu...”
Saat itu pintu rumah di sebelah kanan mereka terbuka dan seorang wanita tua
melongokkan kepalanya ke luar. Ia menatap Keiko dan Kazuto bergantian lalu
bertanya dengan kening berkerut, “Kalian baik-baik saja? Tadi aku mendengar ada
yang menjerit.”
“Tidak apa-apa. Maafkan kami karena sudah mengganggu,” kata Kazuto cepat
sambil membungkuk.
Keiko juga buru-buru melakukan hal yang sama sambil meminta maaf.
Wanita tua itu berdecak pelan. “Ada-ada saja anak muda zaman sekarang.” lalu
pintu kembali tertutup.
Keiko memejamkan mata, menarik napas panjang, dan mengembuskannya dengan
pelan untuk menenangkan diri. Kemudian ia berbalik dan berjalan tegak meninggalkan
Kazuto yang tertawa pelan.
“Tunggu aku,” kata laki-laki itu di sela-sela tawanya dan menyusul Keiko.
“Menurutmu ini lucu?” tanya Keiko dengan alis terangkat. “Kau tadi membuatku
ketakutan. Kukira kau perampok. Atau penguntit. Atau... semacam itu.”
“Penguntit?”
Keiko ragu sejenak. Lalu, “Ya. Memangnya kenapa? Banyak penguntit di Tokyo,
kau tahu? Ngomong-ngomong, kau baru minum-minum bersama Haruka Oneesan dan
Tomoyuki, bukan?”
“Ya, benar,” sahut Kazuto. Ia tahu Keiko sedang mengalihkan pembicaraan, tapi ia
tidak ingin mempermasalahkannya walaupun sebenarnya ia ingin tahu alasan di
baliknya. “Setelah makan malam bersama Kakek dan Nenek Osawa, mereka
mengajakku minum-minum di izakaya7 langganan mereka.”
“Aku minta maaf karena tidak bisa ikut,” kata Keiko sambil menoleh ke arah
Kazuto.
Kazuto tersenyum. “Tidak apa-apa. Tomoyuki tadi bilang kau ikut merayakan
ulang tahun rekan kerjamu.”
“Mm,” gumam Keiko, lalu bertanya, “Lalu kenapa kalian bertiga tidak pulang
bersama?”
Kazuto mengangkat bahu. “Sepertinya mereka punya acara lain dengan temanteman
mereka.”
Keiko mengangguk-angguk. Haruka dan Tomoyuki memang sering berkumpul
bersama teman-teman mereka setiap akhir pekan. Mereka tidak akan pulang sebelum
lewat tengah malam.
Mereka berjalan bersama dalam keheningan selama beberapa detik, lalu Kazuto
membuka suara, “Kurasa Tokyo sudah banyak berubah.”
Keiko meliriknya sekilas dengan alis terangkat.
Kazuto tersenyum melihat raut wajah tetangganya yang heran. “Keluargaku
pindah ke New York lebih dari sepuluh tahun yang lalu,” jelasnya. “Ini pertama
kalinya aku kembali ke Tokyo sejak kami pindah.”
“Oh, New York?” gumam Keiko.
“Kenapa?” tanya Kazuto. “Kau pernah ke sana?”
Keiko menggeleng-geleng dan tertawa pelan. “Tidak, tidak. New York kedengarannya
jauh sekali.” Kemudian ia melirik teman seperjalanannya dan tidak bisa menahan
diri untuk berkomentar, “Tapi bahasa Jepang-mu bagus.”
7 Bar Jepang
“Tentu saja,” kata Kazuto tegas. “Walaupun tinggal di luar negeri, kami masih
berkomunikasi dalam bahasa Jepang.”
Keiko tersenyum mengerti. “Sama seperti keluargaku.” Melihat Kazuto tidak
mengerti maksudnya, ia menjelaskan, “Aku berbicara dalam bahasa Indonesia dengan
ibuku.”
“Ibumu orang Indonesia?” tanya Kazuto. Ia sudah menduga gadis itu tidak terlalu
mirip orang Jepang. Apalagi ketika mereka pertama kali bertemu, gadis itu
mengucapkan serentetan kata yang tidak dipahaminya.
Keiko mengangguk. “Nenekku dari pihak Ibu adalah orang Indonesia dan kakekku
orang Jepang. Ibuku dilahirkan dai dibesarkan di Indonesia. Lalu Ibu pindah ke Jepang
setelah menikah dengan Ayah, jadi aku lahir di sini. Tapi aku sangat lancar berbahasa
Indonesia, kau tahu? Ibuku mengajariku sejak kecil.”
Mereka tiba di gedung apartemen dan berjalan menaiki tangga. Ketika Keiko sudah
sampai di depan pintu apartemennya, ia berbalik menghadap Kazuto yang ada di
belakangnya. “Bahumu... sakit tidak?”
Kazuto menggerak-gerakkan bahunya sejenak, lalu tersenyum lebar. “Kurasa tidak
apa-apa,” sahutnya ceria, “aku tidak akan lumpuh walaupun tadi kau menghajarku
keras sekali dengan tasmu yang berat itu. Apa isinya? Batu?”
Keiko tersenyum malu dan mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya.
Alis Kazuto terangkat. “Oh, Les Miserabl├ęs,” katanya, menyebut judul aslinya
setelah membaca judul dalam tulisan Jepang yang tercetak di buku yang dipegang
Keiko.
“Kau tahu buku ini?” tanya Keiko heran. Tidak banyak orang yang tahu dan
membaca karya sastra klasik.
Kazuto mengabil buku itu dari tangan Keiko dan membuka-buka halamannya.
“Aku pernah membacanya,” katanya. “Tapi aku baru tahu buku itu juga dijemahkan ke
dalam bahasa Jepang.”
“Kau membaca versi aslinya?” tanya Keiko kagum.
Kazuto mengangkat wajah dari buku itu. “Apa? Oh, tidak. Yang kubaca adalah
yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku tidak bisa berbahasa Prancis.”
Ia mengembalikan buku itu kepada Keiko. “Kau?”
Keiko menggeleng. “Bahasa Prancis-ku sangat payah. Dulu masih ada Tatsuya-san
yang bisa mengajariku bahasa Prancis. Sekarang aku terpaksa belajar sendiri, dan
sering kali aku tidak punya waktu untuk itu.”
“Tatsuya-san?”
“Dia orang yang dulu tinggal di apartemen yang kautempati sekarang. Orang yang
sangat baik. Dia sudah beberapa kali pergi ke Paris dan selalu membawakan kami
hadiah kalau pulang dari sana. Sewaktu terakhir kali kembali dari Paris, dia juga
membawakan CD lagu Prancis untukku, walaupun saat itu dia sedang punya banyak
masalah8 ,” kata Keiko sambil melamun. Lalu ia mendesah keras, “Kadang-kadang aku
merindukannya.”
“Kalian berdua sangat dekat?”
Mata Keiko beralih ke wajah Kazuto. “Dekat? Maksudmu seperti...? Oh, tidak.
Hubungan kami tidak seperti itu.” Lalu ia mengucapkan kalimat berikut dalam bahasa
ibunya tanpa sadar. “Jalan pikirannya aneh sekali, orang ini.”
“Lagi-lagi mengomel dalam bahasa asing,” gumam Kazuto sambil tersenyum.
Kemudian ia menatap langsung ke mata Keiko dan berkata, “Kau gadis yang menarik,
Ishida Keiko.”
Mata Keiko melebar menatap laki-laki yang berdiri di depannya. Pasti ia salah
dengar. Kazuto bilang apa tadi? Dia gadis yang menarik? Menarik dalam arti apa?
Menarik dalam arti “menyenangkan”? Atau...? Tetapi mereka baru saling mengenal,
jadi tidak mungkin menarik dalam arti yang lebih dalam dan rumit dan membingungkan,
bukan?
Kemudian Kazuto memiringkan kepala dan keningnya berkerut samar. “Sepertinya
aku pernah melihatmu sebelum ini,” gumamnya.
Seketika itu juga ekspresi wajah Keiko berubah santai dan ia tersenyum mengerti.
“Aah... Aku tahu maksudmu.”
“Apa?”
“?Sepertinya aku pernah melihatmu sebelum ini,?” ulang Keiko, lalu menoleh ke
arah Kazuto. “Sudah ribuan kali aku mendengar kalimat itu. Yang kaumaksud pasti
Naomi.”
Alis Kazuto terangkat tidak mengerti. “Naomi?”
“Naomi model yang lumayan terkenal di sini. Kau pasti pernah melihatnya di
majalah dan televisi,” jelas Keiko.
Kazuto tertawa kecil. “Maksudmu, wajahmu mirip model terkenal?” tanyanya geli.
“Apa? Bukan, bukan!” Keiko tertawa. “Naomi itu saudara kembarku. Orang-orang
sering salah mengenaliku sebagai Naomi. Pemabuk yang dulu menguntitku juga
begitu.”
“Oh? Kau punya saudara kembar?” gumam Kazuto heran, lalu terdiam sejenak
dan menambahkan, “Apa maksudmu dengan pemabuk yang menguntitmu?”
Wajah Keiko memerah. Ia menjawab agak tergagap. “Kejadiannya sudah cukup
lama. Dia salah mengenaliku sebagai Naomi.” Sebelum Kazuto sempat bertanya lebih
8 Baca Autumn in Paris
jauh, ia buru-buru menambahkan, “Tapi semuanya baik-baik saja, jadi tidak ada yang
perlu dibesar-besarkan.”
Sejenak Kazuto tidak berkata apa-apa, seakan sedang berpikir, lalu ia berkata pelan,
“Jadi kau punya saudara kembar?”
Keiko mengembuskan napas, merasa lega karena Kazuto tidak mendesaknya. “Ya.
Dia lahir lebih dulu, aku lima menit kemudian. Wajah kami sama persis, hanya gaya
rambut kami yang berbeda, lalu dia punya tahi lalat kecil di hidung dan dia sedikit
lebih tinggi dariku. Sifat kami berdua memang tidak sama, tapi juga tidak benar-benar
bertolak belakang. Kami tinggal bersama di sini sampai dia pindah ke luar negeri
musim panas tahun lalu karena ada kontrak kerja,” jelasnya tanpa ditanya. Ia sudah
terlalu sering menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang yang salah
mengenalinya sebagai Naomi. Karena sudah tahu pertanyaan-pertanyaan yang selalu
ditanyakan, kini ia cenderung langsung mengatakan segalanya sebelum ditanya. “Oh,
sebelum kau bertanya, tidak, kami tidak bisa bertelepati atau semacamnya, walaupun
kami memang dekat. Kadang-kadang aku bisa merasakan apa yang dia rasakan dan
begitu juga sebaliknya, tapi hanya sebatas itu. Kami bukan cenayang. Dan satu lagi, aku
tidak ikut menjadi model karena aku memang tidak bercita-cita menjadi model.”
Kazuto tersenyum mendengar penjelasan panjang-lebar itu. Punggungnya
disandarkan ke pintu dan kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Kemudian ia
tertawa. “Jadi kau bukan cenayang dan kau tidak mau menjadi model. Ada lagi yang
harus kuketahui?”
Sesaat Keiko menatap laki-laki di hadapannya dengan bingung, lalu wajahnya
memerah. “Tidak ada. Maafkan aku karena sudah terlalu banyak bicara.” Ia menggigil
dan baru menyadari mereka sudah terlalu lama berdiri di luar pintu seperti ini. “Dingin
sekali,” katanya cepat. “Kalau begitu, selamat malam.”
Kazuto tersenyum. “Selamat malam.”
Sebenarnya kemungkinan Kazuto pernah melihat Naomi di majalah atau televisi
sangat kecil. Kazuto sudah tinggal di luar negeri selama hampir separo hidupnya dan
ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang artis atau model Jepang.
Tiga
“DIA bilang kau gadis yang menarik?” Haruka menegaskan sekali lagi.
“Ya,” jawab Keiko. Ia mengerutkan kening dan menggigit bibir sambil berpikirpikir.
“Oneesan, menurutmu apa maksudnya?”
“Mereka berdua sedang berada di salah satu kafe di jalan Omotesando, Harajuku.
Kafe itu lumayan ramai karena hari itu hari Minggu dan banyak anak muda yang
berkumpul. Pelanggan biasa ditambah lagi orang-orang yang istirahat setelah sibuk
berbelanja untuk menyambut Hari Natal yang tinggal tiga minggu lagi. Sejak awal
bulan Desember toko-toko di sepanjang jalan kota Tokyo dan semua pusat perbelanjaan
sudah mulai memasang hiasan Natal. Lagu Natal pun terdengar di mana-mana.
“Menurutku dia tidak bermaksud apa-apa,” sahut Haruka ringan sambil
mengangkat bahu. “Hanya basa-basi.”
“Begitukah?”
“Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Haruka. “Pelukis memang suka
bertingkah aneh-aneh.”
“Dia pelukis?” tanya Keiko heran. Kemarin ia lupa menanyakan apa pekerjaan lakilaki
itu, tetapi Nishimura Kazuto tidak terlihat seperti pelukis. Yah, tentu saja, Keiko
sendiri belum pernah bertemu dengan pelukis mana pun, jadi ia sendiri tidak yakin. Ia
merasa laki-laki itu lebih cocok berprofesi sebagai... sebagai... entahlah. Yang penting
bukan pelukis. Pelukis itu kan biasanya terlihat kacau, rambut berantakan, lusuh dan...
Na, tunggu dulu. Bukankah itu penampilan Nishimura Kazuto ketika Keiko pertama
kali bertemu dengannya? Keiko masih ingat dengan jelas sosok Kazuto yang berdiri
tegak di ambang pintu. Dengan rambutnya yang dicat kepirangan dan penampilannya
yang berantakan, ia kelihatan seperti pelukis dalam bayangan Keiko. Ia juga...
“Siapa? Nishimura Kazuto?” Haruka menyela lamunannya, lalu mengibaskan
tangan. “Bukan, bukan. Dia fotografer. Dia sendiri yang bilang begitu.”
Keiko langsung menghentikan imajinasinya yang mulai melantur ke mana-mana.
“Tapi tadi Oneesan bilang dia itu pelukis.”
Haruka mengernyit dan menggeleng. “Tidak. Maksudku tadi seniman. Pelukis dan
fotografer sama-sama disebut seniman, bukan?”
Keiko membuka mulut hendak membantah, tapi kemudian mengurungkan niat.
Kadang-kadang ucapan Haruka memang sulit dipahami dan Keiko sudah terbiasa.
Akhirnya ia hanya bergumam, “Kurasa memang begitu.”
“Aku heran kenapa dia tiba-tiba datang ke Jepang,” kata Haruka. “Dia sangat
terkenal di Amerika, kau tahu? Bahkan di Tokyo ini dia sudah dibanjiri tawaran
pekerjaan, tapi katanya dia tidak ingin bekerja dulu untuk sementara ini. Dia mau
berlibur.”
Keiko menatap Haruka dengan kagum. “Bagaimana Oneesan bisa tahu semua itu?”
Haruka hanya mengangkat bahu dan tersenyum. “Aku pintar menggabunggabungkan
informasi yang kuterima.”
“Akira!”
Kepala Keiko berputar ke arah suara melengking itu dan matanya terpaku pada
gadis remaja bertubuh ramping dengan rambut panjang dicat oranye yang sedang
melambai kepada teman laki-lakinya yang duduk di meja tidak jauh dari meja Keiko.
Anak laki-laki dengan rambut seperti landak yang dipanggil Akira itu balas melambai.
“Sudah menunggu lama?” Keiko mendengar gadis itu bertanya lagi dan temannya
menggeleng.
Perhatian Keiko kembali ke Haruka ketika mendengar tetangganya itu
mendecakkan lidah. “Dasar anak muda zaman sekarang,” gerutu Haruka. “Apa
maksudnya memakai rok mini pada musim dingin begini?”
Keiko tersenyum dan mengangkat bahu. Sebenarnya pemandangan seperti itu—
para remaja dengan dandanan aneh, yang biasa disebut Cosplay-zoku—adalah
pemandangan sehari-hari di Harajuku. Remaja-remaja itu suka berdandan habishabisan
dan memamerkan diri di depan orang banyak. Mulai dari rambut yang dicat
warna-warni, pakaian yang “kreatif” dan mencolok, sampai ke rias wajah yang bisa
membuat orang-orang tua seperti Kakek Osawa mengelus dada. Mereka berdandan
seolah-olah akan menghadiri pesta kostum, tapi pada kenyataannya mereka hanya
sedang nongkrong santai di jalanan.
“Bisa kulihat kau masih mengingat anak laki-laki itu,” celetuk Haruka tiba-tiba.
Keiko mengangkat alis. “Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan cinta pertamamu? Kitano Akira, bukan?”
Keiko menunduk dan menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya.
Haruka melipat kedua tangan di atas meja. “Menurutmu si Landak itu Akira yang
kaucari-cari?”
Keiko mendengus dan tertawa. “Astaga, Oneesan! Tentu saja tidak. Anak itu masih
kecil. Umurnya paling-paling baru tujuh belas tahun.”
Haruka mendesah. “Kau hebat sekali. Masih tetap menunggu cinta pertamamu
walaupun sudah belasan tahun.”
“Aku tidak menunggunya,” bantah Keiko.
Haruka mencibir. “Kepalamu berputar begitu cepat sampai nyaris putus hanya
karena mendengar seseorang menyebut nama Akira.”
Keiko kembali menunduk dan mengaduk-aduk tehnya dengan pelan.
Haruka memiringkan kepala. “Aku jadi berpikir-pikir. Memangnya kau masih bisa
mengenalinya? Bagaimanapun juga sudah tiga belas tahun. Wajah orang bisa berubah,
kau tahu? Bagaimana kalau kalian berpapasan di jalan dan kau tidak mengenalinya?”
Keiko hanya mengangkat bahu, lalu menoleh memandang ke luar jendela kafe,
memandangi deretan pohon gundul di tepi jalan. Ia masih ingat peristiwa tiga belas
tahun lalu itu dengan sangat jelas. Saat itulah ia pertama kali bertemu dengan anak
laki-laki bertopi wol biru dengan senyum ramah yang membuat hatinya berdebardebar.
Kitano Akira. Cinta pertamanya.
Musim dingin tiga belas tahun yang lalu... Saat itu jam pulang sekolah. Keiko
berjongkok menunggu Naomi di samping gedung sekolah sambil mengorek-ngorek
salju di tanah dengan sebatang ranting kurus. Naomi harus menyelesaikan hukuman
yang diberikan guru karena ia baru saja ribut dengan salah seorang anak di kelas tadi
pagi. Keiko sudah lupa siapa nama anak perempuan menjengkelkan itu, tapi yang jelas
anak itulah yang memulai kekacauan tersebut.
Ah, kalau tidak salah nama anak jahat itu Sugiyama. Ia merampas kalung Keiko
hadiah dari Nenek dan melemparkannya ke luar jendela. Keiko tahu Sugiyama sudah
iri padanya sejak ia memperlihatkan kalung emas putih dengan liontin berbentuk
tulisan “Keiko”. Naomi juga punya satu, tentunya dengan liontin yang berbentuk
tulisan “Naomi”. Sugiyama ingin meminjam kalung itu, tapi Keiko tidak mengizinkan.
Bagaimana mungkin ia mengizinkan anak manja itu memakai kalungnya yang
berharga? Tapi Sugiyama nekat merampas kalung itu dan “menjatuhkannya” ke luar
jendela. Katanya ia tidak sengaja, tapi tentu saja hanya orang buta dan tuli yang
percaya padanya. Naomi yang pada dasarnya lebih galak langsung mengamuk dan
menyerang Sugiyama. Saat itulah guru datang dan melihat Naomi melancarkan jurus
menjambak-kucir-rambut yang ganas.
Dengan wajah cemberut menahan tangis kesal sambil sesekali meniup tangannya
yang tidak bersarung tangan, Keiko menunduk dan mencari-cari di antara tumpukan
salju di tanah. Nenek pasti marah kalau Keiko sampai menghilangkan kalung itu.
“Sedang apa?”
Kepala Keiko berputar ke arah suara. Matanya menyipit sedikit karena silau. Ia
mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata dan barulah ia bisa melihat dengan
jelas siapa yang berbicara. Ternyata seorang anak laki-laki bertopi wol biru. Usia anak
itu pasti lebih tua daripada Keiko. Kelihatannya seperti anak SMP. Kakak kelasnya?
Entahlah, Keiko belum pernah melihatnya sebelum ini.
“Sedang apa?” tanya anak laki-laki itu lagi.
Keiko ragu sejenak, lalu bergumam pelan, “Mencari sesuatu.”
Anak laki-laki itu berjalan mendekat. “Mencari apa?”
“Kalung,” jawab Keiko singkat, lalu kembali menunduk mencari-cari di tanah.
Karena tidak mendengar sahutan, Keiko menoleh dan melihat anak itu sudah ikut
mencari-cari.
Baru saja Keiko kembali memusatkan perhatian pada tanah di sekeliling kakinya, ia
mendengar anak laki-laki itu berseru, “Namamu Keiko?”
Keiko menatapnya dengan heran dan mengangguk. “Ya.”
Anak laki-laki itu tersenyum lebar dan mengacungkan sesuatu yang berkilau di
tangan kanannya. “Ketemu!”
“Benar?” Keiko melompat berdiri dan berlari menghampiri anak itu.
Anak laki-laki itu menyerahkan kalung dengan liontin berbentuk nama “Keiko”
kepada Keiko. “Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi ya?” katanya dengan nada
ramah.
Keiko mendongak menatap wajah yang berseri-seri itu. Ia baru akan membuka
mulut untuk mengucapkan terima kasih, tapi anak laki-laki itu menoleh ke arah
lapangan dan melambai. Keiko mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dan
melihat sekumpulan remaja berdiri di sana, dua anak perempuan dan dua anak lakilaki.
Semuanya terlihat seperti anak SMP.
“Aku pergi dulu,” kata si anak laki-laki bertopi biru. “Kau juga lebih baik cepat
pulang.”
Begitu anak laki-laki itu pergi. Naomi berlari-lari ke arah Keiko sambil menggerutu
panjang-pendek. Keiko cepat-cepat menariknya mendekat. Ia tahu Naomi mengenal
banyak orang. Mungkin ia tahu siapa anak laki-laki itu. Dan Naomi memang tahu. Kata
Naomi nama anak itu Kitano Akira, siswa SMP. Dulu dia dan keempat temannya juga
bersekolah di SD yang sama dengan Keiko , lalu setelah lulus mereka pindah ke SMP
lain. Hari itu Kitano Akira dan teman-temannya datang ke SD lama mereka untuk
bertemu dengan salah satu mantan guru mereka. Sejak hari itu Keiko tidak pernah
bertemu dengan Kitano Akira lagi.
* * *
“Kau sudah menelepon ibumu?”
Kazuto mengalihkan perhatian dari kameranya lalu memandang pria berusia
empat puluhan dan berpenampilan rapi yang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum
samar dan menggeleng.
Takemiya Shinzo mendesah memandang keponakannya yang kelihatan tidak
peduli itu. Kazuto sudah tinggal di New York lebih dari sepuluh tahun dan selama itu
ia tidak pernah kembali ke Jepang. Sepanjang pengetahuan sang Paman, kehidupan
Kazuto di New York sangat baik. Anak itu sudah menjadi salah satu fotografer
profesional yang cukup terkenal. Karena itu ia agak heran ketika Kazuto meneleponnya
seminggu yang lalu dan berkata ia akan kembali tinggal di Tokyo.
Tetapi keponakannya itu tidak mau tingagl di apartemen pribadi yang disediakan
untuknya di Roppongi yang trendi. Ia malah menyewa apartemen kecil di pinggiran
kota. Takemiya Shinzo sudah bertanya pada kakak perempuannya—ibu Kazuto—
tentang apa yang sebenarnya diinginkan Kazuto karena anak itu sendiri tidak mau
menjelaskan, tetapi ibu Kazuto juga tidak bisa membantu banyak. Apalagi setelah tiba
di Tokyo, Kazuto sama sekali belum menelepon keluarganya di New York.
“Bagaimana kalau nanti ibumu khawatir?” Takemiya Shinzo berusaha membujuk
keponakannya. “Kau tidak memberitahunya di mana kau tinggal, apa yang kaulakukan,
bagaimana keadaanmu...”
“Ibu tidak punya alasan untuk khawatir. Sudah kubilang padanya aku datang ke
sini untuk berlibur. Bukankah Paman juga sudah memberitahunya bahwa Paman
melihatku tiba di Tokyo dengan selamat,” gumam Kazuto ringan. “Kita tidak perlu
memberitahu Ibu tentang hal selebihnya.” Ia mengangkat kameranya dan memandang
sekelilingnya dari balik lensa, berusaha mencari objek yang cukup menarik untuk
dipotret. Harajuku benar-benar mengesankan, penuh warna dan inovatif. Sumber
inspirasi.
Sebaliknya, Takemiya Shinzo tidak terlalu suka Harajuku. Tentu saja karena
kawasan itu adalah kawasan yang dikuasai para remaja. Sejauh mata memandang,
yang terlihat hanyalah para remaja yang berdandan seronok. Takemiya Shinzo
termasuk aliran konservatif. Ia lebih suka penampilan yang bersih dan rapi. Sambil
melihat ke sekelilingnya, ia bersyukur dalam hati karena ia belum menikah dan belum
punya anak. Seandainya saja anak laki-laki yang berdiri di bawah tiang lampu itu
adalah anaknya, ia akan menderita tekanan darah tinggi. Bagaimana tidak? Lihat saja
anak itu. Usianya pasti tidak lebih dari tujuh belas tahun, rambutnya dicukur habis dan
hanya menyisakan tiga garis tipis di tengah-tengah kepalanya, pakaiannya sobek di
sana-sini yang katanya adalah gaya masa kini, dan bukan hanya telinganya yang
ditindik, tapi alis dan hidungnya juga.
Melihat kening pamannya yang berkerut, Kazuto tertawa kecil dan berkata,
“Paman jangan mengkhianatiku ya? Ibu hanya perlu tahu aku sudah tiba di Tokyo
dengan selamat. Hanya itu. Paman juga tidak boleh melapor tentang apa pun
kepadanya. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan kalau Paman mau tahu, keadaanku
sangat baik sekarang ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Takemiya Shinzo kembali menatap keponakannya dan menyadari tinggi badan
Kazuto sudah menyamai tingginya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jas dan
mengulurkannya kepada Kazuto. “Pakai ini,” katanya. “Ini ponsel baru.”
Kazuto menerimanya dengan alis terangkat. “Untukku? Supaya Paman bisa
merecokiku setiap hari dan melapor pada Ibu?”
Takemiya Shinzo mendesah dengan berlebihan, lalu tersenyum dan berkata, “Aku
tidak akan mengatakan apa pun pada ibumu dan aku tidak akan merecokimu. Kau
tidak akan sering menerima teleponku. Mungkin hanya sesekali, saat aku merasa perlu
mengecek apakah kau masih hidup atau tidak.”
Kazuto memasukkan ponsel itu ke saku mantel dan tersenyum. “Terima kasih,
Paman.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Ketika pamannya berbalik dan mulai berjalan, Kazuto berseru, “Paman mau ke
mana?”
Pamannya menoleh. “Pergi main bulu tangkis dengan teman. Aku tahu kau tidak
suka bulu tangkis, jadi aku tidak mengajakmu.”
Kazuto mengamati kepergian pamannya sejenak, lalu berbalik dan berjalan ke arah
yang berlawanan. Ia menyusuri Omotesando sambil mencari inspirasi, sesekali
membicik dan memotret objek-objek yang dianggapnya menarik. Tiba-tiba langkahnya
terhenti. Lensa kameranya menangkap sosok seorang wanita. Kazuto mengangkat
kepala dari kamera untuk melihat dengan mata kepala sendiri, seakan tidak
memercayai lensa kameranya.
wanita itu duduk di salah satu kafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia menempati
meja untuk berdua tepat di sudut dan di samping jendela kaca besar. Wanita itu
menunduk ke arah buku yang terbuka di meja sambil bertopang dagu dengan sebelah
tangan. Kelihatannya ia sedang membaca, tapi Kazuto memerhatikan mata wanita itu
tidak bergerak. Pandangan wanita itu memang terarah ke buku, tapi perhatiannya
tidak tercurah ke sana. Sepertinya ia sedang melamun. Rambut panjangnya dijepit ke
atas dengan asal-asalan dan Kazuto bisa melihat dengan jelas telinga kanan gadis itu
yang ditindik. Bukan hanya satu, tapi tiga tindikan.
Tanpa sadar seulas senyum tersungging di wajah Kazuto. Tidak salah lagi, gadis
itu Ishida Keiko, tetangga sebelah apartemennya. Dan tidak salah lagi, Keiko sedang
melamun. Ia pasti sedang melamun karena sama sekali tidak menyadari Kazuto yang
berdiri tidak jauh di sampingnya, hanya dipisahkan oleh jendela kaca besar. Kazuto
memandangi wajah yang sedang melamun itu dan tiba-tiba merasa ingin tahu apa yang
sedang dipikirkan gadis itu.
Ia mengangkat kameranya dan membidik. Keiko masih bergeming, sibuk dengan
pikirannya sendiri, tidak menyadari dunia sekelilingnya, dan tidak menyadari bahwa
Kazuto sedang memotretnya. Ia juga tidak menyadari setelah itu Kazuto tetap
memandanginya.
Kazuto tidak tahu berapa lama ia memandangi Keiko, tapi ia yakin tidak lama
walaupun rasanya cukup lama. Ia baru tersadar ketika Keiko bergerak, seakan juga
baru tersadar dari lamunannya. Gadis itu mengerjapkan mata dan menutup bukunya.
Ia meraih jaketnya dan berdiri. Saat itu Kazuto maju selangkah dan mengetuk kaca
jendela. Keiko mendengar ketukan itu dan berpaling. Kazuto memerhatikan mata gadis
itu melebar dan alisnya terangkat ketika bertemu pandang dengan Kazuto. Kazuto
tersenyum dan mengangkat sebelah tangan. Kemudian raut wajah Keiko berubah
begitu mengenali siapa yang menyapanya dari balik jendela kaca dan ia balas
tersenyum.
* * *
“Nishimura-san, sedang apa di sini?” tanya Keiko ketika ia sudah keluar dari kafe dan
menghampiri Kazuto. Tadi ia terkejut melihat Kazuto yang mengetuk kaca jendela. Ia
sama sekali tidak menyangka bisa bertemu secara kebetulan dengan tetangga barunya
itu, tapi ini kejutan yang menyenangkan.
Kazuto mengangkat kameranya. “Mencari inspirasi,” sahutnya ringan.
Keiko mengangguk-angguk kecil. “Haruka Oneesan bilang kau fotografer.
Fotografer apa? Fashion?”
Kazuto menggeleng cepat. “Bukan,” katanya. “Kurasa aku kurang berbakat dalam
bidang itu. Pernah mendengar istilah street photography? Itu bidangku. Aku memotret
apa pun yang kuanggap menarik di sekitarku. Kadang-kadang aku juga suka
melakukan sedikit fine art dan landscape photography, walaupun kurasa aku masih punya
banyak kekurangan dalam kedua bidang itu.”
Keiko tidak paham dengan istilah-istilah yang dikatakan Kazuto, tetapi mungkin ia
bisa mencari beberapa buku petunjuk tentang fotografi di perpustakaan.
Kazuto menggerakkan kepalanya ke arah kafe di samping mereka dan bertanya,
“Kenapa kau duduk sendirian di dalam?”
“Tadi aku bersama Haruka Oneesan. Dia memintaku menemaninya berbelanja
untuk keperluan Natal. Lalu dia harus kembali ke salon untuk bekerja,” jelas Keiko.
“Kau mau ke mana?”
Kazuto mengangkat bahu, lalu balas bertanya, “Kau sendiri mau ke mana?”
“Aku? Sekarang aku mau membeli bahan makanan,” jawab Keiko. “Persediaan di
rumah sudah habis.”
“Kalau begitu, aku ikut denganmu,” cetus Kazuto.
“Untuk apa?” tanya Keiko langsung.
“Karena aku sedang tidak punya kesibukan. Kenapa? Kau ada janji dengan orang
lain?”
“Tidak,” sahut Keiko. Lalu karena melihat Kazuto masih menunggu jawabannya,
akhirnya ia berkata, “Baiklah, kau boleh ikut.”
Kazuto tersenyum senang. “Bagaimana kalau kita ke persimpangan Shibuya yang
terkenal itu?”
“Kenapa?”
“Aku ingin ke sana dan melihat-lihat. Pasti sudah banyak yang berubah sejak
terakhir kali aku melihatnya.”
“Tapi kau kan bisa pergi ke sana sendiri,” gumam Keiko. “Kenapa harus ditemani?”
Kazuto tersenyum lebar. “Aku takut tersesat.”
“Apa?” Keiko yakin ia salah dengar.
“Sudah lama aku tidak pulang ke Jepang. Aku nyaris tidak mengenali jalan-jalan
yang ada sekarang,” lanjut Kazuto.
Keiko tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya melongo menatap Kazuto,
berusaha melihat apakah laki-laki itu sedang bercanda atau serius. Akhirnya ia
menyerah dan mendesah. “Ayo, kita pergi.”
* * *
“Makan apa ya malam ini?” gumam Keiko pada diri sendiri. Ia berdiri menghadap rak
bahan makanan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. “Spageti? Atau
kari? Mmm...”
Kazuto yang bertugas mendorong troli menghampirinya dan berhenti di
belakangnya. “Kari saja,” celetuknya dan menjulurkan tangan melewati kepala Keiko
untuk meraih sekotak bumbu kari. “Aku sudah bosan dengan makanan Barat. Kita
makan makanan Jepang saja malam ini.”
Alis Keiko terangkat dan ia berputar menghadap Kazuto. “Kita?” ulangnya sambil
menggerakkan tangannya menunjuk dirinya dan Kazuto. “Memangnya aku pernah
mengajakmu makan bersama?”
Kazuto menyunggingkan seulas senyum manis. “Kau akan mengajakku makan
malam di tempatmu, bukan? Kau tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak bisa memasak
dan sejak kemarin aku sama sekali belum menikmati makanan yang sesungguhnya,”
bujuknya. Ketika ia melihat Keiko masih menatapnya dengan sebelah alis terangkat, ia
cepat-cepat menambahkan, “Begini saja, bagaimana kalau sebagai gantinya siang ini
kutraktir makan? Oke?”
Keiko mengangkat bahu. “Kurasa cukup adil.”
Keiko tahu benar dirinya orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali ia bisa
langsung merasa akrab dengan seseorang. Nishimura Kazuto kelihatannya sangat
percaya diri dan pandai berbicara. Selama makan siang mereka mengobrol banyak.
Bersama laki-laki itu membuat Keiko menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak
terpikir untuk diceritakan. Ia bercerita tentang tetangga-tetangga mereka juga tentang
dirinya sendiri, seperti tentang ibunya yang saat ini sedang berada di Jakarta karena
kakeknya sedang tidak sehat. Kazuto sepertinya tertarik pada semua yang diceritakan
Keiko.
“Giliranmu,” kata Keiko.
Kazuto sendiri mengaku tidak banyak yang bisa diceritakan kepada Keiko.
Katanya ia anak bungsu dalam keluarganya dan kakak laki-lakinya sudah berkeluarga.
Semua keluarganya tinggal di Amerika Serikat, kecuali seorang paman yang menetap
di Tokyo. Keluarganya sama sekali tidak istimewa. Ayahnya pekerja kantoran dan
ibunya ibu rumah tangga biasa.
“Kenapa kau kembali ke Jepang?” tanya Keiko ketika mereka berdiri dalam
kerumunan pejalan kaki di pinggir persimpangan Shibuya yang terkenal ramai,
menunggu lampu lalu lintas berubah warna.
Kazuto sedang sibuk membidikkan kameranya ke arah iklan-iklan neon dan layar
video raksasa yang bertaburan di persimpangan itu. Wajahnya berseri-seri penuh
semangat. “Hm? Maaf, kau bilang apa tadi?” tanyanya sambil berpaling ke arah Keiko.
“Kenapa kau kembali ke Jepang?” Keiko mengulangi pertanyaannya.
“Mencari suasana baru,” jawab Kazuto singkat, tanpa berusaha menjelaskan.
Tepat pada saat itu lampu tanda menyeberang menyala dan kerumunan besar
orang mulai menyeberang jalan. Keiko tahu mereka harus berjalan dengan cepat
namun hati-hati dalam lautan manusia yang berjalan hilir-mudik ini. Ia ingin
memperingatkan Kazuto. Ia menoleh, tapi Kazuto tidak ada di sampingnya. Ia menoleh
ke kanan-kiri. Tidak ada. Hanya ada kerumunan orang yang berlalu-lalang. Ke mana
laki-laki itu? Begitu menyadari Kazuto tidak ada di dekatnya, langkah Keiko otomatis
terhenti. Dengan segera ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Sebelum
Keiko sempat menggumamkan permintaan maaf, seseorang yang berjalan dari arah
berlawan menyenggol bahunya. Keiko terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris
terjatuh kalau punggungnya tidak tertahan sesuatu.
“Sebenarnya kau orang Tokyo atau bukan? Menyeberang jalan saja tidak bisa.”
Mendengar suara itu Keiko mendongak dan melihat wajah Kazuto. Ternyata
Kazuto yang menahannya supaya tidak terjatuh. Kazuto memegang sikunya dan
membimbingnya menyeberang jalan.
“Tadi aku sedang mencarimu,” kata Keiko berusaha menjelaskan begitu mereka
menyeberang dengan selamat dan berhenti sejenak di dekat patung Hachiko yang
terkenal sebagai tempat pertemuan penduduk Tokyo. Setiap hari banyak sekali orang
yang berkumpul di sana, terlebih lagi hari Minggu.
“Dari tadi aku ada di belakangmu,” kata Kazuto ringan.
“Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu,” gerutu Keiko. “Membuat orang lain
bingung. Apalagi di tengah jalan.”
“Baiklah, maafkan aku,” kata Kazuto dengan nada bergurau. “Lain kali aku akan
menempel terus padamu.”
Keiko membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.
“Akira!”
Kepala Keiko langsung berputar ke arah suara wanita itu. Kazuto juga ikut
berpaling. Mereka melihat seorang wanita menghampiri anak laki-laki yang sedang
mengulum lolipop. Usia anak itu pasti tidak lebih dari tiga tahun.
“Akira, sudah Ibu bilang jangan berkeliaran sembarangan,” si Ibu mengomel. Ia
menggandeng tangan si anak yang hanya mendongak memandang wajah kesal ibunya.
“Kalau tidak, lain kali Ibu tidak akan belikan permen lagi. Mengerti?”
Keiko memerhatikan kejadian singkat itu sambil memikirkan hal lain. Hari ini ia
bertemu dua orang yang bernama Akira, tapi dua-duanya bukan Akira yang dicarinya.
“Ada apa?” tanya Kazuto ketika melihat Keiko yang merenung.
Keiko menggeleng pelan. Matanya masih tertuju pada anak laki-laki dan ibunya itu.
“Nama anak itu Akira,” gumamnya pelan.
Kazuto mengangguk, tapi tidak mengerti. “Lalu?”
“Nama yang bagus,” gumam Keiko lagi setengah melamun.
“Bagus bagaimana?”
Keiko mengangguk. “Nama itu mengingatkanku pada seseorang.”
“Siapa?”
Keiko mendesah. “Anak laki-laki pertama yang kusukai.”
“Oh, ya?”
“Kazuto-san, siapa nama cinta pertamamu?”
Alis Kazuto terangkat. “Cinta pertamaku?”
Keiko menoleh ke arahnya dan bertanya sekali lagi, “Kau masih ingat nama cinta
pertamamu?”
“Namanya? Mmm...” Kazuto memasang tampang seakan sedang berpikir keras,
lalu ia tersenyum lebar dan mengangguk. “Kyoko,” jawabnya, lalu memiringkan
kepala. “Atau Keiko?”
Mata Keiko menyipit. Laki-laki itu mulai bercanda lagi. Ia menarik napas dan
mengembuskannya dengan dramatis. “Lupakan saja,” gumamnya dengan nada pasrah.
“Serius,” tegas Kazuto, namun senyumnya semakin lebar. “Memangnya kaupikir
hanya kau sendiri yang bernama Keiko di seluruh Jepang ini? Dan ngomong-ngomong
soal nama...”
“Baiklah, terserah,” Keiko memotong ucapan Kazuto sambil mengangkat sebelah
tangannya yang tidak menjinjing kantong belanjaan dengan gerakan mengalah. “Aku
percaya padamu. Ayo, jalan. Bukankah kau bilang ingin melihat-lihat Shibuya?” Ia
melihat kantong belanjaannya, lalu pandangannya beralih ke Kazuto yang juga
menjinjing kantong belanjaan. “Seharusnya kita tidak belanja dulu. Sekarang kita
terpaksa harus membawa barang-barang ini ke mana-mana.”
Mereka kembali melanjutkan langkah. Tadi Kazuto ingin berkata bahwa ia
mengenal seseorang bernama Akira. Salah satu teman sekelas dan teman dekatnya juga
bernama Akira. Gara-gara Keiko bertanya tentang cinta pertamanya, Kazuto jadi
teringat pada masa kecilnya ketika ia masih tinggal di Tokyo. Ia juga teringat pada
teman-teman sepermainannya dan bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka
sekarang. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan mereka. Sudah lama sekali.
Apakah mereka sudah berubah? Kazuto masih ingat nama-nama mereka yang sering
bermain dengannya. Taguchi Emi, Yamada Makoto, Kawakubo Eiji, dan Kitano Akira.
Apakah mereka semua masih tinggal di Tokyo?
Empat
“ONEESAN, Tomoyuki sudah pulang?” tanya Keiko sambil melangkah masuk ke
apartemen 102.
Haruka menutup pintu dan menyusul Keiko ke ruang tamu. “Belum. Sepertinya
hari ini dia akan pulang malam.” Alisnya berkerut sedikit ketika mengamati Keiko.
“Kau sedang flu, ya? Suaramu sengau.”
“Ya,” gumam Keiko lesu. Ia sudah merasakan gejala flu sejak pagi dan sudah
minum obat, tetapi ternyata tidak berpengaruh karena keadaannya tidak membaik. Ia
mengembuskan napas keras dan duduk di salah satu bantal yang ada di lantai ruang
tamu. Ia menopangkan siku di atas kotatsu9 dan mengeluh, “Bagaimana ini?” Ia
menoleh ke arah Haruka dan baru menyadari tetangganya itu berpakaian rapi.
“Oneesan mau pergi?”
Haruka menatap bayangannya di cermin bulat yang tergantung di dinding. “Ya.
Pergi makan malam dengan teman.” Setelah bentuk rambutnya dianggap sempurna,
Haruka menoleh menatap Keiko. “Ngomong-ngomong, kenapa kau mencari
Tomoyuki?”
Keiko berdiri dan menghampiri Haruka dengan ekspresi merajuk. “Aku mau
memintanya mengganti bola lampu di apartemenku.”
“Oh,” gumam Haruka sambil mengangguk. “Bola lampu sebelah mana?”
“Ruang duduk.” Keiko belum pernah mengganti bola lampu dan Haruka sama saja.
Selama ini mereka selalu meminta bantuan Tomoyuki untuk melakukan pekerjaan
semacam itu. Itulah keuntungan punya saudara laki-laki. Bisa dimintai tolong.
“Tomoyuki belum pulang,” ulang Haruka. “Bagaimana dengan Kazuto-san?”
Keiko menggeleng. “Belum pulang juga.”
Haruka mendecakkan lidah. “Ke mana semua pria itu saat dibutuhkan?”
gerutunya.
“Ada Kakek,” kata Keiko sambil tersenyum geli begitu teringat Kakek Osawa.
“Tapi aku tidak tega memintanya memanjat-manjat tangga demi mengganti bola
lampu.”
Haruka tertawa kecil. “Berarti kau harus menunggu salah satu dari kedua pria
muda dan kuat itu pulang. Tidak ada pilihan lain.”
“Tapi, Oneesan, apartemenku gelap gulita,” Keiko mengerang. Ia tidak suka gelap.
Ia takut gelap. Memang usianya sudah 25 tahun, tapi apa boleh buat? Sampai sekarang
ia masih harus menyalakan lampu kecil kalau tidur.
“Jangan berlebihan,” kata Haruka sambil mengenakan jaketnya. “Hanya ruang
dudukmu yang gelap. Kamar tidurmu tidak.”
“Oneesan mau pergi sekarang?” tanya Keiko dengan nada cemas.
“Teman-temanku sudah menunggu,” kata Haruka. Ia berjalan ke jendela dan
menyibakkan tirai.
“Di luar masih hujan deras,” kata Keiko, berharap Haruka akan menunggu hujan
reda sehingga ada yang menemaninya di sini.
“Aku bisa bawa payung,” kata Haruka sambil mengangkat bahu. “Tidak enak
kalau aku sampai datang terlambat.” Ia berjalan ke pintu dan mengenakan sepatunya.
Kemudian ia menoleh dan menambahkan, “Tentu saja kau boleh menunggu di sini
kalau kau mau.”
“Oneesan, tunggu dulu!”
Tepat pada saat itu lagu Fly High-nya Hamasaki Ayumi terdengar nyaring. Nada
dering ponsel Keiko. Ia cepat-cepat menjawab. “Moshimoshi?”
“Keiko-chan!” Terdengar suara riang di seberang sana dengan latar belakang suara
hujan.
Alis Keiko terangkat. “Kazuto-san?”
“Keiko-chan,” panggil Kazuto sekali lagi. “Sedang apa?”
“Tidak sedang apa-apa.”
“Apa yang terjadi dengan suaramu?”
“Hanya sedikit flu. Ada apa menelepon?” Sebelum Kazuto sempat menjawab,
Keiko melanjutkan lagi, “Ah, aku tahu. Setiap kali mau meminta bantuan kau selalu
memanggilku Keiko-chan.”
“Bingo!” seru Kazuto gembira. “Walaupun baru bertetangga dua minggu, ternyata
kita sudah bisa saling memahami. Aku senang sekali.”
Keiko tertawa hambar. “Baiklah, ada apa?”
“Keiko-chan, kau tahu sekarang sedang hujan?”
“Ya.”
“Aku baru turun dari bus dan sekarang sedang duduk menunggu di halte bus.”
“Lalu?”
“Hujannya deras sekali.”
“Lalu?”
“Bukankah sudah jelas? Aku tidak membawa payung dan aku sudah kedinginan.
Aku bosan menunggu hujan berhenti. Ditambah lagi hujannya tidak mau berhentiberhenti.”
Kazuto berhenti sejenak dan berdeham. “Jadi, kau bisa menjemputku?”
“Menjemputmu?”
Kazuto buru-buru meralat, “Mengantarkan payung untukku. Bisa? Tolong? Aku
bersedia menemanimu sepanjang Hari Natal... oh, kau akan pulang ke Kyoto pada Hari
Natal, ya? Kalau begitu aku akan menemanimu sepanjang malam Natal minggu depan
kalau kau mau mengantarkan payung untukku.”
Keiko tidak butuh waktu lama untuk berpikir. “Tunggu di sana. Aku akan datang.”
“Ada apa dengan Kazuto-san?” tanya Haruka yang ternyata belum pergi. Ia heran
menatap Keiko yang buru-buru mengenakan sepatunya kembali.
“Dia lupa membawa payung dan tidak bisa berjalan pulang dalam hujan sederas
ini,” jelas Keiko cepat.
“Jadi kau mau menjemputnya?”
Keiko mengangguk. “Lebih cepat dia pulang, lebih cepat dia bisa membantuku
memasang bola lampu baru.” Lalu seakan baru terpikir akan sesuatu, ia menambahkan
sambil menggerutu, “Dan bukan karena aku berharap dia menemaniku pada malam
Natal.”
* * *
Kazuto duduk di bangku panjang yang tersedia di halte bus sambil memandangi hujan
yang turun dengan lebat. Tidak mungkin ia bisa berjalan pulang tanpa membuat
dirinya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja kalau ia
menerima tawaran Paman Shinzo yang ingin meminjamkan mobil untuknya, ia tidak
perlu berdesak-desakan di kereta atau bus dan tidak perlu berbasah-basah ria. Tetapi
tidak apa-apa. Memang ini yang diinginkannya. Ia mengembuskan napas dan
memerhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya seperti asap rokok. Ia menggigil
kedinginan. Tadi ia sudah menelepon Keiko dan gadis itu bilang sendiri kalau ia
bersedia datang menjemputnya. Jadi Kazuto hanya perlu menunggu dengan sabar.
Sebuah bus berhenti di halte dan beberapa penumpang turun sambil memegang
payung masing-masing. Kazuto meringis. Sepertinya hanya ia sendiri yang tidak
mempersiapkan payung. Dulu ia memang tidak pernah membutuhkan payung. Ia
selalu mengendarai mobil sendiri ke mana pun ia pergi. Ia memerhatikan orang-orang
yang baru turun dari bus itu membuka payung dan langsung berjalan menembus hujan.
Pulang ke rumah masing-masing.
Tinggal seorang laki-laki bermantel cokelat panjang yang sedang membuka payung
hitam besar. Kazuto sekilas memerhatikan laki-laki yang berdiri di sampingnya itu.
Masih muda, mungkin sebaya Kazuto, dengan rambut hitam yang dipotong pendek
dan rapi, wajah kurus, dan tubuh tidak terlalu tinggi. Wajahnya memang tidak
setampak aktor terkenal, tapi orang-orang yang melihatnya pasti akan berpikir laki-laki
itu orang yang ramah dan suka tertawa. Merasa tidak sopan karena memelototi orang
lain, Kazuto memalingkan wajah kembali memandang hujan di luar sana. Ia melirik
jam tangannya dan mendesah sekali lagi. Kenapa Keiko lama sekali?
“Maaf.”
Kazuto menoleh. Laki-laki yang tadi dipelototinya sedang menatapnya dengan
ragu.
“Nishimura Kazuto?” tanya laki-laki itu masih dengan sikap ragu-ragu.
“Ya,” gumam Kazuto kaget. Bagaimana orang itu bisa tahu namanya?
Kerutan ragu di wajah laki-laki bermantel cokelat itu menghilang. Wajahnya
berubah cerah dan ia menghampiri Kazuto. “Kazuto! Ternyata benar kau. Awalnya aku
tidak yakin. Wah, kau sudah berubah.” Melihat Kazuto yang masih sibuk mengingatingat,
ia menambahkan, “Sudah lupa padaku? Ini aku. Akira.”
“Akira?” gumam Kazuto dengan kening berkerut. Lalu perlahan-lahan dalam
benaknya terbayang seorang anak laki-laki kurus kecil berambut cepak yang sangat
tertarik dengan pelajaran biologi. Mata Kazuto terbelalak senang. “Kitano Akira!
Astaga! Lama tidak bertemu. Senang sekali melihatmu lagi, Teman. Apa kabar?”
* * *
Keiko berjalan cepat sambil mencoba bersiul untuk menghibur diri, tetapi tidak berhasil.
Cuaca yang dingin dan flu membuat siulannya seperti bunyi balon kempes. Ia sudah
hampir sampai di halte bus yang dimaksud Kazuto. Tepat di belokan jalan itu.
“Nah, itu Kazuto-san,” gumam Keiko pada diri sendiri ketika membelok dan
melihat sosok Kazuto yang berdiri di halte bus. Oh, ternyata Kazuto tidak sendirian. Ia
asyik mengobrol dengan seorang laki-laki bermantel cokelat panjang sambil tertawatawa
akrab. Namun sebelum Keiko sempat menghampiri mereka untuk melihat dan
mendengar lebih jelas, laki-laki bermantel cokelat itu menjabat tangan Kazuto,
membuka payungnya dan berjalan menembus hujan, meninggalkan Kazuto sendirian
di halte bus. Keiko melihat Kazuto mendongak memandangi hujan yang terus turun.
Laki-laki itu bahkan tidak sadar ketika Keiko menghampirinya.
“Aku sudah datang.”
Kazuto menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat begitu menyadari Keiko sudah
berdiri di dekatnya. Senyumnya mengembang. “Kau benar-benar datang! Kau baik
sekali. Sungguh!”
Keiko mengulurkan payung lipat yang dibawanya untuk Kazuto. “Memangnya
kaupikir aku tidak akan datang?”
“Aku tidak tahu kalau kau benar-benar ingin menghabiskan malam Natal
bersamaku,” gurau Kazuto riang.
“Terserah apa yang kaupikirkan,” sela Keiko ringan, sudah terbiasa dengan Kazuto
yang suka bercanda dan berbicara seenaknya.
Kazuto menerima payung lipat yang disodorkan dan mengerutkan kening.
“Sepertinya flumu lebih parah daripada yang kukira.”
“Aku sudah minum obat. Besok juga sembuh,” Keiko membantah sambil
mengamati Kazuto yang membuka lipatan payungnya. “Ngomong-nomong, tadi aku
melihatmu berbicara dengan seseorang. Temanmu?”
Kazuto mengangguk. “Teman sekolahku dulu. Kami kebetulan bertemu di sini.
Hebat sekali, bukan?” katanya gembira. “Kami tidak sempat berbicara banyak karena
dia harus mengunjungi pasiennya yang tinggal di sekitar sini. Oh ya, sekarang dia
sudah menjadi dokter. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengannya
setelah sekian lama. Dan dia yang mengenaliku lebih dulu.”
Keiko menarik lengan Kazuto. “Ayo, kita mengobrol sambil jalan saja. Dingin
sekali,” katanya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah supaya Kazuto bisa memasang
bola lampu untuknya. “Lalu kau sudah menanyakan nomor teleponnya?”
“Ya. Kami juga sudah berencana bertemu besok,” sahut Kazuto puas. Ia menoleh
menatap Keiko yang berjalan di sampingnya. “Ngomong-ngomong soal dokter, kalau
besok flumu belum sembuh, sebaiknya kau ke dokter.”
Keiko mendesah. “Sudah kubilang, aku punya obat dan sudah kuminum. Besok
juga sembuh.”
“Kau mau kukenalkan kepada temanku yang tadi itu? Dia kan dokter.”
“Tidak perlu. Aku sudah punya dokter langganan.”
Tiba-tiba Kazuto memegang siku Keiko dan menariknya menepi tepat ketika
sebuah mobil melewati mereka. Keiko agak heran mendapat perlakuan seperti itu dari
Kazuto. Lebih heran lagi ketika ia menyadari laki-laki itu secara tidak mencolok telah
bertukar posisi dengannya, sehingga kini Keiko berjalan di bagian dalam jalan dan
Kazuto berjalan di sebelah luar. Menurut Keiko sikap seperti itu sangat sopan dan
penuh perhatian.
Sejak Kazuto pindah ke apartemen 201 dua minggu yang lalu, Keiko sudah
memerhatikan bahwa Kazuto selalu bersikap sopan walaupun gaya bicaranya asalasalan.
Ia juga tetangga dan teman yang baik. Di samping itu, mereka sering
menghabiskan waktu bersama. Kazuto sering mampir ke perpustakaan tempat Keiko
bekerja dan mengajaknya makan bersama.
Karena sering menghabiskan waktu bersama, Keiko yakin sikap Kazuto yang
sopan itu bukan karena laki-laki itu ingin memamerkan diri, tapi karena memang
sudah terbiasa melakukannya sehingga ia sendiri pun tidak menyadarinya. Kazuto
selalu membuka dan menahan pintu untuk Keiko setiap kali mereka masuk dan keluar
dari ruangan. Kalau mereka berjalan bersama seperti sekarang ini, Kazuto selalu
berjalan tepat di sampingnya, tidak pernah di depan atau di belakangnya. Tindakan
kecil itu membuat Keiko sangat terkesan. Zaman sekarang jarang sekali ada pria yang
bersikap seperti itu. Mungkinkah sikap seperti itu didapat Kazuto dari Amerika?
Tetapi semua sopan santun itu tidak terlalu berarti kalau seorang laki-laki tidak
bisa melakukan satu hal yang paling penting.
Keiko mendongak menatap Kazuto sambil tersenyum manis. “Ngomong-ngomong,
Kazuto-san, kau bisa memasang bola lampu?”
* * *
“Lihat? Tinggal diputar begini saja,” kata Kazuto sambil menunjukkan cara memasang
bola lampu di ruang duduk apartemen Keiko. “Kau benar-benar harus belajar. Masa
pekerjaan segampang ini tidak bisa dilakukan? Harus menunggu orang lain
melakukannya untukmu?”
Keiko yang memegangi senter cemberut saja. “Aku takut kesetrum,” gerutunya
pelan.
“Tidak akan kesetrum kalau kau hati-hati.”
Keiko mencibir.
“Nah, selesai,” kata Kazuto sambil turun dari tangga. “Coba nyalakan.”
Keiko menjentikkan sakelar lampu. Tidak ada yang terjadi. Ruangan tetap gelap.
“Kazuto-san, sebenarnya kau bisa memasang bola lampu atau tidak?” tanya Keiko
curiga.
Kazuto mendongak menatap bola lampu yang baru dipasangnya dengan kening
berkerut. “Sepertinya ini bukan masalah bola lampu yang rusak,” katanya. “Ada
masalah dengan kabel listrikmu.”
“Lalu?”
“Kalau memang itu masalahnya, aku tidak bisa membantu.”
“Ha?”
Kazuto mengangkat bahu. “Aku bukan tukang listrik. Sebaiknya kau memberitahu
Kakek Osawa dan menelepon tukang listrik besok. Biar mereka yang memeriksa
kerusakannya.”
“Tapi... Tapi...”
“Kenapa?” Kazuto berbalik menghadap Keiko.
“Bagaimana denganku?”
“Bagaimana denganmu?”
“Itu...” Keiko menautkan jari-jarinya di depan dada dan tersenyum salah tingkah.
“Aku tidak suka gelap.”
Walaupun ruangan itu hanya disinari lampu senter yang remang-remang, Keiko
bisa melihat senyum yang tersungging di bibir Kazuto. Sudah pasti laki-laki itu
menertawakannya.
“Kalau kau takut gelap, diam di kamar tidur saja. Di sana kan lampunya masih bisa
menyala,” kata Kazuto sambil menahan tawa.
“Tapi aku kan sering mondar-mandir di sini,” Keiko membela diri sambil
menggerakkan tangannya ke sekeliling ruang tamu. “Perasaanku tetap tidak enak
kalau gelap gulita.”
“Nyalakan lilin.”
“Sama saja.”
“Jadi kau mau bagaimana?”
Keiko memiringkan kepala. “Aku bisa menumpang di tempat Haruka Oneesan,
tapi kebetulan dia sedang tidak ada di rumah. Dan aku tidak mau merepotkan Kakek
dan Nenek.”
“Kau mau aku menemanimu di sini?” tanya Kazuto setelah memikirkan arah
pembicaraan Keiko.
Keiko menggeleng. “Sudah kubilang aku tidak suka gelap. Tidak peduli ada yang
menemani atau tidak, pokoknya aku tidak suka gelap.”
Kazuto mendesah. “Jadi aku tidak bisa mengajakmu nonton film di bioskop ya?”
“Apa?” tanya Keiko sambil mengerjapkan mata. Apa hubungan film bioskop
dengan pembicaraan mereka?
“Di bioskop, kan gelap.”
“Aah, itu.” Keiko paham. “Tapi itu berbeda.”
“Berbeda bagaimana? Sama-sama gelap.”
“Kalau di bioskop perhatianku sepenuhnya tertuju ke film yang diputar dan aku
tidak merasa gelap.”
“Berarti kau mau kalau kuajak nonton?”
Bagaimana pembicaraan mereka bisa sampai ke masalah nonton? “Tentu saja,”
sahut Keiko, lalu menambahkan, “Kalau kau yang bayar.”
Kazuto tersenyum. “Baiklah, jadi bagaimana sekarang? Kau tidak mau tetap di sini.
Mau menunggu di tempatku?”
Wajah Keiko berseri-seri. “Ya!”
“Tunggu dulu.” Kazuto mengangkat sebelah tangan dan mengerutkan kening.
“Kau selalu seperti ini? Begitu bersemangat karena akan masuk ke apartemen laki-laki?”
“Tidak!” Keiko mendorong bahu Kazuto sambil tertawa.
“Kalau begitu kau sedang berusaha merayuku?” gurau Kazuto sementara dirinya
didorong ke pintu. “Kau harus tahu bahwa aku bukan laki-laki yang mudah dirayu.”
“Aku bahkan tidak akan bermimpi merayumu,” bantah Keiko di sela-sela tawanya.
“Bagiku kau hanya tetanggaku yang usil dan banyak omong.”
“Jadi kau tidak menganggapku laki-laki? Ah, aku tersinggung,” kata Kazuto sambil
memegangi dada dengan ekspresi terluka.
Ini bukan pertama kalinya Keiko masuk ke apartemen 201 setelah ditempati
Kazuto. Seperti biasanya, apartemen itu tidak berantakan, malah terkesan kosong.
“Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu,” kata keiko sambil
duduk di sofa empuk di ruang tamu sementara Kazuto menyalakan pemanas. Hujan di
luar masih belum berhenti. “Apartemenmu terlihat kosong, kau tahu?”
“Memang,” sahut Kazuto. “Aku jarang di rumah, jadi untuk apa membeli barangbarang
yang tidak berguna? Kau mau minum?”
Keiko mengangguk. “Teh juga boleh,” katanya. “Ngomong-ngomong, Kazuto-san,
kau fotografer, bukan?”
“Ya. Kenapa?”
“Kenapa aku tidak melihat satu lembar foto pun di sini?” tanya Keiko sambil
mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Maksudku, foto hasil jepretanmu.”
“Biasanya aku menyimpan foto-fotoku di komputer. Aku jarang mencetaknya,
apalagi memajangnya,” terdengar suara Kazuto dari dapur.
“Padahal aku ingin melihat foto-foto yang kauambil,” gumam Keiko dengan nada
menyesal.
Kazuto muncul sambil membawa dua cangkir teh. “Lain kali akan kutunjukkan
padamu.”
Keiko mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila di sofa. Ia menyesap tehnya
dan berkata, “Kau juga bekerja sebagai fotografer sewaktu tinggal di Amerika?”
Kazuto mengembuskan napas pelan, meletakkan cangkir tehnya di meja, dan
menyandarkan punggung ke sandaran sofa. “Ya,” sahutnya pelan.
“Kau senang di sana?”
“Tentu.”
Keiko mengangkat alis, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menguap
kecil. “Lalu sekarang kau ingin bekerja di Tokyo?”
“Ya,” sahut Kazuto, mengingat kalau ia memang pernah menyebut-nyebut tentang
keinginannya untuk menetap di Tokyo.
“Kenapa?”
Kazuto mengangkat bahu acuh tak acuh. “Menjadi fotografer itu bisa di mana saja.
Tidak harus terikat di satu tempat, bukan? Aku ingin mencari suasana baru dan
menurutku Tokyo kota yang sangat menarik.”
“Suasana baru?” Kepala Keiko berpindah ke lengan sofa. Ia tersenyum kecil.
“Orang yang membutuhkan perubahan suasana biasanya ingin melupakan sesuatu.
Bukankah begitu?”
Kazuto tidak menjawab. Hanya mengangkat alis dan tersenyum samar.
“Aku jadi ingin tahu apa yang ingin kaulupakan. Atau siapa.”
Kazuto tidak langsung menjawab pertanyaan Keiko karena sibuk dengan
pikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian ia menoleh dan mendapati gadis itu
tengah berbaring di sofa dengan mata terpejam. Tidur? Ia bangkit dan menghampiri
Keiko untuk memastikan. Benar, gadis itu sudah pulas. Flu membuat orang gampang
mengantuk. Tanpa suara Kazuto pergi ke kamar tidur dan keluar dengan membawa
selimut tebal. Ia menyelimuti Keiko dengan hati-hati, lalu berdiri di sana dan merenung.
Setelah beberapa saat ia mengeluarkan ponsel dan berjalan kembali ke kamar tidur. Ia
menutup pintu kamar dan menempelkan ponsel ke telinga. Menunggu hubungan
tersambung.
“Halo, Ibu? ... Ini aku.” Kazuto tersenyum mendengar rentetan omelan ibunya di
ujung sana. “Baiklah, aku minta maaf karena baru menelepon Ibu sekarang, tapi aku
yakin Ibu bisa mengerti.” Kali ini suara ibunya terdengar lebih tenang. Kazuto
melanjutkan, “Apa kabar Ayah?... Baguslah... Aku baik-baik saja. Ibu tidak usah
khawatir... Aku tahu, Bu. Aku mengerti.” Ibunya menanyakan sesuatu di ujung sana.
Nada suaranya hati-hati. Kazuto mengerutkan kening, tersenyum tipis, lalu bergumam
pelan, “Wanita itu?... Aneh sekali. Aku baru sadar aku jarang sekali memikirkannya
sejak aku tiba di Jepang.” Kazuto mendengar kata-kata ibunya di ujung sana, lalu
berkata lagi, “Ya, itu bagus, bukan?”
Lima
TOMOYUKI hampir tidak memercayai matanya sewaktu ia melihat Keiko keluar dari
apartemen Kazuto keesokan paginya. Ketika akan masuk ke apartemennya sendiri,
gadis itu baru menyadari keberadaan Tomoyuki di tengah tangga.
“Oh, Tomoyuki-kun, selamat pagi,” sapa Keiko dengan senyum salah tingkah. Dan
kalau Tomoyuki tidak salah lihat, wajah Keiko merona. “Kau mau pergi kuliah?”
Tomoyuki mengangguk. “Aku baru mau ke tempat Kazuto Oniisan,” sahutnya,
masih heran. “Mau meminjam...,” ia terdiam sejenak, sudah lupa apa yang ingin
dipinjamnya dari Kazuto. “Keiko Oneesan...?”
Keiko buru-buru menyela, “Kalau begitu, sampai jumpa. Aku masuk dulu.”
Begitu pintu apartemen Keiko tertutup, Tomoyuki berbalik menuruni tangga, tidak
jadi pergi ke apartemen Kazuto.
Haruka terkejut mendengar pintu apartemennya terbuka dengan suara keras. “Ada
apa? Ada apa?”
“Oneechan! Dengar, aku baru melihat Keiko Oneesan keluar dari apartemen
Kazuto Oniisan,” Tomoyuki melaporkan dengan nada mendesak.
“Apa?” Haruka mengangkat alis dan melirik jam dinding. Jam enam. “Sepagi ini?”
Tomoyuki mengerutkan kening dan berpikir-pikir. “Oneechan, menurutmu
mereka...”
Haruka memukul kepala adiknya. “Jangan berpikir sembarangan. Keiko gadis
baik-baik.”
“Aku kan tidak bilang apa-apa,” gerutu Tomoyuki sambil mengusap-usap
kepalanya.
“Tapi kenapa dia keluar dari apartemen Kazuto pagi-pagi begini?” gumam Haruka
pada diri sendiri.
“Mungkinkah Keiko Oneesan berada di apartemen itu semalaman?” celetuk
Tomoyuki.
Haruka menatap adiknya dan mengerjap-ngerjapkan mata. “Yah, mereka berdua
memang cukup dekat. Selalu bersama-sama. Tapi masa...?”
“Keiko Oneesan memang gadis polos. Mungkin saja Kazuto Oniisan yang
mengambil kesempatan dengan...”
Haruka kembali memukul kepala adiknya. “Sebaiknya kau pergi kuliah sekarang.
Heran, kau ini laki-laki tapi suka sekali bergosip.”
Tomoyuki mengangkat bahu tidak peduli. “Bukankah aku belajar dari Oneechan?”
Lalu ia melesat keluar sebelum Haruka sempat memukulnya lagi.
* * *
Memalukan. Kenapa aku bisa sampai tertidur di apartemen Kazuto? Keiko
mengembuskan napas sambil menyeberangi jalan. Hari ini banyak sekali yang harus
dilakukannya di perpustakaan dan kesibukan mengalihkan pikirannya dari kejadian
memalukan tadi pagi untuk sementara. Tapi sekarang dalam perjalannya ke rumah
sakit karena flu yang tidak kunjung membaik, ia jadi teringat pada kejadian tadi pagi
ketika ia terbangun di sofa ruang tamu Kazuto.
“Aku tidur di sini semalaman?” tanya Keiko tidak percaya.
Kazuto mengangguk. “Tidurmu nyenyak sekali, jadi tidak kubangunkan. Lagi pula
aku tidak keberatan.”
Laki-laki itu memang tidak keberatan, tapi Keiko merasa malu. Ditambah lagi ia
bertemu dengan Tomoyuki ketika ia keluar dari apartemen Kazuto tadi pagi. Tindaktanduknya
pasti terlihat mencurigakan. Keiko menggeleng-gelengkan kepala untuk
menjernihkan pikiran.
Tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Keiko mengeluarkan ponsel dari tas
tangan dan membaca tulisan yang menari-nari di layar. Kazuto.
“Moshimoshi? Kazuto-san?”
“Lampu ruang dudukmu sudah bisa menyala.” Terdengar suara Kazuto di
seberang sana.
Keiko tersenyum. Tadi pagi ia memang sudah melapor kepada Kakek Osawa dan
menelepon tukang listrik untuk memperbaiki kabel listriknya yang bermasalah. Karena
ia harus pergi bekerja dan tidak mungkin membiarkan si tukang listrik sendirian di
apartemen, Keiko akhirnya meminta Kazuto—tetangganya itu punya banyak waktu
luang—menemani Kakek Osawa mengawasi apartemennya selama kabel listriknya
diperbaiki.
“Kau memang tetangga paling baik sedunia,” kata Keiko melebih-lebihkan. “Kau
sudah menyelamatkan hidupku.”
“Kalau kau mau berterima kasih, traktir aku makan.”
“Oke, kutraktir makan gado-gado.”
“Gado... apa? Apa itu?” Kazuto terdengar ragu, tapi lalu cepat-cepat menambahkan,
“Tapi aku mau saja, asal memang bisa dimakan.”
Keiko tertawa sumbang—benar-benar sumbang, karena ia memang sedang flu.
“Jam tujuh, kalau begitu.”
Tidak lama setelah ia menutup ponsel, ponselnya berdering tiga kali. Ada pesan
masuk. Alisnya terangkat heran melihat pesan itu dari Kazuto. Bukankah laki-laki itu
baru saja bicara dengannya? Begitu melihat isi pesan itu, alis Keiko pun berkerut samar.
Sebuah foto. Sepertinya hasil jepretan Kazuto. Keiko tidak terlalu paham, tapi kalau
tidak salah foto itu menampilkan langit malam penuh bintang. Di bawah foto itu ada
sebaris kalimat: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat
sewaktu gelap?
Sementara ia masih memandangi foto itu dengan bingung mencoba memahami
maksud Kazuto, ponselnya kembali berdering tiga kali. Ada pesan lagi. Kali ini tidak
ada foto, hanya pesan tertulis dari Kazuto: Jangan lupa ke dokter sebelum kau menyebarkan
virus flu ke mana-mana.
“Ini juga sedang ke rumah sakit,” Keiko menggerutu pada ponsel yang
dipegangnya.
* * *
Ternyata Keiko harus menunggu 45 menit sebelum perawat memanggil namanya.
Proses pemeriksaannya sendiri tidak lama. Dokter tua langganannya itu hanya
memeriksanya sebentar lalu menuliskan resep obat yang harus ditebus di apotek
rumah sakit.
“Semoga aku membawa cukup uang,” gumam Keiko pada diri sendiri ketika
melewati meja perawat dalam perjalanannya ke apotek. Ia mengeluarkan dompet dan
memeriksa isinya. Karena asyik menghitung uang, ia tidak memerhatikan jalan dan
menabrak seseorang yang berjalan terburu-buru ke arah meja perawat. Berhubung
tabrakan itu cukup keras dan yang ditabrak adalah laki-laki, Keiko kehilangan
keseimbangan dan membentur dinding koridor. Dompetnya terlepas dari pegangan
dan uang logamnya yang banyak jatuh bergemerencing di lantai.
“Maafkan saya. Maaf.”
Keiko merasa ada tangan yang membantunya berdiri tegak. Ia mendongak ke arah
suara bernada khawatir itu. Pria yang ditabraknya itu mengenakan jubah putih dengan
stetoskop tergantung di leher. Rupanya dokter. Usianya masih muda dan wajah
kurusnya terlihat cemas.
“Tidak apa-apa?” tanya dokter muda itu sambil mengamati Keiko dari atas ke
bawah.
“Tidak, tidak apa-apa,” sahut Keiko cepat sambil berjongkok memunguti uang
logamnya. Pipinya memanas. Ia tidak terlalu memikirkan tabrakan tadi, tapi ia malu
karena uang logamnya berjatuhan di lantai dengan bunyi berisik. Koridor itu tidak sepi,
banyak yang berlalu lalang, dan sekarang ia harus memunguti semua koinnya satu per
satu. Belum lagi kalau ada uang logam yang menggelinding entah ke mana.
Si dokter muda menggumamkan permintaan maaf sekali lagi, lalu ikut berjongkok
membantu Keiko memunguti uang logamnya.
“Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri,” kata Keiko berusaha menahannya. “Sensei10
pasti sibuk.”
Dokter itu tersenyum dan berkata ringan, “Aku yang menabrakmu, jadi tentu saja
aku harus membantu. Jangan khawatir. Saat ini aku tidak sibuk.”
Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan semua logam di
lantai. Dokter itu menyerahkan hasil kumpulannya kepada Keiko.
“Terima kasih,” gumam Keiko dengan kepala tertunduk. Ketika bergegas berdiri,
barulah ia menyadari pergelangan kaki kirinya terkilir.
“Kenapa?” tanya si dokter begitu melihat Keiko meringis kesakitan. “Kakimu sakit?
Biar kuperiksa.”
Menggelikan. Ini sudah seperti adegan dalam film-film, pikir Keiko dengan wajah
panas. Tetapi kalau dalam film kaki si tokoh utama wanita terkilir di depan seorang
pangeran tampan, maka kaki Keiko terkilir di depan seorang dokter yang walaupun
berwajah lumayan, tidak bisa disamakan dengan pangeran tampan. Kalau dalam film si
tokoh utama wanita akan digendong oleh si pangeran tampan dengan penuh kasih,
maka Keiko sudah pasti tidak akan mengalami yang seperti itu. Ia berhadapan dengan
dokter, jadi sudah hampir bisa dipastikan kakinya akan dibebat tanpa ampun dan ia
harus berjalan dengan tongkat. Sama sekali tidak romantis.
Sebelum Keiko sempat menjawab, terdengar seseorang berseru, “Kitano Sensei,
telepon untuk Anda!”
Mereka berdua serentak menoleh ke arah meja perawat tempat seorang perawat
sedang mengacungkan gagang telepon ke arah mereka. Dokter siapa katanya tadi?
Kitano?
10 Tuan, panggilan untuk yang lebih dihormati
“Ya, terima kasih,” si dokter muda yang berdiri di hadapan Keiko membalas. Ia
berpaling kembali kepada Keiko dan berkata, “Tunggu di sini sebentar, ya? Sebentar
saja.” Ia mendudukkan Keiko di salah satu kursi yang ada di koridor. “Aku akan segera
kembali.”
Keiko mengangguk dan memandangi dokter muda itu berlari-lari kecil ke arah
meja perawat dan menerima telepon. Ternyata pembicaraan itu tidak lama. Dokter itu
baru saja meletakkan gagang telepon ketika seorang dokter yang terlihat jauh lebih
senior menghampiri dan menepuk punggungnya. “Oh, Akira, baguslah kau sudah
datang. Kami butuh pendapatmu tentang pasien kamar 1502. Bisa ke ruanganku setelah
ini?”
Mata Keiko melebar dan ia terpana. Sakit di pergelangan kakinya terlupakan
sejenak. Dokter itu... Dokter Kitano...? Akira...? Kitano Akira? Kitano Akira yang itu?!
Keiko tidak mendengar pembicaraan kedua dokter itu selanjutnya, karena tepat
pada saat itu perawat yang tadi memanggil si dokter muda untuk menerima telepon
lewat di depannya. Keiko cepat-cepat menahan si perawat. “Permisi, ada yang ingin
saya tanyakan.”
“Ya?” Perawat itu tersenyum kepadanya dengan ramah.
Dengan ragu-ragu Keiko menunjuk ke arah si dokter muda yang sedang berbicara
di dekat meja perawat. “Apakah benar dokter yang di sana itu Kitano Akira?”
Si perawat memandang ke arah yang ditunjuk, lalu mengangguk. “Benar, Kitano
Sensei adalah salah satu dokter di sini.”
Keiko mengangguk-angguk setengah sadar. Tetapi benarkah Kitano Akira Sensei
yang ini adalah Kitano Akira yang membantu Keiko mencari kalung yang jatuh tiga
belas tahun yang lalu? Keiko tidak yakin. Ia ragu-ragu sejenak sebelum bertanya lagi,
“Apakah Anda kebetulan tahu di mana Kitano Sensei bersekolah sewaktu SD?”
Si perawat mengangkat sebelah alisnya dan menatap Keiko dengan tatapan heran.
“Itu...”
Keiko sadar pertanyaannya pasti terdengar aneh dan ia memaksakan tawa
sumbang. “Saya hanya ingin memastikan apakah Kitano Sensei itu teman lama saya.
Wajahnya terlihat tidak asing,” katanya mencari-cari alasan, lalu tertawa lagi. “Tidak
apa-apa kalau Anda tidak tahu. Terima kasih.” Keiko membungkukkan badan dalamdalam
dan si perawat pun berlalu dengan ekspresi heran masih tertera di wajahnya.
“Nah, sekarang mari kuperiksa kakimu.”
Kepala Keiko berputar cepat. Ternyata Kitano Akira sudah kembali berdiri di
sampingnya. Sesaat Keiko tidak bisa berkata-kata karena terlalu tegang. “Kakiku baikbaik
saja,” sahutnya pelan. “Sensei tidak perlu repot-repot.”
Kitano Akira berkacak pinggang dan memandang Keiko dengan ramah. “Aku yang
menabrakmu dan membuat kakimu terkilir. Setidaknya biarkan aku memeriksanya
sehingga aku tidak terlalu merasa bersalah.”
Akhirnya Keiko menyerah, hanya karena ia ingin berbicara lebih banyak dengan
dokter itu. Kitano Akira mengajak Keiko masuk ruang periksa lalu memeriksa kaki
Keiko sebentar. Ternyata kaki Keiko hanya terkilir ringan. Tidak ada masalah serius.
Setelah itu pergelangan kaki Keiko diolesi obat dan diperban dengan hati-hati.
“Selesai,” kata Kitano Akira sambil tersenyum kepada Keiko. “Beberapa hari lagi
pasti sembuh. Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu datang mencariku.”
Keiko mengangguk. Ia mengamati dokter yang sedang membereskan peralatannya
itu. Ia harus bertanya. Ia harus memastikan. “Sensei... Nama Sensei... Kitano Akira?”
Si dokter menoleh dan mengangguk. “Benar. Apakah kita pernah bertemu?”
Sulit mencari kalimat yang tepat. “Mungkin ini terdengar agak aneh,” kata Keiko
sambil tersenyum salah tingkah, “tapi sepertinya Sensei adalah kakak kelasku sewaktu
SD. Masih ingat nama sekolah Sensei sewaktu SD?”
Begitu Dokter Kitano menyebut nama SD-nya, Keiko pn membelalak. “Benar,”
bisiknya gembira.
“Jadi kita pernah satu sekolah?” tanya Kitano Akira terkejut. “Dan kita saling
mengenal?”
Keiko menggeleng. “Kita tidak benar-benar saling mengenal. Kita malah belum
berkenalan. Aku mengenal Sensei karena Sensei membantuku mencari kalung yang
terjatuh.”
Kitano Akira berusaha mengingat-ingat selama beberapa saat, lalu ia tersenyum
menyesal. “Maaf, sudah lama sekali, aku hampir tidak ingat.”
“Memang kejadian itu sudah tiga belas tahun yang lalu,” kata Keiko sambil
mengangkat bahu. “Tentu saja Sensei sudah tidak ingat. Sewaktu kita bertemu, Sensei
sudah SMP dan Sensei datang ke sekolahku untuk menemui salah satu guru, kurasa.”
Kitano Akira kembali mengingat-ingat. “Ingatanku tentang masa kecil sudah agak
buram, tapi samar-samar aku ingat ada kejadian seperti itu.”
Ternyata laki-laki itu tidak ingat padaku, pikir Keiko sedikit menyesal. Namun ia
bisa maklum. Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Ia sendiri sudah melupakan
banyak hal yang pernah terjadi selama tiga belas tahun terakhir ini. Ia tentu saja masih
ingat pada Kitano Akira karena laki-laki itu adalah cinta pertamanya. Sedangkan bagi
Kitano Akira, Keiko mungkin hanya seorang gadis kecil yang butuh bantuan dalam
mencari kalungnya yang hilang. Sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk diingat.
Kitano Akira menatap Keiko sambil tersenyum ramah. “Tadi kaubilang kita dulu
belum berkenalan. Kalau begitu...” Ia mengulurkan tangan kanannya. “Namaku Kitano
Akira. Senang berkenalan denganmu.”
Keiko ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pria itu. Ia pun
balas tersenyum dan berkata, “Ishida Keiko. Senang bertemu lagi.”
Enam
SAMBIL duduk bersandar di sofa, Kazuto terpekur menatap layar laptop di hadapannya.
Ia sudah terlalu sering memandangi foto-foto yang muncul silih berganti memenuhi
seluruh layar laptop itu. Foto-foto yang dipotret dengan tangan dan kameranya sendiri.
Foto-foto dengan objek yang sama. Foto-foto wanita itu.
Ia tahu seharusnya ia tidak boleh lagi membenamkan diri dalam kenangan tentang
wanita di foto itu. Ia tahu ia tidak pantas, tetapi ia merasa belum sanggup menghapus
bayangan wanita itu dari pikiran, ataupun menghapus foto-fotonya dari laptop. Sampai
sekarang.
Lamunannya buyar ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Tangannya otomatis
menurunkan layar laptop, lalu bangkit dan berjalan ke pintu.
“Halo.”
Kazuto mengerjapkan mata melihat Ishida Keiko berdiri di hadapannya dengan
senyum lebar tersungging di wajah.
“Oh, halo.” Kazuto minggir sedikit ketika gadis itu berjalan masuk ke
apartemennya sambil menggigil. “Kau sudah pulang?” Biasanya Keiko belum pulang
pada jam-jam segini.
“Ya, aku diizinkan pulang cepat karena flu. Biarkan aku masuk dulu. Dingin sekali
di koridor ini.” Keiko melepaskan sepatunya dan berganti mengenakan sandal Hello
Kitty yang tersedia di jajaran sepatu dan sandal di samping pintu. Tadi pagi sebelum
berangkat kerja, Keiko mampir lagi untuk menaruh sepasang sandal yang sudah lama
tidak dipakainya di apartemen Kazuto. Biar praktis saja, ia punya sandal ganti di
apartemen tetangganya itu.
Kazuto menyadari suara Keiko yang sengau dan baru teringat gadis itu sedang flu.
Ia cepat-cepat menutup pintu dan mengikuti Keiko ke ruang tengah. Ia juga menyadari
langkah gadis itu agak timpang.
“Hari ini kita tidak jadi makan gado-gado,” kata Keiko sambil berputar ke arah
Kazuto. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan, “Tadi aku ketemu Nenek Osawa di
bawah. Beliau masak shabushabu dan kita disuruh ikut makan bersama. Dan ngomongngomong,
kau punya sake? Persediaan sake Kakek sudah habis. Aku disuruh minta
padamu, makanya langsung ke sini begitu pulang.”
“Punya,” sahut Kazuto setelah mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba ia mengalihkan
pembicaraan. “Kau sudah menuruti saranku dan pergi ke dokter?”
Keiko mengangkat sebelah alis. “Sebelum aku menyebarkan virus ke mana-mana?”
Ia tertawa kecil. “Tentu saja sudah. Ayo cepat cari sake-nya dan kita turun. Aku sudah
lapar nih.”
Kazuto tertegun. Ia menatap gadis di depannya dengan bingung. Tiba-tiba saja ia
menyadari sesuatu. Tiba-tiba saja ia tahu kenapa kini ia sanggup melepaskan kenangan
masa lalu itu.
* * *
Keiko menatap Kazuto berjalan ke lemari dapur dan mulai mencari-cari sake
simpanannya. Ternyata tetangganya itu tidak memerhatikan kakinya yang diperban.
Yah, tentu saja Kazuto tidak menyadarinya karena pergelangan kaki Keiko sendiri
tertutup celana panjang. Tapi memangnya Kazuto tidak menyadari langkahnya agak
timpang? Sebenarnya Keiko ingin laki-laki itu bertanya, sehingga ia bisa menceritakan
kejadian di rumah sakit tadi siang. Memikirkannya saja sudah membuat Keiko
tersenyum-senyum. Nah, siapa yang menyangka ia bisa bertemu kembali dengan cinta
pertamanya setelah tiga belas tahun?
Laptop yang setengah tertutup di meja menarik perhatiannya. Karena tidak tahu
apa yang mesti dilakukannya sambil menunggu Kazuto, Keiko iseng-iseng
menegakkan layar laptop dan melihat apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu sebelum
ia membunyikan bel pintu.
Foto seorang wanita berambut panjang sebahu terpampang jelas di layar. Wanita
yang tersenyum lebar ke arah kamera itu jelas orang Asia, tetapi di latar belakang foto
itu terlihat patung Liberty.
Siapa wanita itu?
Sebelum Keiko sempat berpikir lebih jauh, fotonya lenyap dari layar dan
digantikan foto lain. Masih wanita yang sama, namun di lokasi yang berbeda. Keiko
mulai heran ketika melihat foto-foto selanjutnya juga menampilkan wanita yang sama.
Apakah wanita ini model?
Lalu foto berikutnya muncul dan Keiko tertegun. Kali ini wanita itu tidak sendirian
di dalam foto. Nishimura Kazuto juga ada di sana. Sepertinya foto itu diambil di
restoran. Mereka berdua duduk berdampingan dan tersenyum. Hanya saja si wanita
tersenyum ke arah kamera seperti foto-foto sebelumnya, sedangkan Kazuto tersenyum
memandang wanita itu. Dan itu bukan senyum biasa. Di dalam foto itu Kazuto
tersenyum seakan-akan...
“Ketemu!”
Keiko tersentak mendengar suara Kazuto. Wajahnya terasa panas dan ia merasa
seakan ia tertangkap basah mengintip rahasia orang lain. Perasaannya tidak enak.
“Hanya ada satu botol,” kata Kazuto sambil berjalan mendekatinya. “Tidak apaapa,
bukan?”
“Tentu,” kata Keiko tergagap. Ia melirik laptop di meja dengan pandangan bersalah.
Kazuto mengikuti arah pandang Keiko dan melihat layar laptop-nya sudah
terangkat. Ia tersenyum. “Kau sudah melihatnya, ya?” tanyanya.
Keiko mengangkat bahu serbasalah. Sebaiknya ia tidak berpura-pura bego. “Siapa
wanita itu?” tanyanya.
Kazuto menghampiri laptop dan mematikannya. “Wanita yang pernah kusukai,”
jawabnya.
“Oh.”
“Tapi dia lebih menyukai sahabatku.”
“Oh...?”
“Mereka akan menikah,” kata Kazuto lagi.
Keiko membuka mulut ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia tidak tahu
apakah pertanyaan yang ingin ditanyakannya itu terlalu pribadi.
“Kau benar,” gumam Kazuto tiba-tiba sambil tersenyum samar, seakan bisa
membaca pikiran Keiko. “Karena itulah aku datang ke Tokyo. Konyol sekali, bukan?”
Keiko menggeleng. “Entahlah.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, “Lalu
bagaimana sekarang?”
Jeda sesaat sementara Kazuto berpikir-pikir. “Semenjak aku datang ke Tokyo, aku
jarang memikirkannya. Dan akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah memikirkannya.”
“Bukankah itu bagus.”
“Ya, kurasa itu bagus,” gumam Kazuto dengan nada melamun.
Melihat laki-laki itu agak murung, Keiko buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah. Ayo, kita turun sekarang. Mereka pasti sudah menunggu kita.”
Ketika Keiko akan berjalan ke pintu, ia mendengar Kazuto bertanya, “Kakimu
kenapa?”
Akhirnya! Keiko tersenyum dan berputar kembali menghadap Kazuto, lalu
menunduk dan menarik ujung celana panjangnya ke atas, memperlihatkan pergelangan
kaki kirinya yang diperban.
“Terkilir sewaktu di rumah sakit,” sahutnya dengan nada gembira. “Tidak parah.”
Kazuto mengamati kaki Keiko yang diperban. Kali ini keningnya berkerut. “Tidak
sakit?”
“Tentu saja sakit.”
“Bagaimana kakimu bisa terkilir?” tanya Kazuto. Matanya kembali ke wajah Keiko.
Aku menabrak seseorang di rumah sakit,” jawab Keiko cepat dan penuh semangat.
“Hei, kau mau tahu siapa yang kutabrak?”
“Siapa?”
“Cinta pertamaku.”
“Oh?” Hanya itu reaksi Kazuto, tapi Keiko tidak peduli. Ia sedang bersemangat
dan ingin bercerita.
“Dia sudah banyak berubah... Yah, itu memang sudah pasti. Lagi pula aku sendiri
sudah lupa wajahnya tiga belas tahun yang lalu itu. Aku hanya ingat dia memakai topi
biru.” Keiko terdiam sejenak, seperti sedang melamun. “Aku tidak akan mengenalinya
kalau perawat itu tidak memanggil namanya.”
Kazuto membuka pintu dan Keiko mengikutinya keluar. “Kau yakin memang dia
orangnya?” tanya Kazuto sambil menutup pintu.
“Ya, sudah kutanyakan langsung padanya.”
“Dia juga masih ingat padamu?”
Keiko tertawa pelan. “Tidak, dia tidak ingat. Kami dulu memang bukan teman
sepermainan dan dia memang tidak mengenalku. Aku tahu tentang dia karena dulu dia
pernah membantuku dan aku terpesona. Dia sangat ramah.”
Kazuto tidak berkomentar.
“Lihat.” Keiko mengayunkan kaki kirinya ke depan. “Dia juga yang membalut
kakiku. Dia dokter! Keren, kan?”
Kazuto menatap kaki kiri yang diacungkan itu, lalu beralih menatap tangga di
depannya. Setelah berpikir sejenak, ia menyerahkan botol sake kepada Keiko, lalu
berjalan ke tangga dan duduk di anak tangga teratas, memunggungi Keiko.
“Apa?” tanya Keiko tidak mengerti.
Kazuto menoleh dan menepuk punggungnya sendiri. “Ayo, biar kugendong
sampai ke bawah. Kau pasti susah naik-turun tangga dengan kaki seperti itu.”
Keiko ragu-ragu. Alisnya terangkat. “Kau yakin?”
“Tentu.”
“Aku lumayan berat.”
“Kelihatannya memang begitu.”
Keiko berkacak pinggang. “Nah, apa maksudmu sebenarnya?”
“Oh, ayolah. Aku hanya bercanda,” sela Kazuto sambil tertawa kecil. “Aku mulai
kedinginan, jadi tolong cepat.”
Keiko menarik napas. “Sebaiknya kau tidak menyesal,” gumamnya sambil berdoa
dalam hati semoga laki-laki itu tidak ambruk karena berat badannya. Setelah
memantapkan hati, Keiko merangkulkan kedua lengannya di leher Kazuto dan
membiarkan laki-laki itu menggendongnya.
“Wah, ternyata kau...”
Keiko memukul bahunya. “Sudah kubilang!”
Kazuto tertawa dan berdiri tanpa kesulitan. “Aku hanya ingin bilang ternyata kau
tidak seberat yang kuduga.”
“Tidak seberat yang kauduga?” tanya Keiko sambil mengerutkan kening. “Jadi
maksudmu aku terlihat gemuk?” Suaranya agak melengking.
Kazuto menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menuruni anak tangga
dengan hati-hati.
“Apa katamu?” tanya Keiko sambil bergerak-gerak ingin melihat wajah Kazuto.
Kazuto memperbaiki posisi Keiko di punggungnya sambil mendesah, “Kau sadar
aku sedang menggendongmu turun tangga? Kalau kau tidak mau kita jatuh terguling
sepanjang jalan, sebaiknya kau tidak bergerak-gerak.”
“Tadi kaubilang aku tidak berat,” protes Keiko.
“Kau memang tidak berat. Setidaknya tidak seberat yang kuduga.”
Keiko kembali mengernyitkan kening tidak mengerti. “Lalu kenapa kaubilang kita
bisa jatuh terguling kalau aku memang tidak berat?”
“Karena kalau kau bergerak-gerak, aku bisa kehilangan keseimbangan. Itu
masalahnya,” sahut Kazuto dengan nada seperti sedang menjelaskan kepada anak kecil
berumur lima tahun kenapa manusia tidak bisa terbang seperti burung.
“Tidak mungkin,” balas Keiko, masih tidak puas. “Kalau aku memang seringan
bulu, meskipun sekarang aku berjumpalitan, kau tidak mungkin jatuh.”
Kazuto tertawa. “Siapa bilang kau seringan bulu?”
Keiko mengguncang-guncang bahu Kazuto. “Jadi menurutmu aku gemuk?”
pekiknya. “Ayo, bicara yang jelas!”
Tawa Kazuto semakin keras. “Aduh, kau mencekikku.”
Keiko tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa, tapi ia tetap merangkul leher
Kazuto erat-erat dan mengancam, “Jadilah pria sejati dan bicara yang jelas. Aku gemuk
atau tidak?”
Dan pembicaraan tentang cinta pertama Keiko pun untuk sementara terlupakan.
* * *
Kazuto tidak bermaksud memulai perdebatan tentang berat badan. Sebenarnya topik
itu juga bukan topik yang suka dibicarakannya. Terlebih lagi dengan wanita. Tetapi
lebih baik berdebat tidak jelas tentang berat badan daripada mendengarkan gadis itu
bercerita tentang cinta pertama yang baru dijumpainya setelah bertahun-tahun.
“Ngomong-ngomong, foto yang kaukirimkan padaku itu foto apa?” tanya Keiko.
Kazuto tersenyum kecil mengingat foto yang dikirimkan ke ponsel Keiko tadi siang.
“Kau tidak tahu?” ia balas bertanya. “Belum tahu?”
“Sepertinya foto langit malam dan bintang,” jawab Keiko ragu-ragu.
“Kau akan tahu saat kau akan tidur nanti. Tapi kau harus memadamkan lampu.
Kau bahkan tidak boleh menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurmu itu.”
“Kenapa?”
“Karena sesuatu yan gindah akan terlihat saat gelap,” sahut Kazuto penuh tekateki.
“Aku masih tidak mengerti,” gerutu Keiko.
Kazuto tertawa dan mengalihkan pembicaraan. “Semua lampu di apartemenmu
sudah bisa menyala, bukan?”
“Sudah,” sahut Keiko lega.
“Berarti kau tidak akan bermalam di tempatku lagi hari ini?” tanya Kazuto ketika
mereka tiba di depan pintu apartemen Kakek dan Nenek Osawa.
“Bermalam...?” Keiko terdengar kaget. “Apa maksudmu? Kau membuatnya
terdengar seperti...” Lalu gadis itu mulai mengomel dalam bahasa ibunya sambil
mengguncang-guncang bahu Kazuto sekali lagi.
“Aduh, tunggu...,” kata Kazuto susah payah di sela-sela tawanya.
Tepat pada saat itu pintu apartemen 101 terbuka dan Sato Haruka berdiri di sana
sambil emmandangi mereka dengan mata lebar dan alis terangkat heran.
“Turunkan aku,” gumam Keiko kaku dan buru-buru turun dari gendongan.
Kazuto menurutinya, walaupun ia tidak mengerti kenapa sikap Keiko tiba-tiba
berubah.
“Oneesan, aku sudah membawa Kazuto-san dan juga sake-nya,” kata Keiko riang
begitu kakinya kembali menginjak lantai. Ia bergegas menghampiri Haruka sambil
menyodorkan botol sake Kazuto.
“Oh ya, bagus,” kata Haruka sambil memandang Kazuto dengan senyum lebar
penuh arti. “Ayo, masuk, Kazuto-san. Semua sudah berkumpul dan sedang mengobrol
di dalam. Mungkin kau bisa menyumbang obrolan menarik?”
* * *
“Siapa yang kaupilih?”
Keiko sedang membantu Nenek Osawa di dapur ketika Haruka menghampirinya
dan berbisik dengan nada mendesak. Keiko menoleh dan melihat mata tetangganya
berkilat-kilat penasaran.
“Apa maksud Oneesan?” gerutu Keiko salah tingkah, lalu kembali berkonsentrasi
pada tugasnya memotong sayur.
“Kau sangat mengerti maksudku,” sela Haruka tanpa ampun, masih dengan suara
berbisik mengingat Nenek Osawa sedang mencuci sayur tidak jauh dari mereka.
Haruka menyiku Keiko. “Tadi saat menelepon, kau bercerita panjang-lebar padaku
tentang cinta pertamamu yang sudah jadi dokter itu. Kau begitu gembira dan
tersenyum begitu lebar sampai kukira mulutmu bakal robek. Lalu tiba-tiba kau tertangkap
basah sedang gendong-gendongan dengan Kazuto-san.”
Mata Keiko melebar kaget. “Gendong-gen...?” Teringat Nenek Osawa ada di dekat
mereka, ia merendahkan suara. “Oneesan!”
Haruka menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau suka yang mana?”
Keiko membuka mulut ingin membela diri, tapi tidak jadi. Tidak ada gunanya
mengikuti permainan Haruka. Jadi ia hanya mendesah dan menggeleng-gelengkan
kepala.
“Tapi menurutku Keiko-chan dan Kazuto cocok sekali.”
Keiko dan Haruka serentak menoleh ke arah suara bernada kecil dan ramah itu.
Nenek Osawa memandang mereka berdua sambil tersenyum cerah. Matanya
berkilat-kilat senang. “Bukankah begitu?”
“Tapi,” Keiko mencoba menyela, “kami sungguh tidak ada hubungan apa-apa.”
“Ada hubungan juga tidak apa-apa,” timpal Haruka cepat.
“Benar sekali,” dukung Nenek Osawa. “Senang sekali melihat kalian berdua
bersama.”
Keiko mengerjap-ngerjapkan mata. “Tapi... tidak, maksudku...” Kenapa dua orang
itu tiba-tiba berkomplot melawannya?
“Tentu saja kau tetap harus memilih salah satu,” tambah haruka, mengingatkan
Keiko pada topik awal.
“Menurutku Kazuto itu anak baik,” kata Nenek Osawa ringan sambil mengangkat
bahu.
Keiko mengembuskan napas dan menggeleng-geleng lagi. “Tapi aku tidak punya
perasaan apa pun padanya. Aku tidak... menyukainya.”
“Siapa? Kazuto-san?”
Sebelum Keiko sempat menjawab pertanyaan Haruka itu, terdengar suara Nenek
Osawa menyela, “Jangan berkata begitu kalau kau sendiri tidak yakin, Keiko-chan.”
Keiko tertegun. Nah, apa maksudnya?
Nenek Osawa memandangnya dengan ramah dan senyum yang seakan
menyatakan ia tahu lebih banyak daripada Keiko sendiri. “Kita tidak mau mengatakan
sesuatu yang nantinya akan kita sesali, bukan?”
Untungnya Keiko tidak perlu menjawab karena tepat pada saat itu lagu Fly Highnya
Hamasaki Ayumi terdengar.
* * *
Sementara para wanita sibuk di dapur, para pria duduk mengobrol di ruang duduk.
Kakek Osawa sedang bercerita tentang masa mudanya dulu ketika ia masih bekerja
sebagai petugas keamanan di sekolah menengah, salah satu topik yang paling
disenanginya. Kazuto berpikir tidak mungkin semua kejadian yang diceritakan orang
tua itu benar. Mungkin ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan. Tetapi baik ia
maupun Tomoyuki tidak keberatan karena Kakek Osawa pintar bercerita dan selalu
berhasil membuat mereka semua terhibur.
“Hari Natal selalu membuat anak-anak senang. Anak-anak perempuan sibuk
merajut syal atau topi untuk anak-anak laki-laki yang mereka sukai. Bahkan dulu ada
satu anak perempuan yang merajutkan syal hangat untukku,” kenang Kakek Osawa.
“Mungkin sebenarnya syal itu dirajutnya untuk anak laki-laki yang disukainya,
tapi ternyata anak laki-laki itu menolak hadiahnya. Akhirnya karena tidak tega
membuang syal itu, anak perempuan itu memberikannya kepada Kakek,” gurau
Tomoyuki.
Kazuto tertawa.
“Kalian ini,” gerutu Kakek Osawa sambil mendecakkan lidah, lalu ia ikut tertawa
kecil dan bertanya, “Lalu apakah kalian punya rencana istimewa pada Hari Natal tahun
ini?”
Tomoyuki mengangkat bahu. “Kalau aku tidak ada yang benar-benar istimewa.
Paling-paling hanya berkumpul dengan beberapa temanku.”
“Tidak ada kencan istimewa?” Kakek Osawa terkekeh. “Tidak ada gadis yang
cukup cantik untuk menarik perhatianmu di kampus?”
Tomoyuki mendesah dan menggeleng kecewa.
“Bagaimana denganmu?” Kakek Osawa beralih ke Kazuto. “Ada kencan istimewa?”
Kazuto mengangkat wajah. “Aku? Hmm, aku belum tahu.”
“Belum tahu?” tanya Tomoyuki. “Kenapa?”
“Aku belum mengajaknya.” Kazuto berhenti sejenak, lalu meralat, “Sebenarnya
sudah, hanya saja tidak secara langsung. Dia juga tidak menanggapi dengan serius.”
“Oniisan seharusnya bertanya langsung,” kata Tomoyuki memberi saran. “Zaman
sekarang ini semuanya harus serba langsung. To the point. Benar tidak, Kakek? Oniisan
harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Lagi pula cewek juga tidak berbasabasi
kalau mau menolak kita.”
“Jadi kau pernah ditolak mentah-mentah?” tanya Kakek Osawa.
Sementara Tomoyuki menceritakan salah satu kisah cintanya, Kazuto berpaling ke
arah dapur. Ia melihat Keiko sedang memotong-motong sayur sambil mengobrol
dengan Haruka dan Nenek Osawa. Bertanya langsung, ya? Bergerak cepat sebelum
direbut orang lain. Hmm...
Kazuto masih tetap mengamati Keiko ketika gadis itu tiba-tiba merogoh saku
celana dan mengeluarkan ponsel yang berbunyi nyaring. Lalu gadis itu sedikit
terkesiap dan menjauh dari Haruka dan Nenek Osawa. Kazuto tidak bisa mendengar
apa yang dikatakan Keiko, tapi ia berhasil menangkap satu patah kata ketika Keiko
menjawab telepon. Sensei.
Kemudian pandangan Kazuto terhalang ketika Haruka menghampiri meja sambil
membawa piring dan sayuran.
“Sayuran sudah siap. Kita bisa mulai makan,” kata Nenek Osawa yang menyusul
dari belakang.
“Di mana Keiko-chan?” tanya Kakek Osawa.
“Oh, dia sedang menerima telepon di dapur,” kata Haruka sambil tersenyum lebar.
“Telepon dari si dokter cinta.”
“Dari siapa?” Kazuto bahkan tidak menyadari ia mengucapkan kata-kata itu
dengan lantang dan jelas.
“Si dokter cinta,” Haruka mengulangi. “Cinta pertamanya yang sekarang sudah
menjadi dokter. Sepertinya si dokter berencana mengajaknya kencan. Menyenangkan
sekali.”
Kazuto menoleh kembali ke dapur. Ia teringat kata-kata Tomoyuki tadi. Oniisan
harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain.
* * *
“Terima kasih banyak,” kata Keiko riang sambil menepuk-nepuk pundak Kazuto ketika
laki-laki itu menurunkannya di depan pintu apartemennya.
Kazuto menegakkan tubuh dan mendesah. “Kau bertambah berat setelah makan.”
Keiko tersenyum lebar. “Itu wajar, bukan? Lagi pula aku memang makan banyak
tadi.”
Kazuto mengangkat alis. “Aneh sekali. Kau tidak uring-uringan walaupun
kubilang bertambah berat.” Ia menatap Keiko sejenak. “Sepertinya kau sedang gembira.”
“Aku memang gembira.”
“Karena mendapat telepon dari si dokter cinta?”
“Dokter apa?” Keiko memandangnya tidak mengerti.
“Cinta pertamamu itu.”
Keiko mengangkat bahu, kembali tersenyum. “Ya, itu salah satu alasannya.” Ia
menunduk menatap kaki kirinya, lalu kembali menatap Kazuto sambil tersenyum. “Ia
menanyakan keadaan kakiku.”
Kazuto diam sejenak, seakan sedang berpikir-pikir. “Cepatlah masuk,” katanya
tiba-tiba. “Nanti flumu bertambah parah.”
Agak heran, Keiko mengiyakan dan membuka pintu.
“Keiko?”
Kepala Keiko berputar. “Apa?”
Dengan tangan memegang pegangan pintu apartemennya sendiri, Kazuto menoleh
menatap Keiko. “Jangan lupa matikan semua lampu saat kau tidur nanti.”
Kening Keiko berkerut samar. “Kau tahu aku tidak suka gelap.”
Kazuto mengangkat bahu. “Coba saja dan kau akan lihat nanti.”
“Lihat apa?”
“Kalau kau tidak mencoba kau tidak akan tahu, bukan?” kata Kazuto sambil
tersenyum, lalu masuk ke apartemennya, meninggalkan Keiko yang kebingungan
sendiri.
Tiba-tiba lagu Fly High terdengar dan membuat Keiko tersentak. Ia menggigil, lalu
bergegas masuk ke apartemennya sendiri sebelum mengeluarkan ponsel.
“Moshimoshi?”
“Keiko?”
Mendengar suara ibunya di ujung sana, Keiko secara otomatis langsung berbicara
dalam bahasa Indonesia. “Halo, Ma!” Ia mengenakan sandal rumah dan
mengempaskan diri ke sofa empuk, bersiap-siap mengobrol panjang-lebar dengan
ibunya.
Dua jam kemudian, ketika ia keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka,
bersiap-siap tidur, Keiko baru teringat kata-kata Kazuto tadi.
“Matikan lampu?” gumamnya pada diri sendiri sambil berdiri di kamar tidurnya.
Keiko berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu. “Tidak ada salahnya dicoba.”
Ia berjalan ke sakelar lampu. Sebelah tangannya memegang dinding supaya ia
tidak merasa tersesat dan tangan yang satu lagi menggapai sakelar lampu. Dengan
sekali jentikan, lampu kamar tidurnya pun padam.
Seketika itu juga Keiko mengerjap-ngerjapkan mata dan terkesiap. Langit-langit
kamar tidurnya bertabur bintang! Bintang-bintang besar dan kecil memancarkan nyala
kuning kehijauan yang samar.
“Astaga,” gumamnya pelan. Perlahan-lahan tangannya terlepas dari dinding dan ia
melangkah ke tengah-tengah kamar, masih tetap mendongak menatap langit-langit
kamar tidurnya dengan takjub. “Bagaimana...? Astaga,” gumamnya sekali lagi.
Kemudian ia menyadari foto yang dikirimkan Kazuto ke ponselnya adalah foto
langit-langit kamarnya. Ternyata sementara mengawasi tukang listrik memperbaiki
kabel, Kazuto melukis langit-langit kamar tidurnya menjadi langit bertabur bintang
dengan cat khusus yang bisa menyala dalam gelap. Siapa yang menyangka laki-laki itu
juga pandai melukis?
Keiko teringat tulisan yang tertera di bawah foto yang dikirimkan Kazuto tadi
siang: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu
gelap?
Keiko masih tercengang. Kemudian ia meraih ponsel dan menekan beberapa
tombol. Setelah menunggu sesaat, hubungan tersambung. “Kazuto-san?” Ia mendongak
menatap bintang-bintang yang menghiasi langit-langit kamarnya. “Kau apakah
langit-langit kamarku?” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum. “Indah sekali. Terima
kasih.”
Tujuh
“REUNI SMP?” Kazuto memindahkan ponsel ke telinga kanan dan mendongak
menatap lampu lalu lintas, menunggunya berubah warna. “Maksudmu, reuni satu
sekolah? Bukan hanya kelas kita atau angkatan kita?”
“Bukan hanya angkatan kita,” sahut Kitano Akira di ujung sana. “Semua alumni
boleh datang. Malah undangan untuk para alumni sudah disebarkan satu bulan
sebelumnya. Kau tidak menerimanya?”
“Tidak.”
“Yah, mungkin karena kau sudah pindah ke luar negeri sebelum tahun ajaran
selesai,” tebak Akira. “Karena itu mereka tidak tahu bagaimana cara menghubungimu.”
Lampu lalu lintas berubah warna dan Kazuto cepat-cepat menyeberang jalan
bersama rombongan pejalan kaki lainnya. “Tapi memangnya aku boleh ikut?
Maksudku, aku kan tidak menerima undangannya.”
“Ah, kau tidak perlu cemas soal itu,” kata Akira ringan. “Biar aku saja yang
mengurusnya. Kau hanya perlu hadir.”
“Kapan reuninya?”
“Kira-kira seminggu setelah Tahun Baru. Aku lupa tanggal pastinya. Nanti akan
kukabari lagi.”
“Baiklah. Tapi ngomong-ngomong apakah kita harus hadir sendiri atau...”
“Ah, maksudmu apakah kau boleh mengajak pasangan? Tentu saja. Kau tahu,
banyak teman kita yang akan mengajak suami atau istri mereka.” Akira terdiam sejenak,
lalu bertanya dengan nada bergurau, “Kenapa? Ada seseorang yang ingin kauajk ke
acara itu?”
Kazuto tersenyum. “Mungkin.”
Akira mendesah. “Tidak mau bercerita rupanya. Tidak apa-apa. Tapi kuharap kau
bisa mengajaknya dan mengenalkannya padaku.”
“Baiklah,” sahut Kazuto, tertawa.
“Mungkin aku juga akan mengajak seseorang,” kata Akira tiba-tiba.
“Tunggu dulu. Beberapa hari yang lalu sewaktu kita makan siang bersama,
kaubilang kau belum punya pacar. Tepatnya, kaubilang kau tidak punya waktu untuk
pacaran.” Kazuto berjalan menyusuri Takeshita Dori, salah satu jalan di Harajuku yang
sempit, panjang, dan dipadati pejalan kaki yang kebanyakan adalah remaja. Berbagai
butik, kafe, restoran siap saji, dan toko-toko kecil lainnya yang ditargetkan untuk
kawula muda berjejer di sepanjang jalan. Kazuto menyenggol bahu seseorang dan ia
menggumamkan kata maaf tanpa berhenti berjalan.
“Memang. Tapi bukankah hidup memang aneh?” Suara Akira terdengar ceria.
“Aku bertemu dengannya tepat setelah aku makan siang denganmu hari itu. Sejak itu
kami sempat bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan dan aku sempat
mengajaknya makan siang atau minum kopi sesekali. Aku tidak tahu apakah dia mau
kalau aku benar-benar mengajaknya kencan.”
“Salah seorang perawat baru yang cantik?” tebak Kazuto.
“Aku memang bertemu dengannya di rumah sakit, tapi dia bukan perawat,” kata
Akira, masih dengan nada ceria. „Tenang saja, kau akan bertemu dengannya nanti saat
reuni.”
Kazuto menutup ponsel dan masuk ke salah satu toko foto di sebelah kanannya
dan tersenyum kepada penjaga toko yang menyambutnya. “Pesanan atas nama
Nishimura sudah jadi?” tanyanya.
Gadis penjaga toko berwajah manis itu tersenyum lebar. “Ah, tentu saja. Harap
tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian gadis ramah itu kembali membawa sebuah kantong kertas dan
menyerahkannya kepada Kazuto.
Kazuto mengeluarkan beberapa lembar foto yang cukup besar dari dalam kantong
kertas itu dan memeriksa setiap lembarnya. Semua foto itu adalah hasil jepretannya
sejak ia menginjakkan kaki di Tokyo. Pemandangan kota Tokyo, para pejalan kaki di
jalanan Shibuya, anak-anak kecil yang berlarian di Yoyogi Gyoen, beberapa kuil
terkenal. Dan Ishida Keiko.
Kazuto memegang salah satu foto Keiko yang diambilnya ketika ia melihat gadis
itu duduk sendirian di salah satu kafe di Omotesando. Ia sudah sering memotret Keiko
dan kebanyakan dari foto itu diambil tanpa sepengetahuan gadis itu. Kalau Keiko tahu
Kazuto memotretnya, ia akan mengomel panjang-lebar tentang dirinya yang bukan
fotomodel dan tidak berniat menjadi fotomodel.
“Semuanya sudah lengkap, bukan?” tanya si penjaga toko.
Kazuto mengangkat wajah dan tersenyum lebar. “Ya,” sahutnya. “Terima kasih
banyak.”
Memandangi foto-foto Keiko yang ada dalam genggamannya, Kazuto teringat
sesuatu. Sebelum ia mengajak gadis itu ke acara reuni sekolahnya, ada hal lain yang
ingin dikatakannya kepada Keiko. Ia merogoh saku bagian dalam jaketnya dan
mengeluarkan dua lembar tiket pertunjukan balet. Swan Lake, salah satu pertunjukan
yang sangat laris dan sangat ingin ditonton Keiko. Tanggal pertunjukan yang tercetak
pada tiket itu adalah 24 Desember, jadi Kazuto berharap Keiko tidak punya acara
penting pada hari itu.
* * *
Keiko berjongkok merapikan buku-buku yang ada di rak bagian bawah sambil
bersenandung lirih. Perpustakaan sedang sepi saat itu. Hanya ada beberapa orang yang
membaca buku di meja-meja yang tersedia. Keiko sangat suka suasana sepi
perpustakaan. Begitu damai. Ia berdiri, menegakkan tubuh, dan memandang ke luar
jendela. Natal tinggal beberapa lagi. Ia berharap salju akan turun pada Hari Natal.
Keiko mendesah pelan dan melirik jam tangan. Sebentar lagi waktunya pulang.
Tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Terperanjat. Keiko buru-buru mengeluarkan
ponselnya. “Moshimoshi?” bisiknya. Wajahnya terasa panas ketika ia melihat beberapa
orang menoleh ke arahnya. Ia cepat-cepat meninggalkan deretan rak buku dan kembali
ke meja kerjanya.
“Keiko-san.”
Mendengar suara Kitano Akira di ujung sana, Keiko langsung memperlambat
langkah karena kaget. “Sensei?”
“Bagaimana kakimu?” tanya Kitano Akira. “Tidak ada masalah, bukan?”
Otomatis Keiko menatap kaki kirinya yang tidak lagi diperban. Perbannya
memang sudah dibuka kemarin. “Tidak masalah. Sudah sembuh sama sekali,”
sahutnya sambil tersenyum. “Sensei masih di rumah sakit?”
“Ya, tapi sebentar lagi pulang. Kau ada acara malam ini?”
“Mmm... Tidak ada acara penting. Ada apa?”
“Bagaimana kalau kita pergi makan malam?”
Keiko tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Tentu saja.”
* * *
Sibuk.
Kazuto menutup ponselnya. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi Keiko tetapi
ponsel gadis itu sibuk terus. Tidak apa-apa. Ia akan pergi menemui gadis itu di
perpustakaan tempatnya bekerja. Kazuto melirik jam tangan. Masih ada waktu.
Kemungkinan besar ia bisa sampai di sana sebelum gadis itu pulang. Lalu ia bisa
sekalian mengajak Keiko makan malam.
Tapi ternyata Keiko tidak ada di perpustakaan. Menurut salah seorang rekan
kerjanya Keiko pulang lebih cepat hari ini. Kazuto melirik jam tangan. Kalau begitu ia
akan menemui Keiko di rumah saja.
* * *
Seharusnya ia memakai sarung tangan. Kazuto menggigil dan menjejalkan kedua
tangannya ke dalam saku mantel begitu keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Uap
putih keluar dari hidung dan mulutnya seiring dengan setiap embusan napas. Dingin
sekali. Sepertinya tidak lama lagi akan turun salju.
“Oniisan!”
Kazuto menoleh ke arah suara dan melihat Sato Tomoyuki berlari menghampirinya.
“Oh, Tomoyuki.”
“Dingin... Dingin...” Tomoyuki menggigil dengan berlebihan dan menggosokgosok
kedua telapak tangannya. “Oniisan mau pulang? Ayo, kita jalan sama-sama.”
Kedua laki-laki itu berjalan cepat menyusuri jalan menanjak yang mengarah ke
gedung apartemen mereka.
“Jadi bagaimana?” tanya Tomoyuki tiba-tiba.
“Bagaimana apa?” Kazuto balik bertanya.
“Tentang malam Natal.”
“Hm?”
“Oniisan sudah mengajaknya?”
“Siapa?”
Tomoyuki berhenti melangkah. “Bukankah waktu itu Oniisan bilang Oniisan mau
menghabiskan Natal bersama seseorang? Tapi waktu itu Oniisan belum mengajaknya.
Jadi apakah Oniisan sudah mengajaknya sekarang?”
Kazuto juga menghentikan langkah. Ia menatap Tomoyuki sejenak, lalu tersenyum.
“Oh, itu.” Kemudian ia kembali melanjutkan langkah.
Tomoyuki menyusulnya. “Ya, yang itu. Jadi?”
“Aku akan mengajaknya malam ini.”
“Oniisan masih belum mengajaknya?”
“Sudah kubilang, aku akan bertanya padanya malam ini.”
“Oniisan sudah lupa kata-kataku tentang bergerak cepat?”
“Astaga, anak ini! Bukankah sudah kubilang...”
“Eh, itu mobil siapa?”
Kazuto menahan omelannya dan memandang lurus ke depan. Sebuah mobil hitam
berhenti di depan gedung apartemen mereka, tidak begitu jauh dari mereka. Pintu di
sisi pengemudi terbuka dan seorang laki-laki yang mengenakan jaket cokelat panjang
keluar.
Alis Kazuto terangkat. Oh? Bukankah itu Kitano Akira, pikirnya sambil
menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Ada apa temannya itu datang mencarinya?
Kazuto baru akan mempercepat langkah ketika pintu sisi penumpang terbuka dan
seorang gadis melangkah keluar. Kazuto berhenti melangkah dan mengerjapkan mata
ketika mengenali gadis itu.
Ishida Keiko?
“Oh? Bukankah itu Keiko Oneesan?” Kazuto mendengar Tomoyuki bertanya.
“Lalu siapa orang yang bersamanya itu?”
Kazuto tidak menjawab. Ia sendiri juga heran. Keiko dan Akira?
“Jangan-jangan dia si dokter itu,” sela Tomoyuki tiba-tiba.
Kazuto menoleh ke arah Tomoyuki di sampingnya. “Siapa?”
“Cinta pertama Keiko Oneesan. Yang meneleponnya ketika kita semua sedang
makan shabushabu di rumah Kakek Osawa.”
Kepala Kazuto berputar kembali menatap Keiko dan Akira yang berdiri
berhadapan. Mereka sedang asyik membicarakan sesuatu, lalu tertawa.
Benar juga. Keiko pernah memberitahunya nama cinta pertamanya adalah Akira
dan berprofesi sebagai dokter. Mungkinkah Akira yang menjadi cinta pertama Keiko
adalah orang yang sama dengan Akira yang adalah teman lama Kazuto? Ditambah lagi,
tadi Akira menyebut-nyebut tentang wanita yang baru dikenalnya. Apakah wanita
yang dimaksudnya itu Keiko?
Tomoyuki kembali bersuara. “Kelihatannya hubungan mereka sudah dekat.
Oniisan, menurutmu apakah mereka pa...”
“Tomoyuki,” sela Kazuto tiba-tiba.
“Ya?”
“Ayo, kutraktir minum.”
Kazuto sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia butuh waktu untuk
mencerna apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap sedikit sake bisa membantu
menjernihkan pikirannya.
* * *
“Oi, kau baik-baik saja?” tanya Kazuto pada Tomoyuki yang berjalan dengan ceria di
sampingnya. Mereka tidak berlama-lama di kedai minum karena Kazuto tidak mau
berjalan pulang sambil menggendong Tomoyuki. Baru setengah jam di kedai itu
Tomoyuki sudah harus berpegangan pada meja supaya tidak jatuh dari kursi. Anak itu
benar-benar tidak kuat minum.
Tomoyuki tersenyum lebar—terlalu lebar—dan mengangguk berkali-kali. “Ah,
tentu saja. Tentu saja. Aku sangat baik. Memangnya kenapa?”
Kazuto memandangi Tomoyuki, lalu mendesah, “Kakakmu pasti akan menggantungku
kalau melihatmu mabuk begitu.”
Tomoyuki tertawa. “Kazuto Oniisan, aku tidak mabuk. Lihat, aku masih bisa
berjalan lurus. Lihat? Lihat?” Ia merentangkan kedua tangan ke samping dan berjalan
lurus dengan langkah lebar di jalanan yang sepi itu untuk membuktikan kata-katanya.
“Ya, ya, ya. Tapi hati-hati dengan tiang lampu di depanmu,” kata Kazuto.
Tomoyuki berhenti tepat pada waktunya sebelum hidungnya yang mancung
menabrak tiang lampu. Ia menoleh ke arah Kazuto dan tertawa. “Aku melihatnya kok.”
Kazuto hanya menggeleng-geleng pasrah. Ia kembali berjalan dan Tomoyuki
menyusulnya dari belakang.
“Paman ini apa-apaan?”
Kazuto dan Tomoyuki serentak menoleh ke arah suara wanita bernada tinggi itu.
Tidak jauh di depan mereka terlihat seorang wanita dan seorang pria sedang
bertengkar. Si pria berusaha menarik tangan si wanita sementara si wanita
memberontak.
Sedetik kemudian Tomoyuki berseru, “Oneechan!” dan langsung berlari ke arah
kedua orang itu sebelum Kazuto sempat mencegahnya.
Oneechan? Kazuto segera menyadari kalau wanita yang sedang ditarik-tarik itu
adalah Sato Haruka. Haruka terlihat sedang berusaha membebaskan diri dari
cengkeraman si pria tak dikenal. Dalam sekejap Tomoyuki sudah tiba di samping
mereka dan berseru, “Lepaskan tanganmu!”
Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Kazuto. Bersamaan dengan teriakan
itu, Tomoyuki juga melayangkan tinjunya ke rahang pria yang menarik-narik kakaknya.
Namun pria itu tidak tersungkur seperti yang diharapkan Tomoyuki. Pria itu masih
tetap berdiri, malah ia menggeram dan balas melayangkan tinju. Tomoyuki pun
terjatuh ke tanah diikuti pekikan kakaknya.
“Jangan ikut campur, anak ingusan!” seru pria itu serak.
“Astaga,” gumam Kazuto, dan langsung berlari ke arah mereka. Ia berhasil
mencapai ketiga orang itu tepat ketika si pria tak dikenal bermaksud menendang
Tomoyuki yang masih terkapar di tanah. Kazuto langsung menahan dada pria itu dan
mendorongnya ke belakang.
“Siapa lagi kau?” seru pria itu marah. “Cari mati ya?”
Kazuto menoleh ke arah Haruka yang berlutut di samping adiknya. “Haruka-san,
kau tidak apa-apa?”
“Kazuto-san,” bisik Haruka dengan mata terbelalak, lalu melanjutkan dengan cepat,
“Ya, aku baik-baik saja. Orang gila ini bersikap kurang ajar terhadapku dan dia tadi
meninju Tomoyuki.”
“Sebaiknya kau minggir. Urusi urusanmu sendiri,” ancam pria itu dengan rahang
terkatup. Ia menatap Kazuto dengan mata disipitkan.
Kini Kazuto bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Usianya mungkin sekitar
pertengahan sampai akhir tiga puluhan dan bertubuh agak kurus. Kazuto
memerhatikan penampilan pria itu: pakaiannya bagus, sepatunya bagus, ada beberapa
cincin emas melingkari jari-jari tangannya. Mata Kazuto terangkat ke wajah pria itu.
Wajahnya agak seram karena penuh kerutan marah. Alis matanya lebat—berlawanan
dengan rambutnya yang terlihat tipis di puncak kepalanya, membuatnya terlihat lebih
tua daripada usia sebenarnya—dan matanya kecil, hidungnya agak bengkok, bibirnya
tipis dan berkerut.
Dia mabuk, pikir Kazuto ketika melihat pria itu melangkah agak terhuyunghuyung
mendekatinya.
“Tapi ini teman-temanku, jadi ini juga urusanku,” kata Kazuto tenang. Ia menatap
lurus ke dalam mata pria itu.
“Hah!” Pria itu mendengus keras. Ia menunjuk Tomoyuki yang masih mengerang
pelan di tanah. “Dia menyerangku, aku hanya membalasnya.” Ia beralih menunjuk
hidung Haruka. “Dan tentang perempuan jalang ini, dia yang menggodaku lebih dulu.”
“Hei, Paman mimpi ya?” sela Haruka galak dengan dagu terangkat tinggi.
“Seharusnya Paman becermin dulu. Mana mungkin aku menggodamu?”
Pria itu mengangkat tangan kanannya. “Dasar perempuan...”
Kazuto bergerak ingin menghalanginya, tetapi telapak tangan pria itu malah
mendarat di pipinya.
“Kazuto-san!” pekik Haruka.
Kazuto memegangi pipinya dan mengernyit. Ia bisa merasakan darah di lidahnya.
Sialan, pukulan orang itu kuat juga. Untung giginya tidak patah. Kazuto menegakkan
tubuh dan menatap pria di depannya.
Pria itu mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan menantang. “Apa? Mau lagi?
Mau lagi? Ayo ke sini kalau mau.”
Orang itu mabuk, kesal, dan tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak mungkin bisa diajak
bicara baik-baik. Kazuto mendesah. Kalau begitu hanya ada satu cara.
* * *
Keiko menonton televisi di ruang duduk apartemennya tanpa minat. Ia baru saja
pulang dari makan malam bersama Akira. Acara mereka memang terputus karena
Akira mendapat panggilan dari rumah sakit, tapi Keiko tetap merasa kebersamaan
mereka yang singkat itu sangat menyenangkan. Ia ingin mencari teman berbagi cerita.
Masalahnya apartemen Haruka kosong. Bahkan Kazuto juga tidak ada di rumah.
Biasanya jam-jam segini Haruka sudah ada di apartemennya, menyiapkan makan
malam untuk adiknya. Ke mana mereka semua?
Kemudian Keiko mendengar suara-suara di luar. Ia segera mematikan televisi dan
bangkit dari lantai. Mungkin itu Haruka sudah pulang. Atau mungkin Kazuto? Keiko
membuka pintu dan melongokkan kepala ke luar.
“Kau mau masuk, Kazuto-san?” Keiko mendengar suara Haruka di lantai bawah.
“Tidak perlu. Aku naik saja.” Kali ini suara Kazuto.
“Tapi itu...”
“Ah, ini? Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan,” sela Kazuto, lalu tertawa kecil.
“Kelihatannya justru Tomoyuki yang harus diurus.”
“Aku tidak apa-apa,” Tomoyuki membantah.
“Apanya yang tidak apa-apa?” potong Haruka. “Lihat pipimu memar begitu. Tapi
Kazuto-san, kau juga berdarah.”
Berdarah? Mendengar itu Keiko langsung keluar dari apartemennya dan bergegas
menuruni tangga ke lantai bawah.
“Oh, Keiko,” kata Haruka yang melihat Keiko lebih dulu, lalu yang lain ikut
menoleh.
“Ada apa, Oneesan?” tanya Keiko sambil memandang mereka bertiga bergantian,
lalu terkesiap pelan ketika melihat wajah Tomoyuki dan Kazuto. “Kalian berdua
kenapa?”
“Tadi ada orang sinting yang menggangguku di jalan,” Haruka yang menjawab
dengan nada berapi-api. “Seenaknya saja dia menarik-narik aku seolah-olah aku ini
wanita gampangan. Untung saja mereka berdua muncul.” Ia menunjuk Kazuto dan
adiknya. “Tomoyuki langsung meninju orang itu setelah berteriak, „Jangan sakiti
kakakku!?...”
“Aku tidak bilang begitu,” protes Tomoyuki salah tingkah. “Aku hanya bilang,
„Lepaskan tanganmu.?”
“Tapi aku tahu maksud hatimu yang sebenarnya,” balas Haruka sambil mengacakacak
rambut adiknya. Lalu ia kembali menatap Keiko. “Tapi orang itu balas memukul
Tomoyuki dan Tomoyuki langsung terkapar. Saat itulah Kazuto-san beraksi.”
Keiko berpaling ke arah Kazuto. Sudut bibir laki-laki itu terluka. “Kau juga
dipukul?” tanya Keiko khawatir.
“Cuma sekali,” sela Haruka bahkan sebelum Kazuto sempat membuka mulut.
“Lalu Kazuto-san membuat orang itu lari terbirit-birit.”
Keiko menatap Kazuto lagi. “Bagaimana bisa?”
Masih Haruka yang menjawab, “Sabuk hitam karate.”
Alis Keiko terangkat. Kazuto menatapnya dan tersenyum lebar, lalu ia menggeleng.
“Tidak juga. Hanya sedikit-sedikit.”
“Tapi orang itu sempat mengancam Kazuto Oniisan sebelum dia pergi,” kata
Tomoyuki.
“Sebaiknya kau cepat masuk dan kompres pipimu,” sela Kazuto.
“Benar. Ayo, masuk,” kata Haruka sambil mendorong adiknya masuk ke
apartemen mereka.
Keiko membuka mulut. “Tapi...”
“Kau mau naik atau tidak?” panggil Kazuto yang sudah mulai menaiki tangga.
Keiko menatap Kazuto, lalu ke arah Haruka dan Tomoyuki, lalu kembali ke Kazuto.
Akhirnya ia menyerah dan mengikuti Kazuto ke atas.
* * *
Kazuto menyentuh pipinya dan meringis pelan. Pipinya pasti bengkak besok. Ck,
malam ini benar-benar kacau. Ketika ia berhenti di depan pintu apartemennya dan
mengeluarkan kunci ia mendengar Keiko bertanya dengan nada khawatir, “Apa
maksud Tomoyuki tadi?”
“Apanya?” Kazuto balik bertanya. Ia masuk ke apartemennya dan Keiko
mengikutinya dari belakang.
“Katanya orang itu mengancammu.” Keiko melepas sepatunya dan mengenakan
sandal Hello Kitty-nya sebelum memasuki apartemen Kazuto.
“Hanya gertakan kosong,” gumam Kazuto sambil melepas syal, jaket, dan topinya.
Ia berbalik menghadap Keiko. “Tidak usah dipikirkan.”
Ia melihat Keiko menatapnya dengan kening berkerut.
“Kenapa?” tanya Kazuto. “Ada sesuatu di wajahku?”
“Sudut bibirmu mulai membiru,” gumam Keiko muram. “Biar kuambilkan obat.”
Ketika gadis itu hendak berjalan ke pintu, Kazuto meraih pergelangan tangannya.
“Tidak perlu repot-repot,” katanya lelah. “Aku juga punya obat. Kepalaku sakit kalau
kau mondar-mandir. Duduk saja yang manis.”
Keiko menurut. Ia duduk di samping Kazuto di sofa dan menatap wajahnya untuk
mencari luka lain. “Kau terluka di mana lagi?” tanyanya. “Kepala? Kaubilang
kepalamu sakit.”
“Kepalaku tidak terluka. Hanya pusing sedikit.”
“Tangan?”
“Tidak.”
“Kaki?”
“Tidak.”
“Badanmu?”
Kazuto tertawa pendek. “Keiko-chan, aku baik-baik saja.” Melihat kening Keiko
yang berkerut tidak percaya, ia melanjutkan, “Sungguh! Atau kau mau aku membuka
baju untuk meyakinkanmu?”
Keiko mendengus, lalu bertanya, “Kau sudah makan?”
Kazuto tidak langsung menjawab. Ia menatap Keiko sejenak, lalu memalingkan
wajah dan mendesah. “Tadinya aku mau mengajakmu makan.”
“Ah, aku pergi makan dengan Sensei,” kata Keiko langsung tanpa ditanya.
Senyumnya mengembang.
“Sensei?”
Keiko menegakkan punggung dan menatap Kazuto dengan mata berbinar-binar.
“Aku sudah pernah bercerita padamu tentang dia, bukan? Cinta pertamaku? Namanya
Kitano Akira.”
Mendengar nama itu Kazuto mendesah pelan. Ia mengangguk-angguk pelan
dengan pandangan kosong dan bergumam tidak jelas.
“Dulu, sewaktu aku pertma akali bertemu dengannya tiga belas tahun yang lalu,
aku sama sekali tidak tahu dia orang yang seperti apa,” Keiko melanjutkan sambil
melamun.
“Hm.”
“Tapi sekarang aku tahu dia orang yang menyenangkan.”
“Hm.”
“Juga pintar.”
“Aku haus,” sela Kazuto tiba-tiba.
Keiko terdiam sejenak, lalu berkata, “Biar kuambilkan air.”
Sebelum gadis itu sempat bangkit dari sofa, Kazuto sudah mendahuluinya dan
berjalan ke dapur. Ia kesal. Bagaimana gadis itu bisa membicarakan Kitano Akira di
depannya seperti itu? Tapi, tentu saja, Keiko sama sekali tidak tahu bagaimana
perasaan Kazuto.
Merasa agak bersalah karena telah memotong cerita Keiko, Kazuto menoleh ke
arahnya dan bergumam, “Bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang.”
Keiko tersenyum. “Ya, memang.”
Kazuto mengisi gelas dengan air keran dan langsung meneguknya sampai habis.
“Sebentar lagi Natal,” kata Keiko tiba-tiba.
Kazuto menoleh ke arah Keiko. Karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia
hanya menunggu gadis itu melanjutkan.
“Sensei mengajakku menonton pertunjukan balet pada malam Natal nanti,” kata
Keiko sambil menatap Kazuto. “Swan Lake.”
Kazuto mengerang dalam hati. Tidak, jangan lagi. Kazuto mengerutkan kening.
“Swan Lake?” ulangnya sambil meletakkan gelas ke meja.
Keiko mengangguk dan Kazuto menyumpah dalam hati.
“Kau ada rencana apa untuk malam Natal nanti, Kazuto-san?” tanya Keiko.
Untuk apa mengatakan pada Keiko bahwa ia juga punya tiket pertunjukan balet
yang sangat ingin ditonton gadis itu? Akhirnya Kazuto hanya berkata singkat, “Pergi
jalan-jalan.”
Alis Keiko terangkat heran. “Ke mana?”
Kazuto memaksakan seulas senyum. “Aku belum tahu,” katanya sambil
mengangkat bahu. “Kuharap kau bersenang-senang nanti.”
Keiko hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
Kazuto menghela napas dalma-dalam dan menunduk. “Aku capek,” katanya.
“Sepertinya aku ingin tidur sekarang.”
“Kalau begitu, istirahatlah,” kata Keiko sambil berdiri dari sofa. Ia tersenyum lebar
dan mengangkat sebelah tangannya. “Sampai jumpa besok.”
Kazuto melihat gadis itu keluar dari apartemennya dan menutup pintu. Sekali lagi
ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia sudah terlambat.
Terlambat. Seharusnya ia tidak menunggu selama ini untuk mengajak gadis itu keluar.
Tetapi waktu itu ia berpikir sebaiknya ia mendapatkan tiket pertunjukan itu terlebih
dahulu sebelum mengatakannya pada Keiko. Sekarang ia harus menerima hasil dari
keputusannya yang bodoh.
Gadis itu akan pergi dengan Kitano Akira. Kenyataan bahwa Akira adalah teman
baiknya malah membuat Kazuto semakin kesal.
Sepertinya sejarah terulang kembali.
Ia tertarik pada gadis yang justru tertarik pada teman baiknya.
Delapan
KEIKO melirik kalender di meja kerjanya. Tanggal 24 Desember. Ia mendesah pelan,
lalu mengalihkan perhatiannya ke tumpukan buku yang baru dikembalikan hari ini. Ia
harus mengembalikan semua buku itu ke rak masing-masing. Tetapi ia merasa tidak
bertenaga. Padahal hari ini seharusnya ia merasa bersemangat. Nanti malam ia akan
pergi makan malam dengan Kitano Akira, lalu mereka akan pergi menonton
pertunjukan balet yang sangat ingin ditontonnya. Ya, seharusnya hari ini ia merasa
senang.
Semua ini gara-gara Nishimura Kazuto, pikir Keiko geram. Ada di mana Kazuto
sekarang? Sudah tiga hari terakhir ini Keiko tidak bertemu dengannya. Terakhir kali
mereka bertemu adalah malam itu di apartemen Kazuto, ketika Keiko bercerita Kitano
Akira mengajaknya pergi menonton pertunjukan balet. Setelah itu Keiko tidak
melihatnya lagi.
Tentu saja Keiko sudah berusaha menghubungi ponsel Kazuto, tetapi benda itu
ternyata tidak dinyalakan. Awalnya ia merasa jengkel karena Kazuto pergi tanpa
berkata apa-apa. Kemudian kejengkelannya berubah menjadi kecemasan. Bagaimana
kalau terjadi sesuatu pada Kazuto? Bagaimana kalau... Stop! Ia tidak sanggup berpikir
jauh sampai pada kemungkinan kalau Kazuto bisa terluka atau semacamnya.
Sebaiknya ia berpikir Kazuto terlalu sibuk untuk meneleponnya. Ya, itu lebih baik.
Dengan tekad baru, Keiko bangkit dan berjalan ke arah troli berisi buku-buku yang
harus dikembalikan ke rak. Sebaiknya ia melakukan tugasnya sebelum atasannya
memutuskan untuk memecatnya karena kedapatan melamun sepanjang hari. Setelah
itu, ia akan pulang dan bersiap-siap untuk kencannya malam ini. Ia tidak akan
memikirkan tetangganya yang menjengkelkan itu lagi selama sisa hari ini.
* * *
Kazuto memperbaiki letak tali ransel yang meluncur dari bahu kanannya tanpa
memperlambat langkah. Sesekali ia mengembuskan napas perlahan. Sebenarnya ia
berencana melewatkan Hari Natal bersama kakeknya di Kobe, tetapi ternyata kakeknya
akan terbang ke New York malam ini. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?
Kelihatannya ia memang harus melewatkan malam Natal sendirian. Menyedihkan
sekali.
“Kazuto.”
Mendengar namanya dipanggil, Kazuto mendongak dan menoleh ke belakang.
Alisnya terangkat begitu melihat siapa yang memanggilnya. “Oh, Akira.”
Kitano Akira tersenyum cerah dan berhenti tepat di depan Kazuto. “Kebetulan
sekali bertemu denganmu di sini. Aku sudah berusaha meneleponmu berkali-kali.”
Ya, kebetulan sekali, pikir Kazuto dalam hati. Kenapa ia harus kebetulan bertemu
dengan Akira di sini? Ia melihat berkeliling dan menyadari tempat ini tidak jauh dari
rumah sakit tempat Akira bekerja. “Maaf,” sahutnya. “Ponselku rusak. Ada apa kau
mencariku?”
“Aku hanya ingin memberitahumu kalau reuni sekolah kita diadakan tanggal
sepuluh Januari nanti,” kata Akira. Ia melihat ransel besar Kazuto dan bertanya, “Kau
mau ke mana?”
Kazuto melirik ranselnya dan tersenyum. “Ah, tidak. Aku justru baru kembali dari
luar kota. Menjenguk kakekku,” jelasnya, lalu memandang pakaian santai temannya
dan bertanya, “Kau sendiri tidak bekerja hari ini?”
“Shift-ku sudah selesai,” sahut Akira sambil tersenyum lebar. “Sekarang aku akan
pulang dan bersiap-siap untuk malam ini.”
Ah, benar juga... Akira akan pergi dengan Keiko malam ini. Pikiran itu membuat
kening Kazuto berkerut samar.
Tiba-tiba ponsel Akira berdering. “Maaf,” katanya kepada Kazuto sambil
mengeluarkan ponsel dan berjalan menjauh dari Kazuto.
Kazuto masih sibuk dengan pikirannya. Bagaimana kalau ia pergi juga ke
pertunjukan balet itu dan menemui mereka di sana? Kalau mereka bertanya kenapa ia
ada di sana, ia bisa beralasan bahwa... Tidak, tidak. Keiko sudah menantikan saat-saat
seperti ini dengan Kitano Akira dan Kazuto tidak tega merusak kegembiraan gadis itu.
Akira menghampirinya kembali, membuyarkan lamunannya. Ia menoleh menatap
temannya yang sedang menarik napas panjang. “Ada masalah?” tanya Kazuto.
“Itu tadi telepon dari rumah sakit,” sahut Akira sambil menggeleng pelan dan
mengembuskan napas keras. “Keiko-san tidak akan suka ini.”
* * *
Keiko menutup ponsel dan berkacak pinggang sambil memandangi pakaian yang
berserakan di tempat tidurnya. Sepanjang sore ia sudah berusaha memilih pakaian
yang akan dikenakannya malam ini, dan tepat ketika ia sudah memilih pakaian yang
cocok, Kitano Akira meneleponnya untuk membatalkan janji.
Ia kecewa, tentu saja, tapi ia tidak bisa menyalahkan laki-laki itu. Kitano Akira tibatiba
dipanggil kembali ke rumah sakit karena salah seorang pasiennya mendadak kritis
dan harus segera menjalani operasi. Keiko tidak mungkin menunjukkan
kekecewaannya kepada Akira kalau hidup dan mati seseorang sedang dipertaruhkan
di sini.
Sambil mendesah berat, Keiko mulai membereskan pakaian-pakaiannya. Apakah
ini artinya ia akan melewatkan malam Natal ini sendirian? Aduh, menyedihkan sekali.
Haruka dan Tomoyuki sudah pasti akan merayakan Natal bersama teman-teman
mereka. Sedangkan Kazuto menghilang entah ke mana. Memikirkan tetangganya itu
lagi-lagi membuat Keiko khawatir. Di mana Kazuto?
* * *
Kazuto hampir tidak memercayai telinganya sendiri ketika Akira memberitahunya
bahwa ada seorang pasiennya tiba-tiba kritis sehingga ia harus kembali ke rumah sakit
dan membatalkan kencannya malam ini. Kazuto tiba-tiba tidak bisa menahan
semangatnya. Ia meninggalkan Akira ketika temannya itu sedang menelepon Keiko
untuk meminta maaf, dan cepat-cepat pulang.
Kini ia berdiri di depan pintu apartemen Keiko. Napasnya agak terengak. Ia tidak
tahu apakah gadis itu ada di rumah atau tidak. Rasanya aneh kalau sekarang ia tibatiba
mengetuk pintu apartemen Keiko. Ia memang sengaja pergi ke Kobe begitu saja
tanpa berkata apa-apa pada Keiko. Waktu itu ia sedang kesal, tetapi kemudian ia agak
menyesali sikapnya yang kekanak-kanakan. Ketika ia ingin menelepon Keiko, ia
mendapati kucing peliharaan kakeknya mendorong-dorong ponselnya sampai masuk
ke kolam ikan.
Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, Kazuto mendapat gagasan. Ia mengeluarkan
kunci apartemennya sendiri dari saku jaket dengan berisik, lalu berjalan ke pintu
apartemen 201. Ia memasukkan kunci ke lubang kunci dan memutarnya dengan suara
keras. Ia berhenti sejenak, memasang telinga. Terdengar bunyi samar dari balik pintu
apartemen 202, bunyi langkah kaki tergesa-gesa yang semakin jelas. Kazuto pun
tersenyum. Satu detik kemudian terdengar bunyi pintu dibuka dan...
“Kazuto-san?”
Sambil memasang wajah polos tak berdosa, Kazuto menoleh dan melihat Ishida
Keiko berdiri di ambang pintu apartemennya. “Oh, Keiko-chan. Hai.”
Awalnya gadis itu diam saja, hanya menatap Kazuto dengan matanya yang bulat.
Kazuto berputar menatapnya ketika Keiko tidak menjawab. “Oi, Keiko-chan, ada apa
denganmu?”
Kali ini keiko mendengus. “Ada apa denganku?” ia balas bertanya dengan nada
rendah. “Ada apa denganku?!”
Kazuto mengangkat alis. O-oh, gadis itu marah.
“Kau masih berani bertanya ada apa denganku?” Suara Keiko mulai meninggi. Ia
berderap ke arah Kazuto yang masih kebingungan dan berdiri tepat di hadapannya
sambil berkacak pinggang. “Ke mana saja kau selama ini? Menghilang begitu saja tanpa
bilang-bilang. Bahkan ponsel juga tidak bisa dihubungi. Kau tahu pikiranku suka
melantur ke mana-mana. Aku mengira kau tergeletak tidak sadarkan diri di selokan
entah di mana karena baru dirampok. Atau kau bisa saja mengalami kecelakaan lalu
lintas dan sekarang sedang koma. Atau... atau... Kenapa senyum-senyum?”
Gadis itu mengkhawatirkannya, Kazuto yakin akan hal itu. Karenanya ia tidak bisa
menahan diri. “Kau tidak kedinginan?” tanyanya polos.
Keiko menunduk memandangi sweternya dan berdeham. “Tidak juga,” balasnya
sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Kazuto menggerakkan kepalanya sedikit ke arah apartemennya. “Masuklah,”
katanya, “lalu kau boleh melanjutkan omelanmu. Bagaimana?”
Sambil menggerutu tidak jelas, Keiko mengikuti Kazuto masuk ke apartemennya
dan mengenakan sandal Hello Kitty-nya seperti biasa. “Ke mana saja kau tiga hari ini?”
tanya Keiko lagi sementara Kazuto melemparkan ranselnya ke sofa dan menyalakan
pemanas ruangan.
“Kobe,” sahut Kazuto sambil berjalan ke kamar tidurnya. Suaranya terdengar
samar ketika ia berbicara dari kamar. “Mengunjungi kakekku.”
“Kobe?” tanya Keiko ragu. Lalu bertanya lagi,” Kenapa ponselmu dimatikan?”
Kazuto keluar dari kamar. Jaket tebal dan syalnya sudah dilepas. “Ponselku rusak.
Sekarang sedang diperbaiki,” jawabnya singkat. Ia merebahkan dirinya ke sofa dan
menyalakan televisi dengan remote control, kemudian ia menoleh ke arah Keiko yang
masih berdiri di samping sofa. “Kenapa meneleponku?”
“Tidak apa-apa,” sahut Keiko cepat. “Untuk memastikan kau baik-baik saja.” Ia
diam sesaat, lalu menambahkan, “Karena kau pergi tanpa bilang-bilang padaku.”
Kazuto menatap gadis itu dengan alis terangkat. “Aku tidak tahu bahwa aku harus
memberitahumu ke mana aku pergi. Sejak kapan kita pacaran?”
“Itu...” Keiko membuka mulut, tapi cepat-cepat menutupnya kembali. Ia tidak bisa
menemukan balasan yang tepat. Ia hanya bisa menatap Kazuto yang tersenyum lebar
dan mendecakkan lidah. “Lalu...,” ia berdeham, “kenapa kau pulang secepat ini?
Kenapa tidak merayakan Natal bersama kakekmu?”
Kazuto mengembuskan napas panjang dan memasang tampang sedih. “Aku juga
ingin menghabiskan Natal di sana. Di sini sepi sekali, tidak ada yang menemaniku. Kau
juga akan pergi kencan dengan dokter itu. Tapi ternyata kakekku akan berangkat ke
New York malam ini.” Ia melirik Keiko sekilas. “Ngomong-ngomong, kenapa kau
belum bersiap-siap?” tanyanya, pura-pura tidak tahu-menahu soal kencan Keiko yang
dibatalkan.
“Kencannya batal,” gumam Keiko dan menjatuhkan pantatnya di sofa di samping
Kazuto. Lengannya masih disilang di depan dada. Ia terlihat sebal. “Ada pasien yang
sedang gawat, jadi dia harus tetap di rumah sakit.”
Kazuto hanya bisa bergumam, “Oh...” dan mengangguk-angguk.
Keiko menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras. “Ini
akan menjadi Natal paling menyedihkan dalam hidupku,” keluhnya lesu. “Semua
orang pergi dengan pacar mereka, bersenang-senang menyambut Natal. Lalu aku?” Ia
mengerang kesal.
Kazuto mengusap rahangnya, lalu berkata, “Kau mau pergi kencan denganku
malam ini?”
Kepala Keiko berputar cepat ke arah Kazuto. “Apa?”
“Kau mau pergi kencan denganku malam ini?” ulang Kazuto. “Bukankah kita
sama-sama tidak punya acara?”
“Kencan?”
Kazuto mengangkat bahu. “Ya. Kau tahu, pergi makan malam dan semacamnya.
Itu dinamakan kencan, bukan?”
Keiko tersenyum lebar. Setidaknya ia tidak perlu melewatkan malam Natal
menonton televisi sendirian di apartemennya. “Oke! Oke! Kita akan ke mana?” serunya
penuh semangat.
“Ah, itu akan menjadi kejutan,” kata Kazuto sambil menyunggingkan senyum
lebar yang memikat itu. “Sekarang kau hanya perlu bersiap-siap. Satu jam lagi aku
akan menjemputmu.”
Keiko tertawa. “Menjemput,” katanya. “Kau membuatnya terdengar begitu
romantis, padahal aku hanya tinggal di seberang apartemenmu. Kau hanya perlu
berjalan lima langkah dari pintumu ke pintuku.” Ia berdiri dari sofa. “Tapi aku suka
laki-laki yang sopan dan penuh perhatian seperti itu.”
“Keiko-chan.” Keiko mendengar Kazuto memanggilnya ketika ia mencapai pintu
depan apartemen laki-laki itu.
Keiko berputar. “Hm?”
Kazuto berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana jinsnya. “Berhatihatilah,”
katanya dengan nada serius, namun matanya tersenyum.
“Hati-hati? Terhadap apa?” tanya Keiko waswas.
Senyum lebar tersungging di bibir Kazuto. “Setelah kencan ini, kau mungkin akan
jatuh cinta padaku.”
Keiko mengangkat alis. Jelas mengira Kazuto hanya bercanda, akhirnya ia
mendengus pelan dan berkata, “Tenang saja. Tidak akan terjadi.”
Sembilan
DENTING bel pintu membuat Keiko mengalihkan perhatiannya dari kesibukannya
membungkus biskuit-biskuit cokelat yang akan diberikannya kepada Kazuto sebagai
hadiah Natal. Keiko mengelap tangan di handuk yang tergantung di dekat lemari dan
beranjak ke pintu. “Bukankah dia bilang satu jam lagi?” gumamnya pada diri sendiri.
Tetapi begitu membuka pintu, ia tidak melihat siapa pun di sana. “Siapa yang
membunyikan bel pintu?” tanyanya heran. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mulai
berpikir yang tidak-tidak. Orang iseng? Tetapi tidak terdengar suara atau bunyi apa
pun di luar sana. Jangan-jangan... Jangan-jangan... Tidak, tidak. Keiko memejamkan
mata dan menggeleng cepat. Ia tidak akan berpikir tentang hantu atau semacamnya.
Tidak...
Ketika ia membuka mata kembali, barulah ia melihat sebuah kantong kertas merah
muda berhias pita merah yang diletakkan di lantai di depan pintunya. “Oh? Apa itu?”
Ia membungkuk dan memungut kantong itu. Sebuah kartu kecil tergantung di
pegangan talinya. Senyum Keiko merekah begitu membaca tulisan di sana. Hadiah Natal
untukmu, Ishida Keiko. Semoga kau merasa hangat pada Hari Natal ini. Nishimura Kazuto.
Mata Keiko menangkap secarik lain kertas kecil yang ditempelkan di kantong
kertas itu. Aku pergi mengambil kereta kuda untuk menjemputmu. Tunggu saja di sini.
Masih tetap tersenyum, Keiko menutup pintu dan masuk kembali ke
apartemennya. Ia meletakkan kantong kertas itu di meja dan membuka pita merahnya
dengan hati-hati. Dengan penasaran ia mengeluarkan sebuah kotak putih dan
membuka tutupnya. Matanya melebar melihat isi kotak itu. Sepasang sarung tangan
wol merah, topi wol merah, syal merah, dan penghangat telinga yang juga berwarna
merah. Masing-masing memiliki nama Keiko yang dijahit dengan benang berwarna
emas. Keiko mengenakan sarung tangan merah itu dan mengacungkan tangannya
untuk mengagumi rasanya yang lembut dan hangat. Ia juga mencoba topi, syal, dan
penghangat telinganya, lalu berlari ke kamar tidur dengan gembira untuk mematut diri
di depan cermin. Kazuto memiliki selera yang bagus, puji Keiko dalam hati. Ia
menepuk-nepuk pipinya dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sambil
tersenyum.
* * *
“Bagaimana penampilanku?” tanya Keiko ketika Kazuto datang menjemputnya satu
jam kemudian. Ia memutuskan mengenakan topi, syal, dan sarung tangan pemberian
Kazuto, dan memadukan semuanya dengan jaket panjang putih.
Kazuto memandanginya dari ujung kepala ke ujun gkaki dan tersenyum. “Sejauh
ini, di antara semua teman kencanku di Jepang, kau yang paling cantik,” pujinya.
Keiko meringis. “Sejauh ini memang hanya aku satu-satunya orang yang pernah
berkencan denganmu di Jepang,” balasnya. Lalu ia menambahkan, “Hadiah Natalnya...
terima kasih.”
“Aku senang kau menyukainya,” sahut Kazuto ringan. Kemudian ia membawa
Keiko ke sedan putih yang diparkir di depan gedung apartemen. “Masuklah,” katanya.
Alis Keiko terangkat. “Kau punya mobil?”
“Aku ingin bilang begitu,” sahut Kazuto, “tapi bukan, aku meminjam mobil
temanku.”
Keiko masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman. Ketika Kazuto juga sudah
duduk di balik kemudi, Keiko mengacungkan kantong kain bermotif hiasan Natal
berwarna merah dan putih ke depan wajah Kazuto.
“Apa ini?” tanya Kazuto.
“Hadiah Natal,” sahut Keiko sambil tersenyum lebar.
Kazuto tertawa dan menerima kantong itu. Ia membaca kartu yang tergantung dari
tali kantong itu dengan suara keras, “Untuk orang yang berkata ada banyak hal indah akan
terlihat sewaktu gelap. Dari tetangga yang paling manis sedunia.” Ia mengangkat wajah
menatap Keiko dengan alis terangkat. “Tetangga paling manis sedunia?”
“Begitulah kenyataannya,” kata Keiko, lalu tertawa. “Ayo, bukalah. Aku
membuatnya sendiri.”
Kazuto membuka kantong itu dan melihat isinya. Ternyata Keiko membuat biskuit
cokelat dengan berbagai bentuk dan berhias gula-gula, termasuk biskuit berbentuk
pohon Natal yang bertuliskan Merry Christmas dan orang-orangan salju bertuliskan
nama Kazuto.
“Kau bisa membuat kue?” tanya Kazuto sambil mengagumi bentuk-bentuk biskuit
di dalam kantong itu.
Keiko mengangguk. “Sedikit-sedikit,” sahutnya. “Aku juga akan memberikan satu
kantong untuk Sensei.”
Kepala Kazuto berputar ke arah Keiko. “Kau akan memberinya biskuit yang sama?”
“Ya. Aku membuat banyak biskuit,” kata Keiko polos. “Aku juga akan memberikannya
kepada Haruka Oneesan, Tomoyuki-kun, Kakek dan Nenek Osawa, dan rekanrekan
kerjaku di perpustakaan.”
Kazuto memalingkan wajah dan mendesah. “Kau juga menuliskan pesan-pesan
pribadi seperti ini?” tanyanya sambil mengacungkan kartu dan potongan biskuit
bertuliskan namanya.
Keiko diam sejenak, lalu berkata agak malu, “Tidak. Tidak sempat. Kurasa aku
menghabiskan terlalu banyak waktu menghias biskuitmu sampai tidak sempat
menghias biskuit yang lain. Jadi aku hanya memberi mereka biskuit polos dengan kartu
ucapan Hari Natal.”
Mendengar itu Kazuto tersenyum, lalu mengangguk. “Bagus, setidaknya biskuitku
lebih bagus daripada biskuit yang lain.”
Alis Keiko terangkat, tetapi ia diam saja. Kazuto segera menyalakan mesin mobil
dan mereka pun melaju meninggalkan gedung apartemen.
Mereka melaju mulus di jalan raya. Keiko mengamati tangan Kazuto yang
memegang roda kemudi dengan ringan namun mantap. “Baru kali ini aku melihatmu
menyetir,” komentar Keiko. “Aku juga baru tahu kau bisa menyetir.”
Kazuto tersenyum. “Ha! Kau terkesan padaku.” Ia mengalihkan perhatiannya dari
jalanan untuk sesaat, menoleh ke arah Keiko. “Benar, kan? Benar?”
Keiko tertawa dan memukul pelan lengan Kazuto dengan punggung tangannya.
“Perhatikan jalanan,” katanya. “Dan untuk menjawab pertanyaanmu, tidak, aku tidak
terkesan padamu.”
“Oh, ya?” Kazuto memiringkan kepalanya. “Padahal aku meminjam mobil ini
untuk membuatmu terkesan. Tidak berhasil ya?”
Keiko mengacungkan tangan dan menempelkan jari telunjuk dengan ibu jarinya.
“Sedikiiiit terkesan.” Ia tertawa lagi dan Kazuto ikut tertawa. “Setidaknya kita tidak
perlu naik kereta bawah tanah dan berdesak-desakan.”
“Baiklah,” kata Kazuto mantap. “Mari kita lihat apakah kita bisa memperbaikinya.”
Keiko mengangkat alis tidak mengerti, tetapi Kazuto tidak menjelaskan lebih lanjut.
* * *
“Sungguh, kau tidak perlu membawaku ke tempat seperti ini,” kata Keiko dengan
wajah berseri-seri dan senyum lebar ketika menyadari Kazuto membawanya ke salah
satu restoran terkenal di Tokyo, salah satu restoran kesukaan Keiko sendiri.
Kazuto meliriknya dan berkata, “Tapi melihat wajahmu sekarang, sepertinya
pilihanku benar."
Seorang pelayan pria menempatkan mereka di salah satu meja di tengah ruangan.
Keiko memandang sekelilingnya dengan kagum. Restoran itu bagus dengan interior
bergaya pedesaan Inggris yang nyaman dan hangat. Pohon Natal besar penuh hiasan
diletakkan di sudut ruangan. Lagu Natal lembut mengalun di udara. Keiko hanya
pernah satu kali ke sini sebelumnya, bersama Naomi, dan restoran ini langsung
menjadi salah satu restoran favorit mereka. Ia menyukai lantai kayunya, taplak
mejanya yang berwarna hijau, tirainya yang tebal, lilin kecil dalam gelas, dan setangkai
mawar yang diletakkan di setiap meja.
Keiko mendesah senang dan kembali menatap Kazuto yang duduk di hadapannya.
“Restoran ini memang kelihatannya nyaman, tapi makanan di sini mahal sekali.
Percayalah padaku,” bisiknya dengan nada penuh rahasia.
“Kau pernah datang ke sini?” tanya Kazuto.
Keiko mengacungkan jari telunjuknya. “Cuma satu kali, ketika restoran ini baru
dibuka.”
Pelayan yang tadi kembali membawakan menu. Setelah melihat sekilas daftar
makanan dan harga yang tercantum di sana, Keiko melirik Kazuto dengan pandangan
waswas, lalu melirik pelayan yang sedang menunggu, dan kembali ke Kazuto. Keiko
mencondongkan tubuhnya ke depan dan menutupi sisi wajahnya yang menghadap si
pelayan dengan buku menu. “Kazuto-san,” bisiknya pelan, supaya si pelayan tidak
mendengar. “Kau yang traktir, bukan?”
Kazuto menangkat wajah dari menu dan tersenyum. Ia juga ikut mencondongkan
tubuhnya dan berbisik, “Tenang saja, aku punya kartu diskon di sini.”
Mata Keiko melebar heran. “Kartu diskon?”
Kazuto mengangguk, lalu mulai menyebutkan pesanannya kepada si pelayan yang
mencatat dengan patuh. Sebenarnya pemilih restoran ini adalah pamannya, Takemiya
Shinzo, karena itu Kazuto boleh menggunakan hak istimewanya setiap kali ia makan di
sana. Tetapi ia merasa tidak perlu memberitahu Keiko tentang fakta kecil itu.
Setelah si pelayan pergi dengan daftar pesanan mereka, Keiko kembali mendesah
dan memandang berkeliling. “Aku suka sekali tempat ini. Sangat romantis. Lihat,
orang-orang yang datang ke sini semuanya berpasangan.”
“Kudengar restoran ini memang dijalankan dengan konsep seperti itu,” kata
Kazuto. “Pemiliknya memang berjiwa romantis walaupun sampai sekarang belum
menikah.”
“Kau kenal dengan pemiliknya?”
Kazuto mengangkat wajah. “Oh, tidak. Aku hanya pernah mendengar gosip
tentang dia,” sahutnya cepat. Sebelum Keiko sempat berkomentar, Kazuto mengalihkan
pembicaraan, “Aku juga mendengar banyak orang mengajukan lamaran pernikahan di
tempat ini.”
“Oh, ya?”
“Ya. Kalau kau datang ke sini pada Hari Valentine, kemungkinan besar kau akan
melihat seorang pria berlutut di hadapan kekasihnya smaibl mengacungkan cincin
berlian.”
Mata Keiko melebar senang. “Aku ingin sekali melihatnya,” katanya, lalu tiba-tiba
bertanya, “Kazuto-san, kartu diskonmu itu berlaku sampai kapan?”
“Kartu diskon? Memangnya kenapa?”
“Berlaku sampai kapan?” desak Keiko.
“Masalahnya bukan berlaku sampai kapan,” elak Kazuto buru-buru memutar otak
mengarang alasan. “Kartu diskonku hanya bisa dipakai pada malam Natal ini, lalu...
malam Tahun Baru, lalu...”
Keiko berpikir-pikir. “Tahun Baru nanti aku ada di Kyoto. Hmm... Bagaimana
dengan Hari Valentine?”
“Hari Valentine?”
“Kaubilang restoran ini dibuat dengan konsep romantis. Jadi kupikir kartu
diskonmu bisa dipakai pada Hari Valentine. Benar?” desak Keiko.
Kazuto mengangkat bahu. “Kurasa begitu.”
Mendengar itu Keiko tersenyum manis dan bertanya, “Kazuto-san, kau mau
mengajakku ke sini lagi pada Hari Valentine nanti?”
Kazuto menatap gadis di hadapannya dengan mata disipitkan. “Kenapa? Jangan
katakan kau ingin aku melamarmu di sini pada Hari Valentine?”
Keiko tertawa. “Aku tidak berani memimpikannya,” katanya ringan. “Hanya saja
kita harus memanfaatkan kartu diskonmu, bukan? Lagi pula siapa tahu aku bisa
menjadi saksi acara lamaran pernikahan. Bagaimana? Oke? Kau akan mengajakku ke
sini lagi?”
Setelah berpikir-pikir sejenak, Kazuto mencondongkan tubuhnya ke depan. “Oke,
aku akan mengajakmu,” katanya. “Dengan satu syarat.”
Alis Keiko terangkat. “Apa syaratnya?”
“Aku ingin kau menemaniku ke suatu acara tanggal sepuluh Januari nanti.”
“Acara apa?”
Kazuto tersenyum. “Reuni SMP-ku. Acaranya tidak berlebihan. Aku harus hadir
dan aku sedang tidak ingin pergi sendiri.”
“Aah, aku mengerti,” gumam Keiko sambil mengangguk-angguk. “Kalau acaranya
ternyata membosankan, setidaknya masih ada aku yang bisa kauajak bicara. Bukankah
itu yang kaupikirkan?”
Kazuto mengangkat bahu. “Seperti itulah. Bagaimana? Setuju?”
Keiko mengangguk mantap. “Setuju.”
“Tanggal sepuluh Januari.”
“Tidak masalah.”
“Kau tidak akan membuat janji lain pada hari itu?”
“Tidak akan.”
“Walaupun si dokter cinta mengajakmu keluar?”
“Dokter cinta siapa?”
“Cinta pertamamu itu.”
“Ooh...” Keiko terdiam sejenak, berpikir-pikir, seakan ia baru teringat soal Kitano
Akira. Setelah beberapa detik yang dirasa Kazuto mencekam, Keiko membuka suara,
“Baiklah.”
Kazuto mengembuskan napas pelan, baru sadar kalau ia menahan napas.
Pundaknya tiba-tiba terasa ringan. “Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke sini lagi
pada Hari Valentine nanti.”
“Kau memang tetangga paling baik sedunia,” puji Keiko sambil menangkupkan
kedua tangan dengan gembira.
“Tentu saja,” sahut Kazuto, tepat ketika pelayan datang membawakan pesanan
mereka. “Sebaiknya kita cepat makan, karena kita harus pergi ke tempat lain setelah ini.
Dan kita tidak boleh terlambat.”
“Oh?” Wajah Keiko berseri-seri. “Kita mau ke mana lagi?”
Kazuto menatap Keiko dan tersenyum. “Itu kejutan.”
Sepuluh
“ASTAGA, kita akan ke sini?” Keiko hampir tidak memercayai matanya ketika mereka
berdiri di depan gedung pertunjukan besar di pusat kota. Terlihat banyak orang
berbondong-bondong memasuki pintu utama gedung. Spanduk besar bergambar
sepasang penari balet tergantung di bagian depan gedung, disertai tulisan
PERTUNJUKAN BALET SWAN LAKE.
“Ya,” sahut Kazuto. “Bukankah kau ingin sekali menonton pertunjukan ini?”
Keiko menoleh ke arah Kazuto. Matanya berkilat-kilat gembira. “Ya. Tadinya
Sensei akan mengajakku nonton dan aku sempat kecewa karena ia terpaksa
membatalkannya,” katanya cepat-cepat. “Tapi, katanya tiket pertunjukannya sudah
habis terjual. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”
Kazuto tersenyum. “Itu... rahasia,” katanya pelan. “Tapi aku berhasil membuatmu
terkesan, bukan?”
Sebelah alis Keiko terangkat dan ia tersenyum. “Baiklah, kuakui kau berhasil,”
katanya jujur. “Kau membuatku sangat terkesan. Aku memang sangat ingin menonton
pertunjukan ini.”
“Kita masuk sekarang?” ajak Kazuto sambil menyodorkan sikunya.
Tanpa ragu Keiko langsung menyusupkan lengannya di lengan Kazuto dan
tersenyum lebar. “Ayo!”
Mereka baru selesai menitipkan jaket di tempat penitipan ketika seseorang
menyerukan nama Kazuto. Keiko menoleh ke arah suara dan melihat pria ramping
bertubuh tinggi mengenakan jas resmi yang terlihat mahal. Pria itu berdiri tidak jauh
dari mereka dan melambai ke arah Kazuto. Kazuto mengangkat tangannya dan berkata
pada Keiko, “Tunggu sebentar. Aku harus menyapa kenalanku dulu.”
Keiko mengangguk dan memerhatikan Kazuto berjalan mendekati pria yang lebih
tua itu.
Kazuto cepat-cepat berjalan ke arah pamannya yang sedang tersenyum penuh arti
kepadanya. Ia tidak mengira bisa bertemu dengan pamannya di sini. Bagaimana ia bisa
menduga kalau Takemiya Shinzo yang suka bermain golf, bisbol, dan bulu tangkis itu
juga suka menonton pertunjukan balet?
“Halo, Kazuto,” sapa pamannya ramah, tapi masih menyunggingkan senyum
penuh arti itu dan melirik ke balik bahu Kazuto. “Senang sekali bertemu denganmu di
sini. Ternyata kau suka menonton balet.”
Kazuto balas tersenyum. “Halo, Paman. Aku juga baru tahu Paman penggemar
balet.”
Pamannya terkekeh pelan. “Salah satu sponsor pertunjukan ini adalah temanku,
jadi dia mengundangku ke sini. Demi menjaga hubungan baik, aku harus hadir.” Ia
kembali melirik ke balik bahu Kazuto. “Ngomong-ngomong, kau tidak datang sendiri.”
Kazuto menoleh dan melihat Keiko yang dengan tenang berdiri menunggunya di
tempat penitipan jas sambil membaca selebaran yang dibagikan di pintu masuk. Lalu ia
kembali menatap pamannya sambil tersenyum. “Paman datang sendiri?”
Takemiya Shinzo mengangkat bahu. “Aku memang lebih suka sendiri,” katanya.
“Kudengar tadi kau mampir ke restoranku.”
Kazuto tertawa. “Aku tidak akan bertanya bagaimana Paman bisa tahu.”
“Jadi?” tanya pamannya.
“Jadi apa?” balas Kazuto pura-pura tidak mengerti.
Takemiya Shinzo tertawa. “Kau tidak mau mengenalkannya padaku?” tanyanya
dengan alis terangkat. “Setelah apa yang kulakukan untuk membantumu? Tadinya aku
heran kenapa kau tiba-tiba ingin meminjam mobilku. Tapi sekarang aku bisa mengerti.”
“Aku akan mengenalkannya pada Paman nanti, kalau waktunya sudah tepat.”
Takemiya Shinzo mengangguk-angguk. “Ah, jadi sekarang masih dalam tahap
pengejaran?”
Kazuto hanya tersenyum.
Pamannya melirik ke arah Keiko lagi. “Dia lumayan. Tinggi,” gumamnya, lalu
mengerutkan kening. “Sepertinya wajahnya tidak asing. Dia orang terkenal?”
Kazuto tertawa, mengingat saudara kembar Keiko adalah model terkenal. “Bukan,”
sahutnya.
“Bukan?”
“Paman, pertunjukannya akan segera dimulai. Aku harus kembali kepada
temanku,” kata Kazuto. “Mobil Paman akan kukembalikan besok sore.”
“Terserah saja,” kata pamannya enteng. “Pakai saja selama kaumau.”
Setelah melambai untuk yang terakhir kali kepada pamannya, Kazuto bergegas
kembali ke tempat Keiko berdiri. Gadis itu mengangkat kepala ketika mendengar
langkah kakinya mendekat. Senyumnya cerah dan lebar.
“Maaf membuatmu menunggu,” kata Kazuto.
Keiko menggeleng. “Tidak apa-apa,” sahutnya. “Kelihatannya temanmu itu datang
sendiri. Kau tidak mengajaknya bergabung dengan kita?”
Kazuto menggeleng. “Biarkan saja dia. Dia lebih suka sendirian,” katanya.
Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa pertunjukan akan
segera dimulai dan para penonton diharapkan masuk ke aula. Kazuto otomatis
mengulurkan tangan ke arah Keiko. “Ayo, kita masuk sekarang.”
Tanpa banyak pikir, Keiko menyambut tangannya.
* * *
Tidak diragukan lagi, malam ini adalah salah satu malam paling menyenangkan dalam
hidup Keiko. Pertunjukan balet Swan Lake yang sangat ingin ditontonnya itu sama
sekali tidak mengecewakan. Malah melebihi harapannya. Semuanya indah. Penaripenari
yang melompat lincah dan ringan di atas panggung, dekorasinya, musiknya
yang menyayat hati. Ketika pertunjukannya berakhir, ia terus bertepuk tangan
sementara para penari silih berganti muncul dari balik layar untuk memberi hormat. Ia
bertepuk tangan sampai kedua tangannya merah, tetapi ia tidak peduli. Ia sangat puas.
“Bagaimana pendapatmu?” tanyanya penuh semangat kepada Kazuto ketika
mereka keluar dari aula ke arah tempat penitipan jas.
Kazuto berpikir sejenak. “Dulu aku tidak pernah benar-benar tertarik pada balet,”
katanya jujur. “Tapi ternyata pertunjukan yang ini bagus. Sangat bagus, malah.”
“Benarkah?” Mata Keiko bersinar gembira.
Kazuto tersenyum melihat kegembiraan Keiko, “Bisa kulihat kalau kau sangat
menikmatinya.”
“Oh ya, sudah pasti,” kata Keiko tegas, lalu mendesah keras. “Sebenarnya dulu aku
bercita-cita menjadi penari balet.”
“Lalu kenapa tidak jadi?”
Keiko tertawa malu. “Tubuhku tidak cukup lentur.”
Setelah mengenakan jaket dan syal, mereka berjalan mengikuti kerumunan orang
ke arah pintu keluar. Keiko masih sibuk berceloteh dengan riang sementara Kazuto
sepertinya cukup senang dengan mendengarkan dan kadang-kadang memberikan
jawaban kalau ditanya.
Saat itu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan menyenggol bahu Keiko.
Keiko agak terhuyung, tetapi segera ditahan Kazuto. Pria yang menyenggolnya tadi
berbalik. Ia menatap Keiko dan Kazuto bergantian, lalu matanya terpaksa pada Kazuto.
Alisnya yang tebal berkerut.
Kenapa tidak meminta maaf? pikir Keiko dalam hati dengan jengkel. Jelas-jelas pria
itu yang salah karena menyenggolnya, tapi kenapa dia diam saja? Tetapi ia tidak ingin
memperpanjang masalah, karena sepertinya pria itu cukup galak—dengan wajah
berkerut dan hidung bengkok—dan ia menatap Kazuto dengan pandangan aneh.
Merasa pria itu mungkin ingin mencari masalah, Keiko buru-buru membungkuk dan
bergumam, “Maaf.” Lalu cepat-cepat menarik tangan Kazuto untuk pergi dari sana.
“Orang itu aneh sekali,” gumam Kazuto heran. Ia mengikuti Keiko menuruni anakanak
tangga di depan gedung.
“Ya, memang aneh,” kata Keiko. Ia melirik ke balik bahunya karena penasaran dan
melihat pria itu masih berdiri di sana sambil menatap mereka dengan mata disipitkan.
Ada apa dengan orang itu? Ia berbisik kepada Kazuto, “Jangan berbalik, ya? Tapi
sepertinya dia masih memandangi kita.”
“Biarkan saja. Tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Kazuto sambil menggenggam
tangan Keiko lebih erat. Ia menoleh ke arah Keiko dan tersenyum. “Menurutku dia
bukan salah satu penguntit yang menjadi penggemar saudara kembarmu.”
Keiko mendongak menatap Kazuto. Mengherankan sekali. Bagaimana laki-laki ini
tahu apa yang dipikirkannya? Keiko bertanya-tanya dalam hati apakah dirinya
memang bisa ditebak semudah itu.
“Menurutmu begitu?” tanya Keiko penuh harap.
“Ya.” Kazuto mengangguk.
Satu kata itu saja bisa membuat Keiko merasa lebih tenang, dan ia tidak tahu
kenapa.
“Lihat, salju!” seru Kazuto tiba-tiba.
Keiko mendongakkan kepala dan salju pertama melayang turun mengenai pipinya.
Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan tersenyum lebar. Salju turun pada malam Natal!
Orang-orang yang berjalan di sekitar mereka juga berhenti sejenak dan menengadah,
menyaksikan salju yang turun. Keiko mendapat kesan bahwa Natal ini akan menjadi
Natal yang paling menyenangkan.
“Salju pada malam Natal,” gumam Kazuto. “Bagus sekali, bukan?”
Keiko mengangguk, masih memandangi butiran salju yang melayang turun seperti
kapas.
“Aku jadi ingin melakukan sesuatu.”
Keiko berpaling ke arah Kazuto. “Apa?”
“Ice skating.”
Alis Keiko terangkat. “Ice skating?”
Kazuto mengangguk. “Kau bisa?”
Keiko tersenyum lebar dan berkata, “Aku terlahir ahli meluncur di atas es.”
* * *
Arena seluncur es itu masih ramai oleh pengunjung yang ingin merayakan malam
Natal bersama pasangan dan keluarga. Lagu Winter Wonderland terdengar jelas melalui
pengeras suara, di antara pekikan dan tawa anak-anak, menceriakan suasana.
Keiko tidak bercanda ketika berkata bahwa ia jago meluncur di atas es. Ia meluncur
dengan cepat di lapangan es, melesat melewati orang-orang yang meluncur santai,
menantang Kazuto menyusulnya.
“Ternyata kau memang jago meluncur,” puji Kazuto sambil meluncur di samping
Keiko.
Keiko menyapu sejumput rambut panjangnya dari wajah dan tersenyum cerah.
“Tentu saja. Kau sendiri juga lumayan.”
Kazuto meluncur berputar ke hadapan Keiko. “Baikalh, kau bisa meluncur. Tapi
apakah kau bisa berdansa di atas es?”
Keiko tertawa. “Berdansa di atas es?”tanyanya, lalu menggeleng-geleng. “Aku
belum pernah mencobanya.”
“Bagaimana kalau kita mencobanya sekarang?” tantang Kazuto. “Kau bisa
berdansa waltz?”
“Sedikit-sedikit,” jawab Keiko sambil tertawa pelan. “Kau sungguh mau kita
berdansa waltz di sini? Di depan orang-orang ini?”
“Mereka boleh mengikuti kita kalau mau,” kata Kazuto ringan samibl mengangkat
bahu. “Nah, pegang tanganku. Posisi waltz.”
Keiko membiarkan Kazuto menggenggam tangannya dan merangkul pinggangnya
dengan ringan. Tangannya sendiri diletakkan di lengan atas Kazuto. Kazuto mulai
meluncur dan Keiko mengikuti gerakannya dengan mulus. Sudah lama Keiko tidak
merasa begitu senang dan bersemangat mencoba sesuatu yang baru. Mereka meluncur
mengelilingi lapangan sambil berputar-putar. Kadang-kadang Kazuto melepaskan
pinggang Keiko dan memutarnya, lalu kembali menarik Keiko ke arahnya.
“Astag, jangan sampai kaulepaskan aku,” kata Keiko sambil tertawa. “Aku bisa
jatuh dan mempermalukan diriku sendiri.” Ia memandang berkeliling dan menyadari
beberapa orang memandangi mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka sudah
menjadi tontonan yang menghibur.
“Aku tidak akan melepaskanmu.”
Nada suara Kazuto membuat Keiko mendongak menatapnya. Apakah hanya
perasaannya ataukah nada suara Kazuto agak berbeda daripada biasanya?
“Dan aku sudah pasti tidak akan membiarkanmu mempermalukan dirimu sendiri,”
lanjut Kazuto sambil tersenyum. “Tidak di depan begitu banyak orang.”
Tidak. Tadi memang hanya perasaanku. Kazuto terlihat sama seperti biasanya,
pikir Keiko. Walaupun kini, tanpa disadarinya, ia selalu merasa gembira setiap kali
laki-laki itu menatapnya dan tersenyum padanya.
Seperti sekarang ini.
* * *
Kazuto kembali melirik kaca spion. Mobil hitam itu masih ada di belakang mereka.
Mobil hitam itu tidak selalu tepat berada di belakang mobil Kazuto, kadang-kadang
ada satu atau dua mobil lain yang menyelip di antara mereka. Tetapi Kazuto
memerhatikan bahwa mobil itu terus mengikutinya sejak mereka meninggalkan arena
seluncur es. Pertanyaannya siapa pengemudi mobil hitam itu? Kenapa ia tersu
mengikuti Kazuto?
“...Kazuto-san?”
Sepertinya ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mendengar
panggilan Keiko. Kazuto menoleh ke arah kursi penumpang. “Ya?”
Kening Keiko berkerut, tetapi ia tersenyum. “Aku sudah memanggilmu tiga kali.
Apa yang sedang kaupikirkan?”
“Ngomong-ngomong kau naik shinkansen11 atau pesawat? Ke Kyoto, maksudku,”
kata Kazuto ringan. Ia merasa tidak perlu membuat Keiko cemas dengan
kecurigaannya terhadap mobil hitam di belakang sana. Gadis itu pasti akan panik dan
mulai berpikir yang tidak-tidak.
“Naik shinkansen, seperti biasa,” kata Keiko.
“Bagaimana kalau kuantar ke stasiun saja? Aku bisa mengembalikan mobil ini
kepada temanku setelah mengantarmu,” Kazuto menawarkan.
Keiko tersenyum lebar. “Terima kasih. Kau memang teman paling baik sedunia.”
Kazuto melirik kaca spion sekali lagi. Mobil hitam itu masih terlihat, berjarak dua
mobil dari Kazuto. Ketika Kazuto membelok ke jalan yang mengarah ke gedung
apartemen mereka, ia memperlambat laju mobil. Menunggu. Tetapi tidak ada mobil
hitam yang ikut membelok. Kazuto merasa agak heran, sekaligus lega karena
11 Kereta api superekspres di Jepang
kecurigaannya tidak terbukti. Mobil hitam itu tidak mengikutinya. Kemungkinan besar
mobil itu hanya kebetulan searah dengannya sejak dari arena seluncur es, tetapi jelas
mobil itu tidak mengikutinya.
Tiba-tiba ia teringat kepada pria aneh di gedung pertunjukan tadi. Mungkinkah...?
Tapi apa alasannya? Bagaimanapun juga, pria itu sepertinya tidak asing. Kazuto merasa
pernah melihat wajah itu entah di mana. Ia mendapat firasat yang tidak enak.
“Kazuto-san, kau baik-baik saja? Kau sakit?”
Nada suara yang cemas menyentakkan kepala Kazuto ke arah gadis itu. “Tidak,
aku baik-baik saja,” sahutnya cepat, lalu tersenyum. “Kurasa aku terlalu capek karena
berusaha membuatmu terpesona padaku malam ini.”
Keiko mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagunya sambil memasang raut wajah
seperti sedang berpikir keras. Lalu ia menoleh menatap Kazuto. “Kurasa,” katanya
pelan. “Kau cukup berhasil.”
Kazuto ikut tertawa bersama gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia berusaha
mengenyahkan firasat buruk yang menyelimuti hatinya. Tidak ada masalah. Pikirannya
sendiri yang terlalu berlebihan. Semuanya akan baik-baik saja.
Sebelas
“TERIMA kasih karena sudah mengantarku,” kata Keiko kepada Kazuto ketika mereka
sudah tiba di stasiun. “Keretaku akan datang sebentar lagi. Kau tidak perlu
menungguku.”
“Tidak apa-apa,” kata Kazuto. Ia mengikuti Keiko masuk ke stasiun sambil
menjinjing tas pakaian gadis itu. “Kau naik kereta apa?”
“Kereta Nozomi. Itu yang paling cepat,” sahut Keiko. Ia duduk di salah satu kursi
dan memeriksa tas tangannya, memastikan tiketnya sudah ada.
Kazuto duduk di kursi di sebelah Keiko dan memerhatikan gadis itu. Tadinya
Kazuto mengira Keiko akan membawa koper besar—karena para wanita biasanya
membawa banyak barang kalau bepergian—tetapi ternyata gadis itu hanya membawa
tas tangan kecil dan satu tas jinjing berisi pakaian. Kata Keiko, ia masih memiliki
banyak pakaian di rumah orangtuanya di Kyoto, jadi ia tidak perlu membawa banyak
pakaian. Malah sebenarnya ia tidak perlu membawa pakaian sama sekali.
“Jam berapa kau akan tiba di Kyoto?” tanya Kazuto.
Keiko melirik jam tangannya. “Dari sini ke Kyoto hanya butuh sekitar dua jam dua
puluh menit. Pokoknya hari belum gelap kalau aku tiba di Kyoto.” Ia menoleh ke arah
Kazuto. “Kenapa?”
“Telepon aku kalau sudah sampai.”
“Oke,” sahut Keiko ringan. Lalu ia terdiam sejenak, memiringkan kepala dan
bertanya, “Tapi kenapa aku harus meneleponmu?”
“Supaya aku tahu kau sudah tiba dengan selamat.”
“Untuk apa? Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?” protes Keiko. “lagi pula,
bukankah ponselmu sedang diperbaiki?”
“Ah, benar,” gumam Kazuto sambil menepuk keningnya. “Kalau begitu, biar aku
yang meneleponmu nanti.”
Keiko tidak sempat menjawab karena tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Ia
mengeluarkan ponselnya yang berkedip-kedip dari tas tangan dan membaca tulisan
yang muncul di layar. Alisnya terangkat dan ia cepat-cepat menempelkan ponsel ke
telinga. “Moshimoshi? Sensei?”
Kepala Kazuto berputar cepat ke arah Keiko. Gadis itu berdiri dari kursinya dan
berjalan agak menjauh. Kazuto sempat mendengar Keiko berkata, “Sensei sudah
menerimanya?” Lalu ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.
Kemungkinan besar Akira menelepon Keiko untuk berterima kasih atas biskuit
pemberian Keiko. Tadi, dalam perjalanan ke stasiun, Keiko meminta Kazuto
mengantarnya ke rumah sakit tempat Akira bekerja untuk menyerahkan hadiah Natal.
Kazuto tidak punya alasan untuk menolak, tentu saja, tetapi ia membiarkan Keiko
masuk ke rumah sakit sendiri sementara ia menunggu di mobil. Ia tidak ingin Akira
tahu bahwa ia mengenal Keiko. Belum waktunya. Tetapi ternyata Akira sedang sibuk
menangani salah seorang pasien sehingga Keiko tidak bisa menemuinya dan terpaksa
menitipkan biskuit itu kepada seorang suster jaga.
Kazuto mengangkat wajah ketika Keiko duduk kembali di kursi di sampingnya. “Si
dokter cinta?” tanya Kazuto datar.
“Ya. Dia menelepon karena sudah menerima biskuitnya dan ingin berterima kasih,”
sahut Keiko ringan. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Ngomong-ngomong, kenapa
kau selalu menyebutnya dokter cinta?”
“Apa yang kausuka darinya?” Kazuto balas bertanya. Sebenarnya ia tidak ingin
tahu, tetapi rasa penasarannya tidak bisa ditahan lagi.
“Apa?”
“Apa yang membuatmu suka padanya? Kenapa dia bisa menjadi cinta pertamamu?”
“Oh, itu.” Keiko tersenyum dan merenung. “Aku menyukainya karena dulu dia
pernah membantuku mencari kalungku yang terjatuh.” Ia tertawa pelan dan
melanjutkan, “Kedengarannya memang konyol, tapi begitulah kenyataannya, terutama
setelah dia berhasil menemukan kalungku dan tersenyum padaku.”
“Kalung?” Kening Kazuto berkerut samar.
“Ya. Kalung pemberian nenekku. Aku selalu memakainya. Nah, ini dia,” kata
Keiko sambil menarik kalung yang dikenakannya dari balik syal dan kerah sweter
tebalnya. Kalung dengan liontin berbentuk kata “Keiko”.
Kazuto mengamati kalung itu dengan saksama. Kerutan di keningnya bertambah.
Kalung itu...
Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa kereta dengan
tujuan Kyoto akan segera berangkat.
“Oh, aku harus segera pergi,” kata Keiko sambil mengumpulkan barang-barangnya
dan berdiri.
Kazuto juga ikut berdiri, walaupun masih terus sibuk menggali ingatannya. Ada
sesuatu yang terasa mengganjal tentang kalung itu. Di mana ia pernah melihat kalung
itu. Di mana? Tiba-tiba Kazuto tersentak. Ia ingat sekarang.
Ia mengangkat wajah dan memandang ke arah Keiko. Gadis itu sudah tiba di pintu
gerbong kereta dan sedang melambai ke arahnya. Kazuto baru akan mengangkat
tangannya sendiri untuk balas melambai, ketika tiba-tiba ia merasakan dorongan besar
untuk melakukan sesuatu. tanpa berpikir panjang, Kazuto berseru memanggil Keiko
dan berlari-lari kecil ke arah gadis itu yang sudah menaiki tangga pintu gerbong.
Keiko memutar tubuh dan menatap Kazuto dengan tatapan heran dan kening
berkerut. “Kenapa berteriak-teriak seperti itu?” katanya dengan nada rendah. “Nanti
orang-orang akan berpikir aku sudah mencuri dompetmu atau semacamnya.”
Kazuto tidak langsung menjawab. Ia menatap Keiko sambil tersenyum lebar.
“Keiko-chan.”
“Ada apa?”
Kazuto menunduk dan tertawa pelan, menertawakan sikapnya sendiri yang
gegabah.
Merasa heran dengan sikap Kazuto, Keiko bertanya sekali lagi, “Ada apa?”
Kazuto kembali menatap wajah Keiko. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang
mendorongnya, tetapi ia merasa harus mengatakannya sekarang. Tidak peduli apa
yang dipikirkan Keiko nantinya, pokoknya Kazuto harus mengatakannya. “Keiko-chan,
ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Ya?” Mata Keiko melebar menunggu.
“Kau bisa melupakan Kitano Akira?”
Alis Keiko terangkat tinggi. “Apa?”
“Kau bisa melupakannya,” tanya Kazuto tegas sambil menatap lurus ke dalam
mata Keiko yang bingung, “dan mulai benar-benar... benar-benar melihatku?”
* * *
Oh! Keiko merasa jantungnya berdebar kencang. Tangannya mencengkeram pegangan
besi di ambang pintu gerbong kereta dengan erat. Ia mengerjapkan mata dan menatap
Kazuto. Laki-laki itu memang tersenyum, tetapi entah kenapa Keiko tidak merasa
Kazuto sedang bercanda. Tidak, laki-laki itu serius. Apakah Kazuto berusaha
mengatakan bahwa ia menyukai Keiko?
Keiko menahan napas, matanya terbelalak, dan jantungnya berdebar kencang.
Perasaan apa ini?
“Kau tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang,” kata Kazuto sambil memasukkan
kedua tangan ke saku jaket. “Aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat.” Ia menoleh
ke kiri dan ke kanan. Mereka sedang berada di stasiun kereta dan sebentar lagi kereta
Keiko akan berangkat. Benar-benar pilihan waktu yang buruk.
Keiko diam menunggu kelanjutan kata-kata Kazuto. Ia merasa seperti disihir.
Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berkata-kata.
“Sebenarnya ada hal lain yang ingin kukatakan padamu. Mengenai ingatan masa
kecilmu. Tapi akan kuceritakan nanti saat kau kembali,” kata Kazuto perlahan. Lalu ia
tersenyum dan melanjutkan, “Saat kau kembali nanti, aku akan ada di sini.”
Setelah itu pengumuman terakhir terdengar melalui pengeras suara dan pintu
gerbong tiba-tiba bergerak menutup, membuat Keiko tersentak mundur selangkah.
Kazuto mengangkat sebelah tangannya untuk melambai sementara kereta mulai
bergerak perlahan. Keiko terus menatap Kazuto yang tetap berdiri di tempatnya.
Kemudian sosok Kazuto pun semakin kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.
Ini aneh. Keiko menutup mulut dengan sebelah tangan dan perlahan berjalan ke
tempat duduknya. Dengan agak lemas ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Pemandangan di luar sana berlalu dengan cepat, silih berganti, tetapi Keiko tidak
peduli. Kata-kata Kazuto tadi membuat jantungnya berjumpalitan.
Kau bisa melupakannya dan mulai benar-benar... benar-benar melihatku?
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, selama ini Keiko sudah melihat Kazuto. Selalu
melihat Kazuto. Hanya saja ia tidak menyadarinya sampai... sekarang? Atau semalam?
Kata-kata Kazuto kemarin sore terngiang-ngiang di telinganya. Berhati-hatilah, Keikochan.
Setelah kencan ini, kau mungkin akan jatuh cinta padaku.
Jatuh cinta pada Kazuto? Keiko tidak pernah memikirkan hal itu. Ia belum tahu
bagaiman perasaannya, tapi saat ini suatu perasaan aneh yang menyenangkan timbul
dalam hatinya.
Di samping perasaan senang yang terbit di hatinya, ada juga perasaan janggal.
Keiko merasa agak tidak tenang. Mungkin seharusnya ia mengatakan sesuatu tadi.
Sesuatu apa? Yah, apa saja, selain diam mematung menatap Kazuto. Kalau tadi ia
mengatakan sesuatu, mungkin ia tidak akan merasa resah seperti ini. Mungkin saja...
Tiba-tiba saja Keiko tidak sabar ingin segera tiba di Kyoto dan menunggu telepon
dari Kazuto.
* * *
Kazuto melajukan mobil di sepanjang jalan raya yang cukup ramai, sibuk berpikir dan
menyusun rencana. Ia memang ingin mengungkapkan perasaannya kepada Keiko,
tetapi pilihan waktunya tadi payah sekali. Keiko membuatnya merasa gembira, tenang,
dan... hidup. Memang masih banyak yang ingin dikatakannya kepada gadis itu, tetapi
kali ini ia harus memilih waktu yang cocok sebelum mencoba menjelaskan semuanya.
Tiba-tiba suatu pikiran terbesit dalam benak Kazuto. Mungkinkah Keiko akan
mengira Kazuto hanya menganggapnya sebagai tempat pelampiasan karena wanita
yang dulu pernah disukainya akan menikah dengan sahabatnya? Kazuto terpekur dan
mengangguk-angguk. Mungkin saja. Kalau begitu Kazuto harus meyakinkannya.
Ia terlalu sibuk memikirkan masalah itu sampai tidak menyadari keberadaan mobil
hitam di belakangnya. Sebenarnya mobil hitam itu sudah mengikutinya sejak Kazuto
berangkat dari apartemen tadi siang untuk mengantarkan Keiko ke stasiun.
Ketika Kazuto membelokkan mobil ke jalan sepi yang merupakan jalan pintas ke
apartemen pamannya, mobil hitam yang selama ini tetap menjaga jarak di belakang
langsung melesat maju melewati mobil Kazuto. Kaztuo buru-buru menginjak rem
ketika mobil hitam itu berhenti di depannya, menghalangi jalan. Kening Kazuto
berkerut. “Apa-apaan ini?” Ia melihat ke belakang dan menyadari mobil hitam lain
sudah berhenti di belakang mobilnya.
Sebelum Kazuto sempat memahami apa yang sedang terjadi, sekitar lima pria
berjaket hitam dan bertampang seram keluar dari kedua mobil di depan dan
belakangnya. Mereka terlihat seperti yakuza12. Kazuto mencium adanya bahaya, tetapi
tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang kecuali mencari tahu apa yang diinginkan
orang-orang aneh itu.
Dengan perasaan waswas ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Ia
menatap kelima orang yang berdiri di depannya, lalu mengangkat kedua tangannya ke
depan. “Dengar siapa pun yang sedang kalian cari saat ini, saya yakin kalian salah
orang.”
“Tidak. Tidak salah.”
Kazuto berbalik cepat dan berhadapan dengan pria berpenampilan rapi yang
berumur tiga puluhan, atau mungkin lebih tua dari itu. Sebatang rokok terselip di
antara bibirnya yang tipis. Rambut di atas kepalanya sudah mulai menipis, tetapi
alisnya lebat. Dan hidungnya agak bengkok. Kazuto mengerutkan kening. Ia pernah
melihat orang itu.
12 Gangster Jepang
“Kau tidak ingat lagi padaku?” tanya pria itu dengan nada sinis. Mulutnya
melengkung membentuk senyum mengejek.
Kazuto teringat pada orang aneh di gedung pertunjukan balet kemarin. “Anda
yang ada di gedung pertunjukan kemarin?” tanyanya dengan nada ragu.
Alis lebat pria itu terangkat, masih tersenyum sinis. Ia mengepulkan asap rokoknya
dan berkata puas, “Ah, rupanya kau ingat juga.”
“Tapi aku...”
“Coba ingat-ingat lagi,” potong pria itu tajam. “Sebelum itu kita sempat bertemu.”
Kazuto kembali memutar otak. Siapa pria ini? Apa yang diinginkannya?”Kau sama
sekali tidak ingat?” Mata kecil pria itu menusuk mata Kazuto. “Bagaimana kalau
kukatakan padamu bahwa masih ada masalah yang belum selesai di antara kita?” tanya
pria itu. Ia mengangguk-angguk dan melanjutkan, “Harus kuakui pukulanmu cukup
keras, tapi kurasa sekarang saatnya kau menerima balasan dariku.”
Tiba-tiba Kazuto teringat. Pria ini adalah pria yang mengganggu Sato Haruka di
tengah jalan malam itu. Kazuto memang sempat meninjunya dan sekarang ia ingin
membalas dendam? Apakah pria itu salah satu anggota yakuza? Sial! Ia sama sekali
tidak ingin terlibat dengan yakuza. Kazuto memandang berkeliling, mengamati anak
buah pria itu, mempertimbangkan kelemahan situasinya saat itu. Ia tidak yakin bisa
mengalahkan lima orang bertampang garang itu. Tetapi bagaimanapun juga ia harus
mencobanya. Tidak ada cara lain.
“Sepertinya kau mulai ingat, bukan?” tanya pria itu. Ia menyeringai, membuang
sisa rokoknya ke tanah, dan menginjaknya. “Mungkin sekarang kita bisa mulai
mengajarimu supaya tidak ikut campur urusan orang lain.”
Ia melambaikan tangannya dan kelima anak buahnya bergerak maju menyerang
Kazuto. Kazuto sempat menghindar dari beberapa tinju yang melayang ke arahnya dan
sempat meninju rahang beberapa orang pria. Tetapi mereka terlalu banyak dan terlalu
ganas. Sementara Kazuto sibuk menghindar, ia tidak menyadari salah satu dari pria itu
mengambil tongkat bisbol dari dalam mobil dan menghampirinya dari belakang.
Kazuto berputar dan terkejut melihat tongkat bisbol yang diayunkan ke arahnya.
Hal terakhir yang terlintas dalam benaknya adalah ia harus menelepon Keiko sore itu.
Lalu kepalanya serasa meledak, diikuti percikan cahaya menyilaukan, lalu segalanya
berubah gelap.
* * *
Sudah hampir jam tujuh malam.
Keiko mengalihkan pandangan dari jam dinding ke ponsel yang tergeletak di meja
dan mengembuskan napas. Kenapa belum menelepon? Lagi-lagi Keiko melirik jam
dinding. Ia sudah tiba di Kyoto sekitar tiga jam yang lalu, tetapi Kazuto belum
menelepon sampai sekarang. Bukankah laki-laki itu bilang akan meneleponnya?
Keiko tidak tahu kenapa ia bisa seresah itu. Tetapi ia memang resah. Ia menggigitgigiti
kuku dan kembali menatap ponselnya.
Akhirnya ia meraih ponselnya dan mulai memencet beberapa tombol, lalu
menempelkan ponsel ke telinga. “Moshimoshi? Haruka Oneesan?” Ia mendengarkan
sesaat, lalu melanjutkan, “Ya, aku sudah di Kyoto. Oneesan ada di mana sekarang?...
Oh, begitu. Oneesan, ngomong-ngomong Oneesan sudah bertemu dengan Kazuto-san?”
Keiko kembali menggigit kukunya. “Belum? Oh... Ah, tidak apa-apa. Ponselnya sedang
rusak jadi aku tidak bisa meneleponnya. Ya... Ya, tidak apa-apa... Kalau Oneesan
bertemu dengannya... Ya... Ya... Terima kasih. Ya.”
Keiko menutup telepon dan mengembuskan napas panjang. Ia menggigit bibir dan
menatap ponsel yang ada dalam genggamannya. Apakah ia harus mencoba? Hanya
untuk memastikan? Ia kembali memencet beberapa tombol di ponselnya dan
menempelkan ponsel ke telinga. Setelah menunggu sejenak terdengar suara operator
telepon yang menyatakan bahwa ponsel yang dituju sedang tidak aktif. Keiko menutup
ponsel. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengna keras.
“Kenapa melamun sendiri di sini?” Terdengar suara berat ayahnya dari belakang.
“Kau tidak membantu ibumu menyiapkan makan malam?”
“Ya,” sahut Keiko cepat dan segera bangkit.
Tidak apa-apa. Kazuto mungkin memang sedang sibuk saat ini. Ia pasti akan
menelepon Keiko nanti malam. Pasti.
* * *
Dua jam yang lalu...
Takemiya Shinzo baru saja akan meninggalkan apartemennya untuk menghadiri
pesta Natal yang diadakan salah seorang rekan bisnisnya ketika telepon di
apartemennya berdering. Ia bermaksud mengabaikannya karena sebelah tangannya
sudah membuka pintu depan, tetapi akhirnya ia menyerah dan masuk kembali ke
apartemen.
“Moshimoshi?” katanya dengan nada agak kesal. Ia melirik jam tangan Rolex yang
melingkari pergelangan tangan kirinya. Semoga saja ini tidak memakan waktu lama. Ia
tidak ingin sampai terlambat menghadiri perayaan itu dan memberikan kesan buruk.
“Apakah saya sedang berbicara dengan Takemiya Shinzo?” tanya suara seorang
pria di ujung sana. Nada suaranya resmi dan kaku.
Kening Takemiya Shinzo berkerut samar. “Benar. Saya sendiri.”
“Takemiya Shinzo-san,” lanjut pria di ujung sana, “kami dari kepolisian.”
Kerutan di kening Takemiya Shinzo bertambah. Kepolisian?
“Maaf, ada masalah apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?” Ia mendengarkan
sejenak, lalu mengangguk dan berkata, “Benar, itu mobil saya. Saat ini keponakan saya
yang memakai mobil itu.” Jeda sesaat sementara Takemiya Shinzo mendengarkan katakata
polisi itu. Tiba-tiba rahangnya menegang dan wajahnya memucat. Ia
mencengkeram gagang telepon lebih erat dan suaranya terdengar tegang ketika ia
berkata, “Anda serius?... Seberapa parah keadaannya?... Saya segera ke sana.”
Dua Belas
“KAU masih belum mendapat kabar darinya?” tanya Haruka di ujung sana.
“Belum,” sahut Keiko dengan nada cemas. Ia memindahkan ponsel dari telinga kiri
ke telinga kanan. “Kalau Oneesan? Oneesan sempat bertemu dengannya sebelum
Oneesan berangkat ke Yokohama?”
“Tidak, aku tidak bertemu dengannya,” sahut Haruka. “Tunggu sebentar, biar
kutanyakan pada Tomoyuki.” Haruka menjauh dari telepon dan berseru memanggil
adiknya. “Tomoyuki, apakah kau bertemu dengan Kazuto-san sebelum kita datang ke
sini?”
Keiko bisa mendengar suara Tomoyuki di latar belakang, tetapi tidak bisa
menangkap kata-katanya.
“Tomoyuki juga tidak bertemu dengannya,” kata Haruka kepada Keiko.
Keiko menunduk menatap jari kakinya. “Oh, begitu.”
“Kau mengkhawatirkannya?” tanya Haruka tiba-tiba.
Keiko menarik napas dan mengeluarkannya dengan perlahan. “Dia berjanji
meneleponku begitu aku tiba di Kyoto Hari Natal lalu,” sahut Keiko. Suaranya
terdengar agak frustrasi. “Sekarang sudah lewat seminggu, Oneesan, dan dia masih
belum meneleponku. Aku juga tidak bisa menghubungi ponselnya. Aku bahkan
menelepon Nenek Osawa untuk bertanya mengenai Kazuto-san.”
“Lalu apa kata Nenek?”
“Nenek sama sekali tidak bertemu dengannya lagi sejak Hari Natal, ketika Kazutosan
mengantarku ke stasiun.” Keiko menelan ludah, dan berkata dengan suara lirih,
“Oneesan, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
“Jangan berpikir sembarangan,” kata Haruka dengan nada riang, berusaha
menenangkan Keiko. “Aku yakin dia hanya sedang pergi berlibur ke suatu tempat.
Mungkin pergi bermain ski. Sekarang ini musim liburan, kau tahu? Sudah tentu
Kazuto-san ingin bersenang-senang. Malah, dia mungkin terlalu bersenang-senang
sampai sudah lupa padamu.”
Setelah apa yang dikatakannya pada Keiko di stasiun waktu itu? Keiko
memaksakan tawa kecil. “Ya, mungkin juga.”
“Tenang saja,” kata Haruka lagi. “Katanya dia akan menjemputmu di stasiun besok,
bukan?”
“Memang,” gumam Keiko. “Kapan Oneesan pulang ke Tokyo?”
“Lusa,” sahut Haruka. “Keiko, kau tidak perlu terlalu cemas.”
“Hmm.”
“Kau terdengar seperti istri muda cemas setengah mati karena suaminya belum
pulang dari kantor.”
“Aku tidak begitu.”
“Ngomong-ngomong, kau belum bercerita padaku tentang kencan kalian malam
Natal waktu itu. Nah, mulailah bercerita.”
Setengah jam kemudian Keiko menutup ponsel dan kembali melamun. Ia tidak
menyadari ibunya masuk ke kamarnya dengan membawa sepiring apel yang sudah
dipotong.
“Kenapa melamun lagi?” tanya ibunya dalam bahasa Indonesia.
Keiko tersentak dan menoleh. “Oh, Mama. Nggak kenapa-napa.” Ia juga berbicara
dalam bahasa Indonesia, seperti yang selalu dilakukannya dengan ibunya.
Ibunya meletakkan piring buah di meja di hadapan Keiko dan duduk di ujung
tempat tidur. “Temanmu belum menelepon?”
Keiko menatap ibunya dengan alis terangkat. “Kenapa Mama pikir Keiko sedang
menunggu telepon?”
Ibunya balas menatap sambil tersenyum. “Kamu anak Mama. Sudah pasti Mama
tahu apa yang sedang kamu pikirkan,” kata ibunya.
Keiko tertawa pelan. Ibunya memang serbatahu, selalu begitu. Ia tidak pernah bisa
menyembunyikan apa pun dari mata ibunya yang tajam.
“Jadi,” lanjut ibunya. “Laki-laki itu belum menelepon?”
Keiko kembali menatap ibunya dengan kaget. Baiklah, ia tidak akan bertanya
bagaimana ibunya bisa tahu ia sedang menunggu telepon dari seorang laki-laki. “Dia
hanya... tetangga, Ma,” kata Keiko pelan.
Ibunya mengangkat alis. “Mama nggak bilang apa-apa,” kata ibu Keiko lembut.
“Tetangga atau bukan, teman atau bukan, Mama sama sekali nggak tahu. Tapi Mama
tahu anak Mama selalu memikirkan orang ini.”
Keiko menunduk. Ia menghela napas dalam-dalam. “Dia belum menelepon,”
katanya. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap ibunya. “Kedengarannya memang
konyol, tapi Keiko khawatir. Keiko sendiri nggak tahu kenapa Keiko bisa merasa
seperti ini. Seperti kata Haruka Oneesan, mungkin saja dia sedang pergi berlibur ke
tempat lain. Pergi main ski. Pada musim dingin seperti memang nggak aneh kan kalau
pergi main ski?”
Ibunya mengangkat bahu. “Mungkin saja.”
Mata Keiko menyipit menatap piring buahnya. Ia terdiam sejenak, lalu
mendecakkan lidah dengan kesal. “Dasar orang bodoh itu! Kenapa ibkin orang gelisah
seperti ini? Merusak liburan orang saja.” Ia meraih garpu dan menusuk sepotong apel
dengan ganas. “Lihat saja besok. Kalau Keiko bertemu dengannya besok, dia pasti...
Urgh! Bikin kesal!”
* * *
Takemiya Shinzo berdiri diam menatap keponakannya yang terbaring tak sadarkan diri
di ranjang rumah sakit. Kazuto sudah berbaring seperti itu selama seminggu, tidak
bergerak dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar. Takemiya Shinzo
masih ingat hari ketika polisi meneleponnya dan mengatakan mobilnya ditemukan di
salah satu jalan sempit. Mereka juga berkata seorang pemuda ditemukan tidak jauh
dari mobil dalam keadaan pingsan, tergeletak di tanah dengan darah mengucur dari
kepala. Takemiya Shinzo ingat bagaimana perasaannya melihat pemuda yang
dimaksud adalah keponakannya sendiri.
Yang paling sulit adalah menelepon orangtua Kazuto dan menjelaskan apa yang
terjadi, karena Takemiya Shinzo sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Polisi
menduga Kazuto dirampok, tetapi kenapa perampok itu tidak mengambil dompet dan
mobilnya? Tidak masuk akal. Sampai sekarang pihak kepolisian belum menemukan
petunjuk apa pun yang bisa menjelaskan semua ini.
Mendengar putra bungsunya mengalami kecelakaan, Nishimura Ryoko langsung
terbang ke Tokyo. Ia kini duduk di kursi yang ditempatkan di samping ranjang
putranya, menggenggam tangan Kazuto dan meremasnya, berharap anak malang itu
segara membuka mata.
“Bagaimana keadaannya hari ini?” Takemiya Shinzo memecah keheningan di
kamar itu dan menatap dokter yang baru selesai memeriksa Kazuto.
Kitano Akira menegakkan tubuh dan menatap paman dan ibu Kazuto bergantian.
“Masih tetap sama,” katanya pelan. “Jangan khawatir. Semua organ vitalnya berfungsi
dengan baik. Keadaannya stabil.”
“Lalu kenapa dia masih belum sadar?” tanya Nishimura Ryoko cemas. “Kapan dia
akan sadar?”
Akira menatap Kazuto yang terbaring diam dengan mata terpejam. “Kami juga
tidak tahu,” akunya. “Tapi kalau melihat keadaannya sekarang, kami berharap dia
akan segera sadar dalam beberapa hari ini. Bibi jangan terlalu cemas. Kazuto pasti akan
sadar.”
Nishimura Ryoko menyunggingkan seulas senyum lemah. “Terima kasih banyak,
Akira. Bibi senang kau ada di sini untuk membantu Kazuto.”
Kitano Akira tersenyum. “Dia teman baikku sejak kecil,” katanya. “Tentu saja aku
akan melakukan apa pun untuk membantunya.”
Setelah Kitano Akira keluar dari kamar, Nishimura Ryoko berkata kepada adiknya,
“Tadi kakak iparmu menelepon. Katanya dia akan datang ke sini kalau Kazuto masih
belum sadarkan diri dalam beberapa hari ini.”
Takemiya Shinzo tersenyum kecil. “Kurasa dia pasti ingin membawa Kazuto
pulang ke New York.”
Nishimura Ryoko mendecakkan lidah dengan pelan. “Bagaimana kita bisa
membawanya ke New York dalam keadaan seperti ini?” Ia meremas tangan anaknya
lagi dan mendesah. “Aku berharap dia segera sadar dan menceritakan pada kita paa
yang sebenarnya terjadi hari itu.”
* * *
Kepala Keiko berputar ke kanan dan ke kiri. Matanya mencari-cari di antara
kerumunan orang yang berlalu-lalang di stasiun. Tidak terlihat. Ia tidak melihat
Nishimura Kazuto di mana-mana. Laki-laki itu tidak datang menjemputnya. Keiko
tidak tahu apakah ia harus merasa cemas atau kesal. Mungkinkah Kazuto terlambat?
Sebaiknya ia duduk dan menunggu sebentar. Mungkin Kazuto terjebak kemacetan.
Setengah jam kemudian masih belum terlihat batang hidung Kazuto. Keiko
mengeluarkan ponsel dan memencet beberapa tombol. Ia menempelkan ponsel ke
telinga dan menunggu sejenak. Tidak. Tetap tidak bisa tersambung. Ponsel Kazuto
tidak aktif. Keiko menggigit bibir dan kembali memandang berkeliling. Ia akan
menunggu sebentar lagi.
Setengah jam lagi berlalu. Keiko menunduk menatap ujung sepatu botnya. Kazuto
belum muncul dan kemungkinan besar tidak akan muncul. Sebaiknya ia pulang
sekarang. Kalau ternyata nanti Keiko menemukan Kazuto di apartemennya, lupa
bahwa ia harus menjemput Keiko hari ini, lihat saja apa akibatnya. Keiko mendengus
dan keluar dari stasiun sambil menjinjing tasnya.
* * *
“Kakek benar-benar belum bertemu dengannya?” tanya Keiko agak kalut. Tadi ia
sudah mengetuk pintu apartemen Kazuto. Karena tidak mendapatkan jawaban, ia turut
ke apartemen Kakek dan Nenek Osawa untuk bertanya.
Kakek Osawa berpikir-pikir. “Ya,” sahutnya yakin. “Aku sama sekali belum
melihatnya sejak Hari Natal itu. Hari itu dia mengantarmu ke stasiun, bukan? Aku
ingat dia mengucapkan selamat Hari Natal kepadaku. Setelah itu aku sama sekali tidak
melihatnya.” Kakek Osawa terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Benar juga. Sepertinya
dia juga tidak pulang sejak hari itu.”
“Tidak pulang?” gumam Keiko pelan.
“Sepertinya begitu,” sahut Kakek Osawa, “karena aku tidak mendengar suaranya.”
Melihat raut wajah Keiko yang cemas, Kakek Osawa cepat-cepat menambahkan,
“Tentu saja aku mungkin salah. Mungkin aku tidak mendengar ketika dia pulang dan
naik ke apartemennya.”
Keiko mengangguk sambil lalu.
“Kenapa, Keiko? Ada masalah?”
“Apa?” Keiko buru-buru menggeleng. “Tidak, tidak apa-apa. Aku yakin aku terlalu
berlebihan. Terima kasih, Kakek.”
Ia tidak mungkin menjelaskan firasat yang dirasakannya kepada Kakek Osawa.
Pasti akan terdengar konyol. Semua orang tahu pikirannya memang suka melantur ke
mana-mana dan tidak ada yang akan mengerti perasaan buruk yang menggerogotinya
saat ini. Tetapi apa lagi yang bisa dilakukannya? Ia tidak tahu di mana Kazuto berada.
Tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Laki-laki itu memang sudah pernah
menghilang tanpa kabar seperti ini, seperti ketika ia pergi mengunjungi kakeknya di
Kobe tanpa berkata apa-apa. Mungkin kali ini juga sama. Ya, benar. Tidak lama lagi
Kazuto pasti akan muncul di depan pintu apartemen Keiko. Dia akan berdiri di depan
Keiko dengan senyum lebarnya yang cerah dan tak berdosa itu, lalu mengejek Keiko
karena sudah merasa cemas setengah mati.
Ya. Ya, pasti begitu, pikir Keiko meyakinkan diri sendiri. Nishimura Kazuto akan
segera muncul di hadapannya.
* * *
Pagi itu Takemiya Shinzo memutuskan untuk mampir ke rumah sakit sebelum pergi ke
kantor. Ia mendapati kakak perempuannya sedang mengelap wajah dan tangan Kazuto
dengan handuk basah. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya.
“Seperti yang kaulihat. Setidaknya dia tidak bertambah parah,” sahut Nishimura
Ryoko sambil tersenyum lemah. Ia menoleh ke arah adiknya. “Bisa tolong jaga dia
sebentar? Aku ingin pergi mengambil air panas.”
“Biar aku saja mengambilnya,” Takemiya Shinzo menawarkan diri. “Oneechan di
sini saja.”
Sepeninggal adiknya, Nishimura Ryoko menatap anaknya yang terbaring di
tempat tidur dengan sedih. Ia menghela napas panjang dan melanjutkan pekerjaannya
mengelap tangan Kazuto. Tiba-tiba tangan Kazuto yang berada dalam genggamannya
bergerak. Nishimura Ryoko tersentak dan menatap wajah Kazuto. Ia tidak bermimpi.
Tangan Kazuto memang bergerak tadi. Ia tidak bermimpi. Lalu ia melihat mata Kazuto
bergerak pelan. Tidak salah lagi. Ia pun membelalak dan melompat berdiri.
“Kazuto?” bisiknya pelan di dekat wajah Kazuto. “Ini Ibu. Bukalah matamu.”
Perlahan-lahan kelopak mata Kazuto terbuka. Lalu terpejam sesaat, dan terbuka
lagi. Sejenak matanya menatap kosong, lalu bergerak ke wajah ibunya.
“Kazuto, kau sudah sadar?” tanya Nishimura Ryoko sambil membelai rambut
anaknya dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.”
“Oneechan?”
Nishimura Ryoko berbalik menatap Takemiya Shinzo yang ternyata sudah kembali
ke kamar dengan membawa termos berisi air panas. “Dia sudah sadar, Shinzo. Dia
sudah sadar,” serunya dengan suara tercekat.
Mereka berdiri di kedua sisi ranjang Kazuto, menatapnya dengan mata melebar
gembira. Kazuto berkerut samar, perlahan-lahan mengangkat tangan ke kepala, tetapi
segera dihentikan ibunya.
“Jangan sentuh kepalamu dulu,” kata ibunya lembut. “Kepalamu terluka.”
“Sakit sekali,” bisik Kazuto serak. Tetapi ia menjatuhkan tangannya kembali ke sisi
tubuhnya karena ia merasa sangat lemah. “Di mana aku?”
“Di rumah sakit,” jawab ibunya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Apa yang terjadi?” tanya Kazuto sambil memejamkan mata sesaat.
“Justru itu yang ingin kami tanyakan padamu,” sela Takemiya Shinzo.
Kazuto membuka mata dan menoleh ke arah pamannya, keningnya berkerut dan ia
terlihat heran. “Paman?”
“Ya?”
“Sedang apa Paman di sini?”
Takemiya Shinzo tertawa. “Sedang apa? Tentu saja karena kau dirawat di sini. Aku
datang menjengukmu.”
“Kapan Paman tiba di sini?”
“Baru saja.”
“Paman baru tiba di New York?”
“New York?” Takemiya Shinzo benar-benar bingung sekarang. Apa yang sedang
diocehkan keponakannya ini? “Ini Tokyo, kau tahu?”
“Tokyo?”
Nishimura Ryoko membelai kepala Kazuto. “Kazuto, Ibu yang datang ke sini, ke
Tokyo, setelah mendengar kalau kau masuk rumah sakit.”
“Aku ada di Tokyo?” tanya Kazuto heran.
“Ya,” jawab Nishimura Ryoko tegas, walaupun raut wajahnya kini berubah
waswas.
Kazuto terpekur, lalu menatap ibu dan pamannya bergantian. Dengan suara lirih
dan bingung, ia bertanya, “Sejak kapan aku datang ke Tokyo?”
Nishimura Ryoko menegakkan tubuh dan berkata pelan, “Shinzo, panggilkan
dokter.”
Tiga Belas
MENURUT Paman aku sudah tinggal di Tokyo selama satu bulan terakhir, pikir
Kazuto sambil mengenakan jaket. Tetapi ia tidak ingat apa-apa. Hal terakhir yang
diingatnya adalah ia masih berada di apartemennya di New York, galau karena
mendengar berita pernikahan Yuri, berpikir sebaiknya ia pergi dari New York untuk
sementara waktu. Hanya sampai di situ ingatannya.
Tetapi Kazuto merasa sepertinya ia punya alasan bagus kenapa selama ini ia
tinggal di Tokyo. Pasti ada alasannya. Mungkin alasan awalnya adalah untuk
menghindari Yuri juga menjernihkan pikiran, tapi pamannya berkata Kazuto pernah
menyebut-nyebut soal menetap dan bekerja di Tokyo, bahkan katanya ia berencana
mengadakan pameran hasil karyanya. Benarkah?
Kazuto menghela napas pelan dan memejamkan mata. Kepalanya selalu bertambah
sakit setiap kali ia mencoba mengingat-ingat. Ia membuka mata dan mengamati
bayangannya di cermin. Sudah hampir seminggu ia dirawat di rumah sakit ini. Kini ia
terlihat sehat. Kata dokter luka-luka di tubuhnya akan segera sembuh.
Kazuto melirik meja kecil di samping tempat tidur. Kameranya terletak di sana, di
samping serenceng kunci. Pamannya menemukan kedua benda itu di dalam mobil
yang dipinjam Kazuto pada saat terjadinya kecelakaan. Kazuto mengenali kameranya,
tetapi tidak tahu-menahu soal kunci itu.
“Aku yakin kamera ini milikmu,” kata pamannya dua hari yang lalu, ketika ia
menyerahkan kamera, kunci, dan bungkusan itu kepada Kazuto. “Kalau soal kunci, aku
tidak yakin.”
“Kelihatannya seperti kunci pintu rumah,” gumam Kazuto sambil memerhatikannya.
Takemiya Shinzo mengangkat bahu. “Jangan bertanya padaku. Kau sama sekali
tidak pernah memberitahuku di mana kau tinggal, jadi aku tidak tahu apa-apa.”
Pamannya tidak bisa membantu dan saat ini Kazuto sama sekali tidak yakin pada
apa pun. Ia merasa seperti orang tolol gara-gara amnesia ini. Kata dokter ia menderita
amnesia parsial atau amnesia sebagian. Tapi, karena luka-luka di kepalanya ternyata
tidak terlalu berbahaya, dokter meyakinkan bahwa ingatannya akan kembali cepat atau
lambat. Hanya saja ia tidak bisa mengingat kejadian selama satu bulan terakhir ini.
Kenapa begitu?
Kazuto kembali menatap bayangannya yang pucat di cermin. Bagaimana kalau ia
mencoba memukul kepalanya sendiri? Mungkin ingatannya bisa kembali. Ia bisa
mencoba membenturkan kepalanya ke dinding...
Terdengar ketukan di pintu kamar rawatnya. Kazuto menoleh tepat pada saat
pintu terbuka dan Kitano Akira melangkah masuk. Hari ini ia berpakaian santai, tanpa
jas lab putih dan tanpa stetoskop yang tergantung di leher. Dan ia tersenyum begitu
melihat Kazuto.
“Kudengar kau diizinkan pulang hari ini,” sapa Akira. “Bagaimana perasaanmu?”
Akira adalah salah satu pengunjung setianya, selain paman dan ibunya sendiri.
Kazuto memang mengenal Akira, tetapi ingatannya hanya terbatas pada saat mereka
masih kecil. Kazuto berharap Akira bisa memberikan lebih banyak keterangan daripada
Takemiya Shinzo tentang keberadaannya di tokyo, tetapi sayangnya Akira tidak bisa
membantu banyak. Menurut Akira, mereka memang kadang-kadang bertemu dan
berhubungan melalui telepon sejak Kazuto tiba di Tokyo bulan lalu, tetapi mereka
belum sempat berbicara banyak tentang masalah pribadi. Dan Akira juga tidak tahu di
mana Kazuto tinggal.
“Aku merasa seperti orang bodoh,” gumam Kazuto sambil tersenyum masam.
Akira menatapnya dengan prihatin. “Jangan terlalu dipaksakan, Kazuto. Pelanpelan
ingatanmu pasti kembali.”
“Semoga saja begitu,” gumam Kazuto.
“Apa rencanamu sekarang?”
Kazuto kembali menatap bayangannya di cermin dan menggeleng. “Entahlah.
Kurasa aku akan tinggal di sini untuk sementara. Melihat apakah aku bisa sedikit
mengingat apa yang sebenarnya kurencanakan di sini,” katanya, lalu mengangkat bahu.
“Ayahku ingin aku kembali ke New York, tapi aku belum berpikir sejauh itu.”
Kembali ke New York sekarang sepertinya bukan keputusan yang tepat, pikir
Kazuto. Ia menjauh dari New York dengan satu alasan. Mungkin selama ia tinggal di
Tokyo ia sudah berhasil tidak terlalu memikirkan Yuri. Mungkin saja, Kazuto hanya
berharap itu benar. Tetapi sekarang setelah ia kehilangan ingatannya selama sebulan
terakhir, segalanya kembali seperti dulu.
Ia kembali teringat pada uri. Wanita itu akan menikah dengan sahabat baik Kazuto.
Kazuto ingat saat Yuri memberitahunya dengan gembira bahwa ia akan menikah.
Apakah wanita itu tidak bisa melihat Kazuto begitu tercengang sampai tidak bisa
berkata-kata? apakah ia tidak bisa melihat jantung Kazuto seakan berhenti berdetak
begitu mendengar berita itu? Apakah ia tidak bisa melihat selama ini Kazuto sangat
menyukainya? Bahwa ia sangat berarti bagi Kazuto?
Kazuto bertanya-tanya kenapa benturan di kepalanya itu tidak membuatnya
melupakan Yuri? Bukankah itu lebih baik? Dengan begitu ia tidak akan pernah ingat
betapa ia menyukai wanita itu.
“Ngomong-ngomong, apakah kau masih tertarik menghadiri reuni pada tanggal
sepuluh nanti?” tanya Akira, membuyarkan lamunan Kazuto. “Bertemu teman-teman
lama mungkin bisa sedikit menghibur.”
Kazuto mengangguk-angguk, lalu tersenyum. “Kurasa kau benar,” katanya. “Aku
akan meneleponmu lagi nanti soal itu.”
“Oh ya, tadi kulihat ibumu sedang berbicara dengan dokter. Kurasa sebentar lagi
selesai,” kata Akira. “Kalian akan pulang naik apa? Aku bisa mengantar kalian pulang.
Shift-ku sudah selesai hari ini.”
“Terima kasih, tapi Paman Shinzo akan datang menjemput.”
Saat itu telepon Akira berbunyi. “Sebentar ya?” katanya pada Kazuto. Ia merogoh
saku celana panjangnya dan mengeluarkan ponsel.
Kazuto bergerak ke meja kecil di samping tempat tidur untuk melanjutkan
tugasnya mengemasi barang. Ia senang karena akhirnya ia terbebas dari rumah sakit
yang menyesakkan ini. Ia tidak tahan dengan bau obat yang tercium di seluruh penjuru
rumah sakit. Pendek kata, ia benci rumah sakit.
“Oh, Keiko-san.”
Keiko-san? Kazuto tersentak dan kepalanya berputar kembali ke wajah Akira yang
berseri-seri.
Akira terus berbicara di ponsel dengan senyum lebar. “Ya, aku memang
meneleponmu tadi, tapi kurasa kau pasti sedang sibuk... Tidak, tidak apa-apa... Kalau
kau ada waktu, bagaimana kalau kutraktir makan siang?”
Sepertinya telepon dari pacarnya, pikir Kazuto. Keningnya berkerut samar,
berusaha mengingat. Sebelum ingatannya hilang, apakah ia sudah tahu Akira punya
pacar? Apakah ia pernah melihat pacar Akira itu?
Kazuto menghela napas panjang. Lihat sisi positifnya saja. Bagaimanapun juga, ia
masih ingat namanya sendiri, orangtuanya, dan seluruh kejadian hidupnya sampai satu
bulan lalu. Ia hanya tidak bisa mengingat kejadian selama satu bulan terakhir ini.
Hanya satu bulan. Dan ia yakin tidak ada hal penting yang perlu diingat.
* * *
“Keracunan makanan,” gerutu Haruka sambil melirik adiknya yang bertampang pucat.
“Kau pasti makan sembarangan selama di Yokohama.”
Tomoyuki menggeleng lesu dan berjalan dengan langkah diseret-seret di sebelah
Haruka. “Tidak makan apa-apa,” gumamnya. “Hanya jajan sedikit... di sana-sini.”
Haruka menggandeng lengan adiknya karena sepertinya Tomoyuki tidak bisa
berjalan tegak dan lurus tanpa dibantu. Ia merapatkan jaket dan syal Tomoyuki ketika
mereka keluar dari gedung rumah sakit. Rupanya sedang hujan. Tomoyuki menggigil.
Haruka menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu berkata kepada Tomoyuki, “Kau
tunggu di sini dulu sebentar. Aku akan memanggil taksi.”
Tomoyuki mengangguk lemah. Ia sangat ingin berbaring saat ini. Perutnya sakit,
dadanya sesak, kepalanya berat, dan lidahnya terasa pahit. Ia membenamkan mulut
dan hidungnya di balik syal di sekeliling lehernya dan menggigil lagi.
“Kau pusing?” Tomoyuki mendengar suara wanita di belakangnya. Ia menoleh dan
melihat seorang wanita setengah baya sedang berbicara kepada laki-laki yang berdiri di
sampingnya. Tomoyuki tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena mereka
berdiri menyamping. Tomoyuki baru akan memalingkan wajah ketika laki-laki itu
mengangkat wajah dan membuat Tomoyuki tersentak kaget. Itu...?
“Aku baik-baik saja,” sahut laki-laki itu sambil tersenyum. Ia menoleh ke arah
Tomoyuki. Sesaat pandangan mereka bertemu, lalu ia menatap melewati bahu
Tomoyuki dan berkata, “Itu mobil Paman. Ayo, kita ke sana.”
Tomoyuki tetap mengamati kedua orang itu dengan kening berkerut bingung dan
mulut melongo sementara mereka berjalan melewatinya, menuju mobil sedan berwarna
biru yang berhenti tidak terlalu jauh dari pintu rumah sakit
Wajah itu... Suara itu... Tidak salah lagi, pikir Tomoyuki dalam hati. Itu Nishimura
Kazuto! Tetapi kenapa Kazuto tidak menyapanya? Apakah Kazuto tidak melihatnya
tadi? Tidak, Tomoyuki yakin Kazuto melihatnya. Mereka sempat bertatapan. Lalu
kenapa Kazuto diam saja seperti tidak mengenalnya? Lalu...
“Kau sedang melihat apa?” Terdengar suara Haruka memanggilnya. “Aku sudah
memanggil taksi. Ayo, naik.”
Tomoyuki menoleh ke arah kakakny adan berjalan pelan ke arah taksi yang sudah
menunggu mereka. “Kazuto Oniisan,” gumamnya ketika ia sudah masuk taksi.
Haruka menyebut alamat mereka kepada sopir taksi dan menoleh ke arah adiknya.
“Kazuto-san?” ulangnya. “Apa maksudmu?”
“Aku tadi melihatnya,” kata Tomoyuki tegas. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan
dengan nada ragu, “Tapi sepertinya dia tidak mengenaliku.”
“Kau yakin?”
Tomoyuki mengerutkan kening. Perutnya yang sakit terlupakan sudah. Kepalanya
juga tidak sakit lagi karena sibuk berpikir. “Ternyata selama ini dia ada di Tokyo?”
gumamnya pada diri sendiri. “Kenapa dia tidak menghubungi kita? Terutama Keiko
Oneesan. Dan siapa wanita yang bersamanya itu?”
“Wanita yang mana?”
Tomoyuki tidak menjawab. “Kenapa dia tidak menyapaku tadi?”
“Kau sendiri kenapa tidak memanggilnya dan bertanya sendiri padanya?”
Tomoyuki berpaling ke arah kakaknya. “Karena aku sedang lemas. Kepalaku sakit
dan otakku tidak bekerja secepat biasanya.”
Haruka mengangkat sebelah alisnya dan menatap adiknya dari kepala sampai ke
kaki. “Lemas? Sakit kepala?” Ia mengetuk pelan kepala Tomoyuki. “Kalau begitu
kenapa sekarang kau bisa berceloteh panjang-lebar?”
Tomoyuki mengelus kepalanya yang bertopi. “Oneechan, apakah kita harus
memberitahu Keiko Oneesan?”
Haruka menghela napas dan berkacak pinggang. “Memangnya kau mau bilang apa
pada Keiko?” ia balas bertanya. “Kau mau bilang bahwa kau—dengan kepalamu yang
sedang sakit, matamu yang hampir terpejam, dan otakmu yang sedang berkabut itu—
melihat Kazuto-san bersama seorang wanita muda...”
“Tidak muda. Sepertinya sudah ibu-ibu,” sela Tomoyuki.
“...di depan pintu rumah sakit, tapi dia tidak menyapamu dan—mengutip katakatamu
sendiri—sepertinya dia tidak mengenalimu.” Haruka berhenti untuk menarik
napas, lalu melanjutkan, “Jadi apa artinya itu?”
“Apa artinya?”
“Kau salah lihat,” seru Haruka samibl memukul pelan kepala adiknya lagi.
“Oneechan, kenapa memukul orang yang sedang sakit?” protes Tomoyuki.
“Kau yakin itu Kazuto-san?” tanya Haruka.
“Yah...”
“Seratus per—ah, tidak, seribu persen yakin?”
“Lumayan... cukup yakin... kurasa.” Tomoyuki tertegun, lalu menatap kakaknya.
“Atau mungkin aku salah ya?”
Haruka mendesah. “Sebaiknya kau tidak mengatakan apa-apa pada Keiko.
Walaupun dia tidak menunjukkannya, aku tahu sekarang dia sedang khawatir karena
Kazuto-san belum menghubunginya. Kalau kau tidak yakin orang yang kaulihat tadi
itu Kazuto-san, sebaiknya jangan membuat Keiko berharap terlalu banyak.”
Tomoyuki menggigit bibir dan memutar otak, lalu tiba-tiba ia berkata, “Oneechan,
apakah mungkin Kazuto Oniisan sengaja memutuskan hubungan dengan Keiko
Oneesan?”
“Apa?”
“Laki-laki sering melakukannya, bukan? Kalau laki-laki sudah tidak suka pada
seorang wanita, laki-laki itu tidak akan menemuinya lagi, tidak akan menghubunginya
lagi.” Tomoyuki menatap kakaknya dengan serius. “Melarikan diri.”
Tangan Haruka sudah terangkat ke kepala adiknya, tetapi kemudian berhenti. Ia
menurunkan tangannya kembali dan memiringkan kepala. “Aku tidak suka
mengakuinya,” kata Haruka dengan mata disipitkan, “tapi apa yang kaukatakan tadi
itu mungkin saja terjadi. Keiko tidak pernah memikirkan kemungkinan itu, bukan?”
* * *
“Keiko-san... Keiko-san...”
Keiko tersentak dan mengangkat wajah. Kitano Akria menatapnya dari seberang
meja sambil tersenyum. “Ya?” tanya Keiko sambil mengerjapkan mata. Apakah Kitano
Akira sudah memanggilnya sejak tadi dan ia tidak mendengar?
“Akhir-akhir ini kulihat kau sering sekali melamun. Dan tidak bersemangat,”
gumam Kitano Akira dengan raut wajah cemas. “Kau sakit?”
Keiko memaksakan seulas senyum lebar dan menggeleng. “Aku baik-baik saja,
Sensei. Aku sehat.”
Walaupun ia tersenyum lebar dan berpura-pura menyeruput jus apelnya dengan
gembira, kenyataannya adalah Keiko sangat resah. Kazuto sudah menghilang hampir
dua minggu, kalau dihitung dari Hari Natal. Tadinya Keiko sudah ingin melapor ke
polisi, tetaip dicegah oleh Haruka dan juga Kakek Osawa.
“Sensei.” Keiko ragu sejenak. Ia menatap Kitano Akira, lalu setelah berpikir-pikir,
ia memulai, “Kalau tetanggamu tidak pulang selama hampir dua minggu, apa yang
akan kaulakukan?”Alis Kitano Akira terangkat. “Tetanggaku?” tanyanya heran.
“Kenapa?”
“Apakah Sensei akan melapor kepada polisi?”
“Maksudmu, seandainya tetanggaku adalah anak di bawah umur?”
Keiko menggeleng. “Orang dewasa.”
Kitano Akira mengibaskan tangannya. “Kalau begitu aku tidak akan mencampuri
urusan pribadinya. Bagaimanapun juga dia mempunyai kehidupan sendiri. Dia berhak
pergi ke mana saja sesuka hatinya. Mau pulang atau tidak, aku tidak mungkin ikut
campur, apalagi sampai melapor pada polisi.”
“Kau tidak berpikir mungkin sesuatu terjadi padanya?” desak Keiko. “Misalnya
saja... dia mengalami... kecelakaan?”
“Seandainya pun terjadi sesuatu, yang pertama kali dihubungi sudah pasti adalah
keluarganya,” sahut Kitano Akira tegas. Ia menatap Keiko dengan penasaran. “Kenapa
tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Tidak apa-apa,” sahut Keiko cepat. Ia menggeleng dan tersenyum lebar. “Sekadar
bertanya.”
Saat itu makanan pesanan mereka tiba. Setelah mengucapkan terima kasih pada
pelayan yang mengantarkan makanan itu, Kitano Akira kembali berkata, “Ngomongngomong
soal kecelakaan, seorang temanku baru saja mengalami kecelakaan yang
buruk.”
“Oh, ya?”
“Tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mereka
menemukannya dalam keadaan pingsan dan terluka di jalan sepi. Kepalanya terbentur
keras dan sekarang sebagian ingatannya hilang.”
“Oh...” Berbagai pikiran buruk mulai melintas di benak Keiko. Ia membayangkan
teman yang diceritakan Kitano Akira itu adalah Kazuto. Ia membayangkan Kazuto
terbaring pingsan dan terluka di jalan sepi... Astaga! Tidak, itu tidak mungkin terjadi.
“Bagaimana keadaan temanmu itu sekarang?” tanyanya dengan nada prihatin.
“Kebingungan,” sahut Kitano Akira dengan nada serius. “Dan rasa sakit di
kepalanya akan terus mengganggunya selama beberapa waktu. Tapi kurasa dia baikbaik
saja. Setidaknya dia masih mengingat keluarganya.”
Keiko hanya mengangguk tanpa benar-benar memerhatikan kata-kata Akira. Suatu
kemungkinan baru telrintas dalam benaknya. Ia sudah memikirkan berbagai
kemungkinan buruk sehubungan dengan menghilangnya Kazuto, tetapi ia tidak
pernah berpikir bahwa Kazuto mungkin saja mengalami kecelakaan yang bisa
membuatnya hilang ingatan. Bagaimana kalau itu yang terjadi? Bagaimana kalau
Kazuto terbangun dan sama sekali tidak tahu siapa dirinya sendiri? Tidak tahu siapa
yang harus dihubungi dan siap ayang harus dimintai tolong?
Bunyi denting keras menyentakkan Keiko dari lamunannya. Ia mengerjapkan mata
dan mendapati sendoknya terlepas dari pegangan dan jatuh mengenai piringnya lalu
jatuh ke lantai. “Maafkan aku,” gumamnya cepat. “Maaf... Maaf...”
“Tidak apa-apa,” sahut Kitano Akira menenangkannya, lalu meminta pelayan
mengambil sendok lain.
Keiko menarik napas untuk menenangkan diri. “Maaf,” gumamnya sekali lagi.
Kitano Akira tersenyum padanya. “Keiko-san, apakah kau sibuk tanggal sepuluh
nanti?”
“Tanggal sepuluh?” Keiko mengerjapkan mata. “Memangnya kenapa?”
“Aku harus menghadiri reuni SMP-ku,” sahut Kitano Akira agak malu. “Kalau kau
tidak punya acara, aku ingin kau menemaniku ke sana.”
Keiko tertegun.
Aku ingin kau menemaniku ke suatu acara tanggal sepuluh Januari nanti.
Acara apa?
Reuni SMP-ku.
Tidak masalah.
Kau tidak akan membuat janji lain pada hari itu?
Tidak akan.
Walaupun si dokter cinta mengajakmu keluar?
Keiko menunduk menatap makanannya. Kazuto pernah mengajaknya menghadiri
suatu acara reuni. Sekarang Kitano Akira juga mengajaknya ke acara reuni. Apakah
reuni yang dimaksud kedua orang itu sama?
“Bagaimana Keiko-san?” tanya Kitano Akira. “Kau bisa ikut denganku?”
Keiko menatap laki-laki di hadapannya dengan ragu. Ia sudah berjanji akan pergi
dengan Kazuto, jadi ia tidak bisa menerima ajakan Kitano Akira. Tetapi masalahnya
adalah sekarang ini Kazuto entah ada di mana. Dan Keiko tidak tahu apakah Kazuto
akan muncul untuk menagih janji Keiko pada tanggal sepuluh nanti.
Di lain pihak, kalau Kazuto belum muncul juga sampai hari itu, Keiko ingin
memastikan apakah ia bisa bertemu dengan Kazuto di acara reuni itu. Siapa tahu lakilaki
itu akan muncul di sana. Itu juga kalau reuni yang disebut-sebut kedua orang itu
adalah reuni yang sama. Siapa tahu...
“Sensei,” kata Keiko ragu sementara otaknya berputar mencari alasan, “sebenarnya
aku sudah berjanji pada seorang temanku untuk menemaninya ke... ke... pesta ulang
tahun laki-laki yang disukainya.” Ia berdeham. Alasan yang payah, tetaip hanya itu
yang sempat terpikirkan dalam waktu singkat. “Tapi aku sendiri tidak tahu pasti kapan.
Kalau acaranya bukan pada tanggal sepuluh, aku akan dengan senang hati pergi
denganmu.”
Ia tidak suka berbohong pada Kitano Akira, tetapi tidak ada cara lain. Kalau
Kazuto belum muncul sampai tanggal sepuluh nanti, dan kalau Keiko melihatnya di
acara reuni itu... lihat saja, Nishimura Kazuto akan tahu bagaimana rasanya diacakacak
sampai ibunya sendiri pun tidak akan bisa mengenalinya.
Empat Belas
“KAU akan datang ke acara reuni malam ini, kan?” tanya Akira di ujung sana.
“Yap,” sahut Kazuto sambil membidik kuil Meiji dengan kameranya. Earphone di
telinganya yang terhubung dengan ponsel di saku jaketnya membuatnya bisa tetap
memotret sambil berbicara dengan Akira.
“Kau mau kujemput?”
“Tidak usah. Aku sudah tahu tempatnya dan aku sudah meminjam mobil dari
pamanku.”
“Kau masih meminjam mobil pamanmu?” Nada suara Akira terdengar ragu.
“Memangnya kenapa?”
“Setelah apa yang terjadi padamu waktu itu?”
Kazuto tertawa kecil. “Aku tidak ingat apa-apa soal itu, jadi aku sama sekali tidak
merasa takut atau semacamnya.”
Akira hanya bergumam dan berkata, “Kudengar ibumu sudah kembali ke
Amerika?”
“Ya. Kemarin sore. Kakak iparku sudah melahirkan. Saking gembiranya ibuku
langsung pulang ke New York dengan pesawat pertama, meninggalkan anaknya yang
baru keluar dari rumah sakit ini.”
“Tapi kau merasa sehat, bukan? Obatmu tetap kauminum?”
“Astaga, kau terdengar seperti ibuku. Padahal tadinya aku sudah sempat merasa
lega karena ibuku kembali ke New York dan membiarkan aku tenang sedikit,” gurau
Kazuto sambil tertawa. Ia mengubah sudut kameranya dan melanjutkan, “Aku sangat
sehat. Kau tidak perlu khawatir.”
“Baiklah,” kata Akira sambil mendesah. “Sampai jumpa nanti malam.”
Setelah melepaskan earphone dan memasukkannya ke saku, Kazuto kembali
mencari objek yang bagus untuk dipotret. Setelah ini mungkin ia bisa pergi ke Yoyogi
Gyoen. Pohon-pohon gundul juga bisa menjadi objek yang bagus kalau dipotret dengan
benar.
Sejak keluar dari rumah sakit lima hari yang lalu, Kazuto tinggal di apartemen di
Roppongi, menghabiskan waktunya dengan berkeliling Tokyo dan memotret apa saja
yang menarik perhatiannya. Ia yakin ia sudah pernah melakukan semua itu selama
sebulan terakhir sejak ia tiba di Tokyo, tetapi karena ia tidak ingat apa-apa, ia
memutuskan untuk melakukannya sekali lagi. Siapa thau bisa membantu
mengembalikan ingatannya sedikit demi sedikit. Tetapi sejauh ini ia tidak mengingat
apa pun. Semuanya tetap terasa asing dan baru baginya.
Tidak ingat juga tidak apa-apa. Itulah yang selalu dikatakannya pada diri sendiri.
Awalnya memang berhasil. Ia tidak terlalu memedulikan rentang waktu satu bulan
yang hilang dari ingatannya. Ia yakin tidak ada hal penting yang harus diingat dan
dokter berkata ingatannya perlahan-lahan akan kembali. Jadi ia tidak berniat
memaksakan diri dan membuat sakit kepalanya bertambah parah.
Tetapi akhir-akhir ini ia mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Ia tidak tahu apa.
Hanya saja setiap kali ia bangun tidur, makan, atau berkeliling Tokyo, ia selalu merasa
ada sesuatu yang kurang. Ia berusaha keras mengabaikannya, tetapi tidak berhasil.
Akhirnya ia berpikir itu mungkin semacam efek samping yang diderita otaknya yang
malang. Hanya itu penjelasan yang mungkin.
* * *
Kazuto baru saja akan meninggalkan apartemennya ketika ponselnya berdering. Ia
menatap layar ponsel itu dan tidak mengenali nomor yang muncul di sana.
“Moshimoshi?” gumamnya datar ketika ponsel sudah ditempelkan ke telinga.
“Kazu?”
Seluruh perhatian Kazuto langsung terpusat pada suara wanita yang terdengar di
ponselnya itu. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya Kazu. “Yuri?”
gumamnya ragu.
Wanita di ujung sana tertawa. “Aku senang kau masih ingat padaku,” katanya
dalam bahasa Inggris yang lancar. “Bagaimana kabarmu?”
Butuh sesaat untuk mencari suaranya kembali. Kazuto berdeham untuk
mengendalikan diri dan menjawab dalam bahasa Inggris juga, “Aku sangat baik. Kau
ada di mana sekarang?”
“Di Tokyo.”
“Apa?”
Yuri tertawa lagi. “Di Tokyo,” ulangnya. “Aku baru saja tiba. Aku diutus perusahaanku
untuk mengikuti pelatihan selama sebulan di sini.”
“Kau masih di bandara?”
“Tidak. Aku sudah di apartemen milik perusahaan,” sahut Yuri. “Ngomongngomong,
kau sedang sibuk sekarang?”
“Oh, aku akan pergi menghadiri reuni sekolahku. Kenapa?”
“Ah, tidak. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama. Tapi kalau kau
ada acara lain, tidak apa-apa. Lain kali saja.”
Kazuto terdiam sejenak, lalu bertanya, “Kau mau menemaniku ke sana?
Kemungkinan acaranya akan membosankan, jadi ada sebaiknya kalau aku punya
seseorang yang bisa kuajak mengobrol.”
“Kalau kau tidak keberatan, aku mau saja.”
Kurang-lebih satu jam kemudian Kazuto tiba di gedung apartemen tempat Yuri
menginap. Wanita itu sudah menunggunya di lobi gedung. Begitu melihat Kazuto, Yuri
langsung tersenyum cerah dan melambai. Kazuto menghela napas panjang sebelum
balas melambai dan menghampirinya.
Yuri masih terlihat sama seperti terakhir kali Kazuto melihatnya di New York.
Masih tetap cantik dengan rambut panjang sebahu dan gaya anggun seperti biasa.
Melihat Yuri membuat hati Kazuto terasa nyeri, membuktikan bahwa ia sama sekali
belum melupakan wanita itu. Tetapi kalaupun Kazuto pernah berusaha melupakan
Yuri, dan kalaupun ia pernah berhasil melupakannya walaupun hanya sedikit, semua
itu sama sekali tidak berarti karena amnesia sialan yang dideritanya ini. Kini ia kembali
ke awal.
“Kudengar kau mendapat kecelakaan,” kata Yuri ketika mereka sudah berada di
dalam mobil.
“Siapa yang mengatakannya padamu?” tanya Kazuto sambil tetap memerhatikan
jalanan di depannya.
“Ayahmu,” sahut Yuri sambil tersenyum. “Aku mengunjungi ayahmu sebelum aku
datang ke sini.”
Yuri dan Kazuto sudah berteman dekat sejak Kazuto pindah ke New York. Rumah
orangtua Yuri tepat berada di sebelah rumah orangtua Kazuto. Orangtua Yuri memang
orang Jepang, tetapi mereka sudah lama tinggal dan menjadi warga negara Amerika.
Mereka bersekolah di highschool yang sama, tetapi kuliah di tempat yang berbeda.
Walaupun begitu, mereka tetap berhubungan dekat. Kazuto selalu menyukai Yuri sejak
kecil dan mengira Yuri merasakan hal yang sama. Ternyata ia salah. Yuri lebih memilih
sahabat Kazuto dan bulan Juni nanti mereka akan menikah.
“Tidak parah,” gumam Kazuto.
Yuri mengangkat alis. “Tidak parah?” ulangnya. “Kata ayahmu kau mengalami
gegar otak sampai sebagian ingatanmu hilang.”
Kazuto mengangkat bahu sambil lalu, mencoba meringankan situasi itu. “Hanya
sejak aku tiba di Tokyo sampai kecelakaan itu terjadi. Hanya satu bulan. Tidak penting.”
“Kau yakin?”
“Ya,” sahut Kazuto tegas, tetapi hatinya berkata sebaliknya.
“aku senang kau tidak melupakanku,” kata Yuri.
Kazuto menatapnya sekilas dan tersenyum. “Ngomong-ngomong, apa kabar Jason?”
tanya Kazuto, berusah mengubah bahan pembicaraan. “Sibuk mengurus rencana
pernikahan kalian?”
Yuri mendesah dan memandang ke luar jendela.
Merasa heran dengan reaksi Yuri, Kazuto kembali menoleh sejenak. “Hei, ada apa?”
Sesaat tidak terdengar jawaban, lalu Yuri mengembuskan napas dan menoleh
menatap Kazuto. “Aku bisa jujur padamu, bukan?”
“Kau tahu benar jawabannya.”
“Ya, aku tahu,” gumam Yuri sambil tersenyum tipis. “Aku tahu kau teman yang
bisa diandalkan.”
“Jadi,” kata Kazuto datar. “Ada apa?”
“Jason dan aku...” Yuri mengangkat bahu. “Yah, pernikahannya batal.”
* * *
Kazuto tiba di acara reuni sebelum Akira. Aula resepsi yang terang benderang itu
sudah penuh orang dan musik dari band beranggotakan lima orang mengalun lembut
di seluruh penjuru ruangan. Awalnya ia merasa agak gugup, tetapi ternyata ada
beberapa teman lamanya yang masih mengenalinya dan langsung menariknya
bergabung dengan kelompok mereka untuk mengobrol tentang masa lalu. Akira benar.
Acara ini bisa menghiburnya. Kazuto merasa santai, bebas mengobrol tentang masa
lalu yang masih diingatnya. Kalaupun ada beberapa hal yang sudah terlupakan, semua
orang akan memakluminya karena tidak semua orang bisa mengingat kejadian lebih
dari sepuluh tahun yang lalu dengan jelas.
Ia menoleh ketika Yuri menarik lengan jaketnya dan berkata ia akan pergi ke toilet
sebentar. Kazuto mengangguk dan memandangi Yuri yang berjalan pergi. Kazuto tidak
tahu harus berpikir apa ketika Yuri berkata ia dan Jason mungkin tidak jadi menikah.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Kazuto waktu itu.
Yuri tersenyum muram. “Kurasa aku terlambat menyadari bahwa kami sama sekali
tidak cocok.” Lalu ia menggeleng cepat. “Tidak, tidak. Aku belum terlambat. Justru
lebih baik aku menyadarinya sekarang daripada setelah kami menikah nanti. Bukankah
begitu?”
Kazuto diam saja, tidak tahu harus berkata apa. Juga tidak tahu harus berpikir apa
atau merasakan apa.
Yuri menoleh dan tersenyum kepada Kazuto. “Walaupun begitu, Kazu, aku sangat
sedih sekarang ini,” akunya. “Jadi aku datang ke sini supaya kau bisa menghiburku.
Kau tidak keberatan, bukan?”
“Sama sekali tidak,” sahut Kazuto, membalas senyum Yuri. “Kau selalu bisa
menangis di bahuku kalau memang mau.”
Dan Kazuto memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tidak ada yang
tidak akan dilakukannya untuk Yuri.
Setelah mengobrol beberapa saat dengan teman-teman lamanya, Kazuto
memisahkan diri dengan alasan ingin mencari minuman. Ia berjalan ke meja minuman
di dekat jendela untuk mengambil segelas sampanye. Ia menyesap minumannya
dengan pelan dan memandang ke luar jendela. Salju mulai turun lagi. Ia berdiri di sana
selama beberapa saat, memandangi butiran salju yang melayang-layang di luar.
Lagi-lagi ia merasa ada yang hilang.
Keningnya berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu
yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang. Dan apakah sesuatu yang hilang
itu penting atau tidak.
Ia menarik napas dalam-dalam. Yah... mungkin bukan sesuatu yang penting.
Kazuto berputar membelakangi jendela dan memandang ke sekeliling ruangan.
Aula besar itu mulai ramai. Orang-orang terlihat gembira, saling tersenyum, tertawa,
dan mengobrol. Seorang kenalannya tersenyum dan melambai ke arahnya. Ia balas
tersenyum dan mengangkat gelas.
Tepat pada saat itulah Kazuto melihatnya.
Wanita itu baru memasuki ruangan. Ia memakai gaun biru gelap sebatas lutut,
rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Mata Kazuto tidak berkedip mengamati wanita
itu menyalami beberapa orang sambil tersenyum lebar. Aneh... Kazuto menyadari
dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan.
Ia melihat wanita itu mengambil segelas minuman dari nampan yang disodorkan
seorang pelayan sambil bercakap-cakap dengan seseorang yang berdiri di sampignya.
Kitano Akira. Sebelum Kazuto sempat berpikir lebih jauh, wanita itu mengangkat
wajah dan memandang ke seberang ruangan. Tepat ke arah Kazuto.
Mata mereka bertemu dan waktu serasa berhenti.
Aneh sekali. Otak Kazuto tidak mengenalnya. Ia yakin ia tidak mengenal wanita itu.
Tetapi kenapa sepertinya hatinya berkata sebaliknya?
Kenapa hatinya seakan berkata padanya bahwa ia merindukan wanita itu?
* * *
Akhirnya Keiko menerima ajakan Kitano Akira ke pesta reuni itu. Setelah ia berada di
dalam mobil, Keiko mulai merasa agak konyol. Apakah ia benar-benar berpikir ia
mungkin akan bertemu dengan Kazuto di acara itu? Astaga, ia memang bodoh.
Kemungkinan Kazuto hadir di acara yang sama seperti yang akan dihadirinya bersama
Kitano Akira ini adalah satu dibanding... seribu. Bahkan mungkin sejuta! Apa yang ia
pikirkan tadi?
“Kau agak pendiam malam ini.”
Keiko menoleh dan menatap Kitano Akira. “Ya?”
“Kau sama sekali belum berbicara sejak kita berangkat tadi,” gumam laki-laki itu
sambil tersenyum. Ia melirik Keiko sekilas, lalu kembali memerhatikan jalanan di
depan.
“Maaf,” gumam Keiko, merasa agak bersalah. “Aku teman mengobrol yang payah
malam ini, bukan?”
“Bukan begitu. Hanya saja kelihatannya kau sedang punya masalah.” Akira
menoleh ke arahnya sejenak. “Ada yag bisa kubantu?”
Keiko tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Tidak ada masalah kok, Sensei.”
Begitu mereka tiba di gedung tempat reuni itu diselenggarakan dan begitu mereka
masuk ke aula resepsi, Keiko langsung merasa seperti orang luar. Ia kembali menyesali
keputusannya untuk datang ke acara ini. Ia tidak masuk SMP yang sama dengan Akira,
jadi ia sama sekali tidak mengenal siapa-siapa di sini. Akira sudah jelas akan banyak
mengobrol dengan teman-temannya, mengobrol tentang masa lalu yang sama sekali
tidak dipahami Keiko. Apa pula yang bisa diobrolkannya?
Tetapi sudah terlanjur. Ia sudah ada di sini dan sebaiknya ia tidak mengecewakan
Kitano Akira. Keiko pun memasang senyum manis kepada orang-orang yang
diperkenalkan Akira kepadanya dan berbasa-basi sejenak.
Ketika mereka sedang mengobrol dengan dua orang teman lama Akira, seoran
gpelayan dengan naman penuh gelas berisi minuman ringan berhenti di samping Keiko
dan menyodorkan nampannya. Keiko mengambil segelas cairan bergelembung itu dan
tersenyum berterima kasih kepada si pelayan. Sambil menyesap minumannya, mata
Keiko menjelajahi ruangan. Ketika gerakan matanya terhenti pada seorang laki-laki di
seberang ruangan, Keiko terkesiap pelan dan terbelalak. Laki-laki itu berdiri di dekat
jendela besar, sebelah tangan memegang gelas minuman dan tangan lain dimasukkan
ke saku celana panjang putihnya. Ia juga sedang menatap Keiko. Tidak salah lagi. Lakilaki
itu Nishimura Kazuto. Kazuto ada di sana.
Begitu melihat Kazuto, hal pertama yang dirasakan Keiko adalah rasa lega. Karena
Kazuto baik-baik saja, tidak terluka, tidak mengalami kecelakaan, atau hal-hal buruk
semacam itu. Kemudian perasaan itu dengan cepat berubah menjadi kejengkelan.
Kalau laki-laki itu memang sehat-sehat saja dan tidak kurang suatu apa pun, kenapa ia
tidak menghubungi Keiko? Kenapa ia menghilang selama ini? Kenapa?
Akira masih mengobrol dengan teman-temannya. Sambil tetap menatap Kazuto
yang berdiri seperti patung di sana, Keiko meletakkan gelasnya dengan keras ke salah
satu meja di dekatnya dan berderap menyeberangi ruangan. Sekarang laki-laki itu
harus menerima amukan Keiko, setelah itu Kazuto harus memberikan penjelasan.
Kazuto menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu matanya kembali terpaku kepada Keiko,
seakan-akan ingin memastikan gadis itu memang berjalan ke arahnya. Pandangan
matanya terlihat bingung, tidak pasti.
Keiko berhenti tepat di depan Kazuto, mendongak menatap wajah Kazuto dengan
tajam dan berkacak pinggang. Kejengkelan Keiko semakin menjadi-jadi ketika melihat
Kazuto menatapnya dengan tatapan bingung tak berdosa.
“Kau...” Keiko mulai membuka mulut, lalu menahan lidahnya karena ia sadar
suaranya terlalu keras. Ditambah lagi ia berbicara dalam bahasa Indonesia. Sambil
menahan keinginannya untuk berteriak-teriak, Keiko menghela napas panjang dan
bertanya dengan nada rendah, dalam bahasa Jepang, “Ke mana saja kau selama ini?”
Kazuto hanya menatapnya sambil mengerjapkan mata, masih terlihat bingung.
Keiko menghela napas sekali lagi dan memejamkan mata sejenak. “Tolong jangan purapura
tidak mengerti apa maksudku.”
Mata Kazuto melebar. “Kau mengenalku?”
Keiko terdiam sejenak, berusaha menahan diri sementara ia mengangkat sebelah
alisnya dan menatap Kazuto dengan curiga. Laki-laki ini keterlaluan. Memangnya dia
tidak bisa melihat bahwa Keiko sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik
untuk bercanda?
“Kau mengenalku?” tanya Kazuto lagi. Nada suaranya mendesak dan penuh harap.
Aneh, pikir Keiko sambil menatap Kazuto dengan saksama. Akhirnya ia balas
bertanya dengan nada datar, “Namamu Nishimura Kazuto?”
Kazuto mengangguk. “Ya.”
“Kau fotografer dan baru datang dari New York?”
“Ya.”
“Punya saudara kembar?”
“Tidak.”
Keiko berkacak pinggang. “Dan kau masih berani bertanya apakah aku
mengenalmu?”
“Tunggu, aku...”
“Keiko-san.”
Kepala Keiko berputar dan ternyata Kitano Akira sudah ada di belakangnya.
“Sensei.”
Akira menatap Kazuto dan tersenyum. “Oh, Kazuto? Kau sudah datang rupanya.”
Keiko mengerjap-ngerjapkan mata dan memandang Akira dan Kazuto bergantian.
“Sensei kenal dengan Kazuto-san?” tanyanya heran.
Sekarang giliran Akira yang mengangkat alis heran. “Ya, dia temanku,” sahutnya,
lalu balik bertanya, “Keiko-san juga?”
“Ya,” Keiko mengangguk. “Dia tetanggaku.”
“Tetanggamu?”
“Tetanggaku?” Kazuto menimpali dengan bingung.
Kepala Keiko kembali berputar ke arah Kazuto. “Dengar, Kazuto-san, aku sedang
tidak ingin bercanda saat ini. Jadi kalau kau tidak mau mengatakan padaku ke mana
kau selama ini, maka...”
“Tunggu dulu, Keiko-san,” sela Akira sambil memegang lengan Keiko. “Sepertinya
ada yang harus kujelaskan padamu lebih dulu.”
Masih tetap berkacak pinggang, Keiko menatap Akira dengan heran.
“Keiko-san, kau bilang Kazuto ini tetanggamu?” tanya Akira sekali lagi sambil
menunjuk ke arah Kazuto yang memandang mereka berdua bergantian.
“Apartemennya tepat di sebelah apartemenku. Dan dia sudah membuatku—dan
kami semua—khawatir karena menghilang tanpa kabar sejak Hari Natal.” Keiko
melemparkan tatapan sebal ke arah Kazuto. Dan setelah apa yang dikatakannya di stasiun
waktu itu, pikirnya geram. “Dan sekarang dia memasang tampang tidak berdosa.”
“Keiko-san.” Suara Akira pelan dan berusaha menenangkan Keiko.
“Apa?”
“Dia benar-benar tidak mengenalmu.”
Keiko menatap Akira dengan alis terangkat. Mungkin ia salah dengar? “Apa?”
“Dia benar-benar tidak mengenalmu.”
Jadi Keiko tidak salah dengar. Sekarang ia mulai bingung.
Akira melirik ke arah Kazuto yang sedang menatap mereka dengan penuh minat.
“Aku pernah bercerita tentang temanku yang mengalami kecelakaan buruk dan hilang
ingatan, bukan? Dialah orangnya. Nishimura Kazuto.”
“Apa?” Keiko tercengang. Kali ini ia pasti salah dengar. Ia yakin.
“Dia ditemukan dalam keadaan pingsan dan terluka di jalan sepi tepat pada Hari
Natal. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang menemukannya.
Dan setelah beberapa hari, dia sadar kembali tanpa ingatan apa pun atas kejadian yang
terjadi selama satu bulan terakhir. Dia bahkan tidak ingat pernah datang ke Tokyo. Hal
terakhir yang diingatnya adalah ketika dia masih berada di apartemennya di New
York,” Kitano Akira menjelaskan, tetapi buru-buru menambahkan begitu melihat wajah
Keiko berubah pucat, “tapi kau tidak perlu khawatir. Selain ingatannya yang hilang,
dia sepenuhnya sehat.” Ia berhenti sejenak dan menatap Keiko yang diam mematung
dengan mata terbelalak. “Keiko-san, kau tidak apa-apa?”
Sehat? Itu bagus, tapi... Oh, astaga! Sebelah tangan Keiko terangkat menutupi
mulutnya sendiri. Hilang ingatan? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pada Hari Natal?
Berarti setelah Kazuto mengantarnya ke stasiun kereta?
“Dia benar-benar tidak mengenalku?” Suara Keiko keluar dalam bentuk bisikan
tidak percaya.
Akira menggeleng.
Keiko tertegun dan menoleh ke arah Kazuto. “Kau benar-benar tidak mengenaliku?”
bisiknya pelan. “Padahal tadinya kukira... Aku tidak percaya ini.” Ia berhenti sejenak,
menunduk, lalu tersentak kembali menatap Kazuto dengan raut wajah cemas. “Kau
baik-baik saja, Kazuto-san? Kau terluka?”
Kazuto menatapnya sambil tersenyum sopan dan agak ragu. “Seperti kata Akira,
aku tidak apa-apa.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati, “Tadi kau
bilang kita bertetangga?”
Keiko membasahi bibirnya yang tiba-tiba saja kering. “Ya,” gumamnya. Matanya
masih terpaku pada wajah Kazuto. Kazuto hilang ingatan? Kazuto tidak mengenalnya?
Tidak ingat apa pun?
“Tadi kudengar Akira memanggilmu Keiko?” Kazuto melanjutkan.
Keiko mengangguk pelan. “Ishida Keiko,” sahutnya dengan suara agak bergetar.
Kazuto bahkan tidak ingat namanya. Kenyataan itu membuatnya agak sakit hati.
“Kuharap kau memaklumi keadaanku,” kata Kazuto sambil mengulurkan tangan.
“Senang berkenalan denganmu... sekali lagi. Dan kurasa aku membutuhkan
bantuanmu.”
Keiko menatap tangan yang terulur itu dengan kening berkerut. Ini aneh sekali.
Orang yang berdiri di depannya ini adalah Kazuto, tapi juga bukan Kazuto. Apakah ia
sedang bermimpi? Tapi kenapa mimpi ini terasa nyata sekali?
“Kazu?”
Keiko menoleh dan melihat seorang wanita anggn dengan rambut sebahu yang
dicat cokelat sudah berdiri di samping Kazuto. Keiko mengerjap. Wanita itu sepertinya
tidak asing.
“Oh, Yuri.” Kazuto menarik lengan wanita itu mendekat. “Coba dengar, Ishida
Keiko-san ini ternyata mengenalku. Dia tetanggaku.”
Wanita yang dipanggil Yuri itu menoleh ke arah Keiko dan tersenyum. “Benarkah?
Itu bagus sekali,” katanya. Ia kembali menatap Kazuto. “Setidaknya sekarang kau tahu
di mana kau tinggal selama ini.”
Kazuto jelas-jelas senang. Ia memandang Akira dan Keiko bergantian. “Ini
temanku yang baru datang dari New York, Iwamoto Yuri,” katanya.
Yuri mengulurkan tangan kepada Akira, lalu kepala Keiko sambil berkata ramah,
“Panggil saja aku Yuri. Senang berkenalan dengan kalian.”
Tiba-tiba Keiko ia ingat di mana ia pernah melihat wanita itu. Di laptop Kazuto.
Keiko pernah melihat banyak foto wanita itu di laptop Kazuto. Jadi Yuri adalah wanita
yang pernah diceritakan Kazuto? Wanita yang disukai Kazuto tetapi justru akan
menikah dengan teman baiknya itu? Dan sekarang wanita itu ada di sini?
“Aku ingin melihat apartemen yang kutempati selama ini.” Suara Kazuto
menembus otak Keiko.
Keiko mendongak dan menyadari tiga pasang mata menatapnya. “Tentu saja,”
katanya cepat. “Mungkin kau bisa mengingat sesuatu kalau kau kembali ke apartemen
itu.”
Kazuto tersenyum. “Mungkin saja. Tapi kurasa aku tidak seoptimis itu. Mungkin
tidak ingat juga tidak apa-apa.”
Alis Keiko terangkat. “Apa maksudmu?”
“Kazu selalu sakit kepala kalau berusaha mengingat,” sela Yuri, “jadi sebaiknya dia
tidak memaksakan diri.”
“Lagi pula,” tambah Kazuto dengan senyum lebar, “menurutku dalam sebulan
tidak akan ada banyak hal yang terjadi. Jadi aku tidak ingin membuang-buang waktu
mengingat hal-hal yang tidak penting.”
Apa? Apa?! Keiko hampir tidak memercayai telinganya sendiri. Ia berpaling ke
arah Kazuto dan membuka mulut, “Tidak pen...”
Tetapi ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Ia meliaht Kazuto sedang
tersenyum lebar, tetapi laki-laki itu sedang menatap Yuri, bukan Keiko. Senyumnya
yang hangat itu juga ditujukan kepada Yuri, bukan Keiko.
Dan tiba-tiba saja hati Keiko terasa sangat nyeri.
Lima Belas
SETIAP kali melihat gadis itu, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya.
Perasaan yang membuatnya bingung, perasaan yang mendorongnya melakukan
sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Lagi-lagi Kazuto melirik Ishida Keiko
yang berdiri di ambang pintu, membiarkan Kazuto dan Yuri masuk lebih dulu.
Ishida Keiko sudah menuliskan alamat gedung apartemen yang ditempati Kazuto
sejak ia tiba di Tokyo awal bulan Desember lalu. Jadi hari Minggu pagi ini ia mengajak
Yuri mengunjungi apartemen itu. Begitu mereka tiba di gedung yang dimaksud, Ishida
Keiko sudah menunggu bersama para tetangganya. Kazuto merasa serbasalah ketika
berkenalan dengan orang-orang asing yang mengaku sudah mengenalnya. Para
tetangganya memang ramah, namun mereka memandang Kazuto dengan sorot mata
kasihan dan penasaran. Hal itu membuat Kazuto merasa tidak nyaman, karena saatsaat
seperti itulah ia merasa dirinya bodoh.
Setelah perkenalan singkat itu, Keiko membawanya ke apartemen di lantai dua.
Apartemen nomor 201. Kazuto berdiri di koridor di antara apartemen 201 dan 202, dan
ia merasakan sesuatu. Sesuatu seperti... sepertinya ia sudah akrab dengan tempat itu.
Namun semakin ia berusaha memikirkannya, perasaan itu semakin menjauh.
Begitu memasuki apartemennya, Kazuto memandang berkeliling. Ia mengenali
beberapa benda yang dibawanya dari New York, tetapi selebihnya asing.
“Kazuto-san, kau mengingat sesuatu?” tanya Keiko dengan nada penuh harap.
Kazuto menoleh ke arah Keiko dan menggeleng. Raut wajah gadis itu pun berubah.
Melihat itu Kazuto tiba-tiba merasa bersalah. Aneh sekali... Ia mendapati dirinya tidak
ingin membuat gadis itu kecewa.
“Kazu.”
Lamunan Kazuto buyar dan ia menoleh ke arah Yuri. Wanita itu sedang menunjuk
sesuatu di lantai. “Ada apa?” tanya Kazuto.
“Aku tidak pernah tahu kau suka sandal seperti ini,” kata Yuri sambil menunjuk
sandal putih berbentuk kepala Hello Kitty yang tergeletak di dekat pintu masuk. Ia
tertawa kecil. “Ini milikmu?”
Kazuto melihat sandal itu, lalu mengangkat bahu. “Entahlah,” sahutnya ringan.
“Boleh kupakai?” tanya Yuri.
“Tentu saja. Ambil saja kalau kau mau,” sahut Kazuto sambil berjalan ke kamar
tidur, tidak terlalu peduli dengan masalah sandal. Ia tidak melihat ke arah gadis
tetangganya saat itu. Ia tidak melihat Ishida Keiko tersentak dan menatap Kazuto tanpa
berkedip. Kemudian matanya menyipit, ia mendengus pelan, dan memalingkan wajah.
* * *
“Kubilang juga apa?” seru Tomoyuki sambil menatap Haruka dengan mata lebar.
“Oneechan lihat? Aku benar? Memang Kazuto Oniisan yang kulihat waktu itu di
rumah sakit.” Ia menoleh ke arah Keiko, Kakek dan Nenek Osawa yang menatapnya
dengan penuh minat dan menjelaskan, “Aku melihat Kazuto Oniisan di rumah sakit.
Awalnya aku tidak yakin, karena dia sama sekali tidak menegurku atau menunjukkan
tanda-tanda kalau dia mengenalku. Tapi sekarang kita tahu Kazuto Oniisan hilang
ingatan. Itulah sebabnya.”
“Benarkah?” tanya Keiko sambil menatap Tomoyuki. “Kenapa kau tidak pernah
berkata apa-apa padaku?”
Keiko, Haruka, dan Tomoyuki berkumpul di apartemen Kakek dan Nenek Osawa
untuk membicarakan pertemuan singkat mereka dengan Kazuto tadi. Sebenarnya
Keiko sudah menceritakan tentang keadaan Kazuto semalam, ketika ia kembali dari
acara reuni dalam keadaan bingung dan gelisah. Lalu pagi ini mereka kembali
diperkenalkan kepada Kazuto dan Iwamoto Yuri. Suasana perkenalan tadi terasa agak
canggung.
“Waktu itu kai tidak yakin bahwa orang yang dilihat Tomoyuki itu Kazuto-san,”
sahut Haruka membela diri. “Siapa yang menyangka bahwa Kazuto-san hilang ingatan?
Sekarang dia benar-benar seperti orang asing.”
“Aku pernah mendengar kasus tentang hilang ingatan, tapi kalau tidak salah orang
itu sama sekali tidak ingat apa-apa. Dia lupa semuanya. Dia tidak ingat orangtuanya,
bahkan namanya sendiri. memangnya orang yang bisa kehilangan hanya sebagian
ingatannya? Seperti yang dialami Kazuto itu?” tanya Kakek Osawa bingung.
Tomoyuki mengangguk. “Sepertinya aku pernah mendengar ada kasus begitu.
Sebagian ingatan kita bisa hilang kalau kita mengalami trauma atau semacamnya.”
“Trauma apaan?” gerutu Haruka pelan.
“Siapa wanita yang bersamanya tadi?” tanya Nenek Osawa tiba-tiba.
“Temannya dari New York,” jawab Keiko pendek. Wanita yang pernah disukai
Kazuto, tambahnya dalam hati. Dan yang mungkin masih disukainya sampai sekarang
kalau melihat betapa akrabnya mereka tadi. Kening Keiko berkerut ketika ia mengingat
cara Kazuto tersenyum kepada Yuri. Dari tadi Kazuto hanya berbicara kepada Yuri,
membuat Keiko merasa seperti orang bodoh. Karena itulah ia tidak berlama-lama di
apartemen Kazuto. Kedua orang itiu asyik membicarakan hal-hal yang tidak
dipahaminya.
“Tapi, Keiko apakah dia sama sekali tidak ingat apa pun?” tanya Kakek Osawa
tiba-tiba, sepertinya belum benar-benar percaya kalau Kazuto tidak ingat pada mereka.
“Bahkan setelah ia melihat apartemennya?”
Keiko menggeleng. “Sedikit pun tidak,” gerutunya, lalu mendesah keras. “Padhaal
aku berharap dia bisa mengingat sesuatu. Apa saja. Tapi...” Ia mengangkat bahu dan
mendesah sekali lagi.
Keempat orang lainnya berpandangan.
“Kenapa dia tidak bisa ingat?” tanya Keiko pada diri sendiri. Keningnya berkerut.
“Kenapa?”
“Jangan terlalu cemas. Kata dokter ingatannya bisa kembali kapan saja, bukan?”
Haruka berusaha menghibur.
Seakan tidak mendengar kata-kata Haruka, Keiko bergumam lirih, “Kata-katanya
sewaktu di stasiun... dia juga tidak ingat lagi.” Tiba-tiba ia berseru, “Dasar bodoh!
Kenapa mengatakan hal-hal yang dengan mudah dilupakannya? Membuat orang
bingung!”
Keempat orang yang duduk di sekitarnya terlompat kaget, tetapi cukup bijak
untuk tidak membuka mulut.
Tepat pada saat itu ponsel Keiko berbunyi. Dengan gerakan tidak sabar, Keiko
mengeluarkan ponsel dari saku jaket dan menempelkannya ke telinga. “Ya?” sahutnya
asal-asalan, lalu raut wajahnya berubah. “Sensei?”
* * *
Yuri menoleh ke arah Kazuto. Laki-laki itu masih berdiri di dekat teras sambil berbicara
dengan ayahnya di telepon. Tadi Kazuto baru menyalakan laptop-nya ketika ayahnya
menelepon untuk menanyakan keadaannya. Iseng-iseng Yuri mengambil alih laptop itu
dan menemukan folder yang menyimpan foto-foto hasil jepretan Kazuto selama di
Tokyo.
Foto-foto itu sudah pasti bukan foto asal jadi. Semuanya dipotret dengan teliti.
Sudut, fokus, dan obje kyang dipotret sangat jelas. Senyum Yuri mengembang
sementara ia melihat lembaran-lembaran foto itu. Kota Tokyo dipotret dengan ahli.
Tapi itu bukan sesuatu yang aneh. Nishimura Kazuto tidka akan menjadi fotografer
profesional yang terkenal di New York kalau hasil jepretannya tidak termasuk kategori
mengagumkan.
Tiba-tiba gerakan tangan Yuri terhenti. Matanya terpaku pada foto di depannya.
Foto seorang gadis berjaket hijau di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalulalang
di jalan raya. Gadis itu berdiri membelakangi kamera, kepalanya menoleh ke
samping. Wajahnya tidak terlalu jelas karena foto itu diambil dari jarak jauh. Selain
sosok gadis dalam balutan jaket hijau itu, objek di sekitarnya—termasuk juga
kerumunan orang yang berlalu lalang—berwarna hitam-putih dan terlihat kabur.
Bahkan Yuri pun tahu foto ini foto yang menakjubkan. Seolah-olah kamera si fotografer
hanya terpusat pada gadis itu dan dunia di sekelilingnya memudar.
Foto hitam-putih yang berikut juga sangat mengesankan. Objek utamanya lagi-lagi
seorang gadis yang berdiri di lorong yang tidak terlalu lebar di antara dua rak buku
tinggi, dengan latar belakang jendela kaca berukuran besar. Sinar matahari yang
menembus kaca dan menggelapkan sosok gadis itu. Yuri hanya bisa melihat wajah
gadis itu menunduk membaca sebuah buku di tangannya. Di mana tempat itu?
Mungkin di toko buku? Atau perpustakaan?
Tangan Yuri bergerak lagi, menampilkan foto lain. Foto kali ini tidak menampilkan
siapa pun, hanya terlihat sebuah pintu kayu cokelat dengan tiga angka tertempel di
bagian tengah atas pintu. Nomor 202. Di lantai di depan pintu terlihat sebuah kantong
kertas merah muda berhias pita merah. Hadiahkah? Hadiah untuk seseorang di balik
pintu bernomor 202 itu?
Dengan kening berkerut, Yuni berpikir-pikir. Pintu bernomor 202? Bukankah itu
nomor apartemen Ishida Keiko yang tinggal di seberang apartemen Kazuto?
Foto berikut menegaskan kecurigaannya. Tidak diragukan lagi. Gadis di dalam foto
yang ini adalah Ishida Keiko. Foto close-up itu menampilkan Keiko sedang duduk
bertopang dagu. Kepalanya ditundukkan ke arah buku yang terbuka di meja.
Sepertinya gadis itu sedang membaca. Si fotografer mencurahkan seluruh perhatiannya
pada profil Ishida Keiko. Semua tentang gadis itu terlihat jelas. Mulai dari pandangan
matanya yang terlihat agak kosong walaupun terarah ke buku di meja, helai-helai
rambut hitam panjangnya yang terlepas dari sanggul asal-asalan di atas puncak
kepalanya, sampai tiga tindikan di telinga kanannya.
Yuri tertegun. Ia mengenal Kazuto dengan sangat baik. Ia tahu Kazuto hanya akan
memotret sesuatu yang membangkitkan minatnya. Kazuto fotografer yang teliti, sedikit
eksentrik, ia tidak akan mau membuang-buang waktu untuk memotret sesuatu yang
masih dirasanya meragukan. Karena itulah semua hasil jepretannya selalu
menakjubkan. Dan sekarang ia memotret Ishida Keiko...
Seharusnya Yuri sudah bisa menduganya sejak ia melihat sorot mata Keiko tadi.
Oh ya, Yuri tanpa sengaja memandang ke arah tetangga Kazuto itu ketika ia bertanya
soal sandal Hello Kitty. Dan Yuri langsung mengenali kilasan kaget dan sedih di mata
itu. Hanya saja saat itu ia belum benar-benar paham. Tetapi kini sepertinya ia mulai
mengerti.
Matanya menangkap amplop cokelat yang terselip di antara tumpukan buku di
meja. Menurut firasatnya, Yuri meraih amplop itu dan melihat isinya. Ternyata isinya
adalah hasil cetakan foto-foto yang ada di laptop tadi.
Kazuto tidak boleh melihat foto-foto ini.
Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Yuri menelan ludah dan
menatap foto di hadapannya tanpa berkedip. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang
sedang dilakukannya. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia melakukannya. Tanpa benarbenar
berpikir panjang dan seolah-olah segalanya terjadi dalam mimpi, tangannya yang
agak gemetar bergerak dan memasukkan amplop berisi foto itu ke tas tangannya yang
berukuran besar. Setelah itu tangannya berpindah ke laptop tadi dan menghapus semua
foto di folder itu.
Begitu foto-foto itu hilang dari pandangan, hati Yuri langsung dicengkeram
perasaan bersalah. Astaga, apa yang sudah dilakukannya?
“Kurasa aku akan tinggal di sini.”
Suara Kazuto membuat Yuri terlompat kaget. Ia cepat-cepat berdiri dan melihat
Kazuto ternyata sudah tidak berbicara di ponsel lagi. Sambil memaksakan seulas
senyum, Yuri berdeham dan bertanya, “Ya?”
Kazuto berjalan ke arah Yuri dan duduk di depan laptop-nya. “Aku akan tinggal di
sini,” ulangnya.
Alis Yuri terangkat. “Oh? Kenapa?”
Kazuto mendongak menatap Yuri. “Semua barangku ada di sini. Aku hanya pusat
sedikit barang di apartemen Roppongi. Lagi pula,” katanya sambil memandang
berkeliling, “aku merasa betah di sini.”
Yuri tidak berkata apa-apa. Perasaannya masih tidak enak. Kedua tangannya masih
terasa dingin dan gemetar.
Kazuto menoleh ke arahnya dan tersenyum, “Awalnya kukira di apartemen ini
hanya ada futon13, ternyata ada tempat tidur modern. Juga ada mesin pemanas air.”
13 tempat tidur gaya Jepang
“Yah... Kelihatannya begitu,” gumam Yuri.
“Ditambah lagi,” Kazuto melanjutkan dengan perlahan, “orang-orang yang itnggal
di gedung ini mungkin bisa membantuku mengingat sesuatu.”
Kening Yuri berkerut. “Tapi kaubilang kau tidak akan memaksakan diri untuk
mengingat. Bukankah kepalamu bisa sakit?”
“Aku tidak akan memaksakan diri,” sahut Kazuto.
“Bukankah kaubilang kalau tidak bisa mengingat juga tidak apa-apa?” desak Yuri
lagi. “Kaubilang tidak mungkin ada kejadian penting dalam sebulan itu.”
Kazuto menatapnya dengan bingung. Yuri sendiri juga bingung dengan
perasaannya saat itu. Kenapa ia bersikap seperti itu?
“Aku memang pernah berkata begitu,” aku Kazuto. Ia berhenti sejenak, lalu
berkata dengan hati-hati, “Tapi terus terang saja, aku selalu merasa ada sesuatu yang
hilang. Sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.”
Yuri menatap Kazuto yang kebingungan. Mungkinkah sesuatu yang hilang itu...
Tidak, ia tidak ingin memikirkannya. Tidak ingin menebak-nebak dan memusingkan
masalah itu. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Aku kecewa kau merasa seperti itu.”
Kazuto mengangkat wajah dan menatap Yuri. “Apa?”
“Kau merasa kehilangan, padahal aku ada di sini bersamamu. Apakah itu tidak
cukup?” gurau Yuki.
“Maksudku bukan begitu,” sahut Kazuto. Ia balas tersenyum. “Aku sangat senang
kau menemaniku pada saat-saat seperti ini. Kau tahu benar aku sangat menghargaimu.”
Yuri mengangguk-angguk pelan, lalu bergumam, “Ya, aku tahu.” Ia hanya
berharap ia belum terlambat menyadarinya. Setelah terdiam sejenak, Yuri mengangkat
wajah dengan ragu. “Kazu...”
“Ya?”
“Kau tidak mau tahu kenapa aku tidak jadi menikah dengan Jason?”
Hening sejenak. Kazuto menatap Yuri yang berjalan ke pintu kaca balkon. “Kurasa
kau akan menceritakannya padaku kalau kau memang sudah siap,” sahut Kazuto.
Yuri berbalik menghadap Kazuto. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Selama ini aku selalu merasa dialah orang yang bisa membuatku bahagia,” Yuri
memulai dengan pelan, “tapi aku salah.”
Kazuto tidak berkata apa-apa. Ia bisa melihat bahwa Yuri terlihat gugup, tetapi ia
memutuskan untuk membiarkan wanita itu mengatakan semua yang ingin
dikatakannya dan ia akan mendengarkan.
“Orang yang selalu bisa membuatku bahagia bukan Jason,” Yuri melanjutkan.
“Tapi Nishimura Kazuto.”
Kazuto sama sekali tidak menduga akan mendengar kata-kata itu keluar dari
mulut Yuri. Sudah lama sekali ia berharap bisa mendengarnya. Dan kini setelah
harapannya menjadi kenyataan, ia bahkan tidak bisa bereaksi saking kagetnya. Ia
hanya bisa diam, tercengang, dan menatap Yuri lurus-lurus, seakan ia takut wanita itu
akan mulai tertawa dan berkata ia hanya bercanda.
“Aku baru sadar setelah kau pergi,” Yuri melanjutkan. Kedua tangannya saling
meremas walaupun ia tetap menatap mata Kazuto. “Setelah kau meninggalkan New
York, aku merasa semuanya berbeda. Segalanya tidak sama kalau kau tidak ada. Dan
aku baru sadar aku... aku...,” Yuri menarik napas dalam-dalam, “... membutuhkanmu.”
Kazuto masih belum bisa menemukan suaranya. Ia masih butuh waktu untuk
mencerna kenyataan bahwa Yuri membutuhkannya. Yuri sendiri yang mengatakannya.
Wanita yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya berkata bahwa ia
membutuhkan Kazuto.
Yuri membasahi bibir dan tertawa gugup. “Kazu, jangan duduk diam saja seperti
itu. Katakan padaku... apakah aku sudah terlambat? Sudah terlambat menyadarinya?”
* * *
Ia memang tidak membunyikan bel, tapi ia sudah mengetuk. Dua kali, malah. Sungguh,
ia tidak bermaksud mengintip atau pun menguping. Karena Kazuto tidak menyahut,
Keiko pun membuka pintu dan langsung mendengar suara Iwamoto Yuri. “Orang yang
selalu bisa membuatku bahagia bukan Jason, tapi Nishimura Kazuto.”
Kalimat itu membuat Keiko membeku dan kata-kata sapaan yang sudah akan
meluncur dari lidahnya tercekat. Ia mengangkat wajah. Dari celah pintu yang terbuka,
Keiko melihat Iwamoto Yuri berdiri di dekat pintu kaca beranda, sedang menatap
Kazuto yang duduk di sofa.
Suara Yuri terdengar lagi. “Aku baru sadar setelah kau pergi. Setelah kau
meninggalkan New York, aku merasa semuanya berbeda. Segalanya tidak sama kalau
kau tidak ada. Dan aku baru sadar aku... aku...” Jeda sesaat, lalu, “... membutuhkanmu.”
Keiko tidak bisa bergerak. Matanya beralih ke Kazuto yang masih tetap diam.
“Kazu, jangan duduk diam saja seperti itu. Katakan padaku... apakah aku sudah
terlambat? Sudah terlambat menyadarinya?” Suara Yuri yang gugup terdengar lagi.
Tiba-tiba Keiko mendapati dirinya bertanya-tanya apakah ia ingin mendengar
jawaban Kazuto. Ya... Tidak... Ya... Tidak... Tetapi sebelum ia menetapkan pendirian, ia
meliaht Kazuto bangkit dari sofa dan berjalan pelan ke arah Yuri. Ia meraih tangan Yuri
dan menariknya ke dalam pelukan.
Napas Keiko tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada Kazuto yang
memeluk Iwamoto Yuri erat-erat dan membelai kepalanya. Itu bukan pelukan sambil
lalu. Bukan juga pelukan bersahabat. Itu pelukan dalam arti sebenarnya. Pelukan yang
diberikan kepada orang yang dicintai. Saat itu juga Keiko mendadak merasa lemas,
seakan seluruh tenaganya terserap keluar. Yang tersisa hanya rasa nyeri di dadanya.
“Mereka...?”
Keiko tersentak dan menoleh. Ternyata Sato Haruka sudah berdiri di belakangnya
entah sejak kapan dan keningnya berkerut menatap Kazuto dan Yuri yang berpelukan.
Keiko buru-buru menutup pintu dengan perlahan dan berbalik menghadap Haruka.
Haruka menatapnya. “Keiko, kau tidak apa-apa?” tanyanya hati-hati.
Keiko memaksakan seulas senyum di wajahnya yang kaku. “Ya, memangnya
kenapa, Oneesan?” katanya cepat.
“Itu... Kazuto-san...”
“Oh, itu.” Keiko tertawa sumbang dan gugup. “Tadi aku ingin bertanya apakah
mereka membutuhkan sesuatu. Tapi ternyata mereka sedang... eh, sibuk.” Keiko
membasahi bibirnya. “Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka.”
Keiko berjalan dengan cepat ke apartemennya, diikuti Haruka.
“Keiko, kau masih belum sadar atau tidak mau mengaku?” tanya Haruka setelah
mereka masuk ke apartemen.
“Apa maksud Oneesan?”
“Tentang perasaanmu pada Kazuto-san.”
Keiko membuka mulut, tapi langsung menutupnya lagi. Perasaannya?
Perasaannya... “Oneesan,” sahut Keiko setelah terdiam sejenak. “Sebentar lagi Sensei
akan datang menjemputku. Aku harus bersiap-siap.”
Haruka menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk.
Setelah Haruka keluar dan menutup pintu, Keiko baru menarik napas panjang dan
mengembuskannya dengan pelan. Kau masih belum sadar atau tidak mau mengaku?
Pertanyaan Haruka itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Keiko sendiri tidak tahu
harus bagaimana menjawabnya. Ia tidak mau memikirkannya. Bagaimanapun juga,
setelah melihat adegan tadi, jawaban atas pertanyaan Haruka sudah tidak penting sama
sekali.
* * *
Setelah mengantar Yuri pulang dan mengambil sedikit barangnya dari apartemen
Roppongi, Kazuto kembali ke apartemen lamanya. Gedung ini memang sudah tua, tapi
orang memang tidak boleh menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Kazuto
menyukai tempat itu dan suasananya yang sepi.
Ia ingin menyapa tetangganya dan mengabarkan bahwa ia akan kembali tinggal di
sini, tetapi Ishida Keiko tidak ada di apartemennya. Kazuto sudah membunyikan bel
dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Berarti tetangganya itu tidak ada di rumah.
“Kazuto Oniisan?”
Kazuto melongok ke bawah melewati tangga dan melihat Sato Tomoyuki sedang
mendongak ke arahnya. “Oh, Tomoyuki.”
“Sedang mencari Keiko Oneesan?” tanya Tomoyuki.
“Ya,” sahut Kazuto. “Tapi sepertinya dia sedang keluar.”
“Memang. Katanya dia ada janji dengan dokter itu.”
Kening Kazuto berkerut. “Dokter apa? Apakah Keiko-san sedang sakit?”
Tomoyuki mengibaskan tangan. “Tidak, Keiko Oneesan tidak sakit,” katanya cepat.
“Dokter itu bisa dibilang pacar Keiko Oneesan. Tunggu, siapa namanya? Ah! Kitano
Akira. Oh ya, bukankah Oniisan juga mengenalnya?”
Kitano Akira? Pacar Ishida Keiko? Kerutan di kening Kazuto semakin dalam. Benar
juga, waktu itu mereka menghadiri acara reuni bersama. Apakah Ishida Keiko memang
pacar Akira? Sebenarnya masalah Ishida Keiko itu pacar Akira atau bukan sama sekali
bukan urusan Kazuto. Mereka berdua boleh-boleh saja pacaran, tidak ada yang
melarang.
Tetapi kenapa Kazuto merasa tidak menyukai gagasan itu?
Enam Belas
LANGIT sudah gelap ketika Keiko menaiki tangga dengan pelan sambil merogoh tas
tangannya mencari kunci. Ia baru akan membuka pintu apartemennya ketika pintu
apartemen seberang tiba-tiba terbuka dengan cepat. Keiko terkesiap kaget dan berputar
dengan cepat.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” kata Kazuto yang baru keluar dari
apartemennya dan berdiri di ambang pintu.
“Kazuto-san?” gumam Keiko lega dan heran. “Sedang apa kau di sini?”
Kazuto tersenyum lebar. “Mulai hari ini aku kembali tinggal di sini,” katanya.
Alis Keiko terangkat. “Benarkah?” Tidak ingin terlalu senang dan berharap, ia
melirik ke belakang Kazuto, dan bertanya dengan nada datar, “Yuri-san...?”
“Oh, Yuri sudah pulang ke apartemennya,” sahut Kazuto singkat. Sampai sekarang
ia masih terus memikirkan apa yang dikatakan Yuri padanya tadi siang dan sampai
sekarang ia masih belum benar-benar yakin tentang semua itu.
“Jadi kenapa memutuskan untuk tinggal di sini?” Suara Keiko menyentakkan
Kazuto kembali ke dunia nyata.
Kazuto mengangkat bahu. “Kurasa ingatanku bisa lebih cepat kembali kalau aku
tinggal di sini,” sahutnya ringan, “walaupun, tentu saja, aku membutuhkan bantuan
kalian semua.”
Keiko menatap Kazuto dengan mata disipitkan. “Waktu itu kaubilang kau tidak
ingin mengingat.”
“Aku tidak pernah berkata begitu,” bantah Kazuto.
“Ya, kau sendiri yang bilang begitu.”
“Aku bilang tidak ingat juga tidak apa-apa. Itu tidak berarti aku tidak mau
mengingat.”
“Sama saja,” balas Keiko jengkel.
Kazuto tertegun sejenak. “Apakah kita selalu seperti ini?”
“Seperti ini bagaimana?” tanya Keiko tidak mengerti.
“Berdebat.”
Seulas senyum samar tersungging di bibir Keiko. “Ya.”
Melihat senyum itu, Kazuto juga ikut tersenyum. “Hubungan kita... baik? Kita
berteman dekat?”
Kazuto melihat tetangganya tidak langsung menjawab. Setelah ragu-ragu sesaat,
Keiko mengangguk lagi. “Ya.”
Memang tidak salah, pikir Kazuto. Ia memang sudah menduga hubungannya
dengan Ishida Keiko cukup baik, karena ia selalu merasa nyaman berada di dekat gadis
itu dan kata-katanya selalu mengalir dengan lancar seperti sekarang.
“Kau sudah makan malam, Kazuto-san?” tanya Keiko tiba-tiba sambil memutar
kunci pintu apartemennya.
Kazuto mengangkat wajah. “Belum,” sahutnya. “Aku baru mau pergi mencari
makan. Aku tidak bisa memasak.”
Keiko mendengus dan tertawa. “Aku tahu itu,” gumamnya.
“Kau sendiri sudah makan?” tanya Kazuto.
Keiko menggeleng.
“Akira tidak mengajakmu makan malam?” Kazuto heran karena kata-kata itu
meluncur keluar begitu saja tanpa diproses otaknya terlebih dulu.
Keiko menatapnya dengan alis terangkat.
“Tomoyuki bilang kau pergi kencan dengan Akira tadi,” jelas Kazuto enggan,
heran dengan perasaan tidak nyaman yang kembali timbul.
“Sensei harus kembali ke rumah sakit, jadi kami tidak sempat makan malam,”
sahut Keiko datar.
“Kalau begitu, ayo kita pergi makan. Aku yang traktir,” ajak Kazuto, lagi-lagi tanpa
berpikir, seakan-akan ia sudah sering mengucapkannya.
Keiko menatap Kazuto tanpa berkata apa-apa. Sesaat, ia merasa Kazuto sudah
kembali menjadi Kazuto yang dulu. Tetapi adegan tadi siang terbesit dalam benaknya.
Iwamoto Yuri yang berkata ia membutuhkan Kazuto. Kazuto yang memeluknya
dengan erat. Dada Keiko kembali terasa nyeri.
“Kurasa aku punya ide yang lebih bagus,” kata Keiko, berusaha bersikap biasa. Ia
membuka pintu apartemennya dan mengisyaratkan supaya Kazuto mengikutinya.
“Ayo, masuk. Aku ingin memasak malam ini.”
“Tidak apa-apa kalau aku masuk?”
Keiko melepas sepatunya dan menoleh melewati bahunya ke arah Kazuto yang
berdiri dengan sikap ragu di ambang pintu apartemen Keiko. “Tidak usah sungkan,”
kata Keiko ringan. “Selama ini kau tidak pernah segan-segan keluar-masuk
apartemenku. Atau memintaku memasak untukmu.”
“Oh, ya?” Kazuto mengikuti Keiko masuk ke apartemen dan ke ruang duduk yang
telrihat agak sempit karena terlalu banyak perabot, namun berkesan nyaman. “Aku
sering memintamu memasak untukku?”
Keiko tersenyum dan mengangkat bahu. “Kalau aku memasak, kau yang selalu
mencuci piring. Kau juga sering mentratirku. Jadi aku sama sekali tidak keberatan.”
Kazuto duduk di lantai sambil mengobrol dengan Keiko yang sibuk di dapur
kecilnya. Mendengar suara gadis itu, mengobrol dengannya sambil makan, membuat
Kazuto merasa... entahlah, tetapi apa pun itu, rasanya menyenangkan.
“Ngomong-ngomong,” gumam Keiko sambil menunduk menatap nasi kari di
depannya, “kenapa Yuri-san bisa datang ke Tokyo? Bukankah dia akan segera
menikah?”
“Kau tahu tentang Yuri?” tanya Kazuto heran. Apakah ia sendiri yang bercerita
tentang hubungannya dengan Yuri kepada Keiko? Kenapa? Ia bukan orang yang
gampang menceritakan isi hatinya kepada orang lain.
Keiko mengangkat wajah dan menatap mata Kazuto sejenak, lalu kembali
menunduk. “Aku memang tidak tahu banyak,” akunya. “Yang kutahu Kazuto-san dulu
menyukainya, tapi dia akan menikah dengan orang lain.”
Kazuto tertegun. Ternyata ia menceritakan semuanya kepada gadis tetangganya ini.
Kenapa ia melakukannya? Siapa Ishida Keiko ini baginya?
“Jadi?” desak Keiko pelan.
“Dia datang ke Tokyo karena mengikuti pelatihan dari kantornya,” jelas Kazuto.
Klaau ia sudah menceritakan tentang Yuri kepada Keiko sebelum ini, maka tidak apaapa
kalau ia bercerita lebih banyak lagi. Lagi pula, ia memang ingin menceritakannya.
“Dan dia tidak jadi menikah.”
Keiko mengangkat wajah dan menatap Kazuto lurus-lurus. “Jadi?”
“Begitulah,” gumam Kazuto sambil menunduk menatap makanannya, tidak
sanggup membalas tatapan Keiko.
“Kazuto-san... masih menyukainya?”
Tentu saja, pikir Kazuto dalam hati. Yuri adalah orang terpenting dalam hidupnya
selama ini. Tentu saja ia masih menyukai Yuri. Tetapi kenapa kata-kata itu sulit sekali
keluar?
“Sampai sekarang... masih menyukainya?”
Kazuto menetapkan hati dan mengangkat wajah, menatap mata Keiko. Ia menarik
napas dan berkata, “Ya.”
Keiko tidak pernah menyangka satu kata sederhana itu bisa terasa begitu
menyakitkan, membuat hatinya mengerut. Selera makannya menguap begitu saja.
“Lalu...” Keiko tidak menyelesaikan ucapannya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” sahut Keiko sambil menggeleng-geleng. “Lupakan saja. Tidak
penting.”
Lalu apa artinya kata-katamu di stasiun waktu itu? Keiko ingin bertanya. Tetapi ia
tidak ingin mempermalukan diri. Kalau dipikir-pikir sekarang, kata-kata Kazuto di
stasiun waktu itu terasa kabur, tidak nyata. Saat itu Keiko sendiri hampir tidak
memercayai telinganya. Seperti mimpi. Yah, mungkin memang mimpi. Mungkin
semua itu hanyalah hasil dari imajinasinya yang memang luar biasa hebat.
“Kelihatannya kau juga dekat dengan Akira,” komentar Kazuto dengan nada
ringan, membuyarkan lamunan Keiko.
Keiko butuh beberapa detik untuk memahami ucapan Kazuto. “Oh, dengan Sensei?
Ya, begitulah.” Seakan baru teringat sesuatu, Keiko menatap Kazuto dengan kening
berkerut dan bertanya, “Kenapa sebelum ini Kazuto-san tidak pernah berkata padaku
bahwa Kazuto-san mengenal Sensei?”
“Oh, ya?”
“Aku yakin aku sering menyebut nama Sensei,” kata Keiko lagi. “Dan Kazuto-san
tidak pernah berkata apa-apa.”
Entahlah. Kazuto sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena ia
sama sekali tidak ingat apa pun. Merasa ia harus mengatakan sesuatu, ia pun membuka
mulut, “Aku juga tidak tahu, tapi aku tahu Akira menyukaimu.”
Begitu kata-kata itu keluar, Kazuto langsung menyesalinya. Ia tidak bermaksud
berkata seperti itu. Sungguh. Kata-kata itu terasa pahit di mulutnya. Tetapi ia memang
tidak pernah memahami apa yang terjadi pada dirinya setiap kali ia berada di dekat
Ishida Keiko. Perasaan dan pikirannya kacau-balau.
Keiko menatapnya dengan alis terangkat.
“Dia sering bercerita tentang dirimu. Tentu saja waktu itu aku masih belum tahu
bahwa kau tetanggaku,” lanjut Kazuto buru-buru, berusaha mengabaikan perasaannya
yang aneh. “Dan kalian juga terlihat cocok sekali...”
Keiko mengerjapkan mata dan menyela datar, “Apakah Kazuto-san bermaksud
memintaku menerima perasaan Sensei?”
Sebenarnya Keiko sangat menyadari perasaan Kitano Akira kepadanya. Laki-laki
itu memang belum mengungkapkannya secara langsung, tetapi sikapnya sudah cukup
jelas. Seharusnya Keiko merasa senang. Memang itu yang diinginkannya selama ini,
bukan? Kitano Akira adalah cinta pertamanya, laki-laki pertama yang membuat hatinya
berbunga-bunga. Lalu kenapa kini Keiko ragu?
Karena Kazuto memasuki hidupnya. Karena Kazuto memberitahunya sesuatu
yang indah bisa dilihat pada saat gelap. Karena Kazuto mengajaknya menonton
pertunjukan balet pada malam Natal. Karena Kazuto mengajarinya berdansa waltz di
atas es. Karena entah sejak kapan ia merasa bergantung pada Kazuto. Karena entah
sejak kapan ia merasa bahagia setiap kali Kazuto tersenyum kepadanya. Karena Kazuto
memintanya melupakan Kitano Akira.
Tetapi sekarang Kazuto duduk di hadapannya, menatapnya dengan tenang dan
menyuruhnya menerima Kitano Akira?
Kazuto membalas tatapan Keiko dengan resah. Gadis itu menatapnya dengan sorot
mata tidak percaya. Nyaris sedih. Kenapa? Sorot mata itu membuat dada Kazuto terasa
berat. Ia juga tiba-tiba dicengkeram perasaan bersalah. Pertanyaan Keiko tadi seakan
bergema dalam keheningan di antara mereka. Apakah Kazuto-san memintaku menerima
perasaan Sensei?
“Ya,” gumam Kazuto serak, karena mulutnya mendadak kering. “Terimalah dia.”
* * *
Kazuto merasa frustrasi. Ia mengempaskan diri ke sofa begitu kembali ke
apartemennya. Ia benar-benar tidak bermaksud menyuruh Keiko menerima Akira atau
semacamnya. Hanya saja, tidak ada alasan kenapa ia harus menentang mereka berdua.
Tidak ada alasan sama sekali. Jadi ia melakukan hal yang semestinya. Ia tahu benar
Akira memang menyukai Keiko. Apa salahnya meminta gadis itu mempertimbangkan
teman baiknya? Ia memang sudah melakukan hal yang benar. Benar... Tapi...
Ia memukul-mukul dadanya dengan kesal. Astaga, kenapa ia merasa sesak? Ia
begitu resah sampai ingin meninju sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya sendiri.
Berusaha menenangkan diri, ia menarik napas dalam-dalam, tetapi hal itu malah
membuat hatinya terasa semakin sakit dan seolah-olah akan meledak.
Saat itulah ia tiba-tiba sadar dan menyumpah pelan.
Ia, Nishimura Kazuto, telah melakukan kesalahan besar.
* * *
Keiko duduk termenung di depan TV yang saat itu menayangkan acara komedi, tetapi
matanya menatap kosong. Sementara orang-orang di TV tertawa terbahak-bahak, Keiko
tetap diam mematung.
Aku tahu Akira menyukaimu... dan kalian juga terlihat cocok sekali...
Entah sudah berapa kali kalimat itu terus bergema di dalam otaknya. Keiko tidak
bisa menghentikannya walaupun ia sudah berusaha keras.
Ya, terimalah dia...
Tiba-tiba sebutir air mata jatuh bergulir di pipinya. Keiko tersentak dan cepat-cepat
menghapus air mata itu dengan punggung tangan. Kenapa ia tiba-tiba menangis?
Namun ucapan Kazuto yang terakhir itu memang sempat membuat Keiko berhenti
bernapas beberapa detik. Ia hanya bisa menatap Kazuto tanpa berkedip, berharap ia
salah dengar. Kazuto tidak mungkin menyuruhnya menerima Kitano Akira. Tetapi saat
itu Kazuto balas menatapnya dengan sungguh-sungguh, dan Keiko sadar bahwa lakilaki
itu tidak bercanda.
Kalau dipikir-pikir, apakah Kazuto salah karena sudah berkata seperti itu? Benar,
Kazuto memang sangat dekat dengan Keiko. Benar, ia memang sudah berkata bahwa ia
menyukai Keiko. Dan benar, ia sudah melakukan semua hal yang membuat Keiko
bahagia. Tetapi semua itu sebelum ia mengalami kecelakaan. Sebelum Kazuto hilang
ingatan.
Mungkin aku bisa membantu Kazuto mengingat kembali? pikir Keiko tiba-tiba.
Mungkin aku bisa menceritakan segalanya tentang diriku dan Kazuto. Ia memang
belum pernah bercerita kepada Kazuto tentang hubungan mereka berdua karena ia
merasa kikuk dan malu. Pasti akan terdengar aneh kalau seseorang yang tidak
kaukenal berkata padamu bahwa kalian sudah berkencan dan kau pernah menyatakan
perasaan suka pada orang itu. Kau pasti tidak akan percaya. Tidak ada orang yang
akan percaya.
Namun kalau hal itu bisa membuat Kazuto kembali memandangnya ke arahnya
seperti dulu...
Tiba-tiba Keiko tersadar. Ia sudah melupakan sesuatu yang penting di sini.
Iwamoto Yuri. Wanita itu adalah wanita yang disukai Kazuto sejak dulu. Seandainya
pun Kazuto tidak mengalami kecelakaan, seandainya pun Kazuto tidak hilang ingatan,
apakah ia akan tetap bersama Keiko kalau Iwamoto Yuri tiba-tiba kembali dalam
hidupnya? Apakah ia akan tetap memandang Keiko dan hanya Keiko?
Tidak ada jaminan untuk itu, putus Keiko dalam hati. Kazuto bisa saja tetap
berpaling ke arah Yuri. Bagaimanapun juga, wanita itu sudah begitu lama tersimpan di
sudut hati Kazuto.
Merasa kalah, Keiko mengembuskan napas berat. Apa yang bisa dilakukannya
sekarang? Kesadaran yang tiba-tiba menerjangnya membuat air matanya jatuh lagi dan
ia buru-buru menghapusnya. Tetapi kali ini air matanya tidak mau berhenti. Kesadaran
itu menggerogoti hatinya yang terasa begitu nyeri.
Kesadaran bahwa ia sudah terlambat. Kesadaran bahwa ia akan kehilangan Kazuto.
Ia akan kehilangan Kazuto bahkan sebelum sempat menyatakan perasaannya.
Astaga, kenapa ia terlambat menyadari bahwa ia menyukai Nishimura Kazuto?
Tujuh Belas
“AKHIR pekan ini kami akan pergi ke resor ski. Sudah lama aku tidak main ski. Dan
mereka juga bilang mau pergi ke onsen14.” Suara Yuri yang riang terdengar dari
pengeras suara di ponsel Kazuto. “Kazu, kau mau ikut?”
Kazuto melirik ponsel yang menempel di dasbor mobilnya sementara ia
mengemudi. “Tidak,” sahutnya sambil menggeleng walaupun Yuri sudah pasti tidak
bisa melihatnya. “Kurasa aku akan sibuk sekali akhir pekan ini. Banyak pekerjaan yang
menunggu. Tapi kuharap kau bersenang-senang dengan teman-teman sekantormu.”
Hening sejenak, lalu Yuri bertanya dengan nada serius, “Kazu, kau benar-benar
berencana menetap di sini?”
Kazuto menghentikan mobilnya di depan lampu lalu lintas yang sudah berubah
merah. “Ya,” sahutnya tegas sambil menatap ponselnya. Ia memang yakin ia ingin
menetap dan bekerja di Tokyo. Selama tiga minggu terakhir ini ia bahkan sudah
mempersiapkan pameran hasil karyanya.
“Kenapa?”
Dalam hatinya Kazuto tahu alasan di balik keinginannya ini, tetapi itu adalah
sesuatu yang tidak ingin dikatakannya kepada Yuri. Entah kenapa. Mungkin belum
waktunya. “Kenapa tidak?” balasnya acuh tak acuh.
“Kau tahu aku akan segera kembali ke New York, kan?”
“Tentu saja.”
“Jadi kenapa...” Yuri tidak melanjutkan kata-katanya. Hening sejenak. Sepertinya
Yuri tidak mengharapkan awaban singkat dan tegas seperti itu. Lalu ia mendesah dan
berkata datar, “Setelah akhir pekan ini, aku akan langsung pergi ke Nagano beberapa
14 Pemandian air panas
hari. Ada tugas di sana.” Jeda sesaat lagi, lalu, “Kita akan bicara lagi setelah aku
kembali dari sana.”
“Oke.”
Kazuto menutup ponsel dan kembali mengemudi sambil melamun. Selama tiga
minggu terakhir ini perasaannya sendiri membuatnya bingung. Ia memang sering
bertemu Yuri, makan bersama, jalan-jalan, dan semacamnya. Dan Yuri juga teman yang
menyenangkan, sama seperti yang diingatnya dulu. Tetapi Kazuto mendapati ada
sesuatu dalam dirinya sendiri yang berubah. Ia tidak lagi merasakan apa yang dulu
pernah dirasakannya setiap kali berada di dekat Yuri. Seharusnya ia sekarang merasa
bahagia karena Yuri sudah kembali bersamanya, tetapi kenyataannya Kazuto malah
mendapati dirinya memikirkan orang lain. Seseorang yang sellau melintas dalam
benaknya, seseorang yang tanpa sadar selalu dicari-carinya, seseorang yang membuat
perasaannya kacau-balau, seseorang dengan nama Ishida Keiko.
Setelah makan malam bersama di apartemen gadis itu sekitar tiga minggu yang
lalu itu, mereka sudah jarang bertemu dan berbicara. Tentu saja kadang-kadang ia
berpapasan dengan Keiko kalau mereka kebetulan keluar dari apartemen pada waktu
yang bersamaan atau pulang pada saat yang sama. Setiap kali mereka bertemu, Keiko
hanya membalas sapaan Kazuto dengan singkat atau tersenyum sopan, tidak
menyambut usaha Kazuto untuk mengobrol lebih panjang. Keiko memang tetap ramah,
tetapi Kazuto merasa gadis itu menjaga jarak darinya, bahkan mungkin juga
menghindarinya. Dan itulah yan gmembuat Kazuto uring-uringan. Ia tidak ingin Keiko
bersikap seperti itu kepadanya. Ia ingin berbicara dengan gadis itu, mengobrol seperti
ketika mereka makan malam bersama, tetapi kelihatannya usahanya tidak berhasil.
Kalau diajak bicara, Keiko hanya akan menjawab dengan satu atau dua patah kata dan
langsung menghindar.
Memikirkan makan malam mereka waktu itu, Kazuto kembali teringat ia meminta
Keiko menerima Akira. Sampai sekarang ia masih menyesali kata-katanya. Ia bertanyatanya
apakah gadis itu menuruti permintaannya? Apakah Keiko sudah menerima
Akira?
Kekesalan terbit dalam hatinya dan mulai menggerogoti dirinya dari dalam.
Kazuto mengatupkan rahang dan mencengkeram roda kemudi erat-erat. Ia jenius sekali,
bukan? Benar-benar jenius. Lalu sekarang bagaimana?
Tiba-tiba Kazuto tersadar dari lamunannya dan memandang jalanan di depan. Di
mana dia sekarang? Ia sudah mengemudi tanpa sadar ke mana tujuannya. Ia
memandang gedung cokelat tidak jauh di depan sana. Bukankah itu perpustakaan
tempat Keiko bekerja? Ia ingat Keiko pernah menyebut nama perpustakaan ini. Kenapa
aku bisa sampai di sini? pikir Kazuto heran. Ia tidak ingat pernah datang ke sini. Tapi
karena ia sudah ada di sini, tidak ada salahnya masuk dan melihat-lihat.
Perpustakaan itu sepertinya tidak asing. Kazuto melihat berkeliling. Benar, sama
sekali tidak asing. Barisan rak buku, meja-meja dan suasana tenang di sana sangat
akrab baginya. Otaknya tidak tahu ia akan pergi ke mana, tetapi sepertinya kakinya
tahu benar, jadi ia membiarkan kakinya melangkah sendiri. Ia menaiki tangga ke lantai
dua dan memandang berkeliling. Lantai dua juga memiliki barisan rak buku yang terisi
penuh seperti di lantai satu, tetapi buku-buku di sini berbeda jenisnya dengan bukubuku
di lantai satu.
Pandangan Kazuto terhenti pada konter panjang yang terletak tidak jauh dari
tangga. Dua orang petugas perpustakaan sedang duduk di sana dan melayani beberapa
tamu. Ishida Keiko tidak terlihat. Kazuto berjalan melewati setiap barisan rak tinggi
dan mencari-cari gadis itu. Tidak ada.
Ia tidak tahu kenapa, tetapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Kazuto
menghampiri konter petugas perpustakaan dan bertanya tentang Keiko. Tetapi bahkan
sebelum Kazuto sempat membuka mulut untuk bertanya, wanita berambut pendek dan
berseragam yang duduk di balik konter itu tesenyum lebar dan bertanya lebih dulu,
“Mencari Ishida-san, bukan?”
Agak kaget, Kazuto tidak bisa langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita itu
dengan bingung.
Wanita yang ditatapnya seakan tidak menyadari keheranan Kazuto, ia melanjutkan,
“Sudah lama sekali kami tidak melihatmu. Kami bertanya pada Ishida-san, tapi dia
tidak berkata apa-apa.”
Apakah dulu aku sering ke sini? pikir Kazuto bingung. Apakah dulu aku juga
mengenal wanita itu? Tidak tahu harus menjawab apa, Kazuto hanya bergumam, “Oh
ya?”
“Kalian tidak sedang bertengkar, bukan?” tanya wanita itu penasaran dengan
suara direndahkan.
“Tidak, tidak,” sahut Kazuto cepat, lalu kembali mengingatkan wanita itu kepada
masalah utama. “Keiko-san?”
“Tadi katanya dia mau keluar makan siang,” jawab wanita itu cepat, lalu
memandang melewati bahu Kazuto. “Oh, itu dia.”
Kazuto berputar cepat dan melihat sosok Keiko yang terbalut jaket panjang kuning
sedang menuruni tangga ke lantai dasar. Ia cepat-cepat berterima kasih pada
informannya dan bergegas mengejar Keiko.
* * *
Keiko baru mengulurkan tangan untuk mendorong pintu kaca perpustakaan ketika
sebelah tangan terulur dari belakangnya dan mendorong pintu itu lebih dulu. Ia
berbalik dan ucapan terima kasih yang sudah berada di ujung lidahnya tercekat ketika
ia bertatapan dengan mata Nishimura Kazuto.
“Kazuto-san?”
Kazuto tersenyum lebar ke arahnya dan napas Keiko tertahan sejenak. Lalu ia
tersadar dan menyelinap keluar melewati pintu yang sudah didorong terbuka karena
ada orang lain yang juga akan keluar.
Berdiri di depan gedung perpustakaan, Keiko menggigil sejenak karena angin yang
menerpanya. Lalu ia berbalik menghadap Kazuto, menyapu sejumput rambut dari
wajah dan bertanya, “Kazuto-san, sedang apa di sini?”
Kazuto menarik napas dan mengangkat bahu. “Tadi aku ada sedikit urusan di
sekitar sini. Karena teringat kau pernah bilang kau bekerja di sini, aku memutuskan
untuk mampir dan mengajakmu makan siang bersama.”
“Oh.” Keiko agak terkejut. Ia tidak menduga jawaban seperti itu. Saat itu Kazuto
terlihat tepat seperti sebelum ia hilang ingatan, mengajak Keiko makan siang bersama
dengan mata berkilat-kilat dan senyum lebar seperti itu. Tidak tahu apa yang harus
dipikirkan atau dikatakan, Keiko tetap diam.
Sejenak Kazuto hanya menatap Keiko, lalu berdeham, “Jadi,” katanya sambil
memandang berkeliling, “aku dulu sering datang ke sini?”
Keiko menoleh ke arah Kazuto sesaat, lalu memandang ke arah lain. “Ya,”
sahutnya.
“Kita sering makan siang bersama, bukan?”
“Kadang-kadang,” sahut Keiko sambil mengangkat bahu.
Kazuto mengangguk-angguk. “Jadi bagaimana kalau kita pergi makan siang
sekarang?”
“Hari ini tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku sudah ada janji dengan orang lain.”
Kazuto terdiam sejenak. “Dengan siapa?”
Sebelum Keiko sempat menjawab, terdengar suara seseorang memanggil nama
Keiko. Mereka berdua serentak menoleh ke arah suara dan kening Kazuto langsung
berkerut melihat siapa yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“Kazuto, apa kabar? Kebetulan sekali kau ada di sini,” sapa Kitano Akira setelah
berdiri di depan mereka berdua.
“Oh, Akira,” balas Kazuto setengah hati. “Sedang apa di sini?”
Akira menoleh ke arah Keiko. “Aku dan Keiko-san akan pergi makan siang,”
sahutnya ringan. Ia kembali menatap Kazuto. “Kau sudah makan? Bagaimana kalau
kau ikut dengan kami?”
Setelah berpikir sejenak dan melirik Keiko tetap diam, Kazuto memutuskan ia tidak
bisa membiarkan mereka pergi berdua saja. Tidak bisa. Dan Keiko tidak boleh terus
menghindari dirinya. Akhirnya ia tersenyum dan berkata, “Tentu saja. Aku juga sedang
tidak ada kesibukan.”
* * *
“Banyak temanku yang bilan gmakanan di sini enak sekali,” kata Akira ketika mereka
memasuki sebuah kedai kecil yang ramai dikunjungi para karyawan kantoran pada jam
makan siang seperti ini.
“Benarkah? Aku belum pernah ke sini.” Keiko memandang berkeliling mencari
tempat kosong sementara seorang pelayan menyerukan ucapan selamat datang kepada
mereka. “Tapi kurasa Sensei benar. Tempat ini ramai sekali.”
Kazuto menggumamkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap Keiko, tetapi ia tetap
masuk mengikuti Keiko dengan patuh. Mereka berjalan ke satu-satunya meja yang
masih kosong. Karena Akira langsung mengambil tempat berhadapan dengan Keiko,
Kazuto pun mengambil tempat di samping Keiko.
“Kalian mau makan apa?” tanya Akira kepada kedua orang di hadapannya ketika
seorang pelayan datang menanyakan pesanan.
Keiko membaca menu yang dipegangnya. “Entahlah. Menurut Sensei apa yang
enak di sini?”
“Kurasa udon15-nya yang paling terkenal di sini,” sahut Akira, lalu mengulurkan
tangan ke seberang meja untuk menunjuk salah satu jenis udon yang tertulis di menu
Keiko. “Bagaimana kalau yang nomor tiga ini?”
“Yang ini?” tanya Keiko sambil membaca tulisan yang ditunjuk. Tanpa
mengangkat kepala dan tanpa benar-benar berpikir, ia bertanya, “Kazuto-san?”
“Kurasa aku ingin mencoba yang nomor lima,” sahut Kazuto.
“Oh, ya,” timpal Keiko. “Nomor lima kelihatannya lumayan. Tapi bagaimana kalau
nomor enam saja?”
“Kenapa?”
“Aku ingin mencoba yang nomor enam.”
“Kalau begitu, kenapa bukan kau sendiri yang memilih nomor enam?”
“Karena aku juga ingin mencoba yang nomor tiga tadi. Ayolah, Kazuto-san. Ya?”
“Tungguaku lihat dulu nomor enam itu apa.”
Sementara kedua orang itu sibuk berdebat, tanpa mereka sadari Kitano Akira
menatap mereka bergantian dengan alis terangkat samar dan sorot mata heran, lalu
seulas senyum tipis tersungging di bibirnya sementara ia menunduk dan menarik
napas pelan.
“Bagaimana, Kazuto-san?” desak Keiko lagi. “Jangan lama-lama.”
“Begini saja, Keiko-san,” sela Akira. “Kalau Kazuto memang mau memesan yang
nomor lima, biar aku saja yang memesan nomor enam. Bagaimana?”
“Tidak,” sahut Kazuto langsung dan mengangkat wajah. Sadar kalau suaranya
terdengar agak keras, ia melanjutkan dengan suara yang diusahakan lebih santai,
“Bagiku yang nomor enam juga tidak apa-apa.” Ia menoleh ke arah si pelayan sambil
menunjukkan menu yang dipegangnya. “Aku pesan yang nomor enam, lalu nona ini
memesan yang nomor tiga.” Ia menoleh ke arah Akira dan bertanya, “Dan kau, Akira?”
Setelah menyebutkan pesanannya dan si pelayan pergi meninggalkan mereka,
Akira kembali menatap kedua orang di depannya. “Sepertinya kalian berdua sudah
bergaul dengan baik,” komentarnya.
“Tidak juga.”
“Begitulah.”
Ucapan yang keluar secara bersamaan itu membuat Keiko dan Kazuto
berpandangan. Keiko yang tadi berkata “Tidak juga” sedangkan Kazuto berkata
“Begitulah”.
“Apa maksudmu „tidak juga??” tanya Kazuto.
“Tidak apa-apa,” sahut Keiko sambil memalingkan wajah.
“Kau sendiri yang bilang kalau hubungan kita baik-baik saja.”
“Memangnya kau sudah bisa mengingat kembali?”
“Belum.”
“Jadi bagaimana kau bisa tahu apakah aku berbohong atau tidak?”
“Kurasa kau tidak punya alasan untuk berbohong padaku, bukan?”
“Memang tidak.”
“Jadi?”
Ketika pelayan datang membawakan pesanan, perdebatan dihentikan sementara.
Keiko menatap telur rebus yang menyertai udon-nya, lalu ia menoleh ke arah Akira.
Sebelum ia sempat membuka mulut, Akira sudah berkata lebih dulu, “Aku tahu.
Berikan saja padaku.”
Kazuto menatap Akira, lalu beralih kepada Keiko yang memotong telurnya dengan
hati-hati. “Ada apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Oh, aku tidak suka kuning telur,” sahut Keiko tanpa mengangkat wajah.
Melihat Keiko yang memindahkan kuning telur dari mangkuknya ke mangkuk
Akira membuat kening Kazuto berkerut samar. Ia tidak tahu Keiko tidak suka kuning
telur, dan kesadaran itu semakin membuatnya terganggu. Berusaha mengenyahkan
kekesalan yang tiba-tiba saja terbit, Kazuto mengalihkan pembicaraan. “Ngomongngomong,
sudah lama kita tidak minum bersama dan mengobrol,” katanya sambil
menatap Akira.
Akira berpikir sejenak. “Benar juga. Kita memang harus mencari waktu. Sejak reuni
waktu itu aku belum sempat menelepon dan menanyakan kabarmu.”
“Aku baik,” kata Kazuto datar. Tidak, yang benar adalah bingung dan frustrasi.
“Aku yakin kau cukup sibuk akhir-akhir ini. Kudengar kau akan mengadakan
pameran dalam waktu dekat,” kata Akira.
Keiko mengangkat wajah dan menatap Kazuto dengan wajah berseri-seri.
“Pameran foto? Benarkah?”
“Begitulah,” kata Kazuto, agak terkejut melihat Keiko tersenyum kepadanya
seperti itu. Walaupun senyum itu hanya bertahan sebentar, karena Keiko langsung
menunduk ke arah mangkuk udon-nya kembali, tetapi tidak apa-apa. Sepanjang
ingatan Kazuto, baru pertama kali itulah Keiko benar-benar tersenyum kepadanya.
Perasaannya mulai aneh, tetapi aneh dalam arti yang baik. Ia merasa... senang. Kazuto
berdeham dan menatap Akira. “Jadi... kau punya rencana akhir pekan ini?”
“Aku akan menghabiskan akhir pekan di rumah keluargaku,” kata Akira. “Hair ini
kakekku berulang tahun dan keluarga besarku berkumpul semua.” Ia menoleh ke arah
Keiko. “Keiko-san, kau jadi menemaniku sore ini?”
Alis Kazuto terangkat kaget dan ia melirik Keiko yang duduk di sampingnya. Apa
maksudnya itu?
Keiko mengangguk. “Ya,” sahutnya ringan, lalu mengangkat mangkuknya ke
mulut dan menyeruput kuah udon dengan lahap. “Wah! Enak sekali. Kazuto-san,
kenapa kau belum menyentuh makananmu?”
Kazuto menatap gadis yang duduk di sampignnya itu dengan kening berkerut.
Mulutnya gatal ingin bertanya, tapi ia menahan diri. Apa maksud Akira dengan
meminta Keiko menemaninya sore ini? Apakah ia mengajak Keiko ke acara ulang
tahun kakeknya? Dan gadis itu mengiyakan dengan santainya.
Selera makan Kazuto langsung hilang entah ke mana.
* * *
Keiko melambaikan tangan ke arah Akira yang melaju pergi dalam mobilnya setelah
menurunkan Keiko dan Kazuto di depan perpustakaan, lalu ia menoleh ke Kazuto yang
berdiri di sampingnya dengan agak canggung. Keiko bingung. Ia sama sekali tidak tahu
apa yang dipikirkan Kazuto, tidak mengerti kenapa laki-laki itu berubah pendiam
selama makan siang tadi.
Benar, memang sudah sebulan terakhir ini mereka jarang bertemu dan berbicara.
Keiko sendiri berusaha tidak bertemu atau berpapasan dengan Kazuto. Kenapa?
Karena setiap kali ia melihat Kazuto, bayangan laki-laki itu memeluk Iwamoto Yuri
selalu menyerang pikirannya, membuatnya gelisah. Keiko harus selalu mengingatkan
diri sendiri bahwa Kazuto yang sekarang sudah bukan Kazuto yang dulu pernah
melukis bintang di langit-langit kamar tidurnya, bukan lagi Kazuto yan gmemberikan
malam Natal paling mengesankan dalam hidupnya, dan bukan lagi Kazuto yang
meminta Keiko melupakan Akira dan mulai melihat dirinya.
Memikirkan semua yang pernah dialaminya bersama Kazuto kembali membuat
dadanya sesak. Keiko memalingkan wajah. Ini tidak sehat, pikirnya kesal. Menyadari
bahwa ia sudah menyukai Nishimura Kazuto hanya memperburuk keadaan. Ia sudah
memutuskan untuk melupakan perasaannya, mengubur dalam-dalam perasaannya
terhadap Kazuto. Setidaknya dengan begitu ia tidak akan merasa sakit hati. Ia harus
ingat bahwa Kazuto—setidaknya Kazuto yang sekarang—tergila-gila pada Iwamoto
Yuri, bukan Ishida Keiko. Bukan Keiko.
Astaga! Hal itu sedikit pun tidak membuat perasaanku lebih baik, gerutu Keiko
dalam hati.
Tetapi hari ini Kazuto tiba-tiba muncul di perpustakaan dan mengajaknya makan
siang dengan senyum yang selalu membuat jantung Keiko berdebar dua kali lebih
cepat. Seperti yang sering dilakukannya dulu. Keiko tidak mampu berpikir apa-apa
ketika mendongak menatap Kazuto yang memandangnya dengan cara seperti yang
selalu dilakukannya dulu. Semua tekad dan usaha yang dikerahkannya untuk
melupakan laki-laki itu menguap begitu saja.
“Jadi...” Keiko menoleh mendengar suara Kazuto yang ragu. Laki-laki itu sedang
menatapnya dengan raut wajah datar dan kedua tangan dijejalkan ke saku celana. “Kau
akan pergi dengan Akira sore ini?”
Keiko memandangnya sejenak, lalu mengangguk. “Ya.”
“Kenapa?”
“Kenapa?” ulang Keiko dengan alis terangkat bingung. “Seperti yang dia bilang
tadi, hari ini hari ulang tahun kakeknya dan...”
“Ulang tahun kakeknya,” sela Kazuto sambil tersenyum tipis dan mendengus
pelan. “Dia juga bilang semua keluarga besarnya akan hadir.”
Keiko tidak mengerti apa yang ingin dikatakan Kazuto sebenarnya, jadi ia diam
saja.”Jadi kau akan diperkenalkan kepada keluarganya,” gumam Kazuto sambil
mengalihkan pandangan dan mengangguk-angguk.
“Apa?” Keiko tidak menangkap kalimat terakhir Kazuto itu.
Tepat pada saat itu ponsel Kazuto berbunyi. Kazuto mengeluarkan benda yang
menjerit-jerit itu dengan kesal, membuka flap-nya dengan gerakan kasar dan
menempelkannya ke telinga. “Ya?”
Satu kata singkat itu diucapkan dengan nada yang sama sekali tidak terdengar
ramah bagi Keiko. Dan hal itu agak membingungkannya karena baru pertama kali
itulah ia melihat Kazuto uring-uringan tanpa sebab. Mungkinkah itu salahs atu efek
samping dari pukulan di kepalanya?
“Tidak apa-apa,” kata Kazuto di ponselnya. Suaranya berubah agak tenang. “Oke...
aku mengerti. Aku akan ke sana sekarang.”
Yuri-san. Pikiran itu tiba-tiba menyelinap masuk ke otak Keiko dan membuat
alisnya berkerut. Yang menelepon Kazuto saat itu pasti Iwamoto Yuri. Kazuto tadi
bilang dia akan segera ke sana. Mungkin wanita itu menyuruh Kazuto cepat-cepat
datang menjemputnya. Menjemputnya di mana dan mereka akan ke mana? Keiko
menghentikan dirinya sebelum pikirannya melantur ke mana-mana. Ia memalingkan
wajah, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Ke mana
pun Kazuto pergi bersama Iwamoto Yuri sama sekali bukan urusannya. Kazuto bahkan
boleh membawa wanita itu ke ujung dunia kalau memang mau. Silakan saja, pikir
Keiko kesal.
Kazuto menutup flap ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celana. Ia
menatap Keiko sejenak, membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.
Akhirnya, setelah menarik napas panjang, ia bergumam datar, “Aku pergi dulu.”
Keiko menggigit bibir sementara menatap Kazuto berjalan ke mobil yang
diparkirnya di pelataran parkir di depan gedung perpustakaan. Ia memang sudah
memutuskan untuk tidak memikirkan Kazuto dan Yuri lagi. Ia sudah memutuskan
hubungan kedua oran gitu sama sekali bukan urusannya dan Kazuto boleh pergi ke
ujung dunia sekalipun bersama Iwamoto Yuri. Tetapi saat itu, sementara ia menatap
Kazuto yang masuk ke sedan putihnya dan mulai melaju pelan meninggalkan
pelataran parkir, ia tahu keputusannya sia-sia saja.
Melihat Kazuto pergi seperti itu dan menyadari laki-laki itu akan pergi menemui
Iwamoto Yuri membuat Keiko tertekan. Dengan susah payah ia menarik napas dalamdalam
untuk meredakan kekesalan—atau tepatnya, kecemburuan—yang muncul dan
menyesakkan dadanya. “Bodoh,” gerutunya pelan.
* * *
“Kenapa kau marah-marah ketika menjawab teleponku?” tanya Takemiya Shinzo tanpa
basa-basi ketika melihat keponakannya masuk restoran dan berjalan menghampirinya.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama.”
Kazuto tiba di salah satu restoran milik pamannya dengan perasaan aneh, seakan ia
pernah melihat tempat ini sebelumnya. Interiornya yang bergaya pedesaan Inggris,
dengan lantai kayu, taplak meja hijau, dan tirai tebal. Di setiap meja terdapat lilin
dalam gelas dan setangkai bunga. Kening Kazuto berkerut samar sementara ia
memiringkan kepalanya sedikit. Tapi dalam benaknya ia membayangkan ada pohon
Natal di sudut ruangan dan lagu-lagu Natal mengalun di udara. Lalu seseorang...
wajah seseorang yang tersenyum. Lalu semuanya hilang. Kazuto memijat-mijat
pelipisnya yang berdenyut. Apa-apaan itu tadi?
“Maaf, Paman,” sahut Kazuto muram dan mengambil tempat duduk di hadapan
pamannya di meja paling sudut. “Suasana hatiku sedang buruk.”
“Karena Iwamoto?”
Kazuto mengerutkan kening karena bingung. “Yuri? Bukan, bukan,” sahutnya
sambil mengibaskan tangan dengan tidak sabar. Ia heran kenapa pamannya bisa
memikirkan hal-hal yang tidak berhubungan seperti itu.
Takemiya Shinzo mengangkat bahu. “Aku tahu benar kau kesal karena masalah
wanita. Kalau bukan Iwamoto, berarti wanita yang waktu itu?”
Masih dengan kening berkerut, Kazuto menoleh ke arah pamannya. “Wanita yang
waktu itu?”
Pmaannya yang baru akan meraih cangkir kopi di hadapannya tertegun. “Oh? Aku
belum menceritakannya padamu ya?” tanyanya dengan nada tidak percaya.
“Bercerita tentang apa?” Kazuto mulai penasaran.
Takemiya Shinzo tidak langsung menjawab. Ia menatap keponakannya dengan
penuh pertimbangan, lalu memandang berkeliling. “Kazuto, bagaimana menurutmu
restoranku ini?” tanyanya tiba-tiba.
Kazuto mendesah tidak sabar, tetapi memaksa diri memandang berkeliling dan
berkomentar singkat, “Bagus.”
“Merasa pernah melihat tempatku ini sebelumnya?”
Dengan suasana hatinya saat itu, Kazuto benar-benar tidak membutuhkan latihan
kesabaran. Ia memijat-mijat pelipisnya lagi dan mendesah, “Paman...”
“Kau pasti tidak ingat pernah datang ke sini sebelumnya,” sela pamannya cepat.
“Apa?”
“Aku lupa menceritakannya padamu, tapi kau pernah datang ke sini pada malam
Natal.” Takemiya Shinzo berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Bersama seorang wanita.”
Kening Kazuto berkerut, kali ini lebih dalam. Seorang wanita? Siapa?
“Aku tidak bertemu denganmu di sini,” pamannya menambahkan. “Kau pergi ke
pertunjukan balet setelah makan malam di sini. Aku bertemu denganmu di sana. Dan
aku melihatmu bersamanya.”
Pertunjukan balet? pikir Kazuto. Sesuatu berkelebat dalam pikirannya, tapi
langsung hilang lagi. Ia menggeleng-geleng sesaat, lalu bertanya. “Oh, ya? Siapa wanita
itu?”
Takemiya Shinzo menggeleng. “Aku tidak tahu. Kau tidak mengenalkannya
padaku. Tapi...”
“Tapi?”
“Dia mengingatkanku pada Naomi.”
“Naomi?” Nama itu sama sekali asing bagi Kazuto.
“Naomi itu model terkenal di sini,” jelas pamannya. “Aku tidak pernah menyangka
kau tipe orang yang suka bermain-main dengan model.”
Kazuto tidak pernah menganggap dirinya suka bergaul dengan para model, tapi ia
diam saja. “Seperti apa orangnya?”
“Naomi?” tanya pamannya polos.
“Bukan. Wanita yang bersamaku ini,” sahut Kazuto tidak sabar.
Pamannya tersenyum. “Manis, tinggi, rambut panjang lurus, kurus... tidak juga,
tidak terlalu kurus. Sudah kubilang, dia mirip Naomi.”
Wajah Keiko langsung terbesit dalam benak Kazuto. Apakah pamannya sedang
menggambarkan ciri-ciri Ishida Keiko? “Keiko?” gumam Kazuto, lebih pada diri sendiri.
Takemiya Shinzo mengangkat bahu dan menambahkan, “Kulihat sepertinya kau
tertarik padanya.”
“Aku tertarik padanya?”
“Menurutku begitu,” kata pamannya sambil merenung.
Kazuto terpekur menatap meja. Otaknya sibuk berputar. Kalau memang Ishida
Keiko yang dimaksud pamannya, berarti... berarti apa? Berarti ia lebih dekat dengan
Keiko daripada yang semula diduganya. Pikiran itu entah bagaimana membuat
perasaannya lebih baik. “Aku tertarik padanya?” gumamnya lirih dengan nada
melamun, seolah-olah baru tersadar akan sesuatu.
Pamannya mengangguk-angguk pelan, lalu menambahkan dengan nada sambil
lalu, “Tapi saat itu belum ada Iwamoto. Jadi...”
Kazuto mengangkat wajah menatap pamannya yang sedang menyesap kopi. Apa
hubungan Yuri dalam masalah ini? Tapi ia tidak mau membuat kepalanya lebih pusing
lagi. Hanya ada satu hal yang terpikirkan olehnya sekarang. Ia benar-benar ingin tahu
bagaimana perasaannya terhadap Ishida Keiko sebelum ia hilang ingatan, berharap hal
itu sedikit-banyak bisa menjelaskan perasaan aneh yang dirasakannya setiap kali ia
berada di dekat Keiko atau setiap kali ia memikirkan gadis itu.
“Ngomong-ngomong, Kazuto,” kata pamannya tiba-tiba dengan nada serius.
“Sebelum kau datang tadi, aku menerima telepon dari kepolisian. Mereka sudah
mendapat petunjuk tentang orang-orang yang menyerangmu waktu itu. Dan orangoran
gitu memang sudah mengincarmu sejak awal.”
Delapan Belas
KEIKO belum memutuskan bagaimana ia harus bersikap dalam berhubungan dengan
Kazuto. Apakah sebaiknya ia kembali menjaga jarak dari laki-laki itu? Tetapi siang ini
mereka sudah makan dan mengobrol bersama seperti dulu ketika Kazuto belum hilang
ingatan, dan Kazuto datang ke perpustakaan untuk mencarinya. Kembali menghindari
laki-laki itu akan terasa aneh.
Tetapi kalau ia kembali dekat dengan Kazuto, justru Keiko sendiri yang berisiko
mengalami sakit hati karena terpaksa menyaksikan Kazuto dan Iwamoto Yuri bersama.
Bayangan Kazuto yang memeluk Iwamoto Yuri kembali menghunjam otaknya. Keiko
menggeleng kuat-kuat, tidak sudi mengingat itu. Pada saat-saat seperti inilah ia
membenci pikirannya yang suka melayang tanpa arah.
Sambil membetulkan letak topi wol yang agak miring karena gelengan kepalanya
yang terlalu keras tadi, Keiko sejenak berhenti melangkah di depan gedung
apartemennya dan menengadah menatap langit malam yang suram. Ia menarik napas
dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras, uap putih keluar dari mulutnya
dan menghilang di depan matanya.
“Bodoh,” gerutunya kepada bayangan wajah Kazuto di langit malam. “Bodoh...”
Dengan langkah gontai ia menaiki tangga gedung apartemen sambil merogoh tas
tangannya mencari kunci pintu. “Di mana lagi benda itu?” tanyanya pada diri sendiri.
Ia sudah berdiri di depan pintu apartemennya tetapi kuncinya masih belum ketemu.
“Hei.”
Suara berat yang tiba-tiba terdengar begitu dekat di belakangnya itu membuat
Keiko terkesiap dan terlompat kaget. Ia berputar begitu cepat sampai tas tangannya
terlepas dari pegangan, jatuh ke lantai, dan isinya berhamburan. Punggungnya
menempel ke pintu apartemennya sementara matanya terbelalak ketakutan menatap
sosok tinggi dan kabur di hadapannya.
“Ada apa? Kenapa?” tanya orang di hadapannya dengan nada cemas.
Suara itu menembus bunyi debar jantung Keiko yang mengentak keras di
telinganya dan ia mulai menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Sosok yang
tadinya terlihat kabur di matanya pun berubah jelas begitu debar jantungnya yang
keras mereda. Kazuto... Orang yang berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan
alis berkerut bingung bercampur cemas adalah Nishimura Kazuto.
Sebagian ketakutan Keiko berubah menjadi amarah. Walaupun lega, suaranya
masih agak bergetar ketika ia mendesis, “Demi Tuhan, jangan pernah sekali-kali...”
Melihat kebingungan Kazuto dan menyadari bahwa ia berbicara dalam bahasa
Indonesia, Keiko berhenti sejenak untuk menarik napas, berdeham, dan berkata dengan
suara lebih tenang dalam bahasa Jepang. “Jangan pernah melakukan hal itu lagi.”
Kazuto heran melihat Keiko yang berdiri gemetar di depannya. “Melakukan apa?
Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menatap Keiko dari ujung kepala sampai ke
ujung kaki, lalu kembali terpaku pada wajah Keiko yang pucat. “Apa yang terjadi?”
Tidak mau membalas tatapan Kazuto, Keiko berjongkok dan mulai mengumpulkan
barang-barangnya yang berserakan. “Tidak apa-apa,” sahut Keiko kaku. “Kenapa kau
mengendap-endap begitu?”
“Aku tidak mengendap-endap,” bantah Kazuto sambil ikut berjongkok dan
membantu mengumpulkan barang-barang Keiko. “Aku berjalan seperti biasa menaiki
tangga dan melihatmu sibuk mencari-cari sesuatu di tasmu. Mencari ini?” Ia
mengacungkan kunci pintu apartemen Keiko yang dipungutnya dari lantai.
Keiko mendongak dan menatap kunci di tangan Kazuto. “Ya,” sahutnya dan
berdiri setelah mengumpulkan semua barangnya.
Kazuto ikut berdiri, tetapi ia tidak mengulurkan kunci itu kepada Keiko. Ia terlihat
sedang berpikir-pikir. “Ini pernah terjadi sebelumnya, bukan?” tanyanya tiba-tiba.
“Apa?”
Kazuto tidak langsung menjawab. Ia berpikir lagi, lalu berkata, “Apakah aku
pernah membantumu mencari sesuatu?”
“Tidak,” sahut Keiko. Tiba-tiba teringat pada waktu Kazuto baru pindah ke sini
dan membuatnya terkejut di jalan sepi, ia menambahkan, “Tapi kau memang pernah
membuatku terkejut seperti yang kaulakukan tadi.” Begitu kata-kata itu meluncur dari
mulutnya, Keiko langsung menyesal. Sekarang Kazuto pasti akan bertanya kenapa ia
bereaksi begitu berlebihan ketika disapa tadi.
Tetapi Kazuto hanya mengangguk-angguk dan menatap Keiko sejenak, lalu
bertanya, “Kau pulang lebih cepat dari dugaanku. Tapi kenapa Akira tidak
mengantarmu pulang?”
Keiko agak kaget karena Kazuto mendadak mengubah arah pembicaraan mereka.
“Oh... Tadi dia memang mau mengantarku pulang, tapi karena dia harus cepat-cepat
pulang untuk merayakan ulang tahun kakeknya, aku minta diturunkan di stasiun saja.”
Alis Kazuto berkerut samar. “Kau tidak ikut merayakan ulang tahun kakeknya?”
“Apa? Tidak,” kata Keiko, heran mendengar kata-kata Kazuto.
“Jadi tadi kalian pergi ke mana?”
“Sensei ingin membeli buku langka untuk kakeknya,” Keiko menjelaskan.
“Kebetulan aku tahu tempat yang menjual buku-buku antik, jadi Sensei memintaku
menemaninya ke sana.”
Kazuto mendadak merasa ia bisa bernapas lebih mudah. “Ah, begitu. Tadinya
kukira...”
Keiko menatapnya dengan alis terangkat heran. “Kaukira apa?”
“Kukira dia akan mengajakmu. Kukira kalian... karena...” Kazuto mendesah dan
mengangkat bahu. “Kukira dia ingin mengajakmu bertemu dengan keluarganya.”
Alis Keiko berkerut. “Kaukira dia ingin memperkenalkanku kepada keluarganya?
Maksudmu... Oh...”
“Tapi aku senang ternyata dia tidak mengajakmu.”
Mata Keiko terangkat ke wajah Kazuto. Apa katanya tadi?
Kazuto menatap lurus ke mata Keiko. “Kata-kataku waktu itu... sewaktu aku
memintamu menerima Akira,” gumamnya pelan. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku
berharap bisa menarik kembali kata-kata itu.”
Keiko tidak sadar ia sedang menahan napas. Jantungnya juga sekaan berhenti
sejenak, lalu kembali berdebar keras secepat kereta api ekspres. Seluruh perhatiannya
terpusat pada kalimat terakhir Kazuto. Apa maksudnya? Keiko berusaha menahan
harapannya yang mulai melambung. Ia tidak ingin terlalu berharap. Harapan yang
dihempas kembali ke tanah akan terasa sangat menyakitkan. Tapi apa maksud laki-laki
itu?
Keiko berusaha mencari suaranya yang seakan menguap begitu saja. “Kenapa?”
tanyanya lirih. Suaranya terdengar agak tercekat, bahkan di telinganya sendiri.
Kazuto menarik napas dalam-dalam. “Karena...,” katanya sambil mengangkat bahu,
“karena aku...”
Apakah jantungku berhenti berdegup? pikir Keiko. Kenapa aku tidak bisa
mendengar apa pun selain suara Kazuto? Menunggu kata-kata Kazuto selanjutnya.
Karena... karena aku...
Tiba-tiba Kazuto membalikkan tubuh dan bersin.
* * *
Kazuto membiarkan Keiko mendorongnya masuk ke apartemen dan membiarkan gadis
itu mengomelinya tentang mudahnya terkena flu pada musim dingin, apalagi kalau ia
berkeliaran seharian di luar demi mencari objek yang menarik untuk difoto.
Omelan gadis itu terasa menenangkan. Pengalihan yang bagus. Dan Kazuto merasa
bersyukur karenanya. Dua menit yang lalu ia hampir mengatakan sesuatu yang sama
sekali tidak pernah dipikirkannya. Ia hampir berkata ia tidak suka melihat Keiko
bersama Akira. Hampir berkata ia berharap Keiko bisa tersenyum kepadanya seperti
gadis itu tersenyum kepada Akira.
Dan hampir berkata ia menyukai Keiko.
Dari mana datangnya pikiran itu? Kazuto menggeleng, berusaha menarik dirinya
kembali pada apa yang dikatakan Keiko saat itu. “Bagaimana kau tahu aku berkeliaran
seharian mencari objek untuk difoto?” tanyanya sambil melepas sepatu dan
mengenakan sandal rumah.
“Tentu saja aku tahu. Aku sering ikut denganmu berkeliling Tokyo kalau kau
sedang ingin mencari inspirasi,” Keiko menjelaskan sambil lalu.
Seperti yang selalu dilakukannya selama ini begitu memasuki apartemen Kazuto,
Keiko langsung membuka sepatu dan memakai sandal Hello Kitty-nya tanpa berpikir.
Tetapi Kazuto memerhatikan hal itu. Ia menatap sandal di kaki Keiko dengan alis
terangkat, lalu beralih menatap Keiko yang saat itu langsung menyalakan lampu dan
pemanas ruangan. Ia kembali menatap sandal itu dan perlahan-lahan kesadaran baru
tumbuh dalam dirinya.
Tetapi kata-kata Keiko tadi menarik perhatiannya. Kazuto melepas jaket dan
syalnya, lalu bertanya dengan nada heran, “Jadi aku sudah banyak mengambil foto
sejak aku tiba di Tokyo?”
“Mm,” gumam Keiko tanpa memandangnya dan mengeluarkan kotak obat dari
salah satu laci di ruang duduk.
Kazuto tertegun melihat gadis itu sepertinya mengenal baik seluk-beluk
apartemennya. “Tapi kenapa aku tidak pernah melihat foto-foto yang pernah kuambil?”
tanya Kazuto sambil mengempaskan diri ke sofa.
Keiko menghampirinya dengan obat dan segelas air. Kazuto menelan obatnya
dengan patuh. “Bukankah biasanya kau menyimpan foto-fotomu di laptop?” tanya
Keiko.
“Biasanya begitu, tapi kulihat tidak ada apa-apa di sana,” sahut Kazuto, lalu
merenung. “Aku jadi ingin tahu foto-foto apa saja yang pernah kuambil.”
Keiko bergumam tidak jelas dan mengangkat bahu, jelas menganggap hal itu tidak
perlu dipusingkan.
“Apakah sebelumnya aku sudah tahu bahwa kau tidak suka kuning telur?” tanya
Kazuto tiba-tiba.
“Apa?”
“Saat makan siang tadi, Akira sudah tahu kau tidak suka kuning telur. Apakah
sebelum ini aku juga sudah tahu?”
Agak heran, Keiko menjawab, “Ya, kau tahu soal itu.” Jeda sejenak, lalu,
“Memangnya kenapa?”
Kazuto menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan, lalu
menatap Keiko. Aku tidak ingin Akira tahu lebih banyak tentang dirimu daripada aku,
katanya dalam hati, tetapi ia tidak mungkin mengucapkannya. Keiko pasti akan
terkejut dan kembali menghindarinya. Dan Kazuto tidak mau hal itu terjadi.
“Tidak apa-apa,” akhirnya ia berkata, lalu tiba-tiba bertanya, “kenapa kau begitu
terkejut ketika aku menyapamu tadi?”
Gerakan Keiko terhenti, kaget karena Kazuto mendadak membelokkan percakapan.
“Tidak apa-apa,” ia mengelak. “Hanya terkejut karena aku tidak mendengarmu naik
tangga.”
Kazuto menatapnya dan menggeleng pelan. Gadis itu boleh membantah semaunya,
tetapi Kazuto yakin Keiko tadi ketakutan. “Kau ketakutan,” kata Kazuto, “bukan
sekadar terkejut. Kenapa?”
Keiko mengangkat bahunya dengan gerakan sambil lalu. “Sudah kubilang, tidak
apa-apa.”
Kazuto menatap gadis itu dan tiba-tiba sesuatu melintas dalam benaknya. Ia
tertegun. “Kau tidak suka gelap,” gumamnya pelan.
Kepala Keiko berputar cepat ke arah Kazuto yang sedang mengadah menatap
langit-langit ruang duduk dengan alis berkerut. “Apa katamu?” tanya Keiko.
“Kau pernah berkata padaku kau tidak suka gelap,” kata Kazuto sekali lagi dengan
nada melamun. “Benar, bukan?”
“Kau sudah ingat?” tanya Keiko, alisnya terangkat.
“Tidak. Belum,” sahut Kazuto. Pikiran tentang Keiko yang tidak suka gelap tibatiba
terbesit dalam benaknya. Entah bagaimana, ia bisa mengingat sesuatu tentang
gadis itu. Dan ingatan tentang hal kecil itu membuatnya senang. Akhirnya. Akhirnya ia
mengingat sesuatu tentang Keiko. “Keiko-chan?”
Keiko menatapnya dengan waswas. “Apa?”
“Apakah sebelum ini—sebelum aku hilang ingatan—aku sudah tahu kenapa kau
tidak suka gelap?” tanya Kazuto sambil menoleh ke arahnya.
Tubuh Keiko berubah kaku dan ia mengerjap-ngerjapkan mata. “Tidak,” sahutnya
cepat. “Kurasa tidak.”
“Kau mau menceritakannya kepadaku?”
Keiko menatap Kazuto dengan ragu. Jemarinya bertautan dan ia menggigit bibir.
“Kejadiannya sudah lama,” katanya kaku. “Kenapa kau ingin tahu?”
“Kenapa kau tidak ingin aku tahu?” Kazuto balas bertanya.
Keiko mendesah keras. “Karena itu sama sekali bukan masalah besar,” katanya
sambil merentangkan kedua tangannya. “Seorang pemabuk salah mengenaliku sebagai
Naomi.”
“Naomi?”
“Aku pernah bercerita soal Naomi kepadamu. Tapi tentu saja sekarang kau sudah
tidak ingat lagi,” kata Keiko sambil mengempaskan dirinya ke salah satu sofa, agak
jauh dari Kazuto dan menunduk menatap kedua tangannya. “Dia saudara kembarku.”
Alis Kazuto terangkat heran. Ishida Keiko punya saudara kembar?
“Dan dia model terkenal,” lanjut Keiko sambil tersenyum ke arah Kazuto.
Kali ini alis Kazuto berkerut. Naomi? Model terkenal? Tunggu... Bukankah tadi
siang pamannya berkata tentang Kazuto yang menghadiri pertunjukan balet dengan
seorang wanita yang mirip Naomi? Naomi yang dikenal sebagai model terkenal di
Jepang? Kalau begitu, wanita yang dilihat pamannya bersama Kazuto di pertunjukan
balet malam Natal itu... Keiko?
“Kau tentu tahu orang terkenal punya banyak penggemar.” Suara Keiko menarik
Kazuto kembali ke alam sadar. “Naomi juga punya banyak penggemar. Beberapa di
antaranya cukup...,” Keiko tertawa pendek, “...cukup berani. Kadang-kadang malah
suka mengganggu Naomi. Menguntitnya... yah, semacam itu.”
Mata Kazuto menyipit. Ia mulai merasakan firasat buruk. Sepertinya ia tahu ke
mana arah cerita ini, tetapi ia berharap dugaannya salah. “Apakah mereka juga
mengganggumu?” tanyanya waswas.
Keiko tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat berdiam diri, seakan sedang
berpikir apakah ia harus menjawab dengan jujur atau mengelak, ia mulai bergumam,
“Kejadiannya musim panas dua tahun lalu. Hari sudah larut dan aku sedang dalam
perjalanan pulang. Jalanan sepi dan gelap. Dan laki-laki itu mabuk. Dia salah
mengenaliku sebagai Naomi.”
Kazuto langsung terduduk tegak. Matanya menatap lurus ke arah Keiko. “Apa
yang dilakukannya padamu?” Ia tidak suka membayangkan... Semoga pikirannya
salah...
Keiko menelan ludah dengan susah payah. “Ke-kejadiannya sudah lama.
Maksudku...”
“Keiko-chan.” Kazuto bergerak cepat menghampiri Keiko dan berlutut di hadapan
gadis itu, membuat mata mereka sejajar. Ia meraih tangan Keiko dan memaksa gadis itu
menatapnya. “Apa yang dilakukannya padamu?” tanyanya sekali lagi dengan suara
yang diusahakannya terdengar tenang.
“Dia mencengkeram bahuku dan mendorongku ke dinding,” gumam Keiko sambil
menunduk. Saat itu Kazuto merasakan tangan Keiko yang berada dalam
genggamannya gemetar. “Dia begitu dekat. Akub isa merasakan... merasakan napasnya
yang bau mengenai wajahku. Lalu dia mencoba... mencoba... Maksudku, tangannya...
tangannya bergerak terus. Aku sudah berusaha melawan. Sungguh. Aku mencoba
sebisaku, tapi dia sangat kuat. Dia mabuk. Dan... dan... tangannya terus bergerak...”
Suara Keiko mulai pecah.
Tanpa berkata apa-apa, Kazuto langsung mengulurkan tangan dan merangkul
Keiko. Tubuh gadis itu gemetar dan Kazuto mempererat pelukannya. Amarah timbul
dalam dirinya. Ia merasa sangat marah sampai ia hampir tidak bisa menahan diri.
Seumur hidupnya ia tidak pernah berpikir untuk bertindak kasar. Tidak pernah satu
kali pun. Tetapi kini ia tiba-tiba merasakan desakan hebat untuk menghajar pemabuk
yang mengasari Keiko itu. Tidak, menghajar saja tidak cukup. Ia bahkan bisa
membunuh orang itu.
“Tapi aku tidak apa-apa,” kata Keiko cepat dan memaksakan tawa hambar. “Aku
menjerit dan menjerit terus. Untungnya tepat pada saat itu ada dua polisi yang
berpatroli di sekitar sana. Mereka mendengar jeritanku. Pemabuk itu tidak sempat
melakukan apa-apa selain... selain... menyentuh. Maksudku, dia tidak sempat bertindak
lebih jauh.”
Kazuto melepaskan pelukannya dan menatap Keiko. “Polisi menahan orang itu,
bukan?”
Keiko mengangguk. Kemudian seakan tersadar bahwa ia begitu dekat dengan
Kazuto, ia bergerak gelisah dan bergeser menjauh sedikit dari Kazuto. “Seperti yang
sudah kukatakan padamu, aku baik-baik saja dan aku bisa menjaga diri. Sungguh.” Ia
menatap Kazuto dan tersenyum. “Sebenarnya, Kazuto-san, kau tahu benar aku bisa
menjaga diri karena aku pernah menghajarmu ketika kau baru pindah ke sini. Kukira
kau penguntit.”
Alis Kazuto terangkat heran. “Oh, ya?”
“Tentu saja,” sahut Keiko dan tertawa kecil. “Kau sampai berteriak minta ampun.”
Seolah-olah punya pikiran sendiri, sebelah tangan Kazuto terangkat dan
menyentuh pipi Keiko. “Aku yakin kau bisa menjaga diri,” gumamnya sambil
tersenyum, “tapi kau tidak akan mengalami hal seperti itu lagi. Aku berjanji.”
Mereka berpandangan beberapa saat. Kazuto bisa melihat sinar heran dalam mata
Keiko. Gadis itu pasti bingung dengan ucapannya. Kazuto sendiri tidak paham kenapa
ia selalu mengatakan hal-hal tidak terduga saat di dekat Keiko.
Sambil berdeham Kazuto menurunkan tangannya dari pipi Keiko dan berdiri.
“Kau sudah makan malam?” tanyanya ringan, dan melihat gadis itu agak heran dengan
arah percakapan yang tiba-tiba berubah.
Keiko menggeleng.
“Bagaimana kalau kita pergi makan?”
Kening Keiko berkerut tidak setuju. “Kau masih mau berkeliaran malam-malam
walaupun sudah mulai flu?”
“Di dekat-dekat sini saja,” kata Kazuto sambil mengenakan jaketnya. “Tentunya
ada tempat makan di sekitar sini?”
Keiko ragu sejenak, lalu menggerutu, “Ada yatai16 yang dulu sering kita kunjungi
di dekat sini.”
“Bagus.” Kazuto tersenyum lebar. “Kita makan di sana saja. Ayo.”
Tadi ketika ia berlutut di hadapan Keiko dan menatap ke dalam mata gadis itu, hati
Kazuto terasa sakit. Apa yang baru saja didengarnya dari keiko benar-benar
membuatnya merasa sulit bernapas. Keiko memang kini baik-baik saja. Ia gadis yang
kuat. Tetapi apa yang akan terjadi kalau Keiko terluka? Apa yang akan terjadi kalau
sesuatu yang buruk menimpa Keiko? Apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi
pada Kazuto? Bagaimana Kazuto harus menanggungnya?
Kesadaran itu sangat mengejutkan dan Kazuto butuh beberapa saat untuk
mencernanya. Dari mana datangnya perasaan yang begitu kuat itu?
Akhirnya Keiko mendesah pelan dan tersenyum. Senyum tulus kedua dalam hari
itu, dan Kazuto merasa seakan ia baru menerima penghargaan. Senyum gadis itu
memiliki pengaruh terhadap dirinya. Membuatnya perasaannya membaik.
Membuatnya merasa gembira. Membuatnya merasa seolah-olah ia bisa menghadapi
dunia.
Kazuto tiba-tiba menyadari selama Ishida Keiko berada di dekatnya, segalanya
akan baik-baik saja. Dirinya juga akan baik-baik saja.
Selama gadis itu ada di sisinya...
16 Warung tenda pinggir jalan
Dan saat itu juga kesadaran lain menerjang dirinya. Sepertinya ia, Nishimura
Kazuto, telah jatuh cinta kepada Ishida Keiko.
Astaga, apakah itu mungkin?
Sembilan Belas
“JADI polisi sudah sudah tahu siapa yang menyerangmu waktu itu?” tanya Keiko
dengan mata terbelalak. “Mereka benar-benar sudah tahu siapa orangnya?”
Mereka duduk berhadapan di warung mi langganan mereka dengan dua mangkuk
ramen panas di meja. Kazuto baru saja bercerita tentang apa yang dikatakan pamannya
tadi siang tentang kecelakaan yang menimpanya dan membuatnya hilang ingatan itu.
Kazuto mengangkat bahu. “Begitulah kata pamanku. Tapi pada tahap ini kurasa
mereka hanya memiliki kecurigaan. Belum bisa dipastikan.”
“Itu juga sudah bagus. Itu berarti polisi kita benar-benar sudah bekerja keras,” kata
Keiko penuh semangat. Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan kening berkerut,
“Kazuto-san, mungkinkah orang-orang itu penagih utang?”
“Aku tidak punya utang.”
Keiko meringis. “Kau kan tidak ingat apa-apa.”
Sebenarnya sejak tadi ada sesuatu yang ingin ditanyakan Keiko kepada Kazuto,
tetapi ia terus menundanya. Ia melirik Kazuto yang makan dengan lahap di
hadapannya. Apakah ia harus bertanya? Tetapi untuk apa pula ia bertanya? Ia tahu ia
hanya akan sakit hati, tetapi... Ia melirik Kazuto sekali lagi, lalu bertanya dengan suara
yang diusahakan terdengar ringan, “Oh ya, di mana Yuri-san? Kau tidak mengajaknya
makan bersama kita?”
“Dia pergi ke luar kota,” sahut Kazuto singkat tanpa mengangkat wajah dan terus
melahap ramen-nya.
“Oh?” Keiko mengerjapkan mata. Bahunya merosot. “Jadi karena Yuri-san sedang
tidak ada, kau baru datang mencariku? Begitu?” gumamnya kecewa.
“Apa?” tanya Kazuto sambil mengangkat wajah.
“Tidak. Tidak apa-apa,” sahut Keiko cepat sambil menggeleng. Ia merasa kesal
pada diri sendiri karena sudah menanyakan hal tidak berguna tadi. Memangnya apa
yang diharapkannya dari Kazuto? Astaga, ia harus berhenti berharap yang tidak-tidak,
sebelum ia berubah gila dan tidak bisa membedakan impian dengan kenyataan.
Sadarlah, Ishida Keiko. Hadapi kenyataan. Kenyataan apa? Kenyataan bahwa saat ini
Kazuto duduk di hadapannya, mengobrol dengannya, tersenyum kepadanya dengan
cara yang selalu diingatnya? Ya Tuhan, seperti kenyataan dan impian mulai bercampur
aduk dalam pikirannya. Bagaimana ini?
Tiba-tiba lagu Fly High terdengar di antara hiruk-pikuk warung mie itu. Keiko
tersentak kaget, bergegas mengaduk-aduk tas tangannya dan mengeluarkan ponselnya
yang berbunyi nyaring.
“Hei, aku pernah mendengar lagu itu,” komentar Kazuto tertegun. Ia memang
ingat lagu itu adalah nada dering ponsel Keiko.
“Tentu saja kau pernah dengar. Hamasaki Ayumi kan salah satu penyanyi paling
top di Jepang. Dan lagu ini sudah menjadi nada dering ponselku sejak lagunya pertama
kali dirilis,” kata Keiko tidak sabar.
“Setidaknya aku mengingat satu hal lagi tentang dirimu,” gumam Kazuto.
Keiko tidak mendengarnya karena ia sudah menempelkan ponsel ke telinga.
“Moshimoshi? Oh, Sensei.”
Kazuto langsung menyipitkan mata dan mengamati Keiko yang berbicara dengan
Kitano Akira di ponsel.
“Bagus sekali,” kata Keiko sambil tersenyum. “Aku ikut senang kalau kakek Sensei
menyukai hadiahnya... Tidak apa-apa... Apa?” Keiko melirik ke arah Kazuto yang
masih menatapnya lekat-lekat. “Ya, aku sedang makan. Sensei sendiri sudah selesai
makan malam?... Oh, begitu... Baiklah, sampai nanti.”
Ketika Keiko menutup ponselnya, Kazuto bertanya dengan nada yang diharapkan
tidak mencerminkan apa yang dirasakannya, “Mau apa dia?”
“Hanya ingin berterima kasih karena aku sudah memilihkan buku yang disukai
kakeknya,” jelas Keiko ringan.
“Pesta ulang tahunnya sudah selesai?” tanya Kazuto acuh tak acuh, agak kesal
melihat Keiko tersenyum sementara berbicara dengan Akira tadi. Kenapa gadis itu
begitu gampang tersenyum pada orang lain selain Kazuto?
“Kata Sensei mereka baru akan mulai makan,” kata Keiko. Ia melihat apa yang
sedang dilakukan Kazuto dan mendecakkan lidah dengan pelan. “Kazuto-san, jangan
menusuk-nusuk tempura-mu seperti itu. Serpihannya terbang ke mana-mana. Kau ini
kenapa sih?”
* * *
Kitano Akira menutup ponsel sambil tersenyum. Ia gembira karena Ishida Keiko sudah
memilihkan hadiah yang bagus untuk kakeknya. Sebenarnya ia ingin mengajak gadis
itu ke sini hari ini, tetapi ia lalu berpikir mungkin saat ini masih terlalu cepat
memperkenalkan Keiko kepada keluarganya. Gadis itu mungkin akan merasa terbebani.
Akira bahkan belum menyatakan perasaannya kepada Keiko, tetpai seharusnya gadis
itu sudah tahu. Walaupun begitu, tetap saja saat ini masih terlalu cepat. Dan
seandainya pun ia ingin memperkenalkan Keiko kepada keluarganya,ia harus memulai
dari kedua orangtuanya. Jadi pesta keluarga besar-besaran tempat semua kerabat dekat
dan jauh berkumpul sudah pasti bukan tempat yang sesuai.
“Akria,” panggil ibunya dari ambang pintu ruang duduk rumah kakeknya yang
besar. “Sedang apa di sana? Semuanya sudah berkumpul di ruang makan.”
Akira bangkit dari sofa dan mengikuti ibunya ke ruang makan utama.
“Jun baru saja datang,” kata ibunya dengan suara pelan. “Sepertinya dia terlibat
masalah lagi.”
Akira mengerutkan kening. Hirayama Jun, sepupu yang lebih tua daripada Akira,
memang terkenal selalu terlibat masalah. Ayah Jun, Hirayama Takeshi, adalah kakak
ibu Akira dan ia sudah berusaha keras mengendalikan putra satu-satunya itu, tetapi
sepertinya usahanya selalu menemui jalan buntu. Sejak kecil Jun selalu bermasalah di
sekolah. Ia tidak tertarik belajar, dan ketika sudah dewasa, ia juga tidak tertarik untuk
bekerja dengan serius.
“Paman Takeshi juga sudah datang?” tanya Akira kepada ibunya.
Ibunya mengangguk.
“Kalau begitu, sebaiknya aku pergi menyapanya dulu sebelum ke ruang makan,”
kata Akira.
Akira pergi ke aula depan, mendapati pamannya dan Jun sedang berbicara serius.
Melihat kedatangan Akira, kedua pria itu berhenti bercakap-cakap. Hirayama Takeshi
merentangkan kedua lengannya dan tersenyum lebar. “Akira, senang sekali bertemu
denganmu lagi. Sudah lama kau tidak datang mengunjungiku.”
Akira membungkukkan badan dalam-dalam ke arah pamannya. “Maafkan aku,
Paman. Memang seharusnya aku mengunjungi Paman.”
“Tidak apa-apa,” sela pamannya ramah. “Aku bisa mengerti bagaimana rasanya
bekerja di rumah sakit. Dokter hebat memang selalu sibuk.”
Akira melihat pamannya melirik Jun ketika mengucapkan kalimat terakhir. Yang
dilirik pura-pura tidak mendengar. Jun memang tidak pernah menyukai Akira karena
ayahnya selalu memuji-muji Akira di depannya, tetapi Akira sendiri juga tidak terlalu
menyukai sepupunya itu.
“Apa kabar, Oniisan?” sapa akira, memaksakan diri bersikap ramah kepada
sepupunya yang terlihat lebih tua daripada umurnya yang baru 35 tahun.
“Tentu saja sangat baik, seperti yang bisa kaulihat sendiri,” balas Jun acuh tak acuh.
Akira tersenyum tipis, lalu berkata kepada pamannya, “Semua sudah menunggu di
ruang makan.”
“Kau duluan saja,” kata pamannya. “Ada yang ingin kubicarakan dengan sepupumu
sebentar.”
Akira membungkukkan badan sekali lagi, lalu berputar dan berjalan meninggalkan
mereka berdua.
Begitu Akria menghilang dari pandangan, Hirayama Takeshi berputar menghadap
putranya. “Sebaiknya kau punya alasan yang bagus untuk ini,” kata Hirayama Takeshi
dengan nada rendah dan marah. “Jelaskan kepadaku kenapa polisi menghubungimu?
Kenapa mereka menuduhmu terlibat dalam penyerangan terhadap seorang pria?”
Hirayama Jun meringis. “Ayah sudah tahu?” katanya dengan nada tidak peduli.
“Aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Itu masalah pribadi. Dan aku bisa
membereskannya. Ayah tidak perlu ikut campur.”
Ayahnya terkesiap marah. “Apa katamu? Apa...”
“Apakah Ayah juga mendengar bahwa orang itu hilang ingatan?” potong Jun halus.
“Orang yang hilang ingatan tidak bisa ingat apa-apa. Jadi tidak bisa mengajukan
tuntutan apa-apa. Ditambah lagi, tidak ada saksi mata.”
Hirayama Takeshi tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Ia tahu anaknya
memang bermasalah, tetapi ini adalah pertama kalinya Jun menunjukkan sikap seperti
itu tepat di depan ayahnya.
“Yang perlu Ayah lakukan,” lanjut Jun dengan nada ringan sambil tersenyum lebar
dan menepuk bahu ayahnya, “adalah pura-pura tuli dan bisu tentang masalah ini. Oke?”
Kedua pria itu tidak tahu bahwa Akira tadi tidak langsung pergi ke ruang makan.
Akira masih bisa mendengarkan percakapan mereka. Apa yang baru saja didengarnya
membuatnya tercengang sampai ia tidak bisa bergerak selama beberapa saat. Hanya
ada satu pertanyaan yang berputar-putar dalam otaknya saat itu.
Mungkinkah orang yang dibicarakan Jun itu adalah Nishimura Kazuto?
Ketika ia mendengar langkah kaki yang semakin mendekati tempatnya berdiri,
Akria cepat-cepat bersembunyi di balik pintu, walaupun itu bukan tempat yang cocok
untuk bersembunyi. Hirayama Takeshi berjalan melewatinya dengan langkah lebar,
terlalu marah untuk menyadari bahwa Akira bersembunyi di balik pintu dan
menguping pembicaraan mereka.
Akira baru melangkah keluar dari tempat persembunyiannya ketika Hirayama Jun
berjalan lewat dengan santai sambil bersenandung pelan. “Oniisan,” panggil Akira.
Jun berhenti melangkah dan menoleh ke balik bahunya. Alisnya berkerut ketika
melihat Akira berdiri di belakangnya. “Sedang apa kau di situ?”
Akira mengabaikan pertanyaan itu. “Apakah Oniisan menyerang orang itu pada
Hari Natal?” tanyanya langsung.
Jun membalikkan tubuh menghadap Akira. Kepalanya dimiringkan, lalu sudut
mulutnya terangkat dan ia meringis. “Wah, ternyata ada yang menguping di sini.”
Tanpa menghiraukan komentar sinis itu, Akira bertanya sekali lagi, “Apakah
Oniisan menyerang orang itu pada Hari Natal?”
Jun melangkah menghampirinya dan berdiri tepat di depan Akira. “Memangnya
kenapa? Apa urusannya denganmu?” tanya Jun dengan nada datar. Lalu matanya
menyipit dan ia bertanya lagi, “Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu
kejadiannya pada Hari Natal?”
Akria tetap berdiri tegak dan menatap lurus ke mata sepupunya. “Karena aku
mengenal orang itu.”
Alis Jun terangkat tinggi. “Temanmu, hah? Ternyata dunia ini sempit, bukan?”
katanya pelan, lalu seulas senyum mengancam tersungging di bibirnya. “Sebaiknya kau
tidak ikut campur dalam masalah ini, Akira.”
Akira tidak takut. Juga tidak mundur. Ia tetap menatap sepupunya dengan tenang.
“Atau?” tanyanya datar.
“Atau kau akan menyesal. Percayalah padaku,” kata Jun dengan nada rendah.
“Kalau kau memang sepintar yang dikatakan ayahku, kau akan pura-pura tuli dan bisu
tentang masalah ini.”
Wajah Akira tidak menampilkan ekspresi apa-apa, tetapi ia tidak mengalihkan
tatapan dari sepupunya. “Pura-pura tuli dan bisu?” gumamnya, masih dengan nada
datar yang sama. “Kurasa orang yang Oniisan serang itu tidak akan bersedia berpurapura
tuli dan bisu begitu ingatannya kembali.”
Alis Jun berkerut dan matanya menyipit.
“Ya, Oniisan,” kata Akira pelan, seolah-olah ia bisa membaca jalan pikiran
sepupunya. “Dia tidak akan selamanya hilang ingatan. Ingatan itu akan kembali.
Malah,” Akira tersenyum dingin, “saat ini mungkin dia sudah ingat.”
Setelah berkata begitu, Akira berbalik dan berjalan ke ruang makan, bergabung
kembali dengan keluarganya, meninggalkan Jun yang berdiri kaku dan wajah pucat.
* * *
Selama makan malam bersama itu Jun tidak bisa tenang. Sesekali ia melirik ke arah
Akira yang mengobrol dengan kakeknya. Apa maksud Akira tadi? Apa maksudnya
ingatan orang itu mungkin sudah kembali?
Jun memutar otak. Selama ini ia tidak pernah berpikir orang sok tahu yang
dihajarnya waktu itu bisa membahayakan dirinya. Ketika mendapat kabar orang itu
hilang ingatan dan sama sekali tidak bisa mengingat apa pun tentang penyerangan
terhadap dirinya, Jun sangat lega. Ia tidak pernah berpikir orang yagn amnesia bisa
ingat kembali. Tidak pernah mengira orang itu bisa membahayakan dirinya.
Apakah Akira berbohong padaku? pikir Jun curiga. Mungkinkah Akria hanya
ingin menakut-nakutinya? Mungkinkah orang yang waktu itu diserangnya sudah bisa
ingat kembali?
Jun mencengkeram sendoknya erat-erat. Sial! Seharusnya ia menghabisi orang itu
saat itu juga. Kenapa ia tidak melakukannya? Kenapa? Sial!
Tanpa sadar ia memukulkan tinjunya ke meja karena kesal. Pukulannya tidak
terlalu keras, tetapi cukup keras sampai semua orang di meja menoleh ke arahnya,
termasuk kakeknya. Sambil menggumamkan permintaan maaf tidak tulus dan
menundukkan kepala ke arah kakeknya dan orang-orang lain di sekeliling meja, Jun
kembali menatap piring di hadapannya dan memasukkan makanan ke mulutnya tanpa
merasakan apa-apa.
Sekarang bukan saatnya berpikir apakah Akria berbohong atau tidak. Jun harus
memastikan keselamatan dirinya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga ia harus
membereskan masalah ini. Ia tidak bisa mengambil risiko orang yang diserangnya itu
teringat kembali dan langsung menunjuk Jun sebagai orang yang menyerangnya. Kalau
itu terjadi, polisi tidak akan ragu-ragu menahannya, karena sekarang ini pun polisi
sudah mencurigai dirinya.
Kening Jun berkerut. Kalau dipikir-pikir, kenapa polisi bisa sampai curiga padanya?
Ia yakin tidak ada saksi mata saat itu. Hanya ada anak-anak buahnya dan ia yakin
mereka tidak akan buka mulut. Siapa yang melaporkannya?
Jun menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan, berusaha
tidak menarik perhatian orang-orang kepadanya. Sekarang ini, ia tidak mau
memikirkan masalah bagaimana polisi bisa mencurigai dirinya. Yang paling penting
saat ini adalah memastikan orang yang hilang ingatan itu akan tetap hilang ingatan
selamanya.
Dua Puluh
KAZUTO dan Akira duduk berhadapan di salah satu kafe tidak jauh dari rumah sakit
tempat Akira bekerja. Akira baru saja selesai menceritakan semua yang diketahuinya
tentang peristiwa penyerangan terhadap Kazuto dan kemungkinan besar bahwa
saudara sepupunyalah yang bertanggung jawab.
“Aku benar-benar minta maaf,” kata Akria sambil menunduk.
Kazuto mengerjap, baru pulih dari kekagetannya setelah mendengarkan cerita
Akira. Ia mengibaskan tangan dan membantah ringan, “Minta maaf untuk apa? Kau
sama sekali tidak bersalah.”
“Aku tidak pernah menduga bahwa orang yang menyerangmu ternyata adalah
salah satu anggota keluargaku.”
“Tetap saja itu bukan kesalahanmu,” kata Kazuto, berusaha menenangkan Akira
yang terlihat sangat resah.
Akira mengangkat wajah menatap Kazuto. “Aku juga sudah memberikan
keterangan kepada polisi,” katanya mantap. “Aku memang tidak punya bukti nyata,
tapi setidaknya keteranganku sedikit-banyak bisa membantu mereka. Bagaimanapun
juga, mereka sudah lebih dulu mencurigai sepupuku itu.”
Kazuto mengembuskan napas panjang. “Sayang sekali aku masih belum ingat apaapa,
jadi aku sama sekali tidak bisa memberikan keterangan tambahan apa pun,”
gumamnya sambil menggeleng-geleng. Ia terdiam sejenak dan mengerutkan kening,
lalu bergumam dengan nada melamun, “Kalau dipikir-pikir, akulah satu-satunya yang
bisa mengenali orang yang menyerangku, bukankah begitu? Semuanya tergantung
pada apa yang kuingat.”
Kazuto mengangkat bahu. “Hanya sedikit,” ia membenarkan. Dan hanya tentang
Keiko. “Sebenarnya aku ingin tahu kenapa sepupumu itu menyerangku. Itu juga kalau
memang dia yang melakukannya. Aku ingin tahu alasannya.”
Akira mengangguk-angguk. “Ya. Aku juga tidak tahu. Dan dia sudah pasti tidak
akan menceritakannya padaku kalau kutanya,” katanya sambil tersenyum masam.
“Kuharap aku bisa membantu lebih dari ini.”
Kazuto ikut tersenyum. “Kau sudah sangat membantu, Akira. Terima kasih karena
sudah menceritakannya kepadaku.”
Saat itu ponsel Kazuto berbunyi. Sekilas ia menatap layar ponsel dan mengerjap,
lalu menempelkannya ke telinga. “Oh, Yuri. Ada apa?... Besok pagi?... Oke... Oke,
sampai ketemu nanti.”
“Yuri-san?” tanya Akira ketika Kazuto menutup ponsel.
“Ya. Dia akan kembali dari Nagano besok pagi, jadi dia memintaku menjemputnya
di stasiun,” sahut Kazuto.
“Ngomong-ngomong, dia akan segera kembali ke Amerika, bukan?” tanya Akira.
“Mm.”
“Lalu bagaimana denganmu? Kau juga akan kembali ke Amerika?”
Kazuto mengangkat alisnya dengan heran. “Aku? Kenapa harus kembali ke
Amerika?”
Alis Akira berkerut heran. “Jadi kalian akan berhubungan jarak jauh? Menurutmu
itu bisa berhasil?”
Kazuto mengerjap. “Hubungan jarak jauh?” gumamnya, lalu memiringkan kepala
sedikit. “Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Tunggu, bukankah kalian...” Akira ragu sejenak, berpikir-pikir, lalu berkata, “Kau
pernah bilang akan mengajak teman wanitamu ke reuni dan memperkenalkan
kepadaku. Kukira Yuri-san orangnya. Jadi dia bukan pacarmu?”
“Bukan,” sahut Kazuto, walaupun ia tidak yakin tentang siapa wanita yang
dimaksud Akira.
Tiba-tiba ponsel Kazuto berbunyi lagi. Ia melirik layar ponselnya sekilas dan
tersenyum lebar. “Ya, Keiko-chan,” katanya di ponsel, tidak menyadari Akira yang
baru akan menyesap kopi mengangkat wajah menatapnya. “Iya, aku sudah tahu...
Apa?... Baiklah, aku akan menjemputmu dan kita akan pergi bersama... Ya, ya, ya...
Aku ke sana sekarang.”
“Ada masalah?” tanya Akira ketika Kazuto menutup ponsel.
Kazuto, yang masih tersenyum, menatap Akira. “Apa? Oh, tidak. Tidak ada
masalah. Tapi aku harus pergi sekarang,” sahutnya. “Ngomong-ngomong, Akira, sekali
lagi, terima kasih.”
Akira menatap Kazuto yang berjalan cepat keluar dari pintu kafe dengan
termenung. Ia melihat dengan jelas perbedaan raut wajah dan nada suara Kazuto ketika
berbicara di ponsel tadi. Dan Akir ajadi bertanya-tanya sendiri.
Kalau bukan Yuri, apakah mungkin... Keiko?
* * *
“Ini tidak kebanyakan?”
Keiko menoleh ke arah Kazuto yang berjalan di sampingnya sambil mengintip ke
dalam kantong plastik besar berisi bahan makanan yang dijinjingnya. “Tidak,” sahut
Keiko sambil tersenyum dan melirik kantong plastik lain yang dijinjingnya sendiri.
“Memangnya kau lupa kita akan memasak untuk enam orang malam ini?”
“Kau benar juga,” gumam Kazuto dan balas tersenyum.
Mereka sedang berjalan pulang ke gedung apartemen mereka setelah membeli
cukup banyak bahan makanan. Malam ini mereka akan berkumpul di tempat Kakek
dan Nenek Osawa untuk makan malam bersama, seperti yang sering mereka lakukan,
walaupun tentu saja Kazuto sudah tidak ingat lagi sekarang.
Keiko menggigil kedinginan dan meniup-niup tangannya yang tidak bersarung
tangan. “Ah, dingin sekali,” gumamnya. “Ngomong-ngomong, Kazuto-san, di mana
mobilmu? Kenapa kau tidak membawanya hari ini?”
“Sudah kukembalikan,” sahut Kazuto sambil menatap Keiko. “Kedinginan?”
Keiko memindahkan kantong plastiknya ke tangan kiri dan meniup tangan
kanannya yang sepertinya hampir berubah menjadi es. “Kau tidak merasa dingin?”
“Tidak terlalu,” sahut Kazuto. “Sudah tahu cuaca sedang dingin-dinginnya, kenapa
tidak memakai sarung tangan?”
“Kau sendiri juga tidak memakai sarung tangan,” protes Keiko.
“Tapi aku masih punya saku jaket,” kata Kazuto sambil menggerak-gerakkan
tangan yang dijejalkan ke saku jaket panjangnya. “Kenapa kau membeli jaket yang
tidak ada sakunya?”
“Karena bagi wanita saku itu tidak penting,” balas Keiko. “Yang penting modelnya
bagus.”
“Dasar wanita,” kata Kazuto sambil mendesah panjang. “Sini, kupinjamkan
sakuku.”
Keiko mengangkat alis. Sebelum ia sempat bertanya apa maksud Kazuto, laki-laki
itu sudah menggenggam tangan Keiko dan memasukkan tangan mereka ke saku jaket.
Terkejut, Keiko mendongak menatap Kazuto. Mendadak saja ia tidak bisa bernapas dan
jantungnya... astaga, jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut jantungnya akan
meledak.
Mata Kazuto menatap lurus ke matanya, lalu laki-laki itu tersenyum. “Lebih hangat,
bukan?” tanya Kazuto ringan dan mempererat genggamannya pada tangan Keiko.
Lebih hangat? pikir Keiko pusing, lalu ia mengerjap dan mengangguk. Ya, memang
hangat. Kehangatan tangan Kazuto menjalari dirinya, sampai ke wajahnya yang mulai
terasa panas. Keiko yakin wajahnya memerah. Astaga...
Mereka kembali berjalan berdampingan seperti itu, dengan tangan Kazuto yang
menggenggam tangannya di dalam saku jaket. Keiko bertanya-tanya apakah ia sedang
bermimpi. Apakah yang menggenggam tangannya benar-benar adalah tangan Kazuto?
Mungkin aku memang sedang bermimpi, pikir Keiko. Beberapa hari terakhir ini
Kazuto kembali seperti dulu, seperti sebelum kecelakaan. Kazuto mengunjunginya di
perpustakaan, makan siang dengannya, meneleponnya, mengobrol dengannya,
tersenyum kepadanya seperti dulu.
Keiko berusaha menahan diri, berkata pada diri sendiri bahwa semua ini tidak
mungkin terjadi. Ia mungkin akan terbangun suatu hari nanti dan Kazuto kembali jauh
darinya. Tetapi Keiko tidak bisa menahan diri. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini
sejak Kazuto mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Ia merasa bahagia setiap kali
Kazuto tersenyum kepadanya. Mungkin ia tidak boleh berharap banya, tetapi dalam
situasi ini apa lagi yang dimilikinya selain harapan?
Harapan bahwa Kazuto akan kembali mengingatnya dan mengingat perasaan yang
dulu ada... Keiko menggeleng untuk menghentikan pikirannya. Perasaan apa? Jangan
berpikiran yang tidak-tidak. Jangan...
Tiba-tiba ia mendengar Kazuto mendesah keras dan berkata, “Aku benar-benar
berharap ingatanku segera kembali.”
Keiko menoleh dan menatapnya dengan heran. “Oh? Kenapa tiba-tiba berpikir
seperti itu? Bukankah dulu kau bilang tidak ingat juga tidak apa-apa?”
Kazuto tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik, ia berkata, “Itu sebelum
aku sadar aku sudah melupakan sesuatu yang penting.”
Alis Keiko terangkat. “Sesuatu yang penting? Apa itu?”
Mereka berhenti melangkah. Saat itu Keiko baru sadar mereka sudah tiba di depan
gedung apartemen. Kazuto yang menarik napas dalam-dalam, lalu berputar
menghadap Keiko. “Keiko-chan,” katanya hati-hati, “aku tahu aku mungkin tidak bisa
menjelaskannya dengan baik. Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana, tapi aku
yakin dengan apa yang kurasakan. Sejak bertemu denganmu di acara reuni itu, aku...”
“Kazu?”
Mereka berdua serentak menoleh ke arah suara dan Iwamoto Yuri berdiri di tangga
gedung apartemen, tidak jauh dari mereka. Keiko langsung menyentakkan tangannya
dari genggaman Kazuto. Kazuto meliriknya sekilas, lalu kembali menatap Yuri.
“Yuri?” katanya heran. “Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau bilang kau akan
pulang besok?”
Iwamoto Yuri berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum ragu, kemudian ia
membungkukkan badannya sedikit ke arah Keiko. “Selamat malam, Keiko-san.”
Keiko buru-buru balas membungkuk dan menggumamkan selamat malamnya.
Yuri kembali menatap Kazuto. “Ada sedikit perubahan rencana,” katanya,
menjawab pertanyaan Kazuto tadi. “Akhirnya kami pulang sore tadi. Dan auk ke sini
untuk memberimu kejutan. Ternyata kau tidak ada di rumah.”
“Ya, tadi kami pergi berbelanja,” kata Kazuto. “Sudah lama menunggu?”
Yuri tersenyum dan mengangguk. “Lumayan.”
“Kau terus menunggu di luar sini?” tanya Kazuto lagi.
Yuri mengangguk lagi. “Kalau tidak, aku harus menunggu di mana?”
“Udaranya sangat dingin,” kata Kazuto cepat. “Sebaiknya kita masuk sekarang,
sebelum kau jatuh sakit.”
Kazuto baru mulai bergerak, lalu ia berbalik ke arah Keiko dan berkata, “Maaf,
Keiko...”
“Tidak apa-apa,” Keiko buru-buru menyela sambil memaksakan seulas senyum.
“Sini. Berikan kantong plastiknya kepadaku. Aku akan memberikannya kepada Nenek.”
“Terima kasih,” kata Kazuto pendek, lalu naik ke lantai dua bersama Yuri.
Keiko menatap punggung kedua orang itu sampai menghilang di lantai dua, lalu ia
menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Kini ia tahu
bagaimana rasanya terbangun dari mimpi indah dan dihadapkan pada kenyataan.
Rasanya menyakitkan.
* * *
Kazuto sangat terkejut ketika melihat Yuri berdiri di tengah-tengah tangga gedung
apartemennya. Terlebih lagi ketika ia baru saja akan mengungkapkan perasaannya
kepada Keiko. Ketika ia baru saja akan berkata, Aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana,
tapi aku yakin dengan apa yang kurasakan. Sejak bertemu denganmu di acara reuni itu, aku
merasa kau adalah seseorang yang penting dalam hidupku.
Astaga! Apakah ia benar-benar akan berkata seperti itu tadi? Kedengarannya
sangat konyol, tetapi itu kenyataannya. Keiko memang penting baginya.
“Kazu.” Suara Yuri membuyarkan lamunannya. “Apakah kau marah karena aku
tiba-tiba muncul tanpa menelepon lebih dulu?”
Kazuto menoleh ke arah Yuri. “Tidak,” sahutnya singkat, lalu tersenyum. “Aku
tidak marah. Tapi kalau kau menelepon lebih dulu, kau tidak perlu menunggu di luar
dalam cuaca dingin seperti ini.”
“Maaf,” kata Yuri. “Kukira kau pasti ada di rumah.”
Kazuto membuka pintu apartemennya dan masuk. Yuri menyusul di belakangnya.
Setelah mengenakan sandal rumah, Kazuto pergi menyalakan pemanas ruangan.
“Kazu, di mana sandal itu?” tanya Yuri tiba-tiba.
Kazuto menoleh. “Sandal?”
“Sandal Hello Kitty itu.”
Kazuto tertegun. Yuri memang selalu mengenakan sandal itu setiap kali ia datang
ke apartemen Kazuto. Tetapi itu sebelum Kazuto sadar sandal Hello Kitty itu
sebenarnya milik Keiko. Dan setelah menyadari sandal itu milik Keiko, ia...
“Eh, ternyata sandal itu milik orang lain,” sahut Kazuto. Ia mengeluarkan sepasang
sandal putih dari lemari di dekat pintu. “Pakai ini saja.”
Yuri terdiam, kemudian ia tersenyum tipis dan memakai sandal yang ditunjukkan.
“Mau minum apa?” tanya Kazuto dari dapur.
“Tidak usah,” sahut Yuri sambil melepaskan syal dan jaketnya. “Sebenarnya ada
yang ingin kubicarakan denganmu. Karena itu aku datang ke sini.”
“Ada apa?”
Yuri duduk di sofa, melipat tangannya di pangkuan, dan mendongak menatap
Kazuto yang berdiri bersandar di meja makan.
“Jason meneleponku,” katanya.
Alis Kazuto terangkat, tidak menduga akan mendengar nama temannya juga
adalah mantan tunangan Yuri. “Oh? Ada masalah apa?”
Yuri tersenyum samar, lalu menarik napas. “Dia ingin aku memikirkan kembali
soal hubungan kami.” Ia terdiam sejenak, dan bertanya, “Bagaimana menurutmu,
Kazu?”
Kazuto mengangkat bahu. “Kurasa kau sendiri yang harus memutuskannya, Yuri.
Bukan aku.”
Yuri menunduk. “Kau benar,” gumamnya pelan. “Baiklah. Kurasa untuk
mendapatkan jawaban langsung, aku harus bertanya langsung. Bukankah begitu?”
Kazuto tidak mengerti, tetapi ia diam saja.
“Kazu, bagaimana perasaanmu padaku?” tanya Yuri sambil menatap lurus ke mata
Kazuto.
Pertanyaan langsung itu mengejutkan Kazuto, walaupun seharusnya ia sudah bisa
menduganya. Sejak Yuri berkata ia sudah memutuskan pertunangan dengan Jason dan
menyatakan perasaannya kepada Kazuto, Kazuto belum menjawabnya. Awalnya ia
sangat terkejut mendengar pengakuan bahwa Yuri memutuskan hubungan dengan
Jason karena wanita itu menyadari ia menyukai Kazuto. Apakah ia merasa senang
ketika Yuri menyatakan perasaannya waktu itu? Ya, Kazuto memang sangat senang,
karena ia juga merasakan—tidak, ia mengira ia juga merasakan hal yang sama terhadap
Yuri. Saat itu ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya selain memeluk Yuri.
Namun sejak saat itu sampais ekarang Kazuto sama sekali belum menjawab
perasaan Yuri. Sebenarnya sejak awal ada sedikit perasaan ragu yang menyelinap ke
dalam hatinya, hanya saja ia tidak mau mengakuinya. Yuri datang kepadanya. Hanya
itulah yang penting saat itu. Tetapi semakin lama, Kazuto keraguan itu semakin besar,
diikuti oleh kesadaran dan kepastian perasaan yang tidak dipahaminya terhadap orang
lain. Seseorang yang sudah dilupakannya, namun kembali ke dalam hidupnya dan
membuat hatinya tergerak.
“Kazu.” Suara Yuri menyadarkannya dari lamunan. “Bagaimana perasaanmu
kepadaku?”
Kazuto menunduk dan menarik napas dalam-dalam. “Kau,” gumamnya pelan,
“teman yang baik.”
Yuri terdiam sesaat. Lalu ia mengerjap dan tersenyum tipis. “Teman yang baik?”
katanya lirih. “Begitu? Teman?”
“Ya,” sahut Kazuto pelan. Ia belum pernah merasa seyakin ini seumur hidupnya.
* * *
Keiko keluar dari apartemen Kakek Osawa sambil mengembuskan napas. Kenapa
harus ia yang melakukannya? Setelah mendengar kalau Iwamoto Yuri datang ke sini,
Nenek Osawa menyuruh Keiko mengajaknya ikut makan bersama.
“Tidak sopan, bukan, kalau kita tidak mengundangnya makan bersama?” kata
Nenek Osawa tadi.
“Ah, Nenek,” sela Haruka yang sedang mencuci sayur. “Biar saja Kazuto-san bisa
mengajaknya sendiri kalau dia mau. Kenapa kita ikut-ikutan?”
“Nenek rasa sebaiknya kita mengundangnya,” sahut Nenek Osawa, lalu berpaling
ke arah Keiko. “Keiko, kau mau naik dan memberitahu mereka?”
Dan Keiko tidak mungkin menolak, bukan?
Ia baru akan menaiki tangga ketika ia mendengar pintu apartemen lantai dua
terbuka dan tertutup, lalu langkah kaki menuruni tangga. Sebelum Keiko sempat
bereaksi, sosok Kazuto terlihat di hadapannya. Juga Iwamoto Yuri.
“Keiko-chan?” tanya Kazuto agak kaget.
Mata Keiko beralih dari Kazuto ke Yuri, lalu kembali ke wajah Kazuto.
Tersenyumlah, kata Keiko pada diri sendiri. Senyum.
“Aku baru saja mau naik ke apartemenmu,” kata Keiko cepat, berharap senyum
yang tersungging di bibirnya tidak terlihat konyol. “Nenek menyuruhku mengajak
Yuri-san ikut makan malam bersama.”
Yuri melirik Kazuto yang berdiri di depannya, lalu menatap Keiko dan tersenyum.
“Terima kasih, Keiko-san,” katanya, “tapi aku harus pergi sekarang. Mungkin lain
kali...”
“Oh, begitu?”
Yuri membungkukkan badan sedikit, lalu berkata kepada Kazuto, “Kazu, kau tidak
perlu mengantarku pulang. Aku bisa sendiri.”
Kazuto mencegatnya ketika Yuri hendak berjalan melewatinya. “Sudah kubilang
aku akan mengantarmu pulang,” gumamnya.
Mata Keiko terpaku pada tangan Kazuto yang memegang siku Yuri dan tiba-tiba
saja ia tidak bisa bernapas. Dengan susah payah ia mengalihkan tatapan dan diamdiam
menarik napas sementara kedua orang itu berjalan melewatinya.
“Kalian makan saja dulu,” kata Kazuto tiba-tiba.
Keiko menoleh dan mendapati Kazuto sedang menatapnya.
“Tidak perlu menungguku,” lanjut Kazuto. Setelah tersenyum singkat, ia berbalik
dan berjalan pergi bersama Yuri.
Dada Keiko terasa berat. Ia menarik napas dalam-dalam karena kalau tidak begitu
sepertinya udara tidak masuk ke paru-parunya. Tetapi itu tidak terlalu berhasil.
Dadanya masih terasa sesak.
Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar. Mimpi tidak akan bertahan lama. Ia boleh
saja hidup dalam mimpi, tetapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk.
Dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa
menerima.
Keiko tahu ia sudah hidup dalam mimpi selama beberapa hari terakhir ini. Dan
kini sudah saatnya menerima kenyataan. Ia tahu itu. Ia tahu...
* * *
Kazuto menepati janjinya. Ia mengantar Yuri sampai ke depan gedung apartemennya.
Mereka jarang berbicara selama perjalanan. Masing-masing sibuk dengan pikiran
sendiri.
“Kau sudah sampai,” kata Kazuto memecah keheningan ketika mereka berhenti di
pintu depan gedung.
“Kazu.” Yuri berbalik menghadapnya. “Masuklah sebentar. Ada yang ingin
kutunjukkan kepadamu.”
Kazuto mengikuti Yuri masuk ke apartemennya yang kecil namun rapi. Setelah
menyalakan lampu, Yuri langsung berjalan ke meja kerja, membuka laci, dan
mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar. Ia ragu sesaat sebelum berbalik dan
menghadap Kazuto.
“Ini,” katanya sambil menyodorkan amplop cokelat itu kepada Kazuto.
“Apa ini?”
“Seharusnya aku tidak melakukannya,” kata Yuri sambil tersenyum kecil, “tapi
sudah kulakukan dan aku meminta maaf.” Ia menatap Kazuto. “Aku mengambil itu
dari apartemenmu.”
Dengan heran, Kazuto membuka amplop dan mengeluarkan beberapa lembar foto.
Alisnya terangkat tidak mengerti ketika menatap foto-foto itu. Foto kota Tokyo, orangorang
yang berlalu lalang, taman kota, kuil. Ia tidak mengerti. Ia mengangkat wajah
dan menatap Yuri. “Apa ini?” tanyanya sekali lagi.
“Lihatlah terus,” kata Yuri. “Kau akan mengerti.”
Kazuto terus melihat foto-foto di tangannya. Dan tiba-tiba gerakan tangannya
terhenti. Alisnya berkerut samar menatap foto yang terpampang di hadapannya. Foto
seorang gadis di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Gadis itu berdiri
membelakangi kamera, tetapi Kazuto langsung tahu bahwa gadis itu adalah Ishida
Keiko.
Bagaimana ia bisa yakin itu Keiko kalau wajah gadis di foto itu tidak terlihat?
Entahlah. Tetapi ia yakin itu Keiko.
Tangannya bergerak lagi. Foto selanjutnya adalah foto Keiko di perpustakaan.
Lagi-lagi Kazuto yakin siluet gadis yang berdiri di antara dua rak tinggi itu adalah
Keiko.
Kenapa? Kenapa ia yakin sekali?
Karena ia sendirilah yang memotret foto-foto ini. Ia yang memotret Ishida Keiko.
Ya, itulah sebabnya.
Tangannya bergerak lagi menampilkan foto lain dan napas Kazuto tercekat. Foto
close-up Keiko.
Tunggu. Ia ingat hari itu. Kazuto mengerutkan kening, berusaha mengingat. Hari
itu ia melihat Keiko sedang duduk sendirian di kafe. Mata gadis itu terarah ke buku
yang terbuka di meja di hadapannya, tetapi sudah jelas perhatiannya tidak ditujukan ke
buku itu. Ia sedang melamun. Dan saat itu Ishida Keiko terlihat begitu cantik sampai
Kazuto terdorong untuk memotretnya, mengabadikan saat itu.
Tetapi kenapa Kazuto tidak bisa mengingat lebih banyak? Ia ingin mengingat lebih
banyak. Ia ingin tahu lebih banyak.
“Kau yang memotret semua itu, Kazu,” Yuri membuka suara. “Kau sangat ahli.
Foto-foto itu sangat bagus.”
Kazuto mengangkat wajah dan menatap Yuri dengan bingung. “Kau tadi bilang
kau mengambil foto-foto ini dari apartemenku? Kenapa?”
Yuri menggigit bibir, lalu tersenyum tipis. “Entahlah,” katanya sambil merentangkan
tangan dan mengangkat bahu. “Kurasa aku cemburu.”
“Cemburu?”
Yuri memiringkan kepala dan menatap Kazuto. “Aku mengenalmu, Kazu. Kau
selalu mengambil foto-foto sesuai sudut pandangmu, sesuai dengan apa yang kaulihat
dan apa yang kaurasakan. Dan caramu memotret Keiko-san...” Yuri terdiam sejenak.
“Setelah melihat foto Keiko-san, aku tahu. Aku bisa merasakannya.”
“Merasakan apa?”
“Kau menyukainya,” kata Yuri pelan. “Benar, bukan?”
Kazuto tidak menjawab.
Yuri menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Lalu ia
mendongak menatap Kazuto sambil tersenyum muram. “Yah, kurasa pertanyaanku
waktu itu akhirnya terjawab,” gumamnya. “Aku memang sudah terlambat.”
Dua Puluh Satu
“WAH, hujan lagi,” kata Nenek Osawa sambil menatap keluar pintu kaca teras.
Keempat orang lainnya yang duduk mengelilingi kotatsu ikut berpaling dan
menatap keluar. Keiko bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Kazuto
saat ini. Sudah lebih dari satu jam berlalu sejak ia mengantar Yuri pulang, kenapa
sampai sekarang belum kembali?
“Kazuto pergi dengan mobilnya?” tanya Kakek Osawa tiba-tiba.
“Tidak,” sahut Tomoyuki, kembali menatap mangkok nasinya yang sudah hampir
kosong. “Kurasa dia sudah mengembalikan mobilnya.”
“Kurasa dia juga tidak membawa payung,” gumam Nenek Osawa. Lalu ia
berpaling kepada Keiko dan tersenyum menghibur. “Mungkin dia terlambat karena
hujan ini.”
Keiko hanya tersenyum karena ia tidak tahu bagaimana menanggapi kata-kata
Nenek Osawa. Apakah kekecewaannya begitu jelas terlihat sampai Nenek Osawa
merasa perlu menghiburnya?
“Ya. Menurutku juga begitu,” timpal Tomoyuki setelah menelan makanan yang
ada di dalam mulutnya. “Kazuto Oniisan tidak akan pulang dalam hujan selebat ini.
Kurasa dia pasti menunggu hujan berhenti di...”
Haruka memukul kepala adiknya dan melotot. “Hati-hati dengan ucapanmu.”
Tomoyuki menatap kakaknya sambil memberengut dan mengusap-usap kepala.
“Memangnya apa yang akan kukatakan?”
Keiko membiarkan kedua kakak-beradik itu meneruskan perdebatan kecil mereka
dan berkonsentrasi pada makanan di depannya. Ia tidak mau memikirkan Kazuto.
Untuk apa memikirkan hal-hal yang pasti akan membuat hatinya sendiri sakit?
Sebaiknya ia mencari bahan obrolan yang menyenangkan karena ia tahu dirinya agak
pendiam selama makan malam. Yah, mungkin itu sebabnya Nenek Osawa berusaha
menghiburnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Alis Keiko terangkat ketika melihat nama
yang tertera di layar. “Moshimoshi? Kazuto-san?”
* * *
Kazuto menutup flap ponsel dan tersenyum. Ia sudah tahu Keiko akan mengomel
sedikit, setelah itu menyetujui permintaannya. Stasiun kereta bawah tanah ini tidak
jauh dari gedung apartemen, jadi gadis itu tidak perlu berjalan jauh. Kazuto
mendongak dan mengembuskan napas panjang. Uap putih meluncur keluar dari
mulutnya dan menghilang dengan cepat. Ia merapatkan jaket karena dingin dan berdiri
memerhatikan hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Ia memangan berkeliling. Di sekitarnya banyak orang yang juga sedang menunggu
hujan berhenti. Orang-orang yang membawa payung sudah berjalan menembus hujan.
Beberapa orang dijemput oleh keluarga atau teman yang membawakan payung,
membuat iri orang-orang yang masih berdiri menunggu. Kazuto tersenyum. Ia tidak
merasa iri, karena tidak lama lagi Keiko akan datang dan menjemputnya.
Dan kali ini aku akan mengatakan apa yang tidak sempat kukatakan kepada Keiko
tadi, putusnya sambil menyelipkan amplop berisi foto yang diambilnya dari Yuri ke
balik sweter supaya tidak basah.
* * *
Keiko melirik Kazuto yang berjalan di sampingnya sambil memegangi payung. Dari
tadi Kazuto diam saja, tidak menjelaskan apa-apa. Kenapa? Akhirnya Keiko berdeham
dan bertanya, “Kau sudah makan?”
Kazuto menoleh menatapnya dan tersenyum. “Belum. Kalian sudah selesai makan?”
“Sudah,” sahut Keiko.
“Oh,” Kazuto mengangguk pelan, lalu kembali terdiam.
Keiko menggigit bibir dan meliri Kazuto lagi. Apakah laki-laki itu benar-benar
tidak mau menjelaskan? Apakah ia harus bertanya? Apakah ia akan terdengar terlalu
ikut campur kalau bertanya? Apakah ia boleh bertanya?
Tiba-tiba Kazuto mendesah keras dan berhenti melangkah. Keiko ikut berhenti dan
menatapnya dengan heran. “Ada apa?” tanyanya.
Kazuto berbalik menghadapnya. “Tidak ada yang ingin kautanyakan kepadaku?”
“Apa?” Keiko terkejut dan mengerjap. Astaga! Apakah Kazuto baru membaca
pikirannya? Tidak, tidak mungkin. Mungkinkah?
“Kau benar-benar tidak ingin tahu?” tanya Kazuto lagi.
“Ingin tahu tentang apa?”
Kazuto ragu sejenak, berpikir-pikir. Lalu menarik napas dan berkata, “Kukira kau
ingin tahu tentang hubunganku dengan Yuri.”
Napas Keiko tertahan dan matanya melebar. “Ap-apa?” katanya tergagap, tidak
menyangka Kazuto bisa menebak apa yang dipikirkannya dengan tepat. “Tidak, aku
tidak ingin tahu.”
Mata Kazuto menyipit.
“Kau sudah pernah menceritakan semuanya kepadaku,” lanjut Keiko ketika
melihat Kazuto sepertinya tidak percaya. “Dia teman lamamu dan bertunangan dengan
sahabatmu. Tapi, tentu saja, sekarang dia sudah tidak bertunangan lagi karena dia
menyadari sebenarnya dia menyukaimu. Dan kau juga menyukainya. Tidak ada lagi
yang perlu kuketahui.”
Ia menghentikan kata-katanya begitu menyadari nada suaranya agak ketus dan
menyadari ia sudah terlalu banyak bicara. Kazuto menatapnya tanpa berkedip. Keiko
membuka mulut, lalu menutupnya lagi, tidak tahu apa yang harus dikatakannya dalam
situasi seperti ini. Mungkin memang lebih baik tidak mengatakan apa-apa. Keiko
mencengkeram payungnya, lalu membalikkan tubuh dan bergumam, “Sebaiknya kita
cepat-cepat. Aku kedinginan.”
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Kazuto menyusulnya dan bertanya, “Kau
cemburu?”
Keiko ingin berkata, Tidak, aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Kenapa harus? Lalu ia
berpikir kata-kata yang diucapkan dengan terlalu menggebu-gebu seperti itu justru
tidak akan membantu. Akhirnya ia menarik napas untuk menenangkan diri dan
berkata, “Aku tidak punya alasan untuk cemburu, bukan?”
Kazuto berpikir sejenak, lalu menjawab ringan, “Memang tidak.”
Keiko mengangguk pendek sambil terus melangkah. Benar, ia tidak punya alasan
untuk cemburu. Sama sekali tidak berhak cemburu. Tetapi, astaga, kenapa hatinya
masih terasa sakit walaupun ia sudah tahu sejak dulu kalau semua ini akan terjadi?
Tiba-tiba tangan Kazuto memegang sikunya dan menahannya supaya berhenti
berjalan. “Hubungan kami tidak seperti itu.”
Keiko mengerjap menatap Kazuto. “Apa?”
Kazuto melepaskan tangannya dari siku Keiko dan tersenyum. “Hubungan kami
tidak seperti itu,” katanya sekali lagi.
Keiko kembali mengerjap. Ia memang tidak salah dengar. “Oh? Tapi... Tapi kau
menyukainya.”
“Tadinya kukira begitu,” aku Kazuto. “Tapi kalau aku memang menyukainya,
kenapa aku selalu merasa tidak tenang setiap kali melihatmu bersama Akira?”
Sesaat mereka hanya berpandangan. Entah jalanan saat itu memang sedang sunyi
atau Keiko yang tidak bisa mendengar apa-apa selain debar jantungnya sendiri dan
bunyi hujan yang terdengar samar-samar. Rasanya seperti mimpi. Apakah ia memang
sedang bermimpi?
“Apa... maksudmu?” Akhirnya Keiko memberanikan diri bertanya. Suara yang
keluar dari tenggorokannya terdengar kecil dan jauh. Jantungnya berdebar keras
menunggu jawaban Kazuto.
Keheningan yang hanya dihiasi bunyi hujan tiba-tiba dipecahkan bunyi decit yang
keras. Mereka berdua serentak menoleh dan melihat dua mobil sedan hitam berhenti
mendadak di dekat mereka. Dua pria keluar dari masing-masing mobil, tanpa payung,
dan menatap lurus ke arah mereka.
Keiko mengerjap dan rasa panik langsung merayapi dirinya. Tangannya terangkat
dan mencengkeram lengan jaket Kazuto. Ia tidak tahu siapa orang-orang itu dan apa
yang mereka inginkan, tetapi sudah pasti mereka tidak bermaksud baik. Ia menoleh ke
kanan dan ke kiri. Tidak ada orang. Jalanan sunyi senyap. Jalan itu memang selalu sepi,
tetapi setidaknya biasanya ada satu atau dua orang yang terlihat berjalan kaki. Hari ini,
dalam hujan lebat ini, tidak terlihat orang lain di jalan selain mereka.
Kazuto mengerutkan kening. Perlahan ia menarik Keiko ke belakang punggungnya.
“Siapa kalian?” tanya Kazuto kepada orang-orang berpakaian serbahitam itu.
Mereka tidak menjawab. Saat itu pintu belakang salah satu mobil terbuka. Seorang
pria keluar sambil membuka payung. Ia menegakkan tubuh, menutup pintu mobil, dan
tersenyum ke arah Kazuto. Senyum itu sama sekali bukan senyum bersahabat. Kerutan
di kening Kazuto semakin dalam. Pria itu. Kenapa pria itu terasa tidak asing?
Pria yang menatap Kazuto dengan tajam itu berumur sekitar tiga puluhan, bibirnya
tipis, rambutnya tipis, dan hidungnya agak bengkok. “Kau tidak ingat lagi padaku?”
tanya pria itu sambil tersenyum lebar. Lalu ia tergelak. “Waktu itu aku juga
menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi tentu saja, sekarang kau sudah pasti tidak
ingat padaku. Aku menghajarmu dengan baik, bukan?”
Keiko terbelalak di balik punggung Kazuto dan cengkeramannya di lengan Kazuto
mengencang. Astaga! Orang itu yang dulu menyerang Kazuto. Orang itu... Orang itu
yang membuat Kazuto hilang ingatan. Dan orang itu... orang itu... Oh! Tiba-tiba Keiko
terkesiap ketika ia akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan lebih jelas di bawah
sinar lampu pinggir jalan.
Mata sipit pria itu beralih ke arah Keiko. Keiko tidak berani bernapas sementara
pria itu mengamatinya dengan saksama, lalu ia kembali menatap Kazuto dan
tersenyum lebar, “Kurasa pacarmu ingat padaku,” katanya.
Kazuto menoleh ke belakang ke arah Keiko. Keiko mendongak dan bertatapan
dengan Kazuto. Ia ingin berkata ia memang mengenal pria itu. Ia pernah melihat pria
itu di pertunjukan balet yang dihadirinya bersama Kazuto. Waktu itu pria berwajah
jahat ini menatap Kazuto dengan pandangan aneh. Kini Keiko mengerti sebabnya.
Tetapi suaranya tidak bisa keluar. Ia terlalu terkejut untuk berkata-kata.
* * *
“Kurasa pacarmu ingat padaku.”
Jantung Kazuto berdebar begitu keras sampai dadanya terasa sakit. Ia menoleh ke
arah Keiko. Karena Keiko mencengkeram lengannya, Kazuto bisa merasakan gadis itu
gemetar. Ia mengerti arti tatapan di dalam mata Keiko yang terbelalak ketakutan itu.
Keiko memang pernah bertemu dengan pria yang berdiri di hadapan mereka ini.
Kalau memang pria itu yang menyerangnya, maka...
“Kau sepupu Akira?” tanya Kazuto datar sambil kembali menatap pria itu.
“Hirayama Jun?”
Jun mendengus. “Sudah kuduga Akira akan menjadi masalah,” katanya dengan
nada rendah. “Dia sudah memberitahumu, hah?”
“Apa yang kauinginkan dariku?” tanya Kazuto. Walaupun ia berbicara dengan
nada datar dan tenang, pada kenyataannya jantungnya berdebar kencang. Ia merasa
tegang, bukan karena khawatir akan keselamatan dirinya, tetapi khawatir akan
keselamatan gadis yang saat ini ketakutan di belakangnya. Orang-orang yang
mengerubungi mereka ini sudah jelas orang-orang kasar. Mereka sudah pernah
menyerang Kazuto satu kali. Kemungkinan besar hari ini mereka datang untuk
menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum tuntas.
“Seharusnya aku menghabisimu saat itu juga, jadi aku tidak perlu direpotkan
masalahmu sekarang.” Suara Jun terdengar lagi. Ia melirik Keiko. “Tapi sekarang juga
tidak apa-apa. Aku bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus.”
Kazuto kembali menoleh ke arah Keiko. Ia tidak mungkin membiarkan Keiko
terluka. Seharusnya ia tidak meminta gadis itu datang menjemputnya di stasiun kereta
bawah tanah. Seharusnya ia tidak menempatkan gadisd itu dalam bahaya. Seharusnya...
Seharusnya...
Jun menyunggingkan seulas senyum licik yang menampakkan giginya. “Lebih baik
terlambat daripada tidak sama sekali,” gumamnya.
* * *
Keiko tidak bisa melepaskan cengkeramannya di lengan Kazuto. Pria yang berdiri di
hadapan mereka bersama empat orang anak buahnya itu terlihat berbahaya. Apa yang
diinginkannya? Apa yang akan terjadi pada mereka? Pada Kazuto?
Kazuto menurunkan payung yang dipegangnya, menunduk ke arah Keiko, dan
berbisik, “Telepon polisi.”
Kata-kata Kazuto belum sempat dicernanya ketika Keiko mendengar satu kata
yang diucapkan pria jahat di depan mereka itu. “Serang,” gumam pria itu. Kemudian
segalanya kacau.
Kazuto menarik Keiko ke asmping ketika empat orang bertubuh besar itu dengan
cepat bergerak maju. Payung Keiko terlempar entah ke mana. Keiko juga tidak peduli.
Matanya terbelalak menatap Kazuto yang memunggunginya dan berhadapan dengan
empat orang yang sepertinya tidak akan ragu-ragu membunuh pria itu.
Ketika dua di antara mereka melayangkan pukulan ke arah Kazuto, Keiko
memekik. Kazuto mendorongnya menjauh. Keiko terhuyung sedikit, tetapi matanya
dengan ngeri menatap Kazuto yang berusaha mengelak dari serangan oarng-orang itu.
Haruka pernah berkata Kazuto jago karate. Memang. Keiko bisa melihatnya. Tetapi
orang-orang yang menyerangnya juga bukan orang-orang sembarangan. Ditambah lagi,
mereka berempat sementara Kazuto sendirian.
Sendirian. Bersama Keiko yang tidak bisa apa-apa. Keiko yang juga dianggap
sebagai sasaran.
Otak Keiko masih lumpuh. Ia menatap perkelahian di depannya dengan ngeri,
tetapi ia tidak bisa bertindak. Ia tidak ingat kata-kata Kazuto tadi, sampai salah seorang
tukang pukul itu meninju rahang Kazuto. Saat itu jgua Keiko merasa sekujur tubuhnya
dingin dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Dan saat itu juga sebuah suara
mendesaknya. Telepon polisi! Telepon siapa saja! Telepon!
Ia ketakutan. Ia gemetaran. Ia basah kuyup. Semua itu membuat usahanya
mengeluarkan ponsel dari saku menjadi tugas paling sulit dalam hidupnya. Ia tidak
sempat banyak berpikir. Ia hanya menekan tombol untuk menghubungi orang terakhir
yang dihubunginya. Saat itu ia tidak ingat siapa yang terakhir kali dihubunginya. Yang
paling penting adalah menelepon seseorang. Siapa saja.
Keiko tidak melihat salah seorang tukang pukul itu bergerak ke arahnya. Ia sibuk
berdoa dalam hati dengan ponsel ditempelkan di telinga. Angkat teleponnya... Angkat
teleponnya... Tolong...
“Moshimoshi?”
Suara Haruka! Keiko hampir pingsan saking leganya. “Oneesan...”
Ia menjerit ketika lengannya disentakkan dengan kasar. Keiko tersungkur ke tanah
dan ponselnya terlepas dari pegangan. Ketika ia mendongak ia melihat si tukang pukul
mengayunkan sebelah kakinya. Keiko otomatis mengangkat tangan untuk melindungi
kepala. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Malah terdengar suara keras dan sesuatu yang
berat jatuh menindihnya.
Keiko membuka mata dan mendapati Kazuto berlutut di dekatnya. Lengan Kazuto
merangkul tubuhnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Kazuto sambil meringis.
Keiko tidak mendengarkan pertanyaan itu. Yang dilihatnya hanya darah di sudut
bibir Kazuto. Matanya terbelalak kaget. Tangannya terangkat ke pipi Kazuto. “Kazutosan!
Kau...”
Tiba-tiba si tukang pukul kembali melayangkan tendangan ke punggung Kazuto.
Keiko memekik. Ia berputar dan merangkul Kazuto yang tersungkur di tanah untuk
melindunginya.
“Hentikan! Hentikan!” seru Keiko. Ketika berteriak ia baru sadar suaranya pecah
dan air mata sudah mengalir di wajahnya, bercampur dengan air hujan.
Salah seorang tukang pukul itu, entah yang mana, mencengkeram lengan Keiko
dan menariknya dengan kasar sampai berdiri. Keiko berusaha melawan, menendang,
memukul, dan berteriak. Si tukang pukul mengangkat tangan dan menamparnya
dengan keras. Kepala Keiko tersentak ke belakang. Ia bisa merasakan telinganya
berdenging kesakitan dan ledakan warna menyilaukan terlihat di balik kelopak
matanya.
Kazuto bertindak cepat. Ia melayangkan tinju ke rahang orang yang menampar
Keiko, lalu disusul dengan tendangan di perut. Orang itu terhuyung mundur dan
terjatuh ke tanah.
Hirayama Jun, yang dari tadi menyaksikan perkelahian itu dengan senyum licik
tersungging di wajah, mengangkat sebelah tangan. Anak-anak buahnya berhenti
bergerak.
“Sebelum aku menghabisi kalian berdua,” katanya dengan suara pelan dan dingni,
“aku ingin mengatakan bahwa aku mengagumi kekuatanmu.” Matanya menatap luruslurus
ke arah Kazuto. “Tapi tetap saja kau tidak bisa menang dariku.”
Entah sejak kapan mereka mengeluarkan tongkat pemukul dari dalam mobil, tetapi
saat anak-anak buah Hirayama Jun kembali bergerak cepat ke arah Kazuto, merek
asudah mengacungkan senjata mereka.
Keiko membelalakkan mata. Tidak... Tidak... Tenaga Kazuto sudah terkuras habis.
Walaupun Kazuto masih berdiri tepat di depan Keiko dan sebelah tangannya terulur ke
belakang, memastikan Keiko terlindungi di belakangnya, Keiko tahu laki-laki itu tidak
mungkin menghadapi empat tukang pukul yang bersenjata. Keiko memang tidak bisa
melihat wajah Kazuto, tetapi ia tidak perlu melakukannya untuk tahu bahwa Kazuto
juga terluka. Tidak... Kalau mereka menyerang Kazuto lagi, Kazuto pasti akan celaka.
Tidak... Keiko harus menghalangi mereka. Bagaimanapun caranya.
“Tidak! Hentikan!” Tanpa berpikir lagi, Keiko berlari ke depan Kazuto, ingin
melindunginya, mencoba menghalangi orang-orang yang akan mengayunkan tongkat
ke arah Kazuto.
* * *
Kazuto sudah tidak bertenaga. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Darah menetes dari pipi
dan bibirnya. Ia tidak mungkin melawan empat orang bertubuh besar yang jago
berkelahi. Tidak dalam kondisi seperti ini. Ia sulit bernapas, karena dadanya terasa
sakit setiap kali ia berusaha menarik napas. Mungkin juga ada beberapa tulangnya
yang patah.
Tetapi ia tidak bisa menyerah sekarang. Tidak boleh. Ia harus memastikan
keselamatan gadis di belakangnya ini. Keiko sama sekali tidak ada hubungannya
dengan semua ini. Ia tidak mungkin membiarkan Keiko terluka. Tadi saja ia merasa
jantungnya berhenti berdetak ketika salah satu tukang pukul itu memukul wajah Keiko.
Kazuto berusaha mengatur napas. Ia mengulurkan tangan ke belakang, menyentuh
Keiko, memastikan gadis itu baik-baik saja dan masih ada di dekatnya. Astaga, kalau
sesuatu terjadi pada Keiko, ia... ia... Apa yang harus dilakukannya?
Keempat orang di hadapannya serentak bergerak dan mengayunkan tongkat ke
arahnya. Saat ini yang paling penting adalah menjauhkan Keiko dari sini. Walaupun
Kazuto mungkin tak bisa lagi melawan, tetapi ia masih bisa melindungi Keiko.
“Tidak! Hentikan!” Tiba-tiba saja Keiko bergerak ke depan Kazuto dengan tangan
direntangkan. Kazuto terkesiap. Tidak... Tidak! Matanya terpaku pada tongkat yang
akan mengenai kepala Keiko.
Setelah itu semuanya seolah-olah terjadi dalam gerakan lambat. Ia mencengkeram
tangan Keiko dan menarik gadisd itu ke arahnya. Tepat ketika ia mendekap Keiko,
kepalanya pun serasa meledak.
* * *
Keiko memekik ketika tongkat kayu itu menghantam kepala Kazuto dan laki-laki itu
terjatuh ke depan, masih mendekap Keiko erat-erat. Serangan itu tidak berhenti di sana.
Satu pukulan itu dilanjutkan dengan bertubi-tubi pukulan lain. Keiko meminta mereka
berhenti memukuli Kazuto, tetapi suaranya dikalahkan bunyi hujan. Walaupun orangorang
itu bisa mendengarnya, Keiko tidak yakin mereka mau menuruti kata-katanya.
Kazuto tetap memeluk Keiko, menahan Keiko di tanah dengan tubuhnya
sementara ia menerima setiap pukulan yang diarahkan kepadanya. Keiko terisak
memanggil namanya, tetapi Kazuto tidak menyahut. Kalau bukan karena lengannya
yang merangkul tubuh Keiko dengan kencang, Keiko pasti berpikir laki-laki itu sudah
pingsan.
Lalu tiba-tiba saja terdengar bunyi melengking, beberapa berkas sinar menyilaukan
terlihat dan Keiko juga mendengar teriakan-teriakan keras yang mengalahkan suara
hujan. Tiba-tiba saja tubuh Kazuto berhenti berguncang. Orang-orang itu tidak lagi
memukulinya. Terdengar teriakan lagi. Bernada mendesak. Memerintah. Lalu tongkattongkat
kayu berjatuhan ke tanah.
Keiko mendongak dan menyipitkan mata karena silau. Lalu perlahan-lahan
semuanya menjadi jelas. Orang-orang yang tadi memukuli mereka berdiri
memunggungi mereka dengan tangan terangkat ke atas kepala. Begitu juga Hirayama
Jun. Keiko mengalihkan pandangan dan melihat beberapa orang polisi mengacungkan
pistol ke arah mereka. Polisi datang!
“Kazuto-san,” panggil Keiko sambil bergerak dalam pelukan Kazuto. “Kazuto-san,
polisi sudah datang.”
Kazuto tidak bergerak. Juga tidak bersuara.
Keiko mendorong tubuh Kazuto dan berusaha duduk, namun memekik pelan
ketika Kazuto langsung jatuh terlentang di tanah. “Kazuto-san?” panggil Keiko panik
sambil memegang pipi Kazuto. Ia menatap mata Kazuto yang terpejam, pipinya juga
terluka, dan bibirnya yang berdarah. Keiko merasa sekujur tubuhnya menegang
ketakutan.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya salah seorang polisi yang buru-buru menghampiri
mereka.
Keiko mendongak menatap wajah polisi itu dengan mata terbelalak cemas dan
menunjuk Kazuto. “Dia... dia...”
Si polisi cepat-cepat memeriksa keadaan Kazuto sementara seorang polisi lain yang
lebih muda menghampiri Keiko dan membantunya berdiri. Keiko tidak bisa
mendengar pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh polisi yang membantunya itu.
Matanya terpaku pada Kazuto yang sedang diperiksa polisi yang lebih tua tadi.
Akhirnya si polisi berbicara di walkie-talkie-nya, meminta ambulans segara dikirim ke
lokasi kejadian karena ada korban yang terluka parah dan tidak sadarkan diri.
Sekujur tubuh keiko terasa dingin. Jantungnya seakan berhenti berdetak beberapa
detik. Terluka parah? Separah apa? Ada apa dengan Kazuto? Apa...?
“Keiko!”
Keiko berpaling. Ia melihat Haruka yang memegang payung berlari-lari ke arahnya.
Dengan cepat Haruka tiba di depan Keiko. “Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”
tanyanya dengan nada mendesak cemas. “Begitu mendengar suaramu di telepon, aku
langsung merasa ada yang tidak beres dan cepat-cepat menelepon polisi. Tomoyuki
sedang pergi menemui temannya, jadi aku panik. Aku... Astaga! Kau menggigil!”
Keiko menggeleng-geleng. Kepalanya mendadak terasa pusing. “Tidak, aku tidak
apa-apa. Tapi Kazuto-san... dia...”
Dan hal terakhir yang didengar Keiko adalah pekikan Haruka ketika ia jatuh
pingsan dalam pelukan tetangganya.
Dua Puluh Dua
PUTIH. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Setelah mengerjap
beberapa kali, Kazuto baru sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak
matanya terasa berat, pandangannya masih agak kabur, kepalanya sakit. Di mana dia?
Di rumah sakit? Apa yang...?
Ah, ia ingat. Perkelahian itu. Hirayama Jun kembali menyerangnya. Dan Keiko. Di
mana gadis itu? Apakah ia baik-baik saja?
“Kau sudah sadar?”
Kazuto menggerakkan kepalanya ke arah suara. Wajah Takemiya Shinzo terlihat di
samping tempat tidurnya. “Paman?” gumamnya serak.
“Aku senang kau masih mengingatku.” Takemiya Shinzo tersenyum lega. “Kurasa
kau juga sadar bahwa kau berada di rumah sakit.”
“Keiko?” tanya Kazuto dan berusaha bangkit.
“Tunggu, tunggu,” cegah pamannya dan menahan bahu Kazuto. “Pelan-pelan saja.”
Kazuto duduk dibantu pamannya. “Di mana Keiko? Bagaimana keadaannya?”
“Keiko?” kata Takemiya Shinzo bingung. “Maksudmu gadis yang dibawa ke sini
bersamamu itu? Dia baik-baik saja.”
“Di mana dia sekarang?”
“Tadi dia di sini. Perawat baru saja membujuknya kembali ke kamarnya sendiri.
Dia harus banyak istirahat,” sahut pamannya ringan. Melihat sorot mata Kazuto yang
tiba-tiba cemas, ia cepat-cepat menambahkan, “Percayalah. Dia tidak apa-apa. Kata
dokter dia sudah boleh pulang besok. Sedangkan kau harus tinggal di rumah sakit
beberapa hari lagi.”
Merasa tenang mendengar Keiko baik-baik saja, Kazuto mengembuskan napas
perlahan dan tersenyum. Kemudian ia tertegun dan menatap pamannya. “Paman,
sudah berapa lama aku di sini?”
Pamannya tersenyum lebar. “Tidak selama yang waktu itu. Kau hanya pingsan
beberapa jam. Hebat, kan? Apakah mungkin itu berarti kau sudah kebal dihajar?”
Kazuto tertawa, dan langsung meringis ketika wajahnya terasa sakit. Ia melirik jam
dinding. Belum tengah malam.
“Kenapa Paman masih ada di sini?” tanyanya heran. “Bukankah jam besuk sudah
lewat?”
“Tentu saja sudah lewat,” balas pamannya sambil tertawa. “Tapi aku membujuk
perawat memperpanjang waktu kunjunganku. Perawat di sini baik-baik.”
Kazuto tertawa kecil, ingat pamannya bisa sangat memesona kalau keadaan
mengharuskan.
“Untunglah kau segera sadar,” Takemiya Shinzo menambahkan. “Kalau tidak, aku
harus menelepon ibumu dan mengabarkan bahwa kau dikeroyok lagi. Ibumu pasti
akan langsung terbang ke sini dan menyeretmu kembali ke New York tanpa banyak
omong.”
Kazuto meringis. “Tapi Paman belum menelepon Ibu?”
“Kupikir, untuk apa membuat ibumu khawatir sebelum kita tahu hasil yang pasti?
Bagaimanapun juga, sekarang kau sudah sadar dan sepertinya kau sangat baik.”
“Ya, tapi badanku sakit semua.” Kazuto terdiam sejenak, lalu berkata, “Orangorang
itu...”
“Polisi sudah menahan orang-orang yang menyerangmu itu,” sela Takemiya
Shinzo. Nada suaranya berubah serius. “Mereka juga yang menyerangmu pada Hari
Natal waktu itu.”
Kazuto mengangguk.
“Aku tidak ingin kau merisaukan masalah ini...” Pamannya tersenyum
menenangkan. “Aku sudah menghubungi pengacaraku dan dia yang akan mengurus
semuanya. Yang perlu kaulakukan sekarang hanyalah mengurus dirimu sendiri.
Setelah merasa cukup sehat, kau harus memberikan pernyataan kepada polisi.”
Kazuto mengangguk lagi. “Bagaimana dengan Keiko?”
“Kurasa polisi sudah berbicara kepadanya.”
Kening Kazuto berkerut samar. Ia tidak suka Keiko harus menghadapi polisi
sendirian.
Seolah-olah bisa membaca pikiran Kazuto, Takemiya Shinzo berkata pelan, “Kau
tidak perlu khawatir. Aku meminta pengacaraku menemaninya saat itu.”
Kazuto menarik napas panjang. “Terima kasih, Paman.”
“Gadis itu... Keiko,” Suara pamannya terdengar agak ragu, “... dia gadis yang
kubilang mirip Naomi.”
Kazuto menatap pamannya dengan pandangan bertanya.
“Dia gadis yang pergi ke pertunjukan balet bersamamu pada malam Natal itu,”
kata Takemiya Shinzo.
Kazuto tersenyum. “Ya. Dia saudara kembar Naomi.”
Alis Takemiya Shinzo terangkat. “Benarkah?”
Kazuto memejamkan mata, namun ia masih tetap tersenyum. “Dia lahir lima menit
setelah kakak kembarnya. Dia tidak bercita-cita menjadi model. Dia senang bekerja di
perpustakaan, suka membaca buku, suka mengomel dalam bahasa Indonesia, dan suka
menonton balet. Pikirannya juga suka melantur ke mana-mana. Dia takut gelap dan
tidak bisa memasang bola lampu...”
“Dan kau menyukainya,” gumam Takemiya Shinzo pelan sambil tersenyum
mengerti.
Kazuto menatap pamannya. “Apa?”
Takemiya Shinzo menggerakkan dagunya ke arah meja kecil di samping tempat
tidur. “Aku sudah melihat itu.”
Kazuto menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat amplop besar. “Apa itu?”
Takemiya Shinzo meraih amplop itu dan menyerahkannya kepada Kazuto.
“Mereka menemukan ini di balik swetermu. Amplopnya yang lama sudah basah dan
robek, tapi foto-fotonya masih bisa diselamatkan.”
Kazuto tersenyum memandangi foto-foto yang diberikan Yuri kepadanya. Fotofoto
yang diambilnya ketika ia baru saja tiba di Tokyo, termasuk foto-foto Keiko.
“Dan ini Keiko-mu, bukan?” tanya Takemiya Shinzo sambil menunjuk salah satu
foto. “Kau tidak akan memotret seperti itu kalau kau tidak menyukainya.”
* * *
Beberapa jam setelah pamannya pulang, Kazuto masih terjaga di ranjangnya.
Tubuhnya memang terasa lemah, tetapi ia sangat asdar, otaknya terang benderang, dan
ia tidak bisa tidur.
Mungkin sebaiknya ia pergi melihat Keiko. Memastikan gadis itu memang baikbaik
saja.
Kazuto turun dari ranjang dengan perlahan, meringis sedikit ketika kakinya
menginjak lantai dan harus menopang tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih ke pintu,
membukanya, dan melongokkan kepala ke luar. Tidak ada siapa-siapa di koridor yang
diterangi lampu itu. Kamar Keiko tidak jauh dari kamar Kazuto sendiri. Ia sudah
bertanya kepada pamannya tadi, jadi ia tidak akan kesulitan menemukan kamar Keiko.
Kamar Keiko memang tidak jauh, tetapi Kazuto membutuhkan waktu lima belas
menit untuk berjalan ke sana. Tentu saja karena ia sesekali harus berhenti sejenak untuk
menarik napas atau mengistirahatkan ototnya yang sakit. Menjadi orang lemah dan
sakit memang menyebalkan.
Perlahan-lahan dan tanpa suara Kazuto membuka pintu kamar Keiko. Di kamar
yang diterangi lampu kecil di meja sudut, Kazuto melihat Keiko terbaring pulas di
ranjang. Gadis itu berbaring menyamping, sebelah pipinya disandarkan ke bantal, dan
selimut ditarik sampai ke dagu.
Kazuto berjingkat-jingkat menghampiri ranjang. Ia berhenti di samping ranjang
dan memandangi gadis yang terlelap itu.
Sepertinya tidak ada luka, pikir Kazuto setelah menatap wajah Keiko dengan
saksama. Ia baik-baik saja. Syukurlah.
Kazuto duduk di kursi di samping ranjang. Ia menarik napas dan
mengembuskannya pelan. Kini ia bisa bernapas lebih mudah. Kegelisahan yang tanpa
sadar dirasakannya sejak tadi mulai menguap dari tubuhnya. Ia merasa lega. Ya,
semuanya akan baik-baik saja.
Ia berkata pada diri sendiri bahwa ia hanya akan duduk di sana sebentar. Hanya
sebentar. Namun kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu, walaupun ia hanya duduk
di sana tanpa melakukan apa-apa selain memandangi wajah Keiko yang sedang tidur?
* * *
Tadinya Akira bermaksud mampir ke kamar Keiko dan melihat keadaan gadis itu.
Walaupun Keiko dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian
gadis itu sadar dan langsung menanyakan keadaan Kazuto.
“Kazuto tidak apa-apa,” hibur Akira saat itu. “Dia memang belum sadarkan diri,
tapi keadaannya sudah stabil. Dia pasti bisa bertahan. Jangan khawatir.”
Keiko masih terlihat cemas, tetapi ia tersenyum kecil. “Aku tahu,” gumamnya. Lalu
ia mendongak menatap Akira. “Boleh aku melihatnya?”
Akira mengantarnya ke kamar rawat Kazuto. Saat itu paman Kazuto ada di sana,
jadi Akira memperkenalkan mereka berdua.
“Kukira semua keluarga Kazuto-san sudah pindah ke New York,” kata Keiko
setelah memberi hormat kepada pria yang lebih tua itu dan acara perkenalan berlalu.
Takemiya Shinzo tersenyum. “Rupanya dia tidak pernah bercerita tentang aku?”
“Oh, aku tidak bermaksud...”
“Tidak apa-apa. Sudah kuduga pasti begitu,” sela paman Kazuto ringan.
Keiko beralih menatap Kazuto yang terbaring di ranjang. Kepala dan kaki kiri
Kazuto dibebat.
“Keadaannya stabil,” gumam Takemiya Shinzo, menjawab pertanyaan Keiko yang
tidak diucapkan. “Dia baik-baik saja.”
Keiko mengangguk.
“Kalau tidak keberatan, maukah kau menemaninya sebentar?” tanya Takemiya
Shinzo. “Aku harus menelepon seseorang.”
Tentu saja Keiko tidak keberatan. Tapi setelah menyatakan kesediaannya, ia baru
berpaling ke arah Akira, baru teringat Akira masih berdiri di dalam kamar itu juga.
“Sensei tidak perlu menemaniku,” katanya perlahan. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya
akan duduk di sini sebentar. Hanya sebentar.”
“Baiklah,” kata Akira setelah berpikir sejenak. “Tapi jangan ragu-ragu
memanggilku kalau ada apa-apa.”
Keiko tersenyum yakin. “Baiklah.”
Setelah itu Akira meninggalkan Keiko yang duduk di kursi di samping ranjang
Kazuto.
Kini, Akira berdiri tertegun di pintu kamar rawat Keiko yang terbuka sedikit.
Matanya menatap sosok Kazuto yang duduk di kursi di samping ranjang Keiko. Kazuto
hanya duduk di sana, dengan kedua tangan disandarkan ke masing-masing lengan
kursi, kakinya yang dibebat diselonjorkan ke depan. Ia tidak melakukan apa-apa.
Hanya duduk di sana memandangi Keiko yang sedang tidur.
Karena tidak ingin mengganggu, Akira kembali menutup pintu tanpa suara dan
berjalan menjauh dari kamar rawat Keiko. Sebenarnya ia sudah merasakannya sebelum
ini, hanya saja ia masih belum yakin atau ia tidak mau mengakuinya. Tetapi dari apa
yang dilihatnya tadi, semuanya sudah jelas. Ia hanya perlu menerimanya.
* * *
Kazuto tidak tahu jam berapa ia kembali ke kamarnya sendiri, tetapi ia akhirnya bisa
terlelap. Dan ketika ia terbangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah
walaupun rasa dingin di luar sana tetap menusuk tulang.
Tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Mungkin pamannya baru akan datang siang
nanti. Apakah Keiko sudah bangun?
Kazuto bermaksud pergi mencari gadis itu. Tetapi ketika ia sedang berusaha
bangkit dari ranjang, pintu kamarnya terbuka. Ia mengangkat wajah, berharap melihat
Keiko, tetapi ternyata bukan.
“Yuri?”
Iwamoto Yuri menyerbu masuk dan bergegas menghampiri ranjang Kazuto. “Tadi
aku pergi mencarimu ke apartemenmu dan salah seorang tetanggamu memberitahuku
tentang penyerangan itu. Jadi aku langsung ke sini,” katanya cemas, sebelum Kazuto
sempat bertanya. “Kazu, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”
“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir,” kata Kazuto menenangkan. Ia
memberi isyarat supaya Yuri duduk, tetapi wanita itu mengabaikannya karena
sepertinya ia terlalu cemas. Lalu Kazuto menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi
kemarin malam.
“Mengerikan sekali,” gumam Yuri di akhir penjelasan Kazuto.
“Tapi aku akan segera sembuh,” tambah Kazuto. “Akira juga bilang yang harus
kulakukan hanya istirahat yang cukup. Setelah itu aku akan sembuh total.”
Yuri masih terlihat cemas.
“Oh ya, kenapa kau mencariku?” tanya Kazuto, teringat bahwa Yuri pergi
mencarinya ke apartemen.
Akhirnya Yuri duduk di kursi di samping ranjang. “Oh, aku hanya ingin
memberitahumu pelatihanku di Tokyo sudah berakhir dan besok aku akan pulang ke
New York.”
“Oh, ya? Cepat sekali waktu berlalu.”
“Tapi aku bisa tetap tinggal di sini kalau kau membutuhkanku. Maksudku, karena
sekarang kau masih sakit.”
Kazuto menggeleng. “Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Dan aku tidak mungkin
merepotkanmu.”
Yuri tersenyum kecil. “Sama sekali tidak repot. Itu gunanya teman, bukan?”
sahutnya. Ia terdiam sejenak. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Keiko-san?”
Raut wajah Kazuto melembut. “Dia diizinkan pulang hari ini,” sahutnya sambil
tersenyum.
“Senang mendengar dia juga baik-baik saja.”
Kazuto mendesah dan memandang ke luar jendela. “Kalau sampai terjadi sesuatu
padanya, kurasa aku...”
“Ya?”
Kazuto menatap Yuri, baru sadar kalau tadi ia sudah mengucapkan apa yang
sedang dipikirkannya. Ia menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”
“Kazu.”
“Mm?”
“Kau yakin dengan perasaanmu terhadap Keiko-san?”
“Maksudmu?”
Yuri mengangkat bahu dengan bimbang. “Bukan apa-apa. Maksudku, kau tidak
mengenalnya dan kau sama sekali tidak ingat apa pun tentang dia, tapi tiba-tiba kau
bilang kau menyukainya. Bukankah kedengarannya gegabah?”
Kazuto mendongak menatap langit-langit. “Ingatanku bisa saja bermasalah,”
gumamnya pelan, “tapi aku tahu apa yang kurasakan.”
“Apa yang kaurasakan?”
“Kau ingat ketika kita menghadiri acara reuni SMP-ku bulan lalu?” Kazuto
menoleh ke arah Yuri. Ketika yang ditanya mengangguk, ia melanjutkan, “Saat itulah
pertama kali aku melihatnya setelah aku hilang ingatan. Dia sedang berdiri di seberang
ruangan. Dan ketika dia menatap ke arahku, jantungku serasa berhenti berdegup. Aku
tidak bisa menjelaskannya, tapi saat itu... aku merasa sangat senang melihatnya.”
Kazuto berhenti sejenak dan mengangkat bahu. “Kedengarannya konyol, bukan?”
Yuri menarik napas perlahan, lalu tersenyum. “Tidak. Sama sekali tidak konyol.”
“Saat itu aku sangat bingung dengan apa yang kurasakan setiap kali aku
melihatnya,” lanjut Kazuto dengan nada melamun. “Maksudku, aku sama sekali tidak
mengenalnya. Tidak ingat apa pun tentang dirinya. Tetapi aku selalu ingin melihatnya.”
“Akhirnya kau berpikir dulu kau mungkin pernah menyukainya,” gumam Yuri.
“Ya. Saat itu aku memang berpikir begitu,” aku Kazuto. “Tapi sekarang aku tahu
memang begitulah kenyataannya.”
Alis Yuri terangkat sedikit. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata
pelan, “Ingatanmu sudah kembali.”
* * *
“Keiko-san.”
Keiko yang sedang dalam perjalanan ke kamar Kazuto berhenti melangkah dan
menoleh ketika mendengar suara Kitano Akira. “Sensei,” sapanya sambil tersenyum
lebar dan membungkuk. “Selamat pagi.”
Kitano Akira menghampiri Keiko. “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”
“Sangat baik. Terima kasih atas bantuannya.”
Akira tersenyum kecil. “Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang sakit,”
sahutnya ringan. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “Keiko-san, aku ingin
meminta maaf atas semua yang terjadi...”
“Sensei,” sela Keiko cepat, “apa pun yang dilakukan sepupu Sensei tidak ada
hubungannya dengan Sensei. Jadi Sensei tidak perlu meminta maaf untuk apa pun.
Aku yakin Kazuto-san juga akan mengatakan hal yang sama.”
Akira menarik napas panjang. “Aku hanya berharap aku bisa membantu.”
“Sensei sudah banyak membantu dengan memberikan informasi kepada polisi,”
kata Keiko. “Itu tindakan yang sangat berani.”
Akira menatap lurus ke mata Keiko. “Aku sungguh tidak ingin kau terluka.”
Alis Keiko terangkat sedikit, tetapi ia tetap tersenyum. “Sensei, aku tidak apa-apa.
Sungguh. Bukankah Sensei sendiri yang bilang begitu?”
“Benar. Kau memang benar. Aku hanya berharap...” Akira ragu sejenak. Ia
menatap Keiko dan tersenyum kecil. “Aku hanya berharap akulah yang melindungimu
saat itu.”
* * *
“Kau tidak perlu mengantarku, kau tahu?” kata Yuri ketika Kazuto bangkit dari
ranjang dan ingin mengantarnya ke luar. “Kau masih belum cukup sehat untuk
berkeliaran.”
“Tidak apa-apa. Aku juga butuh olahraga,” sahut Kazuto mantap. “Lagi pula
hanya sampai ke lift.”
Begitu tiba di depan lift, Yuri berbalik menghadap Kazuto. “Oh, ya, hampir saja
lupa,” katanya sambil tersenyum dan merogoh tas tangannya. Ia mengeluarkan kotak
kecil yang terbungkus kertas ungu. “Untukmu,” katanya Yuri dan mengulurkan kotak
itu ke arah Kazuto.
“Apa ini?”
“Cokelat,” sahut Yuri pendek. “Happy Valentine’s Day.”
Alis Kazuto terangkat. “Valentine’s Day? Sekarang bukan tanggal 14, bukan?”
Yuri tersenyum. “Tanggal 14 nanti aku sudah tidak ada di Tokyo, jadi kuputuskan
untuk memberikannya sekarang,” katanya, lalu masuk ke lift dan melambaikan tangan.
Setelah pintu lift tertutup, Kazuto berbalik, hendak kembali ke kamarnya, tetapi
langkahnya tiba-tiba berhenti dan ia menoleh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia
melihat Ishida Keiko, yang saat itu masih mengenakan piama rumah sakit, berdiri
berhadapan dengan Kitano Akira.
Kazuto melihat tangan Akira memegang kedua bahu Keiko, sepertinya sedang
mengatakan sesuatu. Keiko mendongak menatap laki-laki itu, tersenyum, dan
mengangguk. Lalu Akira melambaikan tangan dan berjalan pergi.
Keiko sendiri berputar dan berjalan ke arah kamar rawat Kazuto. Sedetik kemudian
gadis itu mengangkat wajah dan menatap Kazuto. Matanya melebar dan senyumnya
berubah cerah.
Apakah gadis itu gembira karena melihatnya atau gembira karena baru bertemu
dengan Akira?
“Kazuto-san,” seru Keiko dan bergegas menghampiri Kazuto. “Kau benar-benar
sudah sadar.”
Kazuto menunduk menatap gadis itu dan tersenyum lebar. Setiap kali melihat
gadis itu tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum. “Aku sduah
sadar sejak kemarin malam,” katanya, “tapi tentu saja kau tidak tahu karena kau tidur
seperti bayi.”
Keiko balas menatapnya dengan mata yang juga disipitkan. “Apa maksudmu aku
tidur seperti bayi?” katanya, terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Ngomong-ngomong,
kenapa kau jalan-jalan sendirian? Ayo, kembali ke kamar.”
Kazuto membiarkan dirinya dituntun Keiko kembali ke kamar rawatnya. “Aku
bosan,” gerutunya. “Dan aku benci rumah sakit.”
Mereka masuk ke kamar dan Keiko mendorong Kazuto ke ranjang. “Kalau kau
mau cepat-cepat keluar dari sini, kau harus istirahat. Luka-lukamu masih belum
sembuh benar, tahu. Memangnya kau mau lukamu bertambah parah dan tinggal di sini
lebih lama lagi?”
Kazuto duduk di tepi ranjang dengan patuh, lalu menepuk-nepuk tempat di
sebelahnya. “Kau juga duduk di sini.”
Keiko menurut. Ia duduk di samping Kazuto di ranjang dan menatap laki-laki itu.
“Kazuto-san... Terima kasih.”
“Terima kasih? Untuk apa?”
Keiko menggeleng. “Karena aku, kau jadi terluka seperti ini. Bagaimana kepalamu?
Sakit sekali?”
“Kau tidak perlu mencemaskanku,” kata Kazuto. Ia mengangkat sebelah
tangannya dan menyentuh luka memar di pipi Keiko.
Sentuhannya ringan, tetapi Keiko meringis karena kulitnya masih terasa nyeri.
“Masih sakit?” tanya Kazuto dengan nada khawatir.
Setelah menahan napas sesaat, Keiko memaksa dirinya menghirup napas dengan
normal dan menggeleng. “Sepertinya kau lebih kesakitan daripada aku.”
Kazuto menurunkan tangannya dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Aku kuat.
Luka begini saja sama sekali bukan masalah.”
Alis Keiko terangkat. “Bukan masalah? Kau tahu betapa takutnya aku sewaktu
orang-orang itu tidak mau berhenti memukulimu? Dan aku tidak bisa membantumu.
Tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika polisi datang, kau tidak bergerak. Kukira
kau... Kukira...” Mata Keiko berkaca-kaca. Ia mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya
ke depan, dan menarik napas panjang.
Kazuto tertegun. Ia menatap Keiko sesaat, lalu mengulurkan tangan meraih tangan
Keiko dan meremasnya. “Maafkan aku,” gumamnya. “Aku berjanji tidak akan
membuatmu khawatir lagi.”
* * *
Keiko sendiri tidak menyangka ia akan mengucapkan kata-kata itu. Tetapi semua itu
benar. Saat itu ia memang sangat ketakutan. Bukan takut pada orang-orang kasar itu,
tetapi takut mereka akan melukai Kazuto. Yang dipikirkannya saat itu adalah
bagaimana kalau Kazuto celaka? Bagaimana kalau Kazuto tidak bisa bangun lagi?
Selama-lamanya? Apa yang akan terjadi padanya kalau orang-orang itu benar-benar
membunuh Kazuto? Keiko menggigil memikirkan kemungkinan itu.
Saat itu Kazuto menggenggam tangannya dan berkata pelan, “Maafkan aku. Aku
berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi.”
Keiko menahan napas, mengangkat wajah, dan menatap Kazuto. Laki-laki itu
tersenyum kepadanya dan meremas tangannya, meyakinkannya bahwa ia tidak perlu
cemas. Benar, pikir Keiko. Aku tidak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja. Kazuto
baik-baik saja. Laki-laki ini kini ada di sampingnya. Dan itulah yang terpenting.
“Ngomong-ngomong, apa itu?” tanya Keiko sambil mengalihkan perhatian ke arah
kotak kecil di ranjang Kazuto.
“Oh, cokelat. Hadiah Valentine dari Yuri,” sahut Kazuto ringan.
Alis Keiko terangkat. “Yuri-san? Tadi dia ke sini?” tanyanya.
Kazuto mengangguk. “Dia hanya sebentar di sini.”
“Oh.” Hanya itu yang bisa dikatakan Keiko. Ia tidak ingin bertanya untuk apa Yuri
datang ke sini. Walaupun Kazuto pernah berkata ia tidak punya hubungan istimewa
dengan Iwamoto Yuri, tetap saja itu bukan urusan Keiko.
“Dia datang untuk mengatakan dia akan pulang ke New York,” kata Kazuto tanpa
ditanya. “Masa pelatihannya sudah selesai.”
“Oh?” Keiko agak kaget mendengarnya. Tanpa bisa mencegah dirinya, ia bertanya,
“Apakah Kazuot-san juga...?”
“Aku akan tetap di sini. Bersamamu,” kata Kazuto sambil menatap lurus ke arah
Keiko. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. “Apakah kau mau menerimaku?”
Kenapa Keiko tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatap
Kazuto dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras. Akhirnya, ia memutuskan
untuk menganggapinya sebagai gurauan. “Karena hanya aku yang mau memasak
untukmu?” tanyanya sambil tersenyum lebar.
Kazuto terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Tiba-tiba ia bertanya, “Ngomongngomong,
aku melihatmu bersama Akira tadi.”
Agak kaget dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini, Keiko
mengerjap, lalu bertanya heran, “Ya. Kenapa?”
“Apa yang kalian bicarakan?”
Keiko tidak langsung menjawab. Lalu ia menunduk dan berkata, “Tidak ada yang
penting.”
Kazuto berdeham. “Kau... berencana memberinya cokelat? Pada Hari Valentine
nanti, maksudku.”
Keiko mengerutkan kening, lalu tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh itu.
Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk memberikan cokelat kepada Kitano Akira
pada Hari Valentine.
“Kau akan memberikan cokelat kepadanya?” Suara Kazuto terdengar lagi.
Kalau tersenyum sendiri dan menggeleng. “Tidak.”
“Kalau untukku?”
“Apa?” Keiko mengerjap dan menatap Kazuto.
Kazuto tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kau membuat biskuit yang sama
seperti yang pernah kauberikan kepadaku Hari Natal lalu? Enak sekali.”
Mata Keiko melebar. Apa? Biskuit? Hari Natal lalu? Tunggu... Jadi...? Ia tidak
berani berharap, tapi...
“Aku sudah ingat,” kata Kazuto, seolah-olah menegaskan apa yang dipikirkan
Keiko.
“Kau sudah ingat?” ulang Keiko tidak percaya. “Semuanya?”
Kazuto mengangguk. “Semuanya.”
Sejenak Keiko tidak berkata apa-apa, hanya menatap Kazuto tanpa berkedip. Ia
ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan Kazuto kepadanya. Ia ingin merasa yakin
ini bukan mimpi.
Kazuto menatapnya dengan alis terangkat. “Keiko-chan, kenapa diam saja? Aku
benar-benar sudah ingat semuanya. Tidak percaya?” Ia memiringkan kepala dan
mengerutkan kening, seolah-olah sedang berpikir. “Aku ingat kau mengendap-endap
di depan pintu apartemenku pada hari pertama aku tiba di Tokyo. Aku ingat kau
pernah bermalam di apartemenku karena lampu di apartemenmu tidak bisa menyala.
Oh, jangan menatapku seperti itu. Kau memang bermalam di apartemenku walaupun
kau tidak suka dengan istilah itu. Aku ingat kencan kita pada malam Natal,
pertunjukan balet, lalu kita pergi ke arena seluncur es...”
Tiba-tiba saja, tanpa berpikir dua kali—tanpa benar-benar berpikir, Keiko
melingkarkan kedua lengannya di leher Kazuto dan memeluknya erat-erat.
Sekujur tubuh Kazuto masih sakit dan ia harus menahan diri untuk tidak meringis
atau mengaduh ketika Keiko tiba-tiba memeluknya dan hampir membuatnya
terjungkal ke belakang. Tetapi bagaimanapun juga, ada saatnya ketika rasa sakit sama
sekali tidak penting. Misalnya sekarang, ketika Ishida Keiko memeluknya untuk
pertama kali.
“Kau sudah kembali,” gumam Keiko di bahu Kazuto. “Kau sudah kembali.”
Kazuto tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan
pelan. Ia merasa lega. Sangat lega. “Aku sudah kembali,” gumamnya lirih. “Apakah
kau juga akan kembali kepadaku?”
Keiko tertegun. Lalu ia mundur sedikit dan menatap Kazuto.
Tiba-tiba pintu kamar rawat Kazuto terbuka dan langsung disusul oleh suara Sato
Haruka. “Dia pasti ada di kamar Kazuto. Nah, kubilang juga... Lho, kalian sedang apa?”
Keiko tersentak dan buru-buru menjauh dari Kazuto. Wajahnya terasa panas.
“Oneesan, kau sudah datang. Oh, Kakek dan Nenek juga.”
“Aku juga datang!” seru Tomoyuki yang masuk belakangan. “Wah, Kazuto
Oniisan sudah sadar?”
“Ingatan Kazuto-san sudah kembali,” kata Keiko.
Dan kamar yang tadinya terasa agak sepi itu pun berubah ramai.
“Benarkah? Itu berita yang sangat bagus, Keiko?”
“Kita harus merayakannya begitu Kazuto keluar dari rumah sakit.”
“Oniisan, apakah ingatanmu kembali gara-gara kejadian kemarin? Maksudku,
karena kepalamu dipukul sekali lagi... Aduh! Oneechan, kenapa kepalaku dipukul?”
“Karena kau tidak peka. Siapa suruh kau mengungkit-ungkit masalah itu?
Ngomong-ngomong, kalian berdua, tentunya kalain sudah tahu mataku tajam dan aku
selalu yakin dengan apa yang kulihat. Benar? Jadi mulailah menjelaskan apa yang
kulihat tadi ketika aku baru masuk.”
Dua Puluh Tiga
“KENAPA Kazuto-san harus mengadakan pamerannya bertepatan dengan Hari
Valentine?” desah Haruka ketika ia dan Keiko sedang berdiri di tepi jalan, menunggu
lampu lalu lintas berubah warna. Suaranya terdengar tidak jelas karena hidung dan
mulutnya dibenamkan di balik syal tebal yang melilit lehernya. Angin sore ini memang
lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya.
“Oneesan sendiri juga tidak ada acara, kan, malam ini?” Keiko balas bertanya
smabil tersenyum.
“Oh, astaga! Haruskah kau mengingatkanku soal itu?” Haruka melotot, lalu
mendesah lagi. “Tapi mungkin aku bisa cuci mata sedikit di pameran itu.”
Lampu lalu lintas berubah warna dan mereka menyeberang dengan cepat, lega
karena setidaknya mereka kembali bergerak. Berdiri diam begitu saja membuat mereka
semakin kedinginan.
“Ngomong-ngomong, Kazuto-san benar-benar sudah tidak apa-apa?” tanya
Haruka, sementara mereka berjalan cepat ke arah galeri tempat pameran Kazuto
diadakan. “Maksudku, baru beberapa hari di rumah sakit, dia sudah memaksa minta
pulang.”
“Kurasa dia masih sakit di sana-sini, tapi karena dia laki-laki, dia tidak akan
mengakuinya,” jawab Keiko. “Segala persiapan sudah dilakukan untuk pameran ini
dan para sponsor tidak akan mau menundanya. Kazuto-san sendiri juga pasti tidak
mau.”
Begitu mereka tiba di galeri dan menitipkan jaket, Haruka memandang berkeliling
dan bergumam, “Wah, banyak juga yang datang. Baiklah, Keiko, sampai juga lagi nanti.
Aku harus beredar dulu.”
Keiko mengangkat alis tidak mengerti.
Haruka tersenyum. “Cuci mata,” katanya. “Cuci mata.”
Setelah ditinggal Haruka, Keiko masuk ke ruangan pameran dan mencari-cari
Kazuto. Tidak ada. Kazuto tidak terlihat. Mungkin sedang sibuk. Ini kan pamerannya.
Pasti banyak orang yang ingin berbicara dengannya. Sambil mendesah pelan, Keiko
memutuskan untuk melihat-lihat sendiri dulu.
Tempat ini cukup ramai. Ternyata banyak orang yang tertarik dengan hasil karya
Kazuto. Beberapa orang wartawan juga terlihat. Keiko jadi bertanya-tanya apakah
Kazuto memang sehebat itu? Apakah Kazuto memang terkenal seperti yang pernah
dikatakan Haruka?
Kalau dilihat dari foto-foto yang tergantung di dinding itu, Kazuto memang hebat.
Bagaimana Kazuto bisa memotret sesuatu yang begitu biasa dan membuatnya begitu
luar biasa? Misalnya foto hitam-putih yang menampilkan tangan seseorang yang
terangkat ke arah matahari, seolah-olah ingin menggapai matahari. Entah bagaimana
cara Kazuto memotretnya, tetapi sinar matahari yang menyelinap di antara celah jemari
itu terlihat sangat indah dan berkilau.
Keiko terus bergerak dari satu foto ke foto lain, terus berhenti di setiap foto untuk
memandanginya dan terus terkagum-kagum. Ia memang tidak mengerti fotografi,
tetapi ia tahu foto bagus. Dan Kazuto sudah jelas memang sangat berbakat seperti yang
dikatakan Haruka.
Tiba-tiba sebuah foto menarik perhatiannya. Keiko mengerjap dan menahan napas.
Foto yang tergantung di depannya adalah foto seorang wanita berjaket hijau yang
berdiri di tengah-tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalan raya. Wanita
yang menjadi objek utama dalam foto itu berdiri membelakangi kamera. Selain warna
hijau dari jaket yang dikenakan wanita itu, segala sesuatu di sekitarnya—termasuk juga
kerumunan orang yang berlalu-lalang—berwarna hitam-putih dan terlihat kabur,
seolah-olah dunia di sekeliling wanita itu memudar di mata sang fotografer.
“Kau sudah datang?”
Sebuah suara pelan menyentakkan Keiko dan ia langsung berputar. “Kazuto-san.”
Matanya melebar dan seulas senyum tersungging di bibirnya begitu melihat Nishimura
Kazuto berdiri di sampingnya.
* * *
Sebenarnya Kazuto sudah melihat Keiko sejak gadis itu memasuki ruangan pameran.
Saat itu ia sedang berbicara dengan beberapa orang penting, sehingga ia tidak bisa
langsung menemui gadis itu. Begitu ia bisa menyelinap keluar dari pembicaraan, ia
langsung menghampiri Keiko.
“Kau sudah datang?” sapanya.
Keiko berputar dan tersenyum lebar. “Kazuto-san.”
Kazuto balas tersenyum, lalu kembali memandang foto yang tadi sedang
diperhatiakn Keiko. “Kau ingat hari itu?” tanyanya.
“Apa?” Keiko tidak mengerti.
Kazuto menggerakkan dagunya ke arah foto. “Hari ketigaku di Tokyo. Kau
menemaniku ke Shibuya untuk melihat-lihat. Hari itu kau mengenakan jaket hijau.”
Keiko mengerutkan kening, masih tidak mengerti. Lalu perlahan-lahan kerutan di
keningnya menghilang dan ia kembali menatap foto yang tergantung di depannya.
“Perempatan Shibuya selalu ramai dan saat itu kau hampir jatuh karena ditabrak
dari segala arah.” Kazuto tertawa pelan.
“Itu... Itu karena kau tiba-tiba menghilang,” protes Keiko. “Aku sedang mencarimu.
Kukira kau... Maksudku, kau bisa saja tersesat di antara begitu banyak orang.”
“Saat itu aku ada di belakangmu. Aku bisa melihatmu,” kata Kazuto. “Aku selalu
melihatmu.”
Mata Keiko terpaku pada foto itu. “Jadi... itu aku?” tanyanya tidak percaya.
Kazuto mengangguk. “Aku tahu kau tidak suka difoto, tapi menurutku foto ini
sangat bagus untuk pameran. Jadi...”
“Tidak apa-apa,” sahut Keiko sambil tersenyum. “Foto ini memang sangat bagus.
Foto-foto yang lain juga.”
Senyum Kazuto melebar. “Terima kasih.”
Mereka masih berdiri di depan foto itu dan Kazuto teringat beberapa jam yang lalu
ketika Akira datang ke sini. Akira juga berdiri di depan foto yang sama dan
memandanginya sambil tersenyum kecil.
“Kukatakan padanya bahwa aku ingin melindunginya,” gumam Akira saat itu.
Alis Kazuto terangkat dan ia menoleh. “Apa?”
Akira menggerakkan kepalanya ke arah foto. “Wanita itu. Kukatakan padanya
bahwa aku berharap akulah yang melindunginya saat itu.”
Kazuto langsung tahu mereka sedang membicarakan Ishida Keiko. Dan apa kata
Akira tadi? Apakah Akira sudah menyatakan perasaannya? Tiba-tiba saja Kazuto
merasa tegang dan ia menahan napas.
“Begitu?” gumam Kazuto, berharap Akira meneruskan kata-katanya.
Tetapi Akira menghela napas panjang dan melirik jam tangannya. “Aku harus
kembali ke rumah sakit,” gumamnya. Lalu ia berbalik dan mengulurkan tangan ke arah
Kazuto. “Nah, semoga berhasil, Kazuto, walaupun aku yakin kau akan berhasil karena
karyamu sangat bagus.”
Kazuto menjabat tangan yang terulur itu dan mengucapkan terima kasih. Ia sangat
ingin bertanya kepada Akira tentang apa yang dikatakannya tadi, tetapi tidak tahu
bagaimana harus menanyakannya. Jadi sampai sekarang Kazuto masih tidak tenang.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah Ishida Keiko yang kini berdiri
di sampingnya. Akira sudah meyatakan perasaannya kepada Keiko. Apakah Kazuto
sudah terlambat? Tidak mungkin. Tidak mungkin...
“Ngomong-ngomong,” kata Keiko tanpa mengalihkan matanya dari foto-foto yang
terpajang, “apakah Sensei sudah datang ke sini?”
Kenapa gadis itu tiba-tiba bertanya soal Akira? “Tadi sudah ke sini,” sahut Kazuto
setengah melamun.
Keiko menatapnya dan tersenyum lebar. “Oh, ya? Bagaimana tanggapannya
tentang pameran ini?”
Gadis itu masih menyukai Akira. Itulah yang dipikirkan Kazuto begitu ia melihat
wajah Keiko yang berseri-seri. Saat itu juga ia mendadak merasa tidak bersemangat.
Gadis itu masih menyukai Akira. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus
dilakukannya?
Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihatku?
Ketika Keiko menoleh ke arahnya dengan tatapan heran, barulah ia menyadari ia
sudah mengucapkan apa yang dipikirkannya tadi.
* * *
Keiko mengira ia salah dengar. “Apa?”
Kazuto tidak langsung menjawab. Laki-laki itu hanya menatapnya dengan ekspresi
bingung dan murung. Setelah terdiam beberapa saat, Kazuto menghela napas panjang,
menjejalkan kedua tangan di saku celana, dan bertanya, “Apa yang harus kulakukan
supaya kau bisa melihatku?”
Untuk sesaat Keiko tidak bisa menemukan suaranya. Ia hanya bisa menatap
Kazuto tanpa berkedip. Napasnya tertahan dan jantungnya mulai berdebar keras.
“Sebenarnya aku sudah pernah bertanya kepadamu,” lanjut Kazuto sambil
tersenyum kecil. “Tapi kau belum menjawabku.”
Oh, ya. Keiko ingat. Keiko mengingatnya dengan jelas, seolah-olah semuanya baru
terjadi kemarin. Hari Natal. Stasiun kereta. Ia baru akan naik kereta yang akan
membawanya ke Kyoto ketika Kazuto menghentikannya dan menanyakan pertanyaan
itu. Apakah kau bisa melupakan Akira... dan mulai benar-benar melihatku?
“Aku tahu saat itu bukan saat yang tepat,” kata Kazuto, lalu tertawa kecil. Ia
memandang ke sekeliling ruangan pameran yang dipenuhi orang-orang. “Sebenarnya
sekarang juga bukan waktu yang tepat. Tempatnya juga tidak tepat. Tapi kurasa aku
harus mengatakannya sekarang juga.”
Keiko bahkan tidak menyadari ada orang di sekeliling mereka. Ia tidak bisa melihat
apa-apa selain Kazuto. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain suara Kazuto. Ia masih
belum bisa bernapas dengan normal karena terlalu takjub dan ia masih menahan napas
menunggu apa yang akan dikatakan Kazuto selanjutnya.
Mata Kazuto yang gelap menatap matanya lurus-lurus dan Keiko hampir yakin ia
melihat bayangannya sendiri terpantul di sana.
Kazuto menarik napas dan berkata dengan nada rendah namun mantap, “Aku
menyukaimu, Ishida Keiko.” Lalu ia menggeleng pelan. Matanya masih terpaku pada
mata Keiko. “Tidak. Kurasa yang benar adalah aku mencintaimu.”
Dunia pun berhenti. Setidaknya Keiko merasa dunianya berhenti berputar tepat
pada saat itu. Seluruh jagat raya berhenti. Tidak ada suara yang terdengar selain gema
yang tersisa dari kata-kata Kazuto tadi.
“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menerimaku?” Suara Kazuto yang lirih
dan dalam terdengar lagi.
Tidak ada, batin Keiko. Tidak ada...
Gemuruh tepuk tangan terdengar menembus kabut yang menyelimuti kepala
Keiko. Ia mengerjap dan memandang berkeliling. Para pengunjung pameran bertepuk
tangan dan menatap Kazuto sambil tersenyum lebar.
Keiko baru menyadari rupanya saat itu Kazuto diminta maju ke depan untuk
memberikan sedikit kata sambutan dan menjawab pertanyaan dari wartawan. Seorang
wanita yang memegang mikrofon dan yang terlihat seperti salah satu orang yang
bertanggung jawab dalam penyelenggaraan acara melambai ke arah Kazuto.
“Kazuto-san, sepertinya dia memanggilmu,” gumam Keiko.
Kazuto menunduk, mengembuskan napas dengan berat. “Pada saat seperti ini...,”
gerutunya pelan. Namun ia dengan cepat mengangkat kepala, menegakkan bahu, dan
berbalik. Seulas senyum lebar sudah tersungging di bibirnya ketika ia berjalan—
langkahnya masih agak timpang—ke arah si wanita yang memegang mikrofon, diiringi
tepuk tangan semua orang.
“Sudah kubilang dia hebat,” kata Haruka yang tiba-tiba sudah berdiri di samping
kanan Keiko.
“Aku tahu,” timpal Tomoyuki yang berdiri di samping kiri Keiko. “Aku hanya
tidak menyangka dia terkenal begini.”
Keiko menoleh dan menatap kedua kakak-beradik itu bergantian. “Oh, Oneesan...
Tomoyuki-kun...”
Haruka menyiku pelan lengan Keiko. “Dia keren sekali, bukan?”
Keiko menatap Kazuto yang berbicara dengan lancar di depan, menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang masalah teknis dan foto-fotonya. “Ya,” gumamnya
sambil tersenyum. “Memang.”
Salah seorang wartawan menanyakan sesuatu. “Anda sudah sangat sukses di
Amerika Serikat. Apa yang membuat Anda kembali ke Jepang?”
Kazuto tersenyum. “Saya hanya butuh perubahan suasana. Mencari inspirasi.”
“Sepertinya Anda memang sudah berhasil mendapatkan inspirasi kalau melihat
hasil karya Anda yang mengagumkan ini,” puji si wartawan.
Kazuto berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Ya.”
Alis si wartawan terangkat dan ia memperbaiki letak kacamatanya. Ada sesuatu
dalam satu patah kata sederhana itu yang menggelitik rasa ingin tahunya. Memang
hanya wartawan yang memiliki naluri tajam seperti itu. “Maaf, apakah sumber
inspirasi Anda itu... seorang wanita?”
“Ya,” jawab Kazuto sambil tersenyum.
Haruka melirik Keiko dan berbisik, “Yah, kita semua tahu siapa wanita itu.
Bukankah begitu?”
Keiko pura-pura bego dan tidak menjawab sementara Tomoyuki tertawa pelan.
“Ceritakanlah sedikit tentang sumber inspirasi Anda itu,” pinta si wartawan yang
didukung oleh wartawan-wartawan lain. “Apa yang sudah dilakukannya sampai bisa
membuat Anda terinspirasi?”
Saat itu mata Kazuto bertemu dengan mata Keiko dari seberang ruangan. Keiko
langsung menahan napas dan berharap debar jantungnya yang keras tidak terdengar
oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya.
“Dia tidak melakukan apa-apa,” sahut Kazuto sambil tersenyum.
“Tidak?” tanya si wartawan tidak percaya.
“Tidak,” Kazuto menegaskan. “Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. Yang
paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya.”
“Ya, Tuhan. Ini menegangkan sekali,” bisik Haruka dengan nada mendesak sambil
mencengkeram lengan Keiko. Itu bagus juga, karena Keiko merasa kakinya mulai
goyah.
“Maksud Anda?” tanya wartawan yang mulai bersemangat. Hubungan pribadi
memang selalu menarik untuk dikupas, apalagi hubungan pribadi orang terkenal.
“Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya,” sahut Kazuto
dan kembali memandang ke arah Keiko, “dan saya akan merasa saya bisa menghadapi
segalanya.”
Bernapaslah, pinta Keiko pada diri sendiri. Ia harus bernapas. Kalau tidak ia akan
segera pingsan.
Para wartawan berebut mengajukan pertanyaan, tetapi tidak ada yang terdengar
jelas karena suara-suara saling tumpang-tindih.
“Saya hanya berharap...” Suara Kazuto membuat ruangan itu hening. Semua
perhatian terpusat kepada sosok Kazuto dan kata-kata yang meluncur dari mulutnya.
Mata Kazuto sendiri tetap terpaku pada Keiko. “Saya hanya berharap dia bisa melihat
saya.”
Keiko masih tidak bisa mengalihkan matanya dari Kazuto. Ia tidak bisa mendengar
apa-apa selain debar jantungnya sendiri. Tetapi mungkin juga suasana saat itu memang
hening. Keiko tidak tahu dan tidak peduli. Ia merasa seolah-olah sedang melayang.
Apakah ia sedang bermimpi?
“Hanya itu yang bisa saya katakan.” Kazuto memecah keheningan. “Terima kasih.”
Suasana kembali riuh dan para wartawan berlomba-lomb aingin bertanya lebih
jauh. Tetapi kali ini Kazuto hanya tersenyum lebar, membungkukkan badan, dan
menyerahkan mikrofon kepada si penyelenggara acara, menandakan wawancara sudah
selesai. Wanita itu buru-buru mengambil alih situasi, dengan ringkas dan efisien
menjawab serta mengalihkan pertanyaan-pertanyaan wawancara kepada masalah yang
tidak bersifat pribadi.
“O-oh. Dia ke sini,” kata Haruka ketika Kazuto keluar dari kerumunan wartawan
dan berjalan ke arah mereka. “Tomoyuki, ayo kita pergi.”
“Kenapa?” tanya Tomoyuki sambil mengerutkan kening, sama sekali tidak
mengerti maksud kakaknya. “Aku baru datang dan aku belum bertemu dengan Kazuto
Oniisan. Aku harus memberikan selamat kepadanya.”
Haruka melotot dan menarik lengan adiknya. “Nanti saja. Sekarang kita harus
menyingkir dari sini.”
Keiko hanya bisa menatap kedua kakak-beradik itu berjalan pergi. Tomoyuki
masih sempat menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Ketika
Keiko berbalik kembali, Kazuto sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan
dimasukkan ke saku celana.
Sesaat mereka hanya berpandangan. Keiko tidak tahu apa yang harus
dikatakannya. Ia bahkan belum bisa bernapas dengan normal dan debar jantungnya
belum mereda. Perasaannya masih melayang-layang.
Tiba-tiba Keiko mendapati dirinya bertanya, “Kalau ingatanmu saat ini masih
belum kembali, apakah kau akan mengatakan hal yang sama seperti yang kaukatakan
tadi?”
Pertanyaan itu membuat Kazuto agak kaget, tetapi ia tidak membutuhkan waktu
lama untuk menjawab. “Sejak sebelum aku hilang ingatan aku sudah menyukaimu.
Ketika aku tidak mengingat apa-apa, aku kembali jatuh cinta padamu,” gumamnya
yakin. Ia terdiam sejenak, menatap mata Keiko lurus-lurus dan melanjutkan, “Jadi, ya,
aku akan tetap mengatakan hal yang sama walaupun seandainya ingatanku belum
kembali.”
Mata Keiko terasa panas dan ia menunduk.
“Keiko-chan.” Kazuto menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Aku tahu kau
menyukai Akira walaupun dia sama sekali tidak seperti yang kaukira. Dan—aku tidak
percaya aku akan mengatakan ini—aku tahu dia menyukaimu. Bukankah dia juga
sudah bilang padamu dia ingin melindungimu atau semacamnya? Tapi katakan
padaku, apa yang harus kulakukan supaya kau bisa menerimaku. Atau setidaknya
memberiku kesempatan. Aku...”
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa,” sela Keiko.
“Aku... Apa?”
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Kazuto-san,” kata Keiko sekali lagi sambil
berusaha mengatur napas dan debar jantungnya, “karena aku memang sudah
melihatmu.”
Alis Kazuto terangkat. Ketegangan yang sejak tadi terlihat di wajahnya mulai
menguap. “Kau sudah...? Lalu Akira?”
Keiko menunduk. “Sudah kukatakan padanya,” gumamnya pelan.
Seulas senyum tersungging di bibir Kazuto. “Lalu kini kau kembali padaku?”
Keiko berdeham, agak salah tingkah, lalu balik bertanya, “Apakah kau harus
bertanya terus? Atau kau ingin aku menerima Sensei?”
“Tentu saja tidak,” sahut Kazuto cepat. Wajahnya pun berubah cerah. Ia
mengembuskan napas dengan lega. “Keiko-chan...”
Tepat pada saat itu tiba-tiba Takemiya Shinzo muncul dan menepuk punggung
Kazuto dengan keras. “Foto-fotomu hebat, Kazuto. Selamat,” katanya riang, dan
menoleh ke arah Keiko. “Oh, ada Keiko rupanya. Apa kabar?”
Keiko buru-buru membungkuk memberi salam.
“Paman?” Kazuto mengerjap bingung, seolah ia memerlukan waktu satu-dua detik
sebelum menyadari bahwa orang yang berdiri di sampingnya adalah pamannya.
“Paman baru datang?”
“Maaf, aku datang terlambat,” kata pamannya tanpa merasa bersalah. “Ngomongngomong,
bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk merayakan keberhasilanmu
setelah acara ini selesai? Tentu saja Keiko juga harus ikut.”
Keiko cepat-cepat menggeleng. “Tidak, tidak. Paman dan Kazuto-san saja yang
pergi. Aku...”
Kata-katanya terhenti ketika ia merasakan tangan Kazuto menggenggam
tangannya dan menariknya mendekat. Ia bisa melihat alis paman Kazuto terangkat
heran, lalu senyum kecil mulai terlihat di wajah pria yang lebih tua itu. Keiko merasa
pipinya memanas dan ia hampir tidak berani mengangkat wajah.
“Bagaimana kalau kita rayakan lain kali, Paman?” tanya Kazuto dengan nada
meminta maaf. “Hari ini kami punya rencana lain.”
Takemiya Shinzo menatap mereka berdua, lalu mengangguk-angguk. “Ah,
rupanya sudah berhasil.”
* * *
“Kazuto-san, kita akan ke mana?” tanya Keiko ketika mereka sudah berada di dalam
mobil Kazuto yang melaju di jalan.
“Karena kau sudah memberiku cokelat,” sahut Kazuto sambil menepuk kantong
kain berisi cokelat buatan Keiko yang diletakkan di dasbor, “aku juga harus menepati
janjiku.”
“Janji apa?”
Kazuto sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Bukankah kau pernah
memintaku mengajakmu ke restoran favoritmu itu lagi pada Hari Valentine?”
“Ah, benar!” seru Keiko gembira, baru teringat soal janji itu. “Kazuto-san, ternyata
kau masih ingat. Jadi kita akan makan malam di sana?”
Kazuto mengangguk.
“Kau membawa kartu diskonmu?” tanya Keiko.
Kazuto tertegun. “Kartu diskon?”
“Ya, kartu diskon yang kaubilang hanya bisa dipakai pada hari-hari tertentu,” kata
Keiko.
Kazuto berdeham. “Eh, soal kartu diskon itu...”
“Ya?”
“Sebenarnya tidak ada kartu diskon.”
Keiko tidak mengerti. “Tidak ada? Maksudmu, kau lupa membawanya?”
“Bukan. Aku tidak pernah punya kartu diskon itu.” Melihat Keiko yang
kebingungan, Kazuto cepat-cepat menambahkan, “Sebenarnya itu restoran pamanku,
jadi aku selalu mendapatkan diskon khusus kalau aku makan di sana.”
“Oh, begitu?” gumam Keiko heran. “Tapi kenapa kau tidak mengatakan yang
sebenarnya waktu itu?”
Kazuto mengangkat bahu. Kalau dipikir-pikir, ia juga tidak mengerti kenapa ia
harus berbohong saat itu. “Entahlah,” jawabnya. “Kurasa aku tidak ingin dianggap
memamerkan diri.”
“Kau tidak pernah memamerkan diri,” kata Keiko sambil menepuk pundak Kazuto.
“Malah kau salah satu orang paling rendah hati yang pernah kukenal.”
“Karena itu kau menyukaiku?” gurau Kazuto.
Keiko meringis, lalu tertawa kecil. “Kurasa begitu.”
Kazuto menggenggam erat tangan Keiko. “Terima kasih, Keiko-chan,” gumamnya
pelan. “Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan. Terima kasih karena sudah
ada di sini bersamaku.”
Keiko tersenyum menatap laki-laki yang duduk di belakang kemudi itu, lalu
menatap tangannya yang hampir tak terlihat dalam genggaman Kazuto. Hatinya terasa
hangat. Ringan. Bahagia. Ia suka apabila Kazuto menggenggam tangannya seperti itu,
membuatnya merasa laki-laki itu akan selalu bersamanya.
“Ngomong-ngomong, Kazuto-san, kenapa kau tadi bilang Sensei tidak seperti yang
kukira?” tanya Keiko tiba-tiba. “Ah, dulu sewaktu kau mengantarku ke stasiun kereta,
kau juga bilang ada sesuatu yang ingin kaukatakan kepadaku. Sesuatu tentang ingatan
masa kecilku. Kau ingat?”
“Oh, itu...” Kazuto tersenyum penuh misteri.
“Aku sangat penasaran,” kata Keiko. Ia mengubah posisi duduknya dan
menghadap Kazuto. “Sebenarnya apa yang ingin kaukatakan?”
“Tentang cinta pertamamu. Anak laki-laki yang membantu mencarikan kalungmu
yang hilang itu...”
“Sensei.”
Kazuto menggeleng. “Bagaimana kalau anak laki-laki itu bukan Akira?”
“Hah?”
“Bagaimana kalau kukatakan padamu anak laki-laki itu bukan Akira?”
Mata Keiko terbelalak. “Bagaimana mungkin? Naomi yang bilang padaku nama
anak itu Kitano Akira. Naomi kenal banyak orang dan dia tidak mungkin salah.”
“Tapi Akira tidak mengingatmu, bukan? Tidak ingat pernah bertemu denganmu,
atau membantumu mencari kalung, atau semacamnya?”
“Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Orang-orang bisa saja melupakan
beberapa hal pada masa kecilnya,” protes Keiko. “Lagi pula, bagaimana kau bisa begitu
yakin anak itu bukan Sensei?”
Kazuto menatap Keiko sekilas sebelum kembali menatap jalanan di depan. Ia
tersenyum. “Karnea akulah anak itu.”
Kali ini Keiko terbelalak. “Apa?” Suaranya juga melengking.
“Aku ingat pernah melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang berjongkok
di samping gedung sekolah menangis tersedu-sedu mencari kalungnya yang hilang,”
kata Kazuto.
“Aku tidak menangis tersedu-sedu,” bantah Keiko.
Kazuto mengabaikannya. “Waktu itu kau tidak memakai sarung tangan. Kau terus
meniup-niup tanganmu. Aku ingat itu karena aku bermaksud meminjamkan sarung
tanganku kepadamu. Hanya saja hari itu aku juga tidak membawa sarung tangan.”
Keiko terdiam dan menatap Kazuto tanpa berkedip.
“Aku masih ingat, Keiko-chan. Sungguh. Semuanya tersimpan di kepalaku seperti
foto,” kata Kazuto sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
“Tapi ini benar-benar sulit dipercaya,” kata Keiko. “Apakah itu benar-benar kau,
Kazuto-san?”
“Begitulah kenyataannya.”
Keiko mengerutkan kening dengan bingung. “Tapi bagaimana mungkin Naomi
salah mengenali orang?”
Kazuto mengangkat bahu. “Entahlah. Yang kutahu adalah cinta pertamamu sudah
pasti bukan Kitano Akira,” katanya sambil menatap Keiko, “tapi Nishimura Kazuto.”
Sejenak Keiko masih berpikir. Akhirnya ia tersenyum. “Akan kuingat itu,” katanya,
lalu memandang ke luar jendela dan melihat butiran salju tipis melayang turun. “Wah,
salju mulai turun lagi.”
Epilog
CAHAYA matahari yang silau membuat mata Kazuto menyipit ketika menatap anak perempuan
yang sedang berjongkok dan mengorek-ngorek tanah bersalju dengan ranting di samping
gedung sekolah. Sepertinya anak itu sedang mencari sesuatu. Sesekali ia meniup tangannya
yang tidak bersarung tangan. Dan sepertinya ia juga sedang menangis.
Kazuto menoleh ke belakang. Teman-temannya belum keluar. Tadi mereka bilang mereka
tidak akanlama, hanya akan memberikan hadiah ulang tahun kepada guru SD favorit mereka.
Kazuto tidak terlalu setuju dengan ide itu. Memang benar, guru itu guru favorit mereka semasa
SD, tetapi kini mereka sudah menjadi murid SMP. Menurut Kazuto mereka tidak pantas lagi
bersikap sentimental dan kekanak-kanakan seperti itu. Namun teman-temannya tidak mau
mendengar alasannya. Ia ikut ke sini karena terpaksa, tetapi ia menolak untuk masuk dan
bertemu dengan guru mereka. Menurutnya laki-laki harus bersikap tegas. Biar saja temantemannya
yang masuk. Ia akan menunggu di luar sini sampai mereka kembali. Walaupun di
luar sini dingin sekali.
Kazuto kembali menatap anak perempuan itu. Teman-temannya belum kembali. Daripada
melamun saja, mungkin ia bisa membantu anak itu.
Kazuto membetulkan letak topi wol birunya dan menghampiri anak itu. “Sedang apa?”
tanyanya.
Anak perempuan itu mendongak. Matanya menyipit menatap Kazuto. Dari dekat, Kazuto
menyadari rambut panjang anak itu yang diikat ekor kuda terlihat agak miring dan ada sedikit
noda tanah di pipinya yang kemerahan. Kazuto juga baru tahu anak itu tidak sedang menangis
seperti yang diduganya tadi, tetapi anak itu memang hampir menangis. Matanya terlihat
berkaca-kaca.
“Sedang apa?” tanya Kazuto lagi karena anak itu tidak menjawab.
Setelah ragu sejenak, anak perempuan itu bergumam pelan, “Mencari sesuatu.”
“Mencari apa?”
“Kalung.” Lalu anak perempuan itu kembali menunduk dan mengorek-ngorek tanah.
Kalung? Tanpa bertanya lebih jauh, Kazuto pun ikut mencari. Ia baru mulai berlutut ketika
sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau. Ia memungut benda itu dan mengamatinya.
Kalung itu kalung yang sederhana, tetapi indah, dengan liontin berbentuk tulisan “Keiko”.
Nama anak itukah?
“Namamu Keiko?” tanyanya.
Anak itu menoleh ke arahnya. “Ya.” Nada suaranya terdengar ragu-ragu.
Kazuto tersenyum puas dan mengacungkan kalung yang dipegangnya itu. “Ketemu!”
“Benarkah?” Wajah anak perempuan itu langsung berubah cerah. Ia berlari menghampiri
Kazuto dengan mata berkilat-kilat senang dan pipinya semakin merah.
Kazuto berdeham dan menyerahkan kalung itu kepadanya. “Jaga baik-baik. Jangan sampai
hilang lagi.”
Tepat pada saat itu ia mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan melihat temantemannya
ternyata sudah keluar dan melambai-lambai ke arahnya. Kazuto mendesah. Kenapa
mereka memilih sekarang untuk keluar? Ia mendesah pelan sekali lagi dan menoleh kembali
kepada anak perempuan yang berdiri di depannya. “Aku pergi dulu,” katanya. “Kau juga lebih
baik cepat pulang.”
Setelah itu ia pergi bergabung dengan teman-temannya.
* * *
“Naomi, cepat ke sini,” Keiko menarik Naomi yang baru datang. “Dan jangan berbalik! Nanti
dia melihat kita.”
“Siapa?”
“Kau kenal anak laki-laki di lapangan itu? Tapi kau jangan berbalik. Nanti dia melihat.”
Naomi mendelik ke arah saudara kembarnya. “Kalau tidak berbalik bagaimana aku bisa
melihat siapa yang kaumaksud?”
“Baiklah, baiklah. Tapi pelan-pelan saja. Jangan sampai ketahuan.”
Naomi menoleh diam-diam dan memandang ke arah lapangan.

* * *

“Kau tadi bicara dengan siapa, Kazuto?” tanya Eiji yang bertubuh jangkung sambil menoleh ke
belakang.
Kazuto memutar kepala temannya kembali ke depan. “Bukan siapa-siapa. Kenapa kalian
cepat sekali?”
“Cepat?” Mata Makoto melebar terkejut. “Kami pikir kau pasti sudah uring-uringan
karena menunggu begitu lama di luar.”
Kazuto pura-pura tidak mendengar.

“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Emi sambil melirik jam tangan.
Akira smabil mengusap-usap kepalanya yang hampir botak. “Bagaimana kalau kita pergi
makan?” usulnya.

“Kenapa pikiranmu makan melulu?” omel Makoto dan menyikut lengan Akira.
“Memangnya kalian tidak pernah dengar cuaca dingin membuat orang-orang gampang
lapar?” tanya Akira sambil memandang teman-temannya satu per satu. “Apalagi aku.”
Emi terkikik. “Maksudmu karena ibumu salah memotong rambutmu sampai hampir botak
dan sekarang kepalamu kedinginan?”
“Jangan mengingatkanku pada rambut jelek ini,” erang Akira. “Aduh, kenapa aku lupa
bawa topi hari ini?”
Kazuto melepaskan topinya dan melemparkannya ke arah Akira. “Pakai ini saja kalau kau
malu rambutmu yang jelek itu dilihat orang.”
Teman-temannya tertawa. Sambil bersungut-sungut, Akira mengenakan topi wol biru itu.
* * *
“Sekarang jam pulang sekolah, kau tahu?” kata Naomi. “Di lapangan banyak orang. Anak lakilaki
yang mana maksudmu? Beri aku petunjuk.”
“Tadi dia bersama teman-temannya,” gumam Keiko sambil berpikir-pikir. Tiba-tiba ia
menjentikkan jari. “Dia memakai topi biru. Topi wol biru!”
“Topi biru?” Naomi menyipitkan mata dan mencari-cari. “Ah, itu dia. Topi biru dan... dia
bersama teman-temannya. Yang itu? Bukankah mereka kakak kelas kita?”
“Ya, ya, ya,” sahut Keiko cepat tanpa berbalik. “Kau tahu siapa namanya? Anak laki-laki
bertopi biru itu?”
Naomi mengangguk. “Itu Kitano Akira.”
“Kitano Akira,” gumam Keiko sambil tersenyum sendiri.
Naomi menyikut saudara kembarnya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin tahu?”
Keiko tersenyum lebar penuh rahasia. “Akan kuceritakan di rumah. Ayo, kita pulang.”

sekian

0 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...