JK, Inspirator Dari Timur

Written By Rison Sarundaek on Sabtu, 29 Oktober 2011 | 10.25

Oleh: Sukardi Weda (Staf Pengajar UNM)

DR. (HC) Jusuf Kalla atau lebih dikenal dengan JK merupakan sosok pekerja keras dan dikenal luas bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di mancanegara. Ia adalah salah seorang putera Indonesia yang memiliki talenta paripurna. Ia adalah pengusaha, politisi, aktifis, mantan Wakil Presiden, Duta Komodo, Ketua Umum PMI, sang juru damai, ia juga bapak rumah tangga dan nenek bagi cucu-cucunya. Jelasnya, JK adalah pemikir, pekerja, dan pencari solusi. Ia bukan hanya putera Bone, putera Sulawesi, putera Sulawesi Selatan, tetapi kita sepakat ia adalah putera terbaik negeri ini.
JK merupakan salah satu putera Indonesia yang telah berperan penting dalam pembangunan infrastruktur dan suprastruktur bangsa. Ia dikenal luas dengan pemikiran cerdasnya dan tindakan cepatnya. Ketika ia memangku jabatan Wakil Presiden RI, tidak sedikit kebijakan pro rakyat kecil yang telah dilakukan, ia juga senantiasa duduk bersama dengan akar rumput untuk mencari solusi terhadap masalah yang tengah dihadapi.

Dengan sejumlah langkah strategis dan taktisnya tersebut, maka mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah memberinya gelar “The Real Presiden.” Disamping itu, tokoh dan pemikir dunia dan lembaga perguruan tinggi juga telah memberikan seabrek penghargaan kepadanya berkat pengabdian tulus yang dilakukannya. Ia telah banyak menerima Dr. Honoris Causa (H.C.) dari universitas terpandang, seperti Universitas Brawijaya (2011), Universitas Pendidikan Indonesia (2011), Universitas Hasanuddin (2011), Universitas Soka, Jepang (2009) dan Universitas Malaya, Malaysia (2007). Ia juga menerima penghargaan dari Thailand ketika ia berkunjung ke Kamboja atas inisiatifnya mewujudkan harmoni di Thailand Selatan. Ia layak memperoleh penghargaan prestisius orang terpilih dunia, yaitu “Nobel Prize” di bidang kemanusiaan dan perdamaian.

Setiap tugas yang diembannya dapat diselesaikan dengan tepat dan cepat, seperti ketika ia menjadi inisiator perdamaian Aceh, konflik Ambon, dan Poso. Ketika ia duduk di meja perundingan, dan terdapat jalan buntu, maka ia dengan cepat menemukan jalan keluar dari masalah tersebut, seperti diceritakan ketika perundingan antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), terdapat masalah serius, yakni petinggi GAM mengatakan bagaimana kalau kita (Indonesia dan GAM) perang seratus tahun, ia kemudian mengatakan kalau perang 100 tahun di Aceh, maka yang akan mengalami kerugian besar adalah masyarakat Aceh sendiri, rupanya pikiran cemerlangnya tersebut meluluhkan petinggi GAM, akhirnya terjadilah titik temu. Namun petinggi GAM merasa sangsi untuk menyerahkan senjata mereka kepada TNI, akhirnya JK mengatakan kalau begitu, senjata-senjata yang dimiliki oleh tentara GAM supaya dipotong-potong sendiri oleh GAM di depan masyarakat dan TNI, demikian ia katakan di sela-sela peluncuran buku bertajuk “Mereka Bicara JK.” Dengan keberhasilannya mewujudkan harmoni di Aceh, orang memberinya gelar juru damai, dan tidak sedikit orang berpendapat bahwa keberhasilannya mendamaikan RI dan GAM merupakan sebuah penemuan (discovery). Juha Christensen, fasilitator perundingan Helsinki memberi julukan kepada JK sebagai sosok Asia yang potensial selesaikan konflik regional. Senada dengan pendapat Christensen tersebut, Farid Husain, staf khusus JK, bidang perdamaian mengatakan bahwa JK adalah bintang resolusi konflik Indonesia. Ia mengalahkan analisis pakar dan praktisi ilmu sosial budaya.

Jauh sebelum ia berkiprah di pemerintahan, politik, sosial budaya, kemanusiaan, dan perdamaian bagi komunitas yang bertikai, ia telah lama malang melintang di dunia bisnis, sehingga pengetahuan dan wawasan ekonominya mengantarkan ia meraih gelar Doctor Honoris Causa dengan teori-teori pemikiran dan perakteknya di dunia bisnis, yaitu Kallanomics, yang terbukti manjur memperbaiki sejumlah aspek kehidupan bangsa, baik ketika ia menjabat sebagai Wakil Presiden RI maupun setelah ia tejun ke ranah kemanusiaan sebagai komitmennya untuk membangun negeri.

Ketika tidak lagi menjadi Wakil Presiden RI, ia kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdikan dirinya di bidang pendidikan, agama, kemanusiaan, dan mengurus mesjid, seperti janjinya ketika ia berkampanye untuk meraih RI 1, tetapi nasib menginginkan lain.

Aksa Mahmud dalam buku Mereka Bicara JK (2009), mengatakan bahwa “Orang seperti Jusuf Kalla itu tidak pernah berhenti otaknya berpikir. Tidak pernah kehabisan akal. Pak Jusuf memiliki seribu akal. Seribu pekerjaan juga sudah menunggu dia. Pengabdian kepada bangsa ini tetap akan dilakukan melalui pemikiran-pemikirannya. Benar adanya, tidak lama berselang datang tawaran untuk menjadi ketua umum PMI, dan ketika menjadi nakhoda PMI, telah banyak kebijakan dan program yang ditelorkannya, salah satunya adalah Program Donor Darah Masuk Kampus dan Mall dengan tujuan pasokan darah mencukupi dan bukan lagi sesuatu yang langkah. Ia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang komprehensif sehingga mengukuhkan dirinya sebagai pisau analisis yang cukup tajam. Ia adalah tokoh yang mampu mengawinkan antara olah pikir, olah prilaku, dan olah tindak.

Tugas mulia terakhir yang diembannya adalah menjadi Duta Komodo, dengan tugas mempromosikan salah satu hewan purba tersisa “komodo” untuk masuk dalam 7 keajaiban dunia (7 wonders), dan beberapa saat setelah dikukuhkan sebagai duta komodo, ia langsung tancap gas, ibarat pembalap motor GP, Rossi untuk memenangkan pertarungan dengan meminta masyarakat mengirimkan dukungan atas komodo melalui SMS ke 9818 secara gratis.

JK adalah satu dari enam juta penduduk Sulawesi Selatan, dan satu dari 240 juta penduduk Indonesia yang memiliki komitmen untuk membangun dan mensejahaterahkan segenap rakyat Indonesia. Ia adalah sosok yang mampu untuk mengubah dunia (Suryopranoto dalam Mereka Bicara JK, 2009).

M. Syafi’i Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam buku Mereka Bicara JK, 2009 mengatakan bahwa sebenarnya bangsa ini rugi tidak memberi kesempatan kepada JK untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Sebagai tokoh bangsa yang berasal dari kawasan Timur Indonesia, nuansa ke-Indonesiaan JK sangat kental. Ia memiliki visi ke depan untuk Indonesia agar lebih maju dan terhormat. Ia disegani dan dihormati oleh kawan dan lawan. Ia telah menginspirasi banyak orang, termasuk lawan-lawan politiknya ketika ia masih berkiprah di panggung sandiwara politik. Ia adalah seorang pemimpin yang menganggap masalah sebagai solusi (see problem as an answer). JK adalah orang yang get things done (National Press Club of Indonesia, 2009).

Kallanomicbukanlah teori ekonomi baru, ia lebih tepatnya merupakan ekonomi terapan yang “hidup”. Kallanomic dapat dibaca dan didengar langsung dari setiap ‘pemikiran ekonomi’ Mantan Wapres RI Jusuf Kalla, sedang penerapannya dapat pula ditelusuri dari kebijakan ekonomi dan bisnis Jusuf Kalla (JK), baik semasa menjabat Wapres RI maupun setelah tidak menjabat. Pemikirannya sangat strategis dan gagasan – gagasannya menguatkan bangunan ekonomi real, percaya diri kekuatan bangsa sendiri dengan prinsip kewirausahaan dan bisnis yang mendorong pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, dan peduli kemajuan bangsa.

sumber : fajar.co.id

0 Komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...