Asal Usul Melayu

Written By Rison Sarundaek on Kamis, 22 Maret 2012 | 11.15

Konon Melayu diambil dari nama sebuah kerajaan tertua di Sumatera yang disebut Kerajaan Melayu, dimana kerajaan itu terletak ditepi Sungai Batanghari (sekarang masuk Propinsi Jambi). Lalu diperkuat dengan adanya prasasti Kedukan Bukit yang berasal dari Bukit Siguntang, Palembang. Prasasti yang diperkirakan merupakan catatan tertua tentang bahasa Melayu. Para petualang Cina juga menuliskan kata Mo-lo-yeu. Bahasa Melayu Kuno juga tumbuh subur di Kerajaan Sriwijaya yang menyebar hingga selatan Thailand dan Filipina, dan karena perdagangan serta perniagaan, bahasa Melayu mencapai bumi Papua. Ini dibuktikan bahwa sejak lama masyarakat Maluku dan Papua sudah mengenal bahasa Melayu sejak ratusan tahun silam.



Nah, sebenarnya siapa sih yang disebut Melayu? Mungkin kalau diulik-ulik dari ras, ada dua kelompok Melayu yakni Proto Melayu dan Deutro Melayu. Diklaim selama ini orang-orang ras Melayu sudah datang dari Cina Selatan sejak ribuan tahun lalu. Proto Melayu adalah kelompok Melayu yang datang pertama kali, dan menempati kawasan-kawasan pedalaman Indonesia, contohnya adalah orang Dayak, Batak, Nias, Suku-suku Sakai, Bonai, Suku-suku pedalaman Sulawesi dan sebagainya. Sedangkan Deutro Melayu adalah kelompok yang datang belakangan dan menempati wilayah-wilayah pesisir.

Bahkan yang unik lagi, sebagian besar orang Madagaskar (pulau besar dilepas pantai Afrika) berciri fisik serupa dengan orang-orang Indonesia, ditilik dari bentuk wajah, rambut lurus, kulit kuning hingga sawo matang. Serta mempunyai bahasa yang mirip dengan Dayak Maanyan di pedalaman Kalimantan. Sedangkan masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Maluku merupakan percampuran antara ras Melayu dengan ras Melanesia. Filipinapun juga bisa dibilang ras Melayu.

Nah, sebenarnya siapa sih yang disebut Melayu? Mungkin pertanyaan ini membingungkan sekaligus menimbulkan pemahaman yang berbeda dalam setiap negara. Dalam pemahaman Malaysia, Singapura dan Brunei (mungkin lho, maaf kalau salah), yang disebut Melayu adalah orang yang berbahasa, berbudaya Melayu dan beragama Islam. Sedangkan suku-suku Bidayuh, Murut, Kadazan dll disebut sebagai Bumiputera juga. Disana juga pendatang-pendatang asal Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar, Buton, Madura dan Bawean (yang disana disebut Boyan) yang berasimilasi dengan Melayu juga disebut sebagai Melayu dan pada akhirnya anak cucunya menjadi Melayu betulan. Meski sebagian masih menerapkan beberapa adat istiadat leluhurnya.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Mungkin agak rancu, karena sebagian besar orang Indonesia tergolong ras Melayu. Menurut pemahaman yang saya ketahui, seperti kasus di pulau Kalimantan…yang disebut Melayu ada dua kelompok, yakni :

1. Pendatang Melayu asal Sumatera, Kepulauan Riau dan Semenanjung yang bermukim dipesisir barat Kalimantan, dan
2. Penduduk asli (Dayak) yang menganut agama Islam, dan berpindah ke tepi-tepi sungai serta menganggap dirinya sebagai Melayu. Meskipun pada masa sekarang ini, orang Dayak yang masuk Islam tetap mempertahankan ke-Dayak-annya.

Hal yang sama juga terjadi di Kepulauan Riau, dimana jika Suku Laut masuk Islam, maka dia disebut masuk Melayu dan mengadaptasi semua segi budaya Melayu. Meski sejatinya dari bahasapun mereka termasuk dialek Melayu.

Sedangkan pemahaman Indonesia Timur tentang Melayu berbeda lagi. Di masa silam, yang disebut Melayu adalah orang-orang setempat yang menganut Kristen dan mengadaptasi bahasa Melayu sebagai pengganti bahasa leluhurnya. Contohnya adalah kampung Melayu yang ada di Larantuka, Flores yang awalnya adalah pemukiman orang-orang penganut Katolik yang lari dari Makassar pada abad ke-17.

Suku-suku yang disebut ‘Melayu’ di Kalimantan sendiri sebenarnya adalah keturunan suku-suku Dayak yang masuk agama Islam atau bercampur dengan pendatang-pendatang Melayu asal Sumatera dan suku Jawa. Percampuran Melayu, Dayak Bukit, Dayak Lawangan, Ngaju, Maanyan dan Jawa menghasilkan apa yang disebut sebagai Suku Banjar saat ini (terbagi atas 3 sub-suku seperti Banjar Hulu Sungai, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala yang lebih ‘Melayu’). Sedangkan suku-suku hasil pe-Melayu-an Dayak lainnya selain Banjar adalah suku Kutai, Tidung, Pasir, Berau dan sebagainya yang berbudaya campuran Melayu dan lokal, berbahasa Melayu lokal serta masih berkerabat dekat dengan suku-suku Dayak sekitarnya. Kini, orang Dayak yang masuk Islam tetap dengan menyebut dirinya Dayak (semisal Dayak Bakumpai atau Lamandau), bukan lagi Melayu atau Banjar.

Sedangkan apa yang disebut ‘Melayu Betawi’ di Jakarta juga majemuk untuk dipertegas. Karena aspek-aspek kebudayaannya yang merupakan perpaduan berbagai daerah, sesuai dengan nenek moyang orang Betawi itu sendiri. Arab, Melayu, Sunda, Cina, Jawa dan Eropa membentuk warna budaya mereka, meski dari bahasa masih dapat ditelusuri kemelayuannya (namun sangat kental dipengaruhi bahasa Sunda dan Jawa) serta cerita-cerita rakyat yang masih berhubungan.

Sebagaimana Cape Malay di Afrika Selatan dan ‘Melayu’ di Sri Lanka, mereka adalah keturunan dari berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia yang dibuang Belanda dari tanah leluhurnya. Mereka kemudian membentuk kelompok Melayu meskipun dari segi fisik mereka lebih mirip India atau Eropa karena perkawinan campuran. Cape Malay sendiri banyak yang sudah tidak bisa bahasa Melayu, tetapi ikatan dengan tanah leluhur ini yang tetap membuat mereka sebagai ‘Melayu’.

Makna Melayu sendiri kini lebih mengacu pada masyarakat yang menganut budaya Melayu, berbahasa Melayu dan beragama Islam. Mungkin jatidiri Melayu lebih terlihat di Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand Selatan daripada di Indonesia yang mana di negara-negara tersebut menjadi bentuk manifesto politik. Sumatera notabene dikenal sebagai Pulau ‘Melayu’ meskipun ada pengecualian dibeberapa daerah yakni di Aceh, Pedalaman Sumatera Utara, Sumatera Barat , pulau-pulau lepas pantai barat Sumatera dan Lampung yang mempunyai bahasa dan budaya tersendiri meski sama-sama ras Melayunya. Yang disebut Melayu di Indonesia adalah juga orang-orang yang berbahasa Melayu dan berbudaya Melayu serta identik dengan Sumatera dan Kalimantan (Barat).

Nah, siapa sih yang disebut Melayu? Itu yang mungkin perlu dikaji ulang. Karena ras Melayu (Malayo-Polinesia) juga besar (dari Madagaskar hingga Tahiti dan Filipina), namun akhirnya membentuk bahasa dan budaya yang sangat berbeda satu sama lainnya. Sebagaimana bangsa Arab, kini yang disebut bangsa atau orang Melayu -sekali lagi- mungkin adalah orang-orang yang bersuku Melayu, berbudaya Melayu, berbahasa ibu Melayu dan beragama Islam.

Mungkin ada pendapat lain? Silahkan…



0 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...