Buroncong Ani di Tepi Jalan Rajawali

Written By Rison Sarundaek on Minggu, 19 Februari 2012 | 07.44


BURONCONG sejenis panganan tradisional khas Bugis Makassar. Bahannya tiga macam, terbuat dari terigu yang diadoni dengan parutan kepala, lalu dicampurkan gula.

Memasaknya dalam cetakan di atas tungku yang dipanaskan dengan bara dari kayu bakar. Tampak rupa buroncong setelah matang seperti kue pukis khas Betawi. Rasanya, kenyal dan tidak "terlalu manis".

Di seantero ibukota Negeri Anging Mammiri, mudah ditemui penjual buroncong. Dijual secara beredar di jalan-jalan, dari lorong ke lorong, oleh penjaja bergerobak, panganan ini tingkat popularitasnya di mata warga kota Makassar mungkin setara Slank, grup musik rock&roll Indonesia.

Salah satu penjual buroncong, bernama Ani (36). Tapi dagangannya tidak dijajakan dengan cara beredar kian kemari, melainkan gerobaknya hanya terparkir santai di tepi Jalan Rajawali. Para pelanggan pun datang sendiri, menghampiri, memesan buroncong Ani.

"Sudah 17 tahun saya jualan buroncong di sini. Itu (tangannya menunjuk) anak saya juga jualan buroncong. Umurnya 17 tahun," ungkap Ani seraya menunjuk ke gerobak yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berjualan.

Di tepi Jalan Rajawali, di sebelah kanan pintu gerbang masuk ke Pasar Lelong (salah satu sentra penjualan ikan di Makassar), Ani menjaring pelanggan. Dia buka gerobaknya sejak pukul 4.30 WITA sampai agak siang sekira pukul 9.30 WITA.

"Hari-hari biasa habis 3 kilogram adonan buroncong, tapi kalau hari Minggu bisa habis 10 kg," sambung Ani yang menjual buroncong per potong seharga Rp500.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...