Kisah Sedih Pak Raden dan Unyil

Written By Rison Sarundaek on Minggu, 15 April 2012 | 10.01


Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5. Si Unyil ini diciptakan oleh Suyadi

Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Kata "Unyil" berasal dari "mungil" yang berarti "kecil".

Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti "Cepek dulu dong"!

Unyil Bangkit lagi
Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan jamannya, akan tetapi usaha itu gagal.

Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu "Cepek dulu dong" kini jadi "Gopek dulu dong"; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.



Bagaimana kelanjutan nasib sang pencipta boneka mungil ini?

Hingga kini, sudah lebih dari sepuluh tahun, hak cipta Si Unyil itu tak ada ditangannya. Padahal, seharusnya sudah banyak pundi-pundi rupiah yang berhasil ia kantongi dari karya yang diciptakannya itu


Terhitung sejak tahun 1980-an, Pak Raden  tercatat sudah tiga kali pindah rumah kontrakan.

Rumah terakhir atau yang kini ditempatinya, yakni yang berada di Jalan Petamburan III ini pun bukan miliknya. Rumah sederhana bercat kuning itu adalah milik kakaknya.

Kondisinya pun tak layak untuk sekelas Pak Raden. Atap rumah itu sering bocor, sirkulasi udara tak berjalan baik, terletak di gang sempit. Bahkan, rekaman kaset 'Si Unyil' dan buku-buku koleksinya tak terurus, penuh debu.

Beberapa rekaman kaset Si Unyil sudah banyak yang rusak karena tak memiliki ruang penyimpanan layaknya perpustakaan kelas satu. Beberapa lukisan kesayangannya pun masih terpajang, sebagian juga sudah terjual untuk menyambung hidup.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia melukis. Memang beberapa anak buahnya, yang sudah mengikutinya sejak 1980-an, turut membantu membuat boneka dari tokoh yang diambil dari serial Si Unyil. Sebagian dari boneka dan lukisan tersebut dikomersilkan.

Dari hasil itu, baru ia bisa membeli beras, sayur, peralatan lukis, dan berobat ke dokter. "Sudah sejak dua tahunan ini Pak Raden sulit jalan," kata Nanang, yang sehari-hari mengurusi Pak Raden.

Pak Raden kini tak lagi memiliki apa-apa lagi karena hak cipta atas Si Unyil ternyata tidak dia miliki. Hak cipta Si Unyil dimiliki Perum Produksi Film Negara (PPFN). Pak Raden mengaku mulanya tak peduli dengan masalah hak cipta ini. Namun, kini ia seperti menyesal. Setelah bertahun-tahun bekerja, bukan dirinya yang memetik hasilnya.

"Orang lain senang pakai nama 'Si Unyil' dan nama 'Pak Raden'," ujar pria yang memiliki kumis tebal sebagai ciri khasnya ini.

Kini, Pak Raden sedang memperjuangan hak cipta 'Si Unyil' ke Direktorat Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM. Tujuannya satu. Pak Raden ingin hak cipta 'Si Unyil' kembali dalam genggamannya.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...