Cerita Di Balik Pembunuhan Bos Sanex Steel

Written By Rison Sarundaek on Kamis, 01 Maret 2012 | 07.27


Tan Harry Tantono alias Ayung (45) tewas dengan kondisi tubuh mengenaskan di dalam kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada tanggal 26 Januari 2012 lalu. Ayung tewas dengan 32 luka tusuk yang ada di bagian perut, pinggang, dan leher.

Di dalam rekaman kamera CCTV milik hotel, sosok Ayung pada hari itu datang seorang diri masuk ke kamar 2701. Sebelumnya, sudah ada belasan orang pria yang masuk terlebih dulu. John Kei, pemimpin tokoh pemuda Maluku, juga masuk ke dalam kamar itu.

Sekitar satu jam kemudian, John Kei bersama rombongan pria yang diduga anak buahnya itu keluar dari kamar. Sedangkan Ayung tak sekali pun keluar dari kamar itu. Polisi sudah menahan enam orang tersangka terkait kasus ini, yakni Tuce Kei, Ancola Kei, Chandra Kei, Deni Res, Kupra, dan John Kei.

Namun, polisi masih belum mendapatkan keterangan dari John Kei lantaran pria itu masih meringkuk lemas akibat "hadiah" timah panas aparat ke kaki kanannya saat penangkapan di Hotel C'One beberapa waktu lalu.

Tetapi, dari keterangan lima tersangka lain, mereka mengaku menghabisi nyawa Ayung lantaran menagih fee jasa debt collector yang digunakan Ayung senilai Rp 600 juta. Motif ini diragukan aparat kepolisian. Pasalnya, mereka tidak bisa menunjukkan siapa orang yang berutang kepada Ayung.

Sebelum mengungkap motif di balik kasus ini, perlu diketahui terlebih dulu siapa sosok Ayung. Perjalanan hidup Ayung ini terbilang cukup panjang sampai akhirnya dia bisa menjadi pengusaha besar sekaligus pemilik PT Sanex Steel Indonesia yang kini berubah nama menjadi PT Power Steel Mandiri, sebuah perusahaan peleburan baja.

Bisnis toko emas

Menurut kuasa hukum Ayung, Carel Ticualu, sosok Ayung dikenal sebagai pengusaha yang gila kerja. Ia bekerja keras hingga bisa sampai di posisinya terakhir ini.

"Dia itu gila kerja. Cita-citanya muluk, kemauannya kuat," ungkap Carel.

Jiwa wirausahanya ini, kata Carel, didapat Ayung dari sang ayah, Herman Tantono. Herman memiliki toko emas di Surabaya, Jawa Timur. Di kota itulah, Ayung dilahirkan pada tanggal 5 Maret 1961.

Dia adalah anak keenam dari delapan bersaudara. Pada umur 3 tahun, Ayung pindah ke Fujian, China, bersama dengan ayah dan keluarganya. Ia disekolahkan di sana hingga lulus sekolah menengah pertama (SMP).

Setelah itu, Ayung kembali ke Jakarta lagi dan membantu usaha bapaknya yang di toko emas ayahnya di Surabaya.

Bertemu Arifin dan bisnis DVD bajakan

Selama di Surabaya, bisnis Ayung kian banyak. Di kota itu jugalah Ayung berkenalan dengan Arifin atau Hok Giok Kie, yang di kemudian hari sering berseteru dengannya.

Berdasarkan sumber Kompas.com, Ayung dan Arifin saat itu berkenalan karena sama-sama melakukan bisnis DVD bajakan di kota pahlawan itu. Akibat bisnis ini, Ayung pun kerap bolak-balik diperiksa polisi meski tidak ada yang sampai membuatnya ditahan polisi.

Selain berbisnis DVD bajakan, hubungan Ayung dan Arifin kian dekat hingga akhirnya sempat menjalin kerja sama sebagai importir barang-barang elektronik. Kedekatan Ayung dan Arifin ini dibenarkan Carel. "Dia (Ayung) memang sudah lama kenal dengan Arifin. Teman lama," ujarnya.

Menurut sumber Kompas.com, bentuk kerja sama antara dua pengusaha itu adalah dengan sama-sama memesan barang dari luar, tetapi menjual barang itu dengan merek yang dimiliki masing-masing. Pada saat menjadi importir barang-barang elektronik inilah, dua pengusaha muda itu kemudian berkenalan dengan Kong Tju Yun, pemilik merek dagang Sanex.

Kong Tju Yun saat itu adalah pengusaha barang elektronik, ponsel, hingga kendaraan bermotor. Dari perkenalan itulah ketiganya kemudian sepakat membuat sebuah perusahaan peleburan baja dengan nama PT Sanex Steel Indonesia pada Desember 2004.

Merintis Sanex Steel

Ada empat orang yang berperan penting dalam pendirian PT Sanex Steel Indonesia (SSI). Keempatnya juga memiliki saham di perusahaan itu. Mereka adalah Ayung dengan 7.000 lembar saham, Kong Tju Yun 5.000 lembar saham, Rully Santoso 4.000 lembar saham, dan Arifin 3.000 lembar saham. Perusahaan kian berkembang sampai akhirnya terjadi konflik antara Arifin dan PT Sanex soal kepemilikan saham.

Sumber Kompas.com menyebutkan bahwa perseteruan Arifin dengan Ayung membuat Arifin keluar dari Sanex. Sedangkan kasus kepemilikan saham ini berjalan ke meja hijau hingga pada tahun 2011, majelis hakim memutuskan bahwa kasus itu adalah kasus perdata dan sama sekali tidak ada unsur pidananya.

Setelah ada keputusan hukum tetap, komposisi kepemilikan saham kemudian berubah. Komposisi kepemilikan saham kemudian berubah menjadi Ayung dengan 8.610 lembar saham, Kong Tju Yun 7.140 lembar saham, dan Rudi Santoso 3.150 lembar saham. Ayung tetap pemilik saham mayoritas bahkan meningkat setelah Arifin keluar dari perusahaan.

Setelah itu pada tahun 2010, nama Sanex Steel Indonesia berubah menjadi Power Steel Mandiri setelah Kong Tju Yun juga memutuskan keluar dari perusahaan. Perusahaan yang terletak di Jalan KH Syech Nawawi Blok A Nomor 1, Kawasan Industri Tiga Raksa, Cikupa, Tangerang, Banten, ini kemudian semakin berkembang.

Hingga kini, sudah ada 1.000 karyawan yang dipekerjakan. Bisnis Ayung di bidang peleburan besi baja pun berkembang. Carel mengakui bahwa Sanex juga mulai mengerjakan pengolahan besi-besi tua menjadi billet. Billet itu yang nantinya bisa dioleh menjadi besi beton.

Dari bisnis senjata, permata, ke jembatan

Dengan semakin berkembangnya bisnis Ayung, pria itu juga mulai sayap bisnisnya di bidang lain. Sumber Kompas.com mengatakan, Ayung juga memiliki bisnis permata di Kalimantan Selatan. Selain itu, Ayung bahkan sempat bercita-cita ingin menjadi pemasok senjata. Soal bisnis ini, Carel menjelaskan bahwa Ayung memang memiliki keinginan itu.

"Kalau diminta pemerintah, dia bilang siap mengerjakannya. Dia bahkan mau rugi untuk bisnis ini," tuturnya saat dikonfirmasi kebenaran informasi itu.

Sayang, impian Ayung memiliki pabrik senjata api urung terwujud hingga akhir hayatnya. Ambisi Ayung yang lain yang belum sempat terwujud adalah menggolkan proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda. Ambisi Ayung ini, menurut sumber Kompas.com, membuatnya gencar melobi sejumlah pejabat, sindikasi bank, dan kontraktor China yang membangun jembatan dengan nilai puluhan triliun rupiah itu.

Dengan kelihaiannya dalam melancarkan lobi, Ayung pun percaya dirinya bisa mengegolkan proyek itu. Terkait hal ini, Carel tidak membantahnya. Namun, ia sendiri tidak mengetahui sudah sejauh mana upaya mengegolkan proyek itu dilakukan Ayung.

"Ambisi dia mau dapat proyek itu memang ada. Tapi saya sendiri tidak tahu sampai sejauh mana. Dia bisa bersaing dengan siapa pun. Oleh karena itu, dia ambil (proyek Jembatan Selat Sunda)," papar Carel.

Carel mengungkapkan, rekan kerja sekaligus sahabatnya itu berambisi besar menjadi seorang pengusaha yang bisa membantu bangsa dan namanya bisa dikenal rakyat Indonesia. Namun, upaya dan kerja keras yang dirintisnya terpaksa terhenti di tengah jalan lantaran aksi sekelompok orang yang menghabisi nyawanya dengan sadis pada tanggal 26 Januari 2012 lalu.

"Dia orang yang pekerja keras. Buktinya, dia jarang ke rumah. Dia tinggal di pabrik, makanya alamatnya hanya ada di rumah Surbaya dan di Tangerang ya itu pabriknya. Pabrik sudah seperti rumahnya," tuturnya.

Kenal dekat pejabat

Menurut Sumber menuturkan bahwa Ayung dikenal dekat dengan sejumlah politisi, pejabat, ataupun aparat kepolisian. Salah satu tokoh politik yang dekat dengan Ayung adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono. Ayung pun dikenal dekat dengan tokoh-tokoh pemuda dari Maluku, seperti John Kei, Said Kei, dan Ongen Sangaji.

"Ayung itu orangnya mudah gaul, enggak pelit dan dia pengusaha yang punya kemauan besar, dari tukang parkir sampai menteri kenalan dia," ucap Carel.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...