Foto dan Profil Thomas Ramadhan

Written By Rison Sarundaek on Senin, 26 Desember 2011 | 23.35


NAMA LENGKAP: Thomas Ramdhan
TEMPAT / TANGGAL LAHIR: Bandung, 5 Maret 1967
AGAMA: Islam
SUKU: Sunda
ANAK KE: 8 dari 8
ALAMAT RUMAH: Jl. Telaga No. 1 Majalaya, Bandung Selatan

PENDIDIKAN SD: -
PENDIDIKAN SMP: 1986
PENDIDIKAN SMA: 1989
PERGURUAN TINGGI: -
PENDIDIKAN NON FORMAL: -
KEGIATAN LAIN: -
TINGGI / BERAT: 167 / 50
SIZE BAJU: M
SIZE JEANS: 29
SIZE SEPATU: 39/40
PARFUM: -
CITA-CITA KECIL: Arsitek
CITA-CITA SEKARANG: Produser musik
TOKOH YANG DIKAGUMI: Nabi Muhammad SAW
MOTTO HIDUP: Menikmati dan mensyukuri apa yang ada

PENGARANG FAVORIT:
AKTOR / AKTRIS FAVORIT: Didi Petet, El Manik, Christine Hakim, Ryan Hidayat
BASSIST FAVORIT: Yance Manusama, Jimmy Suhendar, Yuke Semeru, Erwin Gutawa, Billy Sheehan
MUSISI FAVORIT: Erwin Gutawa, Sting
JENIS MUSIK FAVORIT: Rock
JENIS FILM FAVORIT: Komedi, Fiksi
ACARA TV FAVORIT: Srimulat, Twilight Zone
WARNA FAVORIT: Hitam, putih
TEMPAT FAVORIT: Gunung
MAKANAN FAVORIT: Nasi
MINUMAN FAVORIT: Air putih
HOBI: -
HAL YANG PALING DISUKAI: -
HAL YANG PALING DIBENCI: -
PENGALAMAN PALING MENYENANGKAN: -
PENGALAMAN PALING MENYEDIHKAN: Nonton Metallica di Lebak Bulus
PRESTASI YANG MEMBANGGAKAN: -

NAMA AYAH: Zamhari Kitim
NAMA IBU: Hj. A. Rokaiyah (alm)
KAKAK / ADIK:
Adjat
Patty
Roeswandy
Roeswady
Yana
Wahyu
Thomas

NAMA ISTRI: Intan
NAMA ANAK: Bounty Ramdhan, Annaking

DEBUT TAHUN / SEBAGAI: -
BAND SEBELUM / SELAIN GIGI: Gunsmoke, Headline, Exist
DISKOGRAFI:
Album GIGI - Angan (1994)
Album GIGI - Dunia (1995)
Album GIGI - 3/4 (1996)
Album GIGI - 2x2 (1997)
Album GIGI - Kilas Balik (1998)
Album GIGI - Baik (1999)
Album GIGI - Greatest Hits Live (2000)



Ada Sesuatu yang Lain pada Bass
Keinginan menggebu Thomas untuk memiliki bassnya sendiri mengalahkan ujian masuk perguruan tinggi yang mestinya diikutinya. ''Hari pertama Sipenmaru, aku nggak ikut, tapi beli bass,'' katanya mengenang. Ia menggunakan uang yang mestinya untuk kuliah.

Lewatlah Sipenmaru -- sebuah kesempatan yang, ketika itu, sangat diburu-buru oleh mereka yang baru lulus 'SMA.'Bayangkan, kuliah ditantangin sama ngeband, yang waktu itu [aku] lagi getol-getolnya,'' katanya pula

Ia memang kemudian berhasil menembus Sipenmaru, pada kesempatan berikutnya, dan diterima di Jurusan Sastra Jepang, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Tapi semangatnya untuk ngeband -- bermain bass -- sudah tak bisa dihadang oleh apa pun. Sebuah pilihan yang belakangan membuatnya termasuk salah satu pemain bass terbaik di sini.



Semula Thomas lebih akrab dengan gitar. Ia belajar instrumen paling populer ini sejak kelas 3 SD di Bandung. Mula-mula ia belajar dari kakaknya, tapi lalu ikut les gitar klasik. Masuk SMP, dan mulai aktif ngeband, ia mencoba-coba bermain bass. Ia makin asyik dengan instrumen baru itu saat SMA, dan mulai suka bolos sekolah (''Waktu SMA lagi bandel-bandelnya, tuh,'' ujarnya). Ia akrab dengan lagu-lagu Level 42, Uzeb, Deep Purple, Rush, Saga, dan banyak diminta main di mana-mana.

Setelah main di mana-mana, Thomas makin yakin pada pilihannya. ''Akhirnya saya mikir ternyata main bass itu asyik juga. Dulunya [saya] nganggap biasa aja, cuman bunyi nada satu-satu gitu ... Tapi ternyata ada sesuatu yang lain,'' ujar kelahiran Bandung, 5 Maret 1967, ini.

Bagi Thomas, bass adalah instrumen yang posisinya menentukan dan punya dua fungsi, yaitu rhythm dan melodi. Tidak seperti drum, misalnya, yang hanya berfungsi sebagai rhythm saja. Ia melihat bass bisa menjadi pemimpin instrumen lainnya.

''Contohnya kalau kord gitar Em, basnya E ya Em. Tapi kalau basnya C berarti bukan Em lagi. Kord gitarnya Em, kalau basnya saya pindah, keseluruhannya bukan Em lagi tapi jadi Cmaj7 ... Tapi bukan berarti instrumen yang lain nggak ada artinya. Masing-masing pasti punya keistimewaan tersendiri,'' kata pemilik bas merek G&L ini.

Bass pula yang membawanya ke Jakarta. Ceritanya, ketika gitaris Michael Jackson ke Indonesia, Thomas diajak Baron, teman ngebandnya, yang menjadi guide, untuk menonton -- bahkan sampai ke back stage. Di situ ia bertemu dan berkenalan dengan beberapa musisi yang juga sedang menonton. Mereka, antara lain, adalah Pay, Bongky, Ronald, dan Anang. Ia mengundang mereka untuk menonton pertunjukannya di Bandung. Dan mereka, setelah memenuhi undangannya, lalu menawarinya untuk hijrah ke Jakarta.

Waktu itu sekitar tahun 1991. Ia nekat, tanpa tahu apa yang akan dilakukannya. Ia mula-mula ''mendarat'' di markas Slank, Gang Potlot. ''Potlot tempatnya asyik. Suasana dan lingkungannya bener-bener enak buat ngeband,'' kata penggemar Erwin Gutawa, Yance Manusama, Donny Fattah, Billy Sheehan, dan Jaco Pastorius ini. Pada 1994 ia ikut mendirikan GIGI.


Lepas dari GIGI, Thomas seperti menghilang. Belakangan, setelah sempat muncul di beberapa event, mulai ketahuan ia sibuk dengan grup barunya, Center, di samping menjadi pemain tamu (additional player) di Ahmad Band. Bersama rekan-rekannya di Center ia sedang mengumpulkan dan menggarap lagu-lagu baru, dengan konsep yang sama sekali berbeda dari GIGI. Banyak eksperimen, dengan dukungan peralatan yang computerized. Menurut Thomas, nuansa tekno dan ska sangat terasa di situ.



Masih dengan bunyi-bunyian elektronik, Thomas sangat ingin membuat sebuah opera. ''Musiknya orkestra, tapi dengan sound elektronik, bukan dengan sekian banyak pemain string, misalnya. Jadi, saya akan main bass, tapi dengan synthesizer,'' katanya.

Ia mengangankan kota tempat ia pernah menjalani masa kecilnya, Majalaya. Dulu, di sana, banyak sekali pabrik di sekitar rumahnya. Ia ingat benar bagaimana bunyi-bunyian mesin pabrik, dan ia mengibaratkannya sebagai sebuah irama musik dengan beat yang mengasyikkan. ''Opera itu menceritakan suasana industri yang penuh dengan bunyi mesin-mesin, bahkan sampai ada gedung yang roboh dan sebagainya,'' ujarnya.


2 Komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...