Filsafat Selembar Daun

Written By Rison Sarundaek on Kamis, 03 November 2011 | 11.36

Tetangga yang tinggal di sebelah rumah saya adalah seorang tua. Kakek ini telah mengalami pengalaman hidup yang susah, berbagai pengalaman pahit telah dilalui, pada masa mudanya karena perang hampir kehilangan seluruh anggota keluarganya, dia juga kehilangan sebelah kakinya pada masa perang.

Pada masa ‘revolusi kebudayaan’ istrinya karena tidak tahan siksaan yang tak berujung, akhirnya pergi meninggalkanya. Tidak berapa lama kemudian putra tunggalnya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Tetapi di dalam ingatan saya, kakek ini selalu gembira dan hidup dengan semangat. Pada suatu hari saya tidak dapat menahan rasa heran saya bertanya kepadanya,“

Kakek engkau menderita begitu banyak kesengsaraan dan kemalangan, tapi mengapa anda tidak terlihat sedih ?"

Kakek ini tanpa menjawab memandang saya dalam waktu yang lama, kemudian mengambil selembar daun menunjukkan kepada saya sambil berkata, “coba anda lihat, ini seperti apa?”

Ini adalah selembar daun yang sudah kuning dan warnanya transparan, sekarang sedang musim gugur, saya pikir ini adalah selembar daun pohon poplar, lalu bentuknya seperti apa?.

“Apakah engkau dapat katakan dia tidak mirip dengan sebuah hati? Atau memang sebuah hati.”

Benar, memang sama seperti sebuah hati, hati saya seketika tergetar .

“Coba perhatikan dengan seksama apa yang ada diatasnya?”

Kakek ini membawa daun ini lebih dekat kearah saya. Saya melihat dengan jelas, diatas daun ini terdapat banyak sekali lubang yang besar dan kecil, seperti bintang-bintang yang bertaburan dilangit.

Kakek mengambil kembali daun ini dan diletakkan di atas telapak tangan saya, dengan suara berat dan tenang berkata, “Dia lahir di musim semi, tumbuh di bawah sinar matahari, melalui musim dingin dan terpaan salju, melewati seluruh hidupnya. Dalam kurun waktu tersebut, digigit oleh ulat sampai berlubang-lubang, tetapi dia tidak gugur, alasan dia dapat hidup adalah karena kecintaannya pada sinar matahari, tanah, air hujan, dan mencintai kehidupannya sendiri, sedangkan penderitaan yang kecil ini apalah artinya bagi dia?”

Terakhir kakek meletakkan daun tersebut dimeja tulis saya, dan berkata, “Jawabannya terserah kepada anda,  ini benar-benar sebuah sejarah dan juga filsafat dalam hidup ini.”

Sampai sekarang saya masih menyimpan daun tersebut, setiap kali di dalam hidup saya menghadapi rintangan dan pengalaman yang pahit, saya selalu belajar dari sana meresapi nya dan menghadapi dengan ketenangan dan kekuatan, sehingga bagaimanapun kesulitan tersebut, saya selalu dapat melaluinya dengan perasaan gembira dan dengan semangat optimisme.(eb)

0 Komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...